Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
141. Dua Pilihan


__ADS_3

"tolong Saya, Nyonya!" ucap Sandi bersimpuh.


Fajira terkejut melihat pemandangan itu. Ia tersenyum sinis melihat Sandi yang sudah bersimpuh di hadapannya.


"Apa anda menurunkan harga diri hanya untuk uang 300 juta? Dimana kesombongan dan keberanian anda banggakan, tuan Sandi yang terhormat?" sindir Fajira.


Sungguh ibu hamil itu memiliki lidah yang sangat tajam saat ini. Ucapannya seolah menebas dan memenggal kepala Sandi beserta keluarganya.


"Bantulah saya, Nyonya!" ucap Sandi sudah kehilangan malu di hadapan Fajira.


"Sayang, sepertinya aku harus menelfon Papa dan mengucapkan ribuan terima kasih karna sudah menyelamatkan usaha peninggalan Ayahku," ucap Fajira tersenyum manis menatap suaminya.


"Sudah seharusnya kamu mendapatkan apa yang menjadi hak kamu, sayang!" ucap Irfan.


"Aku beruntung, karna Papa adalah sahabat ayah. Kalau tidak, mungkin aku gak akan menginjakkan kakiku di rumah ini lagi!" ucap Fajira berkaca-kaca.


Ia tidak lagi menghiraukan Sandi yang sudah gemetaran menahan sakit pada kakinya. Bahkan ia juga ikut bertanya-tanya.


Siapa orang yang di panggil dengan sebutan Papa itu. Bukankah yang mengambil Alih gudang adalah tuan Dirgantara. Apa jangan-jangan, yang ada di depanku adalah Irfan Dirgantara? Bagaimana anak sialan ini bisa bertemu dengan orang hebat seperti mereka?. bathin Sandi mengernyit.


"kenapa?" tanya Fajira melihat empat orang yang sudah terlihat mati kutu di hadapannya.


"Apa kalian bertanya-tanya siapa Papa yang saya sebut? Dia adalah Harison Dirgantara, dan saya adalah menantunya! Kenapa kaget? hahaha!" Delik Fajira sambil tergelak.


Mereka terdiam sejenak, Fajira berfikir apa tindakan yang harus dia lakukan setelah ini.


Aku jadi bingung apa yang harus aku lakukan! satu sisi aku sangat membencinya, namun satu sisi dia adalah keluarga ku, Paman Sandi adalah adik kandung dari Ayah, dan dia adalah wali ku! Tetapi dari tadi dia tidak ada meminta maaf sedikitpun dan malah meminta uang! dasar manusia tidak tau diri!. Sepertinya aku memiliki rencana yang sangat mengasyikkan untuk mereka. Bathin Fajira menatap Irfan.


"sayang?" panggil Fajira.


"Mereka berurusan dengan kamu, sayang! Kalau mereka macam-macam baru aku yang turun tangan!" Ucap Irfan tersenyum dan membelai kepala Fajira lembut.


"terima kasih. Muach" ucap Fajira dan mengecup mesra pipi Irfan lalu berbisik.


"Malam ini dua ronde boleh kok" bisik Fajira membuat senyum Irfan mengembang.


Plaak!!


"jangan tersenyum, sayang! Aku gak sudi mereka melihat senyum manis kamu!" delik Fajira memukul mulut Irfan pelan. Pria tampan itu hanya lipat bibirnya menahan tawa.


"berapa tadi? 300 juta ya?" tanya Fajira.


"i-iya, nyonya!"


"baiklah, Besok akan saya berikan uang sebanyak 300 juta untuk melunasi hutang anda. Tapi sebagai jawabannya saya memberikan dua pilihan! bagaimana?"

__ADS_1


"kalau boleh tau, apa pilihannya, nyonya?" Wajah Sandi dan anggota keluarganya berbinar senang mendengarkan Fajira akan memberikan uang sebanyak itu.


"anda sepakat apa tidak?" kesal Fajira.


"Sa-saya sepakat, Nyonya!"


"Semuanya tolong dengarkan baik-baik dan menjadi saksi apa yang di ucapkan oleh pria tua ini!" ucap Fajira tegas.


Hilang sudah kelembutan dan keayuan seorang Fajira Handindya. Kini Irfan melihat sisi lain dari istrinya yang begitu tegas dan berwibawa. Ia semakin terpesona dengan indahnya makhluk tuhan yang sedang berada di dalam pangkuannya saat ini.


Pantas saja Fajri bisa menjadi anak mandiri dan disiplin, orang emaknya aja begini. Tapi aku cinta. bathin Irfan terkagum melihat Fajira.


"300 juta, itu uang yang sangat banyak, bahkan biaya kuliah kedokteranku gak sampai segitu dalam 3 tahun!" ucap Fajira.


Mereka terkejut mendengarkan Fajira berhasil menyelesaikan kuliah kedokterannya.


Sialan! aku kalah saing dengan dia!. Bathin Amel menatap Fajira tajam.


"Hmm apa ya? hmm bagaimana kalau anak gadis anda yang, yaa masih di bawah standar kecantikan itu saya jual kepada mucikari, seperti yang anda lakukan dulu? Atau kalian semua saya jadikan budak untuk mengasuh buaya di penangkaran kebun binatang?" ucap Fajira serius.


Gleek!!


Mereka menelan ludah dengan kasar dan suara yang tercekat. Tidak akan ada yang sulit untuk Fajira saat ini, mengingat ia adalah menantu kesayangan keluarga Dirgantara.


"Atau hahaha,,, apa aku kasih aja mereka beruang satu per orang ya, sayang. Biar mereka punya kegiatan yang sangat bermanfaat. Mana tau mereka bisa jadi peternak beruang," ucap Fajira tergelak cukup kencang hingga matanya berair.


Hahaha sayang, bagaimana kamu bisa berfikiran seperti itu? apa tadi beternak beruang? haha jangankan beternak, baru mendekat saja mereka sudah habis dimakan. Bathin Irfan tergelak.


"Kamu mau ngasih mereka beruang apa sayang?"


"beruang antartika, yang putih itu, sayang. Fajri suka banget sama betung kutub," ucap Fajira antusias.


Ia melupakan empat orang yang sudah gemetaran takut mengingat perkataan Fajira tadi.


"Apa kurang menantang ya, Mas? tapi langsung saja mungkin ya aku memberikan mereka pilihan?" ucap Fajira menatap Irfan genit dan mengecup bibir pria tampan itu dengan mesra.


"terserah kamu, sayang"


"Baiklah. Pilihan pertama, saya akan memberikan uang sebanyak 300 juta, untuk melunasi hutang kalian" Fajira sengaja menghentikan ucapannya dan melihat raut wajah berbinar dari mereka.


Kena kalian! Ayah maafkan aku, karna dendam ini membuatku menjadi seseorang yang jahat!. bathin Fajira.


"Dengan syarat kalian harus pergi dari kampung ini, dan saya akan mengirim kalian kemana 'pun yang saya mau. dan semua sertifikat tanah dan rumah yang di sebelah akan menjadi milik saya!" ucap Fajira membuat wajah mereka masam seketika.


"pilihan yang ke dua! saya akan melunasi hutang kalian langsung kepada rentenir itu, kalau memang sepakat, besok akan saya bayar langsung. Dan kalian akan saya berikan modal masing-masing sebanya 10 juta untuk beternak beruang kutub. Silahkan di pilih!" ucap Fajira menguap.

__ADS_1


Ia sudah mengantuk saat ini, kepalanya semakin bersandar di dada Irfan. Beruntung sofa itu berukuran besar, jadi ia tidak terlalu kesulitan untuk duduk berdua dengan Irfan di sana.


Pria tampan itu mengernyit mendengarkan syarat yang di ajukan oleh Fajira. Bukankah kedua pilihan itu sama? sama-sama tidak menguntungkan untuk mereka. Sementara Fajira malah mengecup rahang tegas itu dan mengelusnya.


"Aku ngantuk, sayang!" ucap Fajira lirih di telinga Irfan.


"Tidur di dalam ya!, apa mau pindah sekarang?"


"nanti saja, aku mau dengan jawaban mereka dulu!, Silahkan kalau mau berdiskusi, waktu kalian 5 menit. dari sekarang. Jika tidak mendapatkan jawaban dalam waktu itu silahkan pergi!" tegas Fajira.


Empat orang itu merumbukan pilihan dari Fajira. mereka berdebat ketika mendengar nominal yang yang sudah di sebutkan oleh Fajira tadi.


"yang pilihan pertama saja Pa, Hutang kita bisa lunas!" ucap Mama Amel.


"Tapi kita bakalan di asingkan!" sergah amel.


"dari pada kita harus mati di makan beruang!"


"kita tidak akan memilih apapun! itu sanggat merugikan!" bisik Sandi di telinga istrinya


Mereka kembali terdiam dengan berbagai macam pemikirannya.


Dalam diskusi mereka ada seorang pengawal yang mendekat ke arah Irfan. Ia membisikkan sesuatu yang membuat Irfan dan Fajira meradang.


Dasar bajing*an!. umpat Fajira dan Irfan di dalam hati.


"Apa kamu segitunya dengan kami? apa harus menjadikan rumah sebagai jaminan. itu sama saja paman menjual rumah itu kepada kamu!" ucap Sandi tidak terima.


"berarti tidak ada pilihan ya!. silahkan keluar! yuk, sayang, kita istirahat. Buang-buang waktu saja!" ucap Fajira berdiri dan mengajak Irfan pergi dari sana.


"Kalau begitu kami tidak jadi meminjam uang kepada anda! sekali anak tidak tau di untung tetap tidak tau di untung! kau hidup hanya menyusahkan orang saja Fajira!" bentak Sandi kepada Fajira.


"Apa anda yakin? Baiklah, silahkan keluar! dan Anda akan tau seberapa tidak di untungnya saya!" ucap Fajira menyeringai.


"Hei itu sangat tidak adil Fajira! kau...." terus amel yang tidak terima dengan perkataan Fajira, namun terhenti ketika senjata api itu kembali mengarah di kepalanya.


"sudahlah nanti kita fikirkan lagi! Sekarang kita pulang, tidak ada gunanya kita berbicara dengan mereka!" bisik Mama Amel.


Irfan dan Fajira menghilang di balik pintu dengan wajah tenang, padahal di dalam hati mengumpati keluarga yang tidak tau malu itu. Sementara mereka segera di kawal keluar rumah oleh para penjaga. Terlihat banyak warga yang berkerumun di depan halaman itu karna penasaran apa yang terjadi di dalam rumah.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


Up yang ke 3 gais, jangan lupa tinggalkan jejak. Bunga atau vote juga boleh wkwkwk

__ADS_1


terima kasih πŸ€—


__ADS_2