Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
124. Rencana Ray


__ADS_3

"selamat siang, nyonya!" sapa Ray dengan suara bariton khas miliknya.


deg...


Di-dia ada disini?. Bathin Riska terkejut.


"siang, Kak Ray! mau bertemu dengan Mas Irfan?" tanya Fajira tersenyum menahan tawanya karna ia sempat melihat ekspresi terkejut Riska tadi.


"iya, nyonya. Apa tuan ada?" ucap Ray sopan dan sedikit melirik ke arah Riska.


"ada, Mas Irfan sedang berada di ruangan kerjanya,"


"kalau begitu saya permisi terlebih dahulu nyonya, Tuan Muda, nona Hanna dan... nona Riska" ucap Ray pamit dan sengaja menyapa semua orang yang ada di sana, termasuk Riska yang sudah terlihat kikuk.


"Apa om Ray gak mau disini dulu ngobrol sama Aji? om Ray 'kan gak ada jenguk Aji setelah pulang dari rumah sakit!" ucap Fajri sedih.


Ia sengaja berkata seperti itu mengingat kelakuan Ray yang pernah mengikuti Riska tempo hari.


"maaf, Tuan Muda. Om harus menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu. Selepas itu kita bisa mengobrol sepuasnya," ucap Ray yang mengerti apa maksud Fajri.


"Sebentar saja, pliis!" ucap Fajri dengan wajah imut dan memohon sambil menyatukan ke dua telapak tangannya.


"maaf tuan muda, saya permisi dulu. Mari, Nyonya." Ray tersenyum canggung.


Ia segera melangkah menuju tangga yang berada tak jauh dari sana. Riska sedikit melirik mengikuti langkah kaki Ray yang sangat mempesona walaupun hanya terlihat dari belakang saja.


Tanpa sengaja, pria dewasa itu juga menoleh ke belakang ketika hendak menaiki anak tangga pertama.


Deg...


Pandangan mereka bertemu persekian detik, bahkan Riska terpana dan terpesona dengan paras tampan itu. Ray hanya menampilkan senyum smirknya ketika melihat ekspresi Riska yang merona.


Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja Irfan dengan hati yang terasa berbunga-bunga. Sementara Fajira sudah tidak kuat lagi menahan tawanya. Ia merasa geli melihat tingkah Riska dan Ray yan terlihat malu-malu itu.


"hekm..." deheman Fajira sukses membuat Riska terkejut.


"Aji mau minum, sayang?" Tanya Fajira tersenyum jahil sambil menatap Fajri.


"mau, Bunda," ucap Fajri menerima gelas itu dari Fajira.


"Kok onty wajahnya merah gitu, apa onty sakit?" celetuk Hanna yang tidak mengerti dengan situasi yang ada.


"eh,, gak kok. Onty baik-baik saja, mungkin karna dari luar jadinya kepanasan, Na" kilah Riska.


"pfftt... hahaha" gelak Fajira yang sudah tidak bisa ia tahan lagi.

__ADS_1


"Hehehe. Onty lagi malu kak, Karna ada om Ray di sini" ucap Fajri terkekeh.


"ooo, aku pikir onty sakit. Apa onty pacaran sama om Ray?" tanya Hanna polos.


"eh? gak sayang! Onty gak pacaran sama om Ray!" jawab Fajira gelagapan.


"Onty ngaku aja deh! gak boleh bohong lo. Kata Bunda bohong itu dosa. tuhan marah sama kita!" ucap Fajri mendesak Riska.


"onty sama om Ray itu gak pacaran, Aji sayang! Onty gak bohong lo. Lagian mana mungkin om Ray mau sama onty yang jelek ini" ucap Riska dengan raut wajah cenderung sedih.


"kok kamu udah patah semangat aja Ris? mana tau Ray juga menyimpan rasa kepada kamu" ucap Fajira menenangkan Riska.


Perempuan itu memancarkan rona bahagia, namun sejurus kemudian wajahnya berubah sendu.


"kakak jangan mengajakku terbang, nanti tiba-tiba malah terhempaskan! sakit lo kak!" ucap Riska cemberut.


"Berdo'a saja Ris, mana tau tuhan meluluhkan hatinya untukmu" ucap Fajira serius.


"Aku gak mau terlalu berharap, kak! Lagian kalaupun dia mau sama aku, pasti gak akan pantas. secara dia..."


"Ris, kalau kamu melihat dia dari segi materi dan kedudukan kamu gak akan bahagia. Jika kamu berkata seperti itu, sebutan apa yang cocok untukku? upik abu yang menikahi pangeran kerajaan?" ucap Fajira meyakinkan hati Riska.


Gadis muda itu terdiam, ia hanya bisa menatap Fajri dan Hanna yang tengah menonton film kartun.


"kalau kamu mau, kakak bisa membantu"


Miris! satu kata yang mewakili hubungan percintaannya. Bukan Riska tidak mau menjalin hubungan dengan orang lain, namun masa lalu yang kelam membuatnya seakan menutup diri dari hubungan asmara yang sering kali menghiasi kehidupan muda-mudi.


"ya sudah! fikirkanlah dulu, memang untuk menjalin hubungan itu gak bisa main-main, apalagi umur kamu yang bisa dibilang sudah bisa untuk menikah"


"iya kak. Semoga saja."


Mereka kembali berbincang mengenai hal apa saja, terutama tentang revisi skripsi yang tengah dan selesaikan oleh dua orang perempuan itu.


...🌺🌺...


Ray sudah menyelesaikan pekerjaannya, saat ini ia tengah memangku Fajri di taman belakang sambil bermain Ayunan. Hanna juga sudah pulang sedari tadi karna sudah di jemput oleh orang tuanya.


"om, Apa ayah melimpahkan banyak pekerjaan untuk om selama Aji sakit?" tanya Fajri.


"tidak, nak!. kenapa? apa Aji butuh sesuatu?" tanya Rayenatap manik hitam Fajri.


Ia memang tidak bisa menghilangkan kebiasaannya memanggil Fajri dengan sebutan Nak atau Aji. Namun jika di depan Irfan dan Fajira ia akan memanggil anak manis ini dengan sebutan Tuan Muda.


"Gak ada. hmm,,, Apa Aji boleh bertanya?"

__ADS_1


"boleh, nak! Aji mau bertanya tentang apa?"


"hmm,,, Apa om Ray suka sama onty Riska?" celetuk Fajri sambil mengamati wajah tampan itu.


deg...


"kenapa Aji bertanya seperti itu nak?" tanya Ray tergagap setelah menguasai dirinya.


"onty Riska itu suka sama om, Tapi dia malu dan takut karna merasa gak pantas untuk berdampingan dengan om" ucap Fajri.


deg...


"dari mana Aji tau, nak?" tanya Ray terkejut.


"Hehe, Aji gak sengaja mendengar percakapan Bunda dan onty tadi, Om!"


"hus... gak boleh nguping lo, sayang!"


"Aji gak nguping, om! bunda sama onty aja yang ngobrolnya terlalu keras, makanya Aji dengar," ucap Fajri terkikik geli.


"dasar Yaa! emangnya Bunda sama onty ngomongin apa lagi?" Ucap Ray penasaran.


"Banyak, om!"


"apa sini coba cerita sama om lagi!" desak Ray membuat Fajri tertawa.


"Waaah om Ray penasaran Yaa?, Onty Riska dan Bunda ngomongin om lo!"ucap Fajri dengan ekspresi yang mengemaskan.


"iya kah? Apa? apa kata Bunda?" tanya Ray menatap Fajri serius.


"sini Aji bisikin" Ucap Fajri menarik telinga Ray, pria tampan itu menurut dan mendekatkan telinganya ke arah Fajri.


"Bunda bilang, kalau onty mau sama om Ray, Bunda dan ayah akan bantu!" bisik Fajri membuat bola mata Ray membulat sempurna.


"Aji serius nak?" tanya Ray tidak percaya.


"serius om 'kan kalau bohong Aji berdosa, gimana sih" kesal Fajri.


"hehe, iya sayang. Om percaya. terus apa lagi nak?"


Fajri menceritakan apa saja yang ia tangkap dari pembicaraan orang dewasa itu.


Sepertinya, ini bisa mempermudahkanku untuk mendekati gadis manis itu. Tapi apa dia juga memiliki rasa yang sama atau bahkan tidak memiliki rasa apapun terhadapku?. Ahh bukankah ini terlalu cepat untuk mendekatinya? dia bahkan belum lulus kuliah. Semoga saja kita berjodoh, Riska!. Bathin Ray menerawang jauh memikirkan apa yang akan ia perbuat setelah ini.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2