Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
243. Permak Tono


__ADS_3

Di dalam kamar tamu, Ivanna terbangun dari tidurnya dan mendapati jika Safira sudah tidak ada lagi di dalam kamar itu. Muka bantalnya terlihat kesal, karna di tinggal sendiri di dalam kamar itu.


"huh, dasar! mana aku belum makan lagi!" ucap Ivanna kesal.


Ia duduk di atas kasur dan melihat media sosialnya yang sudah sangat ramai. Ia membaca beberapa tag line terhangat tentang keluarganya.


Kabar bahagia datang dari pangeran tampan negeri ini. Dikabarkan, sang istri tengah mengandung penerus Dirgantara.


Tok Cer! Nyonya Muda keluarga Dirgantara hamil kembar. Apakah mereka juga memiliki IQ di atas rara-rata seperti Tuan dan Nona Muda? yuk simak berita di bawah ini!


Dikabarkan sang kakak ipar tengah hamil muda, wajah cantik Nona Muda Ivanna yang tersenyum, terlihat begitu cantik dan sangat bahagia!.


Begitulah pemberitaan yang tengah mencuat saat ini, dan masih banyak lagi. Wajah Ivanna semakin kesal ketika paras cantiknya menjadi perbincangan hangat, walaupun foto itu terlihat blur. Namun siapa yang melihat tentu membenarkan berita tersebut.


"Aihh, seharusnya aku tidak melupakan maskerku!" ucap Ivanna merengut kesal.


Ia segera bangkit dan mencari Fajira terlebih dahulu. Tempat pertama yang ia kunjungi adalah dapur, karna Fajira akan dipastikan tengah berada di sana jika sore sudah menjelang.


"Buna!" Panggil Ivanna sambil memeluk Fajira dari belakang.


"Sudah bangun, sayang?" tanya Fajira terkejut.


"Hmm, kenapa Dede di tinggal sendiri? kan tadi kakak bobo di dekat Dede!" tanya Ivanna cemberut.


"Tadi kakak lagi ngidam, sayang. Terus mintanya sama, Abang. Untung tadi abangmu sempat mandi, kalau gak pasti sudah,...."


"Bundaa! tolong istriku!" teriak Fajri berlari dari lantai dua.


"Kenapa, bang?" tanya Fajira panik dan mematikan kompor.


Mereka segera bergegas menuju kamar Fajri dan mendengar Ibu hamil itu tengah mengeluarkan isi perutnya kembali.


"kak?" pekik Ivanna.


Ia langsung membantu Safira sambil memijit tengkuk kakak iparnya itu.


"Sudah dek! Abang di suruh keluar dulu! bilang mandi lagi!" ucap Safira lirih.


"Abang di minta kakak mandi lagi! Abang bau jigong!" ucap Ivanna terlihat serius.


padahal di dalam hatinya tertawa jahat, karna berhasil membuat Fajri percaya. Pria tampan itu mengendus tubuhnya yang memang belum mandi selepas olah raga tadi.


Dengan pasrah Fajri keluar dari kamar sambil membawa pakaian dan sabun mandinya. Wajah yang tadi berbinar, kembali cemberut karna Ngidam istrinya yang cukup aneh.


Huh sabar, Fajri! Safira sedang mengandung anakmu, gak boleh mengeluh!. batin Fajri sambil keluar dari kamarnya.


"Lemas, dek!" ucap Safira lirih.


Ivanna langsung menggotong Safira di bantu oleh sang Bunda, menuju ke tempat tidur. Ivanna meringis melihat keadaan Safira yang mengalami mual cukup parah. Fajira segera memeriksa keadaan menantunya dan memastikan Safira dalam keadaan baik-baik saja.


"Buna, ini gimana?" tanya Ivanna sedikit panik.


"Ini hal biasa, dek! semuanya masih normal. Kakak, memang membutuhkan istirahat, semoga saja gak makin parah mualnya!" ucap Fajira mengelus kepala Safira, hingga ibu hamil itu terlelap.


"Ah, syukurlah! Untung dulu waktu Bunda hamil Dede, Ayah yang Ngidam! Kalau gak, pasti Dede nyusahin Bunda banget!" ucap Ivanna berlutut dan memeluk pinggang Fajira.


"Gak papa, sayang. Justru setiap hari ketika hamil kanu dan Abang, Bunda selalu menikmatinya! Jadi, Dede juga harus kuat kalau hamil nanti!" ucap Fajira tersenyum dan mengelus kepala putrinya.


"iya, Buna! Ah, pasti kakak semakin berat ya, Buna. Hamil kembar juga!" ucap Ivanna.

__ADS_1


"Mana kakak alergi sama Abang lagi!" ucap Ivanna sedikit tersenyum.


"Hehe, biar Abang ngerasain susahnya mengurus Ibu hamil!" Fajira pun juga ikut tersenyum.


"Berita kakak hamil sudah tersebar, Buna!"


"Iya, kah? belum ada yang negatif kan? biar aja naik, nanti kita Perketat saja pengawalan. Palingan Abang gak ngasih izin sama kakak untuk keluar rumah!" ucap Fajira terkekeh mengingat begitu possesifnya Fajri.


"Hehehe, seperti pilihan kedua lebih memungkinkan, Buna. Abang pasti akan mengurung atau membawa kakak kemanapun dia pergi!" ucap Ivanna terkekeh, begitu juga dengan Fajira.


"Udah puas ngomongin, Abang?" ucap Fajri mendelik kesal di pintu kamar itu.


"hehehe, Hot Daddy jangan marah, ya!" ucap Ivanna terkekeh.


Mereka berbincang dengan pelan sambil menunggu Safira bangun dari tidurnya.


🌺🌺


"Kalau lo bisa banting gua, hari ini lo boleh belanja sepuasnya dan gua yang bayar!" ucap Ivanna menantang Tono.


"Ba-banting kamu? gak mungkin, Na! aku bisa di bunuh sama, Tuan Fajri!" ucap Tono takut.


Mereka tengah berada di tempat latihan. Sudah dua bulan lebih Ivanna mengajarkan Tono menguasai ilmu beladiri. Hasilnya, kini pria culun itu sudah lebih berani melawan orang yang menindasnya, dengan menggunakan jurus yang sudah di ajarkan oleh Ivanna.


Ketika mereka tau, jika Tono berguru kepada Ivanna, semenjak itu tidak ada lagi yang mengganggunya. Sehingga ia bisa belajar dengan tenang dan menyelesaikan skripsinya dengan cepat.


"Ayo!" tantang Ivanna yang sudah siap.


Kraak!.


Bugh!


"Ma-maaf, Na! Maafkan saya!" ucap Tono bersimpuh setelah membantu Ivanna bangun.


Semua orang terkejut dengan apa yang sudah di lakukan oleh Tono. Tidak ada yang berani membanting gadis itu selain abangnya dan Badol.


"Gak masalah! justru kemampuan kamu bisa di perhitungan untuk naik sabuk dengan cepat! nanti saya akan mengatakannya kepada, bang Badol!" ucap Ivanna tersenyum.


Cantik!. Batin Tono terpana.


"sekarang bangun, dan ganti bajumu!" ucap Ivanna.


Ia juga berjalan menuju ruang ganti dan membersihkan diri terlebih dahulu.


Setelah 15 menit, ia keluar dari ruang ganti dan mendapati Tono sedang berbincang dengan bang Badol.


"Yuk. ikut, aku!" Ajal Ivanna.


Hari ini, aku harus bisa membuktikan jika tompel itu palsu. Semoga saja dia mau bercerita. batin Ivanna.


Mereka berangkat menuju salah satu pusat perbelanjaan, dimana lagi kalau bukan T-grup. Ia kan memenuhi janjinya kepada Tono, dengan membelikan apapun yang di butuhkan oleh pria culun itu.


"Sekarang, kamu bisa memilih apapun yang kamu inginkan! Aku yang bayar," ucap Ivanna menyerahkan black cardnya ke tangan Tono.


"I-ini serius?" ucap Tono tidak percaya.


"serius!" ucap Ivanna tersenyum.


Ketika mobil berhenti, mereka segera turun dan masuk ke dalam pusat perbelanjaan itu. Tempat pertama yang akan mereka kunjungi adalah toko baju.

__ADS_1


Ivanna memulihkan beberapa potong baju yang sesuai dengan gaya Tono, Bukan lebih tepatnya seperti gaya Fajri. Baju kaos, kemej dengan celana pandang dan pendek, serta beberapa topi dan sepatu.


"Nih coba ini dulu!" ucap Ivanna tersenyum di balik maskernya.


"Sebanyak ini?" tanya Tono.


Ia melongo,jika di hitung ada sekitar 10 pasang pakaian yang di pulihkan oleh Ivanna.


"iya, waktu kamu hanya 1 jam, untuk mengganti itu semua!" ucap Ivanna.


"ba-baiklah!"


"Eh? dilarang gagu!" ucapi melotot.


"Baiklah, calon pacar!" ucap Tono sambil berlari menuju bilik ganti.


"Aih, dasar! Apa tadi, calon pacar?" ucap Ivanna tersenyum manis.


Tono keluar bergantian sambil memakai baju yang sudah di pilihkah oleh Ivanna. Gadis itu cukup kagum dengan cara Tono memadukan baju-baju tersebut.


"Sudah, yuk kita ke salon!" ucap Ivanna membuat Tono gelagapan.


"Baiklah!"


Mereka segera pergi ke salon yang berada tak jauh dari sana. Ivanna segera memsan tempat untuk mereka berdua.


"Mbak, potong rambutnya seperti Cha Eun Wo, ya!" ucap Ivanna.


"Baik, kak. Silahkan ikut kami!" ucap mbak-mbak salonnya.


Sambil menunggu Tono, Ivanna memilih untuk menelfon Safira dan menanyakan keadaan keponakannya yang baru berusia 5 minggu di dalam kandungan itu.


Hampir 30 menit, Tono sudah siap karna hanya memotong rambut saja. Wajah pria itu terlihat mulus gagah dan rapi.


"Sudah, Na!" ucap Tono tersenyum.


Ivanna terpana melihat Tono yang cukup tampan menurutnya. Mereka segera keluar dari sana dan menuju salah satu resto untuk makan malam.


"Aku lapar, Ton. Kita makan dulu habis itu baru aku antar kamu pulang!" ucap Ivanna.


"baiklah, Tuan Putri!" ucap Tono tersenyum.


Ternyata dia tidak semenyeramkan wajah garangnya!. batin Tono.


Ivanna membawanya menuju restoran steak dan memesan beberapa menu, kerja mereka memang sudah kelaparan.


"Tono?" panggil Ivanna.


"iya, Na?"


"Maaf, apa tompel itu asli?" tanya Ivanna hati-hati karna takut menyinggung Tono.


"Hmm, gimana ya. Sebenarnya ini hanya,..." ucap Tono sambil melepas tompel itu.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


Gimana ya. kalau Tono ketemu Bryan πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2