
Diperjalanan pulang, keheningan dan kecanggungan setia menemani sepasang insan yang belum mampu untuk mengungkapkan rasa yang ada di antara mereka. Hanya angin malam dan suara musik, mengiringi perjalanan yang terasa sunyi ini.
"hekm..." dehem Ray mengejutkan Riska.
"ma-maaf, Rumah kamu di mana?" tanya Ray seolah belum mengetahui di mana kontrakan Riska.
"Di belakang kampus, Om!" ucap Riska canggung.
"kapan saya menikah dengan tante kamu?" ketus Ray dan membuat Riska terkejut dengan sedikit takut.
"a-aku bingung ma-mau manggil apa, maaf!" ucap Riska sambil menunduk. Ia serasa ingin menangis saat ini.
Ray hanya terdiam sambil sesekali melirik ke arah perempuan yang sudah terlihat berkaca-kaca itu.
Bodoh kau Ray! Apa yang harus aku lakukan? kenapa jadi canggung seperti ini?. Bathin Ray frustrasi karna tidak tau harus memulainya dari mana.
Hiks... kenapa dia seperti itu sih? apa salah aku memanggilnya dengan sebutan Om? kenapa harus ketus juga, Aku rasa ingin pulang sendiri saja saat ini, hiks. Bathin Riska menangis.
Ciitt...
Ban berderit ketika mobil berhenti di depan pagar kontrakan yang cukup mewah itu.
"te-terima kasih, karna sudah mengantarkan aku pulang, hmm,,, kak Ray!" ucap Riska gugup dan berusaha untuk menahan tangisnya.
"iya, Sama-sama. Saya suka dengan panggilan kamu!" ucap Ray menatap Riska intens.
Pandangan itu terkunci, mereka menatap satu sama lain dengan berbagai macam rasa yang bergejolak. Entah berapa lama mereka saling menyukai dan mengagumi, bahkan hingga sekarang tidak ada yang mampu untuk mengungkapkannya. Baik Ray maupun Riska.
Cup...
Entah mendapat keberanian dari mana, Ray membungkam mulut Riska dengan bibir seksi miliknya. Gadis manis itu melotot ketika mendapatkan serangan mendadak dari Ray.
"hmpphh" suara Riska tertahan sambil mencoba untuk mendorong tubuh besar laki-laki tampan itu.
Ray manahan tubuh Riska agar tidak bergerak. Bibir itu hanya menempel saja, tidak bergerak selama beberapa detik.
Gadis manis itu masih memberontak di dalam pelukan Ray. Namun laki-laki itu masih tidak ingin melepaskan wanitanya barang sebentar saja. Hingga Riska semakin mebelalakan matanya ketika Ray mulai bermain di bibir manisnya.
Terasa kaku, namun Ray terus berusaha untuk melu'mat dan menyesap manisnya gundukan benda kenyal nan kecil yang sangat terasa menggairahkan baginya.
Ciuman pertamaku!. Jerit Riska di dalam hati.
Tes....
Air mata yang sudah di tahan oleh gadis manis itu tumpah dan mengalir di pipinya.
Namun karna sentuhan Ray terasa sangat lembut dan nikmat, sehingga sangat sayangkan jika harus berakhir dengan cepat. Ia segera membalas luma'tan itu dengan pelan.
Sementara Ray masih mereguk nikmatnya ciuman pertama mereka, terkejut ketika merasakan Riska membalas ciuman kakunya.
__ADS_1
Decapan demi decapan mulai terdengar pelan, hingga Riska menepuk pundak Ray ketika merasa pasokan udara sudah menipis.
Ia melengos dengan wajah yang merona. Gadis manis itu memilih untuk segera keluar dari mobil, namun tangan Ray lebih cepat menahannya.
Ia kembali Mengukung Riska dengan tatapan lembut yang membuat gadis manis itu kembali terpesona melihat paras tampan milik Ray.
"Aku akan menikahi mu segera!" ucap Ray.
deg...
Jantung Riska berdetak lebih kencang, ia merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
Cup...
Belum selesai ia tersadar dari keterkejutannya, ia kembali merasakan bibir basah Ray mengecup keningnya dengan lembut.
"Manikahlah denganku, Riska Nasution!" ulang Ray.
Perempuan itu menatap mata Ray dengan seksama, mencari titik kebohongan yang ada di sana, namun nihil ia melihat ketulusan dari mata nan tajam itu.
"a-aku, aku. Ap-apa boleh a-aku memikirkan dulu jawabannya kak?" ucap Riska yang masih termagu.
"boleh, Apa saya bisa mendapatkan jawabannya besok?" ucap Ray tidak sabar.
"ap-apa? sa-satu minggu. Beri aku waktu satu minggu kak!" ucap Riska terkejut.
"kenapa harus selama itu? bukankah lebih cepat lebih baik, Sa-yang!" Ray tersenyum manis.
"bo-boleh aku keluar dulu, kak?"
"boleh, sayang. Biar saya buka 'kan pintu terlebih dahulu ya!" Ray membuka seatbeltnya dan segera kaluar dari mobil untuk membukakan pintu.
ceklek...
"silahkan keluar tuan Putri!"
"te-terima kasih kak"
Dengan canggung mereka berjalan dengan beriringan, Ray mengantarkan Riska masuk hingga ke depan pintu utama rumah itu.
"Te-terima kasih karna kakak sudah mau mengantarkan Aku" ucap Riska sambilbuil menunduk.
"Sama-sama. Saya menunggu jawaban kamu Rabu depan. Semoga kamu tidak menolak lamaran saya!" ucap Ray.
"i-iya. Kalau begitu aku masuk dulu, kak. Hmm,,, hati-hati pulangnya"
"iya sayang. Masuk lah dulu"
Riska tersenyum kaku sebelum masuk ke dalam rumah. Begitu juga dengan Ray yang ikut tersenyum melihat Riska yang masih merona dan gugup. Ia melangkah pergi ketika Riska sudah menutup pintu rumah itu dengan rapat.
__ADS_1
Huh,,, pantesan tuan Irfan begitu suka melihat Fajira merona. Aah,,, bukankah dia terlihat sangat manis dan mengemaskan?. Semoga nanti kita berjodoh. Bathin Ray senang dengan apa yang terjadi hari ini.
Mobil mewah itu berjalan perlahan meninggalkan bangunan yang di tempati oleh Riska.
Sementara perempuan itu langsung berlari menuju kamarnya dan menatap kepergian Ray dengan tersenyum senang.
"Apa yang tadi itu nyata? dia mengatakan ingin menikahiku? AAAA!" teriak Riska senang.
Ia memegang pipinya yang terasa sangat panas, tak lupa ia berkaca dan melihat wajahnya yang begitu merah bak kepiting rebus.
"Aaaaaaa!!" teriak Riska sambil melompat-lompat di atas kasur.
tok... tok... tok...
"Ris, kamu baik-baik saja?" ucap salah seorang mahasiswi yang terganggu dengan suara teriakan Riska.
"eh aku baik-baik saja kak. Maaf ya, karna sudah mengganggu" teriak Riska dari dalam tanpa membukakan pintu.
Tidak terdengar lagi suara dari luar, ia kembali tersenyum mengingat ciuman kaku pertama mereka.
"setidaknya ciuman pertamaku di ambil oleh orang yang tepat" ucapnya senang sambil memegang pipi.
"huaa, apa tadi menikah? dia mengajakku menikah? Huaa apa ini tidak terlalu cepat?" ucap Riska bingung.
"huaa. semoga saja kak Jira gak tau apa yang terjadi hari ini. Kalau sampai dia tau, pasti puas dia meledek aku besok!. Apa aku kasih tau mama dan papa saja ya?" Ia bergegas untuk mengambil ponselnya.
Namun ketika hendak menelfon orang tuanya, mata bulat itu menangkap sesuatu yang sangat membuatnya terkejut.
π© From kak Fajira.
"Apa-apaan kalian ha? belum nikah aja sudah cium-ciuman! Dasar anak nakal!ππ"
Seperti itu isi pesan yang dikirimkan oleh Fajira di lampiran dengan foto yang di ambil dari cctv yang ada di dekat rumah itu.
Matanya membulat sempurna, tubuh Riska gemetaran melihat foto itu. beruntung Ray menutup wajahnya sehingga tidak terlihat sedikitpun.
tring...
π© From Kak Fajira
"cie yang udah gak jomblo lagi. Hekm... hekm... di tunggu klarifikasinya dalam waktu dekat wkwkwk. g'nite. Jang lupa tidur, ingat kamu harus menjawab pertanyaan kak Ray rabu depan. semangat Yaa!!"
"huaa apa Kak Ray sudah mengatakan ini kepada Pak Irfan dan kak Jira? huaa maluuuu" pekik Riska frustrasi.
"eh iya tugas, huaaa! kenapa harus ada tugas sih?"
Ia segera mengerjakan tugasnya yang akan diserahkan besok. Dengan wajah yang masih merona, ia menyelesaikan tugas itu sambil tersenyum. Tak butuh waktu lama, ia bisa menyelesaikannya dengan cepat, mungkin di dukung oleh perasaan senang yang selalu menyelimutinya.
"Ahh selamat datang status baru" ucap Riska sebelum memejamkan matanya untuk beristirahat.
__ADS_1
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE