
Begitu berat rasanya melepas orang yang kita sayangi. Apalagi keluarga yang selalu ada baik susah maupun senang. Namus setiap manusia memiliki garis hidupnya masing-masing yang sudah di tentukan oleh tuhan.
Setelah beristirahat, Fajira mengajak Irfan dan Fajri menuju makam kedua orang tuanya. Irfan sedari tadi menekuk wajah tampannya karna tidak mampu melawan kehendak Fajira.
Ia ingin pergi menggunakan mobil agar istrinya tidak kelelahan, namun Fajira malah ingin berjalan agar bisa menyapa para tetangganya dulu.
"Ayo lah, Mas! Kamu jangan seperti ini. Hamil tua seperti aku memang harus banyak berjalan, sayang!. Lagian jaraknya dekat, hanya 300 meter dari sini, sepertinya jalan ke sana sudah terlihat lebih bagus," delik Fajira.
Selalu saja seperti ini!. Fajira berjalan keluar kamar dan meninggalkan Irfan yang masih terduduk di atas ranjang.
Sementara Fajri, pria kecil itu sudah berdiri di balik jendela rumah. Ia melihat anak-anak yang berkerumun di depan barisan beberapa orang penjaga itu tengah menatap ke arah rumahnya.
"Abang lihat apa, sayang?" ucap Fajira dan membuat Fajri terkejut.
"iihh, Bunda! Aji kaget. Hmm itu mereka ngapain berdiri di sana? apa om itu akan menembak mereka Bunda?" tanya Fajri polos.
"hehehe,,, gak, sayang. Om itu hanya menjaga keamanan nanti. Abang sudah siap? Sudah pake sepatu?" tanya Fajira terkekeh mendengarkan pertanyaan polos Fajri.
"sudah, bunda. Yuk kita berangkat!" Fajri mengambil tiga ikat bunga yang ia pilih di jalan tadi sebelum sampai di desa.
"yuk, sayang!" Fajira membuka pintu rumah itu.
Seperti biasa banyak orang yang penasaran dengan sosok Fajira yang baru. Mereka cukup terkejut ketika memastikan jika itu memang benar Fajira. Ia sengaja tidak memakai masker karna ingin merasakan udara segar dan masih asri di kampung itu.
"Bunda, Ayah mana?" tanya Fajri ketika tidak melihat Ayahnya.
"Ayah gak ikut mungkin, sayang. Gak papa 'kan kalau kita pergi berdua?" Fajira menggandeng tangan Fajri dan berjalan keluar rumah.
"Apa gak kita paksa saja ayah Bunda?"
"biarin aja, sayang. Yuk kita jalan!" ucap Fajira tersenyum sambil menggandeng.
"ihh, kok main tinggalin aja sih?" keluh Irfan sambil cemberut dan membawa satu ikat bunga di tangannya.
"Aku kira tadi gak mau ikut!" delik Fajira.
"Aku ikut, sayang! tapi kita pakai mobil saja ya!" bujuk Irfan kembali.
"Yuk, bang, kita jalan!" Ajak Fajira.
Huft... Irfan pasrah, ia berjalan di samping Fajira dan mengambil bunga yang tengah di pegangnya.
"Ayah kenapa cemberut?" tanya Fajri.
__ADS_1
"Gak papa sayang, Ayah hanya khawatir sama bunda. Kan pergi ke kuburan jaraknya jauh sayang. Masa iya mau jalan kaki!" Adu Irfan kepada putranya yang possesif itu.
"Apa benar kata ayah Bunda?" tanya Fajri menatap Fajira lekat.
"Gak sayang, jaraknya hanya 300 meter. Abang jangan ikut-ikut ayah ya sayang!" ucap Fajira mewanti-wanti kegilaan anaknya
"300 meter itu jauh Bunda! Yuk kita berbalik dan menaiki mobil!" pekik Fajri menarik tangan Fajira.
"Om, tolong panggilkan Pak sakti ya, Bilang bawa mobil kesini! Cepat ya om! dalam waktu 5 menit!" ucap Fajri sopan namun tegas.
Penjaga itu lari kalang kabut ketika mendapatkan perintah pertama dari Tuan mudanya.
"Abang!" seru Fajira sambil menatap Fajri jengah.
"Ayah benar Bunda, 300 meter itu jauh lo, nanti Bunda ke capean gimana?" Ucap Fajri menatap Fajira dengan serius.
"Fajri!" panggil Fajira yang terdengar horor di telinga pria kecil itu.
"Bunda!" ucap Fajri tak kalah horor.
Harusnya dari awal aku meminta bantuan sama Fajri. Ahh Fajira lebih mendengarkan perkataan Fajri dari pada diriku. Bathin Irfan menghela nafas beratnya.
Brum....
Mobil keluar dengan cepat dan berhenti dengan perlahan di samping Fajira.
"huft... ya sudah!" Fajira pasrah.
Ia hanya bisa mendumel dalam hati sambil menaiki mobil itu. Diikuti oleh Fajri dan Irfan bergantian. Mereka segera berangkat menuju pandam pekuburan dimana keluarga Fajira beristirahat.
"belok kiri pak, nanti ada simpang tiga belok kanan. Jalannya pelan-pelan saja!" ucap Fajira.
"Baik, 'Nya."
Mobil terus berjalan mengitari jalan yang cukup kecil itu dengan perlahan. Banyak pasang mata yang melihat mereka, karna keberadaan mobil kewah itu sangat jarang, bahkan tidak pernah terlihat di kampung ini.
"Bunda, anak-anak yang tadi ngikutin kita!" ucap Fajri yang melihat ke arah belakang.
"iya kah? Astaga itu 'kan bahaya!" ucap Fajira khawatir.
"Pak pelan-pelan saja ya. Banyak anak-anak di belakang soalnya!"
"baik 'Nya"
__ADS_1
Mobil terus berjalan hingga 200 meter, Pak Sakti tiba-tiba saja berhenti dan membuat mereka mengernyit.
"kenapa, Pak?" tanya Irfan.
"Sepertinya kita tidak bisa lewat tuan!, jalannya sangat kecil dan semakin kecil," ucap pak Sakti menunjuk ke arah depan.
"Apa aku bilang, Mas! lebih baik kita jalan kaki saja!. Ya sudah, yuk kita turun!" ajak Fajira mulai membuka pintu mobil.
"hati-hati, sayang" ucap Irfan.
"iya! yuk kita keluar! jangan lupa maskernya!" ucap Fajira melotot melihat ke arah Irfan dan Fajri.
"hehehe" dua pria tampan itu hanya menyengir melihat Fajira yang melotot.
...πΊπΊ...
"Ini makan. Nenek, itu makam Kakek dan ini makam onty, sayang" Ucap Fajira serak sambil mengenalkan anggota keluarganya.
Mereka sudah sampai di makan keluarga Fajira Tiga makan itu terlihat sangat terawat dan bagus. Papa memang memang memperbaiki tiga makam itu dengan baik dan meminta orang untuk merawatnya.
*Ayah, Bunda, Adek. Maafin kakak karna baru bisa berkunjung sekarang setelah kepergian kalian. Apa kabar? aku rindu! sungguh aku sangat rindu kepada kalian!. Aku harap ayah dan Bunda tidak membenciku, karna aku menikah tanpa restu kalian maupun wali ku.
Sekarang aku membawa menantu dan cucu Bunda. Dia Mas Irfan, Yah, bund. Dia laki-laki yang begitu mencintaiku, laki-laki yang hadir membawa kesakitan dan kebahagiaan secara bersamaan. Namun saat ini aku merasa bahagia bersamanya bunda, Ayah. Aku harap kalian merestui hubunganku dengan Mas, Irfan*. Bathin Fajira dengan mata yang berkaca-kaca.
Selamat sore, Ayah, Bunda. Perkenalkan saya Irfan, suami dari Putri kalian, Fajira. Aku harap kalian tidak mengutukku atas apa yang sudah ku perbuat kepadanya. Beristirahatlah dengan tenang, aku berjanji akan menjaga mereka hingga maut menjemputku. Maafkan Aku karna baru bisa mengunjungi kalian. Terima kasih telah melahirkan perempuan cantik dan kuat ini. Aku mencintanya dengan seluruh jiwa dan ragaku. bathin Irfan.
Hai nenek, kakek dan onty. Aku Aji cucu nenek dan kakek. Kita belum sempat bertemu ya. Bunda kuat banget, masih bisa hidup dengan baik sampai sekarang walaupun tanpa orang tua. Kalau Aji gak akan pernah sanggup, nek. Istirahatlah dengan tenang, Aji akan menjaga bunda sampai kapan 'pun. Walaupun sekarang masih kecil, tapi nenek sama kakek gak usah risau ya. Aji akan menjadi laki-laki yang hebat dan kuat ketika dewasa nanti. Aji akan membahagiakan bunda. Aji janji!. Bathin Fajri berusaha untuk menahan tangisnya.
Mereka terdiam dengan pikiran dan perasaan masing-masing. memanjatkan beberapa do'a untuk mereka yang telah tiada.
Hingga rasanya cukup, mereka segera pergi dari sana dengan membawa perasaan haru yang menyelimuti keluarga kecil itu.
"yuk kita pulang, hari sudah semakin sore," Ajak Irfan.
"Iya, sayang. Yu, nak!" Ajak Fajira.
Mereka segera pulang menuju kediaman Fajira. Ada perasaan lega yang terlihat dari raut wajah Fajira bercampur dengan rasa haru menyelimuti hatinya.
Irfan masih setia menggenggam tangan lembut istrinya, begitu juga dengan Fajri. Mereka berjalan menuju mobil dengan saling menguatkan satu sama lain.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
__ADS_1
pagi menjelang siang gais, maaf ya semalam aku gak sempat untuk Update. semoga hari ini bisa up 3 episode ya.
jangan lupa tinggalkan jejak π