Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
94. Kajahilan Fajri


__ADS_3

Pagi menjelang, sinar mentari kembali menyinari bumi dan selalu menghangatkan. Meneburkan berbagai macam kebaikan untuk semua orang di muka bumi ini.


Seperti biasa, semenjak Fajira hamil hal yang ia lakukan setiap pagi yaitu mendekap dan mengelus lembut kelapa suaminya yang tengah berbaring lemas di atas ranjang.


"Apa sudah lebih baik?" yang Fajira lembut.


"Belum" lirih Irfan.


Laki-laki arogan itu seperti kehilangan jati dirinya semenjak menikah. Ia lebih menghargai Fajira sebagai istri dan mengalah terhadap wanita cantik itu, bersikpa manja dan seolah kekurangan belaian kasih sayang. Namun Fajira tidak pernah mengeluh tentang itu, ia justru dengan senang hati mengikuti semua keinginan anak dan suaminya.


"bunda" lirih Fajri bangun dari tidurnya. Ia segera merangkak menuju Fajira merebahkan kepala beralaskan kaki bidadari cantiknya.


"abang mau mandi lagi, nak?" tanya ibu muda itu sambil mengelus kepala Fajri.


"hmm, bentar lagi Bunda. Abang masih ngantuk"


huft...


Fajira tersenyum menatap dua pria tampan yang manja ini. Beginilah kesehariannya setelah menikah, mengurus keluarga kecilnya.


"yuk bangun lagi, Ayah sama Abang mandi dulu ya. Biar segar" ucap Fajira membangunkan Irfan dan Fajri.


Dua pria tampan itu patuh, mereka bangun dan berjalan menuju kamar mandi dengan malas. Fajira hanya bisa tersenyum menatap mereka yang mirip dalam segi sifat.


Ia kembali berbaring, karna mengingat semalam ia mendapati flek ketika hendak membuang air. Fajira cukup takut jika anaknya sampai kenapa-napa. Makanya ia lebih memilih untuk istirahat total selama dua hari kedepan.


Setelah 15 menit Irfan keluar dengan tubuh yang sudah lebih segar sambil menggendong Fajri. Mereka terlihat masih mengantuk karna kejadian semalam, sehingga Irfan memilih untuk begadang agar bisa memastikan jika Fajira baik-baik saja.


"Bajunya belum Bunda siapkan, sebentar ya" ucap Fajira yang kembali bangkit dari ranjang.


"jangan!" teriak Fajri dan Irfan ketika melihat Fajira hendak turun dari kasur.


"Bunda istirahat saja ya, Aji bisa ambil baju sendiri. Ayah juga" ucap Fajri lembut ke arah Fajira.


"ya sudah"


Perempuan itu patuh dan kembali berbaring di atas tempat tidur. Tidak butuh waktu lama ia terlelap dengan sangat anggun dan cantik.


"Ayah yakin mau pergi kerja? Bunda sakit lo" tanya Fajri yang melihat Irfan memakai pakaian formal yang biasa ia pakai untuk bekerja.


"iya sayang, ada rapat yang gak bisa ayah tinggalkan. Tapi cuma sebentar, sampai siang aja. Nanti Aji ayah jemput dulu, kita pulang bareng ya, Ada oma nanti yang akan menjaga bunda, Sayang,"


"iya ayah,"

__ADS_1


"sudah ganteng. Yuk kita keluar."


Irfan dan Fajri sudah memakai pakaian masing-masing dan berjalan kembali ke kamar. Mereka tersenyum ketika melihat Fajira sudah terlelap.


"apa kita langsung ke bawah saja Ayah?" Tanya Fajri.


"iya, sayang. Kita langsung ke bawah saja"


Mereka segera turun ke bawah menuju ruang makan yang sudah di isi oleh orang tua Irfan. Mereka sudah datang dari kemarin tak lama setelah Fajira terlelap.


"Pagi Oma, Opa" sapa Fajri dan mencium tangan mereka satu persatu.


"Pagi tampan. Bunda mana nak?" tanya Mama mengelus kepala Fajri.


"Bunda baru aja tidur Oma. Aji titip Bunda ya Oma. Nanti Aji cepat pulang kok sama ayah juga," ucap Fajri tersenyum Menatap Mama.


"iya sayang. Aji tenang saja ya. Oma akan menjaga Bunda sampai Aji pulang nanti,"


"terima kasih, Oma."


Mereka segera menghabiskan sarapan dan tak lupa berpamitan kepada Fajira yang masih berada di dalam kamar.


Irfan mengantarkan Fajri ke sekolah dan ia juga akan pergi ke kantor. Ia mengendarai mobil selama 7 menit agar bisa sampai di kantor dari lokasi sekolah Fajri. Setibanya di gedung mewah itu, ia segera menuju lift dan menekan angka 7 dimana ruangannya berada. Terlihat Ray sudah menunggu kedatangan Irfan di depan ruang kerjanya.


"selamat pagi tuan!"


"sudah tuan, Silahkan"


Mereka segera pergi menuju ruang meeting untuk menjalin kerja sama yang baru. Irfan berusaha fokus dengan fikiran yang bercabang karna mengingat keadaan Fajira.


"apa tuan baik-baik saja?" tanya Ray ketika melihat Irfan gelisah dalam duduknya.


"hmm? iya saya baik-baik saja"


Rapat berlangsung hingga tengah hari. Kesepakatan yang di peroleh sangat menguntungkan untuk perusahaan Irfan. Ia segera meminta Ray untuk menjemput Fajri ke sekolahnya.


"ayah!" panggil Fajri yang baru saja tiba di dalam ruangan Irfan. Ia mencium tangan Irfan dan di hadiahi sebuah kecupan oleh ayah tampannya itu.


"hai sayang, sudah pulang? Tunggu sebentar ya, kerjaan ayah masih ada sedikit lagi" uca irfan


"iya, Ayah."


Fajri memilih untuk membaca buku yang ada di sana. Ketika sedang asik mencari buku, ia mendengar ada seseorang yang masuk kedalam ruangan ayahnya dan itu terdengar seperti suara perempuan. Fajri sedikit mengintip melalui celah-celah buku.

__ADS_1


Siapa dia? kenapa ayah sangat tidak suka bertemu dengan tante itu? Apa itu? pakaiannya kurang bahan banget. Dia pikir terlihat bagus seperti itu? ciihh!! Aji harus segera mengusirnya dari sini. Bathin Fajri menatap perempuan itu penuh dendam.


"Hai Mas" sapa Sherly menyelonong masuk ke dalam ruangan Irfan.


"apa kamu tidak punya etika dan sopan santun? pendidikanmu tinggi tapi tidak beretika sama sekali!" sarkas Irfan yang sangat jengah melihat kelakuan wanita ini.


"Ayo lah, Mas! temani aku makan siang yuk. Lagian ini sudah masuk jam istirahat juga," bujuk Sherly tidak menghiraukannya ucapan Irfan.


"Apa kau tidak mendengarkan ucapan saya kemarin?" ucap Irfan dingin menatap tajam perempuan itu.


"ma-mas, jangan galak-galak dong. Hmm aku kesini mau mengantarkan beberapa berkas untuk keperluan kerja sama kita," ucapnya sedikit takut sambil menyerahkan beberapa map yang ia bawa. Ia berdiri di depan meja Irfan.


"letakkan di atas meja, dan silahkan pergi!" tegas Irfan tanpa memandang perempuan itu.


"aku harus membawanya lagi mas"


Irfan segera mengambil dan melihat apa yang di serahkan oleh perempuan ini. Ia membaca satu persatu agar tidak ada kejanggalan yang akan merugikannya nanti.


Fajri masih mencari cara bagaimana mengerjai perempuan genit itu. Ia mengirimi Ayahnya pesan dan meminta agar irfan bisa masuk ke dalam ruangan pribadinya dan mengunci pintu.


Apa yang ingin di lakukan Fajri? Ya sudahlah, semoga saja Fajri bisa membuat perempuan ini kapok.


"kamu mau kemana, Mas?" tanya Sherly ketika melihat Irfan melangkah masuk ke dalam ruangan pribadinya.


"Ke kamar mandi" ucapnya mengunci pintu. Sementara Sherly merona karna membayangkan tubuh seksi irfan terpampang di depan matanya.


Tiba-tiba, ia dikejutkan dengan suara yang sangat tidak ingin ia dengan.


"hihihi hihhihihi" suara kuntil terdengar lirih di dalam ruangan Irfan dan berhasil membuat bulu kuduk Sherly meremang.


Su-suara apa itu? ti-tidak mungkin ada hantu di sini kan?. Duh Mas Irfan lama juga di dalam. Bathin Sherly mulai merasa takut.


Ia masih berusaha untuk biasa saja dan menganggap itu semua angin lalu. Namun lagi-lagi suara itu terdengar lebih keras dan menyeramkan.


BRAAAK!!!


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE


😁


maaf ya gais aku telat Update hari ini 😭

__ADS_1


janganlupa dukung Fajri terus Yaa tante biar Aji makin semangat menghempaskan para pelakor yang akan merebut ayah dari Aji. 😁


terima kasih 😍


__ADS_2