Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
217. Jahilnya Safira


__ADS_3

Temaram sinar bulan menemani seorang gadis cantik yang tengah termenung di tepi jendela. Matanya menatap nanar ke sembarang arah sembari memikirkan apa yang tengah dialaminya hari ini.


"Tidak ada alasan apapun agar kamu terlihat pantas, kamu berada di sini karna aku yang memilihmu, aku yang mengingikanmu, Safira! Sayang, kita nikah yuk!" ucap Fajri.


Helaan nafas kasar kembali terdengar keluar dari mulut Safira ketika ajakan Fajri kembali terngiang di kepalanya.


Kenapa aku jadi bimbang seperti ini? Dulu aku memang sangat ingin bertemu dengan kak Fajri, karna dia adalah inspirasiku. Tapi bukan seperti ini juga, bagaikan langit dan bumi, Aku gak akan pernah pantas untuk kak Fajri. Bahkan dengan apa yang aku dapatkan hingga hari ini pun, tidak akan mencapai 1 persen agar bisa pantas bersanding dengannya!. batin Safira.


Ia memilih untuk berbaring di atas kasur dan menatap langit kamar.


"Dengarkan aku sebentar! Aku hanya menginginkanmu untuk menjadi istriku, Aku tidak ingin memberikan kamu waktu yang banyak untuk berfikir, karna semakin lama aku menunggu, akan semakin banyak orang yang membuat kamu jauh dariku!" ucap Fajri.


Kata-kata itu selalu terbayang dan dan kembali terngiang telinga Safira.


"istri? menikah muda? menjadi Nyonya Fajri? tuhan, takdir macam apa ini? upik abu bertemu dengan pangeran, itu gak akan mungkin!" ucap Safira frustrasi.


"Apa, kak Fajri hanya mempermainkanku? bukankah kemarin ia terlihat begitu tergesa-gesa untuk menjemput wanita bule itu! Bahkan aku yang sudah datang lama pun, tidak di hiraukannya!" tanya Safira bingung, namun ia teringat dengan perkataan Fajira beberapa waktu lalu.


"Nak, jangan merasa minder hanya karna kamu tidak memiliki harta yang berlimpah. Bunda gak pernah membeda-bedakan orang hanya karna status sosial! Kamu akan tau bagaimana Fajri setelah menikah nanti. Setelah itu, baru kamu akan merasa pantas dan sepadan dengannya!" ucap Fajira tersenyum.


"Apa maksud dari perkataan Bunda sebenarnya? Gak mungkin, kak Fajri anak pungut kan? secara dia sangat mirip dengan, Bunda,"


Safira merasa lelah bathin dan fisik, banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk menerima lamaran Fajri. Bahkan saat ini ia tidak tau, hubungan macam apa yang telah mengikatnya bersama dengan pangeran tampan itu.


huft,...


"Semoga keputusanku kali ini memang benar dan tidak membuat kak Fajri terluka!" ucap Safira sambil menutup matanya.


🌺🌺


"Abang, anterin ih!" kesal Ivanna.


"Iya, tapi Abang juga mau jemput kakak dulu, sayang!"


"ya udah, ayo! nanti telat!" dengus Ivanna.


Ia sedikit merasa cemburu karna Fajri yang mulai bucin kepada Safira. Wajah dingin Ivanna terpancar begitu saja sepanjang perjalanan mereka.


"kenapa, sayang?" tanya Fajri sambil mengusap kepala Ivanna.


"Lagi mempersiapkan diri kalau Abang udah nikah nanti!" ketus Ivanna.


"Emangnya Abang kenapa kalau udah nikah?" tanya Fajri mengernyit.


"belum lagi nikah, Abang udah pilih kasih!" ketus Ivanna semakin menjadi.


"Pilih kasih gimana sayang?"


Ivanna menatap Fajri dengan tajam. Kenapa Abangnya tidak peka dengan apa yang tengah di fikirkannya.


"jangan berpikir macam-macam, sayang! Abang tetap lebih sayang sama, dede. Namanya juga orang baru jatuh cinta, Abang akan berlaku adil untuk para wanita, abang nanti !"ucap Fajri terkekeh.


"Dede serius, bang! Belum lagi menikah, Dede harus seperti ini. Biasanya Abang mau mengantar Dede ke kampus, sekarang Dede harus merengek dulu, baru Abang mau!" ucap Ivanna menahan tangisnya.


"Sayang, Abang bercanda tadi. gak mungkin abang lebih memilih Safira di bandingkan kamu!" ucap Fajri mengelus kepala Ivanna dan menyandarkannya di bahu.

__ADS_1


"Jangan pernah berubah, walaupun Abang menikah nanti!" ucap Ivanna lirih.


"Abang, gak akan berubah sayang. Hanya kamu adik Abang satu-satunya, masa iya gak abang perhatikan! Ingatkan Abang, kalau sekiranya nanti Abang sudah terlena dan melupakan kamu, Tapi Abang selalu berusaha agar Dede gak merasa cemburu sama kakak!" ucap Fajri tersenyum.


Mobil baru saja berhenti di depan gerbang rumah Safira, bertepatan dengan keluarnya gadis itu dari rumah. Ivanna melambaikan tangannya dan meminta Safira untuk berangkat bersama.


Gadis itu menurut, ia duduk di kursi penumpang bagian belakang dengan wajah yang berseri dan sempat membuat Fajri termagu, melihat betapa cantik wanita yang akan menjadi miliknya ini.


"jalan, bang! udah siang ini!" ucap Ivanna mendelik.


"i-iya, sayang. Jangan marah-marah, nanti cepat tua!" ucap Fajri terkekeh begitu juga dengan Safira.


Mereka segera berangkat menuju kampus dengan cepat. Beruntung Fajri tidak terlalu sibuk, sehingga ia sedikit santai dan bisa menemani dua bidadari cantik ini untuk pergi ke kampus.


Mobil mewah Fajri perlahan memasuki gerbang. Fajri lebih dulu mengantar Ivanna ke dalam kelas dan setelah itu mengantarkan Safira.


"belajar yang rajin, sayang!" ucap Fajri mengusap kepala Ivanna lembut.


"iya, bang. Abang juga, kerja yang rajin, jangan pacaran mulu!" ucap Ivanna menahan senyumnya.


"Aih!, ya sudah sana masuk! Abang mau ngantar kakak dulu!" ucap Fajri.


Banyak pasang mata yang menatap mereka. Apalagi Fajri yang sudah menggandeng Safira menyusuri lorong menuju gedung sebelah,dimana Safira akan belajar.


"Nanti Habil belajar, sayang mau kemana?" tanya Fajri.


"Mau ke perpustakaan, kak. ada tugas yang harus aku kerjakan!"


"apa di perpustakaan rumah, gak ada buku yang kamu butuhkan?"


Mereka masih berjalan dengan santai menuju kelas, Safira. Namun siapa di sangka, Fajri bertemu dengan rivalnya yang terlihat seperti tertarik dengan Safira.


"Fira? ini buku kemarin yang aku pinjam!" ucap Fero menghampiri Safira.


"eh. iya. Terima kasih ya, Kebetulan aku juga memerlukannya!" ucp Safira tersenyum.


Fajri meradang, baru kemarin ia mengatakan jangan tersenyum manis kepada orang lain, dan sekarang ia malah nelihat Safira tersenyum kepada orang lain, laki-laki pula.


"hekm,..." deham Fajri dengan wajah yang dingin.


"Tuan Fajri!" sapa Fero dengan sedikit membungkuk.


"iya!" jawab Fajri singkat dan memeluk pinggang Safira posesif.


Kok, kak Fajri seperti itu sih? apa jagan-jangan,.... bathin safira terkejut dengan senyum yang terbit begitu saja.


Aku kejain ah!. Sambungnya.


"Kak, Kenalkan ini Fero.Selain Dede, dia yang sering membantu aku!" ucap Safira.


deg!


Mata Fajri melotot dan menelisik ke arah Safira yang tengah memasang tampang polosnya.


"oh ya? Terima kasih, Fero karna mau menjaga calon istriku ini!" ucap Fajri tersenyum smirk.

__ADS_1


Aih, kenapa kakak ngomongnya gitu?. Batin Safira mendelik.


"ah, i-iya, Tuan! sama-sama," ucap Fero tersenyum kecut.


"kalau begitu, kami lanjut jalan lagi! sini sayang, bukunya biar kakak yang bawa!" ucap Fajri tersenyum smirk kearah Fero dan mengambil buku yang tengah di pegang oleh Safira.


"i-iya, Tuan silahkan!" ucap Fero tersenyum kecut.


Fajri tidak mengucapkan satu patah kata lagi dan segera mengajak Safira pergi dari sana. dengan wajah masam.


"Kakak kenapa?" tanya safira memancing.


"apa kamu dekat dengan dia?"


"iya kak, aku berteman dengannya sebelum bertemu dengan, Dede,"


"ngapain aja?" tanya Fajri dingin tanpa melihat ekspresi Safira.


Gadis itu semakin usil untuk mengerjai Fajri. Ia ingin melihat apakah Fajri cemburu kepadanya atau tidak.


Semoga kali ini bisa meyakinkan perasaanku untuk kakak. bathin Safira.


"Aku udah melakukan banyak hal sama Fero, kak. Tapi masih dalam batas wajar. Kadang kalau ada pasar malam, kita pergi main, makan bareng, banyak lagi deh pokoknya!" ucap Safira.


Padahal itu tidak semua benar dan Safira menambahkan beberapa ceritanya saja. Fajri melotot dengan wajah yang mulai memerah. Ia berhenti berjalan dan menatap Safira lekat.


"Sayang?" panggil Fajri yang terdengar horor di telinga Safira.


Glek!


Mampus, aku!.


"Apa kamu ngomong seperti itu hanya untuk membuatku cemburu?" tanya Fajri dingin, Safira hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Kalau sampai, aku tau kamu berbohong, siap-siap saja untuk mendapatkan hukuman dariku!" ucap Fajri tersenyum smirk.


Glek!


Safira kesusahan menelan ludahnya ketiak melihat ekspresi Fajri. Ia gelagapan dan langsung tersenyum manis ke arah Fajri.


"Memang betul kak. Ya gak sering sih. Jangan gitu wajahnya, Aku takut!" ucap Safira cemberut.


Aku gak akan bisa menahan diri kalau sudah melihatnya seperti ini. Safira, harus aku akui jika, aku cemburu! sangat cemburu!. Batin Fajri menatap gadis cantik itu.


"yuk, kak. Nanti aku telat!" Ajak Safira yang melihat wajah Fajri masih belum bersahabat.


Hahaha, kaka bisa hareudang juga ternyata!. Batin Safira tersenyum senang.


Mereka berjalan menuju kelas Safira di iringi tatapan iri oleh semua mahasiswi yang ada di sana. Mereka juga ingin berada di posisi Safira saat ini.


Setelah mengantarkan wanitanya menuju kelas, Fajri segera berangkat menuju kantornya untuk bekerja. Tak lupa ia meninggalkan pesan kepada Safira agar mampir ke kantor setelah jam perkuliahannya selesai.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2