Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
101. Fajri Sakit


__ADS_3

ddrrtt... ddrrtt...


Ponsel Irfan berdering memecah keheningan di antara ke dua orang laki-laki nan tengah fokus itu. Irfan segera mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan masuk tersebut


"Halo sayang"


"Halo, Mas. Apa kamu sibuk, sayang?" tanya Fajira dengan suara bergetar cemas.


"kenapa Sayang?. Kamu baik-baik saja kan?" tanya Irfan mengernyit.


"Kamu bisa pulang sekarang?, Fajri badannya panas banget, Mas!"


"Kamu serius? Aku pulang sekarang!" pekik Irfan.


tut...


"Ray, saya pulang dulu, Fajri sedang sakit. Kamu atur semuanya, saya akan pantau dari rumah nanti!" pekik Irfan setelah mematikan sambungan teleponnya.


"baik tuan!" Ucap Ray sedikit terkejut mendengar jika Fajri tengah sakit.


Irfan bergegas pulang ke rumah dengan hati yang risau dan cemas. Karna tadi pagi Fajri sedikit mengeluhkan sakit kepala, sehingga ia memaksa Fajri untuk beristirahat di rumah dulu. Karna pria kecil itu menolak untuk libur sekolah.


🌺🌺


Sementara di kediaman Dirgantara, Fajri tidak mau lepas dari Fajira berang sebentar saja. Ia masih saja bergantung pada perempuan yang tengah hamil itu.


"Masih pusing nak?" Tanya fajira sambil memijit lembut tengkuk pangeran tampan


yang berada di dalam gendongannya.


"hmm" lenguh Fajri sambil mengeratkan pelukannya kepada Fajira.


"maafin Aji, bunda" ucapnya lirih.


"Sekarang Aji paham kan kenapa Bunda melarang Aji untuk main hujan?"


"iya, Bunda. Aji paham. Maafin Aji bunda" Entah berapa ganyak air mata yang di keluarkan oleh pria kecil itu dari semalam.


"Gak papa, sayang. kalau Aji nangis nanti kepalanya tambah sakit nak!"


Fajri memang tidak kuat jika terkena air hujan dari kecil. Kali ini ia melanggar larangan Fajira tentang hal yang satu ini karna ajakan dan paksaan dari teman-temannya kemarin.


"Fajri yok kita main hujan, sambil menunggu orang tua kita datang" bujuk Reno sambil menarik tangan Fajri.


"Aji gak boleh main hujan sama Bunda, bang! nanti sakit" tolak Fajri.


"sakitnya cuma sekali kok, itu karna kamu gak biasa! nanti kalau udah biasa gak akan sakit. Percaya deh!".


"Gak lah, Bang! Nanti Aji kena marah"


"gak akan kena marah lo Ji. Ayo" Reno menarik tangan Fajri dan membawanya berlari menempuh air hujan.


Fajri yang awalnya takut malah menikmati keseruan yang perlahan menghampirinya. Mereka juga berdiri di bawah pancuran air dan bersenang-senang bersama beberapa siswa yang masih menunggu jemputan. Fajri terlihat sangat senang karna untuk pertama kalinya ia merasakan bagaimana serunya bermain air hujan.


"gimana? serukan?" teriak Reno tertawa dalam derasnya hujan.


"iya bang, Seru banget! hahaha" teriak Fajri sambil tertawa.


Badan kecil nan imut itu sudah basah kuyup dengan tubuh yang mulai menggigil dan bibir yang pucat. Hingga Irfan datang menjemputnya untuk pulang.

__ADS_1


Fajira tak hentinya mengomeli Fajri, hingga ia puas. Sementara pria kecil itu hanya bisa menunduk sambil meminta maaf kepada bundanya karna sudah melanggar larangan dari bidadari cantiknya ini.


Ibu muda itu sudah menempelkan plaster kompres demam di dahi Fajri karna pria kecil itu tidak mau untuk berbaring. Ia juga sudah menghubungi dokter sebelum menghubungi Irfan tadi.


"Bunda, Pusing hiks... pusing" keluh Fajri sambil menangis.


"sabar ya sayang, Sebentar lagi ayah dan dokternya datang" Ucap Fajira.


Fajri sudah mendapatkan pertolongan pertama darinya kemarin. Namun karna masih terlalu takut bertindak lebih jauh, ia memilih untuk menghubungi dokter agar bisa memberikan tindakan selanjutnya untuk Fajri.


Pinggangnya sudah terasa sakit dan sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi. Namun Fajri juga tidak mau di baringkan di atas ranjang.


ceklek...


"Sayang?" panggil irfan yang baru saja datang.


"Bagaimana keadaan Fajri?" Irfan mengambil pria kecil itu dari gendongan Fajira.


"Aji mau sama Bunda, Ayah! hiks... gendong sama bunda" rengek Fajri yang tidak mau melepaskan pelukannya dari Fajira.


"Sama Ayah dulu ya sayang, Nanti Bunda gendong lagi. Pinggang Bunda lagi sakit" Fajira duduk di atas ranjang sambil mengusap pelan perutnya.


"sstt... sstt... sstt... Apa yang sakit nak?" tanya Irfan mengelus punggung Fajri.


"Sakit kepala, Ayah" Rengeknya.


"apa kita ke rumah sakit aja sayang?" Tanya Irfan kepada Fajira.


"gak mau! Aji gak mau di suntik, ayah!" rengek Fajri.


tok... tok... tok....


"masuk!" ucap irfan dari dalam.


"iya suruh masuk aja bi" ucap Fajira.


"Baik nyonya. Silahkan Dokter" ucap bibi mempersilakan dokter itu masuk.


"Terima kasih, Bi" Perlahan dokter itu masuk ke dalam kamar mewah Fajira.


"sama-sama dokter. Permisi" ucap bibi berlalu dari kamar.


"selamat datang dokter" sapa Fajira kepada dokter perempuan itu.


"Terima kasih nyonya" ucapnya membungkuk hormat.


Irfan membaringkan Fajri di atas kasur dan membiarkan Dokter memeriksa keadaannya.


"Tuan muda kenapa bisa sakit?" tanya dokter itu lembut sambil memeriksa keadaan Fajri.


"kemaren abang main hujan, dokter" ucap Fajira.


"main hujan ya? Emang Abang gak biasa main hujan, nak?"


"Abang gak bisa kena hujan dokter. Setiap kali main hujan pasti sakit"


"Iya?. Tunggu besar dikit lagi ya nak, nanti coba main hujan lagi. Karna kalau gak di coba tubuh abang gak terbiasa kena air hujan nanti, nak. Tapi izin dulu sama Bunda ya" Ucap dokter setelah selesai memeriksa pia kecil itu dan kembali merapikan pakaiannya.


"bilang apa nak sama bu dokternya?"

__ADS_1


"terima kasih bu dokter" lirih Fajri memeluk kaki Fajira.


"sama-sama tuan Muda. Cepat sembuh ya"


"terima kasih" lirih Fajri dan perlahan ia terlelap.


"Ini nyonya obat untuk tuan muda, di minum sesuai petunjuk yang sudah saya tuliskan ya"


"iya terima kasih dokter"


"kalau begitu saya permisi dulu"


"sekali lagi saya ucapkan terima kasih, maaf saya tidak bisa mengantarkan dokter ke luar"ucap Fajira segan.


"gak papa, nyonya. Semoga saja saya tidak tersesat hehe. Permisi" dokter itu berlalu.


Fajira mengelus kepala Fajri lembut, berharap anaknya bisa tertidur barang sebentar saja. Ia juga ikut membaringkan tubuh lelahnya dan meluruskan punggung yang masih terasa sakit karna menggendong Fajri terlalu lama.


ceklek...


"bagaimana keadaan Fajri sayang?" tanya Irfan yang baru saja keluar dari kamar ganti.


"Kata dokternya gak papa, sekali-sekali memang harus di biasakan agar imunnya bisa berkembang, Mas,"


"ya sudah. Istirahatlah dulu, mumpung Abang lagi tidur. Aku mau lanjut kerja lagi," ucap Irfan mengelus punggung Fajira.


"tunggu sampai aku tidur ya!"


"iya sayang"


Fajri sudah terlelap sambil memeluk Fajira. Suhu badannya masih sama seperti tadi, sehingga membuat Fajira sedikit cemas dengan keadaan putra kecilnya.


Irfan masih setia mengelus punggung Fajira yang sempat kaku karna menggendong Fajri terlalu lama.


cup...


Bibir seksi Irfan mendarat di pipi Fajira dan membuat perempuan itu kembali membuka matanya dan tersenyum.


"mau lagi, Sayang" ucap Fajira memonyongkan bibirnya.


Irfan dengan senyuman manis, memenuhi permintaan istri cantiknya. Ia mendekatkan wajahnya dan meraup bibi cerry milik Fajira. Ia terus menyesap dan merasakan manisnya bibir yang selalu membuat candu dan tidak akan pernah puas walaupun dengan durasi yang lama.


Setelah beberapa saat, Irfan menyudahi pagutannya ketika merasakan ada sesuatu yang mulai mendesak di bawah sana.


"Istirahat ya, sayang"


"iya sayang. Apa kamu horny?" tanya Fajira menahan hanya di balas senyuman oleh Irfan.


laki-laki itu masih menunggu Fajira terlelap agar bisa melanjutkan pekerjaannya, ia tersenyum dengan rasa khawatir yang datang bersamaan.


Semoga tidak akan terjadi apa-apa. tuhan sembuhkan lah anak dan istriku.


Setelah Fajira terlelap, Irfan beranjak menuju meja belajar Fajira dan mengambil laptopnya. Ia akan kembali meninjau beberapa pekerjaan yang sempat tertunda karena mengurus pemberitaan tentang Sherly.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE


pagi gengs...

__ADS_1


Sudah hari senin lagi nih, jangan lupa tersenyum ya, Aji lagi sakit ini tante online gegaran main hujan. Jangan lupa tinggalkan jejak ya biar Aji bisa senang dan cepat sembuh.


terima kasih πŸ€—


__ADS_2