Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
50. Rencana Pernikahan


__ADS_3

Mobil yang membawa Fajira berhenti di parkiran Fakultas Kedokteran. Ia menjadi pusat perhatian karna menggunakan mobil mevvah dan di antar oleh driver.


"bapak pulang saja dulu mana tau ada yang membutuhkan bantuan bapak. Nanti saya keluar sekitar jam 11"


"gak apa atuh Nya, saya memang sudah jadi driver pribadinya nyonya Fajira"


huh, kamu memang berlaku seenaknya Mas. bathin Fajira geram.


"ya sudah kalau begitu saya keluar dulu pak"


"iya Nya"


Fajira berjalan dengan anggun menuju ke kelasnya, banyak pasang mata yang menatap perempuan itu dengan penasaran.


"Bagaimana bisa dia menaiki mobil mewah seperti itu?"


"gak mungkinkan ada driver online yang make mobil mewah untuk mencari uang?"


Begitu bisik-bisik tetangga yang di dengar oleh Fajira, namun ia tidak menghiraukan sedikitpun dan terus berjalan menuju kelasnya.


"hai kak" sapa Riska.


"hai Ris, apa kabar?"


"baik kok kak. Aku mau nanya boleh gak kak?"


"boleh mau nanya apa?"


"kakak baru beli mobil baru ya?" celetuk Riska membuat perhatian semua orang teralihkan.


"bukan, itu mobilnya ayah Fajri" ucap Fajira santai namun pelan.


"kakak serius? be-berarti" pekik Riska tidak percaya.


"sstt... iya, kami sudah bersama"


"ka-kapan kaka nikah?"


"dalam waktu dekat ini Ris, kamu datang ya"


"iya kak. Apa semuanya di undang"


"gak cuma kamu saja. Soalnya ini privat wedding"


"oalah, betapa beruntungnya Aku" ucap Riska senang.


"selamat pagi ananda semua" ucap dosen yang masuk ke dalam kelas Fajira.


Saat ini Fajira sudah berada di semester 3 dan ia akan berencana tamat dalam waktu 3 tahun, beruntung dosen pembimbing Akademiknya menyetujui dan mendukung keputusan Fajira. Sehingga ia sudah lebih sibuk saat ini karna mengejar pelajaran yang harus ia pelajari secepatnya. Namun bagaimanapun ia harus memiliki waktu untuk pangeran tampannya yang sedang tumbuh aktif dan mengemaskan, rasanya Fajira tidak ingin melewatkan sedetikpun waktu untuk melihat tumbuh kembang Fajri.


Tak terasa waktu berlalu Perkuliahan hari ini sudah selesai, Fajira segera berjalan keluar menuju mobilnya dan menjemput Fajri ke sekolah.


"pak kita mampir ke sekolah Fajri dulu ya"


"baik Nya"


Mobil mewah itu menuju ke sekolah Fajri. Sebenarnya pria kecil itu pulang pada pukul 12.40, namun Fajira ingin melihat bagaimana anaknya bergaul di sekolah dan bertanya kepada wali kelasnya.


Ddrrttt... ddrrtt...


Irfan memanggil Fajira melalui sambungan telefon.


"halo mas"


"halo sayang. Sudah pulang?"


"sudah Mas, ini mau ke sekolah Fajri. Ada apa?"


"Kamu bisa ke kantor Mas sebentar sayang?"


"hmm... Ya sudah, tapi tunggu aku di bawah ya"


"iya sayang. Tapi bukannya kamu tau di mana ruanganku?"


"itu kan di perusahaan lama Mas,"


"Masih sama sayang, di lantai 7"


"baiklah"

__ADS_1


"Mas tunggu ya sayang"


tut....


"pak kita ke kantor Mas Irfan" Ucap Fajira setelah mematikan panggilannya.


"baik Nya"


Ada apa mas Irfan memanggil? semoga tidak ada hal yang aneh terjadi.


Mobil berhenti di loby perusahaan Dirgantara CORP. Banyak pasang mata yang terkejut ketika melihat Fajira turun dari mobil atasan mereka.


"Siapa dia? kenapa bisa turun dari mobil presdir?"


"apa dia pengganti nyonya Vina? atau dokter yang di panggil presdir?"


Begitulah pertanyaan yang timbul dalam benak karyawan disana. Di tambah dengan driver pribadi Irfan yang mengendarai mobil itu. Karna saat uni fajira tengah memakai Jas berwarna putih kebesarannya.


"pagi pak" sapa Fajira.


"pagi bu, ada yang bisa saya bantu?" ucapnya Ramah.


"saya mau bertemu dengan presdir pak. Mari" ucap Fajira tersenyum.


"Apa ibu sudah memiliki janji?"


"sudah pak. Permisi"


"silahkan ibu"


Fajira melangkah dengan anggun menuju lift eksklusif untuk CEO. Namun ketika hendak melangkah seseorang mencegahnya.


"maaf bu, ini lift khusus presdir, jika ibu ingin naik silahkan pakai yang di sebelah sana" Ucap Syifa menegur Fajira.


"ah iya. maaf ya saya tidak tau"


"iya bu"


Fajira mengalah dari pada harus ribut dengan perempuan itu. Mereka memasuki lift itu bersama dan terdiam. Hingga ponsel Fajira kembali berdering.


"iya mas"


"iya, aku lagi di lift"


"ya sudah aku tunggu ya"


"iya sayang"


tut..


"ibu mau cari siapa?" tanya Syifa setelah Fajira mematikan panggilannya.


"ah saya mau bertemu dengan suami saya mbak"


Ting...


Lift berhenti di lantai 7, Syifa mengernyit melihat Fajira yang juga ikut keluar, namun ia tidak terlalu menanggapi dan berjalan lebih dulu dari Fajira.


"permisi mbak, Tuan Irfan ada?" ucap Syifa


"ada, mau antar berkas?"


"iya mbak"


"masuk aja"


"mari mbak" Syifa berlalu dari meja sekretaris.


Fajira yang mendengar itu melangkah masuk kedalam namun ketika hendak menyentuh pintu besar itu, ia di cegat oleh fitri sekretaris Irfan.


"eh ibu mau kemana? itu ruangan presdir bukan ruang pegawai" ucapnya ketus.


"iya saya tau, dan saya memang mau masuk ke dalam"


"apa ibu sudah membuat janji? jika belum silahkan membuat janji terlebih dahulu. kalau sudah mana buktinya?"


"ada apa ini?" ucap Ray yang baru keluar dari dalam ruangan dan hendak menjemput Fajira.


"ini tuan, ibu ini main masuk sembarangan saja, sini mana buktinya jika ibu membuat janji dengan tuan Irfan" ucapnya ketus dan berlagak.

__ADS_1


"Tuan Ray, tolong anda urus ibu yang terhormat ini, saya capek. Boleh saya masuk terlebih dahulu?"


"silahkan Nyonya" Ray membukakan pintu dan membuat fitri terkaget dan emosi.


"terima kasih tuan Ray"


"sama-sama nyonya"


Fajira masuk ke dalam ruangan itu dan di sambut hangat oleh Irfan. Sementara Fitri di sidak oleh Ray di luar.


"Mas, eh ada tamu ya?" ucap Fajira pura-pura tidak tau.


"sayang, sudah sampai? kenapa Lama banget datangnya?" Irfan berjalan ke arah Fajira dan memeluknya lembut lalu mencium kening perempuan cantik itu.


"gak tau, ada aja halangannya sampai ke sini"


"ya sudah, kamu duduk dulu ya sayang, aku ada kerjaan sedikit"


Irfan kembali berjalan menuju meja kerjanya dan menatap Syifa yang sudah pucat pasi karna takut.


Duh dia siapa presdir? nanti dia bakalan mengadu gak ya?.


Irfan segera menyelesaikan sedikit pekerjaannya dengan Syifa yang nota bene adalah sekretaris direktur keuangan. Setelah selesai Syifa berlalu dari ruangan itu, sementara Irfan tersenyum nakal menatap perempuan yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.


"sayang" panggil Irfan sambil memeluk Fajira dari samping.


"sudah selesai?"


"sudah. Kangen" ucapnya manja.


"ih kan tadi pagi baru ketemu, lagian semalam suntuk kamu juga meluk aku"


"hehehe. Aku gak pernah puas jika itu menyangkut tentang kamu sayang"


"ih dasar! Sekarang kenapa mas panggil aku ke kantor?"


"itu ada beberapa katalog yang di ambil Ray dari pihak WO sayang, kamu mau yang mana?"


Fajira melihat beberapa katalog yang sudah tersedia, mulai dari dekorasi, gaun penganting dan lainnya. sembari berdiskusi Irfan sesekali menjajaki Fajira dengan mencuri ciuman dari perempuan itu, namun Fajira hanya membiarkannya saja, karna lebih capek menahan dan melarang laki-laki itu.


"mas Aku mau privat garden party saja ya, gak usah undang banyak orang, lebih baik kita mengundang beberapa anak yatim piatu atau panti asuhan Mas. Bagaimana menurut kamu"


"hmm... Kalau menurut aku begini sayang, kalau kamu mau mengundang anak Panti boleh, mas dukung, tapi kita bikin dua hari. Satu hari untuk pesta pernikahan kita, satu hari lagi untuk undangan anak Panti bagaimana?"


"kenapa harus di pisah?"


"sayang, bukan mas membedakan kasta. Tapi kita gak tau bagaimana orang bersikap terhadap mereka. gak semua pebisnis memandang orang itu sama sayang. Mas hanya mewanti-wanti, jangan sampai mereka mendapatkan perlakuan yang tidak baik. Bagaimana?"


"ya sudah aku ikut Mas aja" fajira tersenyum dan mengusap rahang tagas itu dengan lembut.


"sayang"


"hmm"


"Kita menikah hari minggu ya, besok kita fiting baju, kemungkinan keluarga ku akan datang besok atau lusa"


"mereka sudah setuju Mas?. Kamu gak mengancam mereka kan?"


"gak lah, masa iya mas mengancam orang tua. Kualat sayang"


Mereka berbincang mengenai persiapan pernikahan kilat mereka yang akan di adakan hari minggu ini. Semua undangan sudah tersebar secara virtual. Hingga waktu Fajira pulang dan menjemput Fajri sendiri karna Irfan masih ada pekerjaan setelah ini.


"aku pulang dulu Mas" ucap Fajira mengedipkan matanya.


"sayang jangan mancing-mancing"


"gak mancing kok Mas, Aku pergi dulu bye sayang" Fajira menghilang di balik pintu dan segera pergi menuju sekolah Fajri.


"aarrghhh... kenapa kamu semakin mengemaskan sayang" teriak Irfan frustrasi sambil tersenyum


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE


Yuk simak terus ceritanya jangan lupa dukung terus ceritaku dengan cara terbaik teman-teman semua.


Baca aja boleh, koment aja boleh, Vote saja boleh, LIKE aja juga boleh, atau hanya scrol saja boleh πŸ˜…πŸ˜….


terima kasih😍

__ADS_1


__ADS_2