
"Hai, kita bertemu lagi! apa saya lupa mengatakan untuk menjauhi Fajri? Sekarang dengan beraninya anda masih menunjukkan batang hidung di hadapan saya!" ucap Ivanna tersenyum smirk.
Semua karyawan mulai berbisik membahas siapa Zwetta sebenarnya. Beruntung Jam istirahat sudah masuk, sehingga membuat mereka bisa mencuri-curi pandang, melihat apa yang akan di lakukan oleh Nona Muda yang terkenal dengan ketegasannya ini.
"Setahu saya, anda adalah orang yang begitu terhormat dan terpandang di negara Inggris, Jerman dan beberapa negara lainnya, sesuai dengan kenegaraan yang anda miliki. Tapi kenapa tiba di negara orang, anda menjadi seperti ini?" tanya Ivanna sambil memperhatikan Zwetta dari bawah hingga ke atas.
Zwetta terdiam, ia mengambil tasnya dan berusaha untuk pergi dari sana. Namun Ivanna dengan porsi tubuh yang tak kalah tinggi menahan tubuh Zwetta yang hendak keluar.
"Kemana? Bukankah kita belum bersenang-senang?" tanya Ivanna menatap tajam Zwetta.
Mata mereka beradu tanpa ada sedikitpun terselip ketakutan. Ivanna dengan wajah dingin dengan aura menyeramkan akan terlihat seperti Irfan ketika sedang marah. Sementara Zwetta, semakin lama ia menatap Ivanna, ia semakin merasa takut dengan sorot mata tajam itu.
"ini peringatan pertama dan terakhir untuk anda! jauhi Fajri, sebelum saya bertindak lebih jauh!" ucap Ivanna sambil menggertakkan giginya.
"Apa yang akan anda lakukan Nona Muda yang terhormat? Anda hanya anak kemarin sore yang tidak akan bisa berbuat, apa-apa!" ucap Zwetta meremehkan Ivanna.
"Ah, saya lupa, jika saya hanya anak kemarin sore! Tapi maaf, saya memiliki apapun yang tidak anda miliki! saya bisa mendapatkan apapun yang tidak bisa anda dapatkan!" ucap Ivanna tersirat.
"Oh ya? apa, apa yang tidak bisa saya dapatkan?" tantang Zwetta.
Ivanna masih menatap lekat gadis yang sudah berani membangunkan singa yang tengah tertidur.
"Fajri, Fasilitas nomor 1, pastinya Abangku yang tampan itu akan melakukan apapun untuk saya, termasuk membuat perusahaan anda bangkrut dalam satu jam! Bahkan saya bisa melakukannya sendiri dalam waktu yang lebih cepat!" ucap Ivanna tersenyum smirk.
"heh, Anak kecil seperti kamu gak akan bisa melakukan hal besar seperti itu! lebih baik kamu kembali ke sekolah dan belajar dengan baik!" ucap Zwetta meremehkan.
"Ah iya, tante benar. saya harus kembali belajar ke sekolah, agar bisa mendapatkan pendidikan tentang, bagaimana cara membedakan manusia dengan binatang!" ucap Ivanna tersenyum smirk.
Zwetta terkejut dan melotot, tangannya terangkat begitu saja, hendak menampar Ivanna. Namun gadis itu lebih dulu menangkapnya dan memelintir tangan Zwetta ke belakang.
"Jangan panggil aku anak kecil tante! mematahkan batang leher anda saya sanggup detik ini juga!"
Ivanna sungguh sudah merasa gatal hendak menghajar perempuan yang ada di hadapannya. Namun karna mengingat pesan Bunda, jika ia adalah perempuan yang terpandang, dan tidak akan melakukan hal yang dapat merusak citranya sebagai perempuan yang terhormat.
"Lepaskan!" bentak Zwetta berusaha untuk melepaskan tangannya.
"Tidak, sebelum kau berjanji tidak akan menemui abangku lagi!" ucap Ivanna yang sudah sangat geram.
"Saya akan mengejar Fajri sampai dia,.... Aarrgghh!" jerit Zwetta ketika Ivanna semakin menarik tangannya ke belakang.
"Kau mau macam-macam denganku?" bisik Ivanna
"Aku tidak takut dengan siapapun!" ucap Zwetta semakin membuat Ivanna menyeringai.
Bugh!!
Ivanna mendorong Zwetta hingga gadis itu tersungkur ke lantai. Ia harus menahan diri agar tidak membuat Zwetta babak belur dan membuat daftar masalah, jika perempuan itu melaporkannya.
Sebelum Zwetta bangkit, Ivanna langsung menarik rambut perempuan itu hingga ia mendongak sambil meringis kesakitan.
"baru ini saja kau tidak mampu untuk melawanku! bagaimana jika saya bertindak lebih!" bentak Ivanna.
__ADS_1
"sakit! lepaskan! dasar kau wanita,... arrgghh!" jerit Zwetta ketika Ivanna semakin menarik rambut indah yang bergelombang itu.
"Apa kau masih belum menyerah? Asal kau tau, aku memilik kenalan ketua mafia di Jepang. Saya tinggal menelfonnya dan ketika kau keluar dari gedung ini, kau hanya tinggal nama! Apa kau mau?" bisik Ivanna menakut-nakuti.
Glek!!
Ternyata gadis ini begitu berani dan cukup menakutkan! Baiklah kali ini aku kan mengalah!. Bathin Zwetta
"baiklah, Aku kalah!" ucap Zwetta.
"kau fikir saya bodoh?" bentak Ivanna.
"Hari ini juga, saya beri waktu sampai sore. Jika kau tidak keluar dari negara ini. saya pastikan, kepala kau lebih dulu sampai di Jerman!" ucap Ivanna menyeringai dan menghempaskan kepala Zwetta.
Sialan gadis ini! kekuasaan yang aku miliki tidak berguna di negara orang! sial! lihat saja kau nanti!. Bathin Zwetta berusaha untuk bangkit.
"Security!" teriak Ivanna.
"usir dia dari sini!" ucap Ivanna tegas.
Dua orang sekuriti langsung menghalau Zwetta keluar dari gedung itu secara paksa.
"lepaskan! saya bisa sendiri!" bentak Zwetta.
"Kalian akan menerima akibatnya!" teriak Zwetta sebelum ia benar-benar keluar dari gedung itu.
Setelah kepergian Zwetta, Ivanna menatap semua karyawan yang ada di sana.
"Jangan sampai dia kembali masuk dan menginjakkan kakinya disini lagi, paham!" ucap Ivanna semakin tegas.
"paham, Nona!"
"hmm!"
Ivanna segera pergi dari sana menyusul Fajri dan Safira menuju panti.
πΊπΊ
Setelah menaiki mobil, Fajri sibuk dengan ponsel yang ia gunakan untuk bekerja, lalu memesan begitu banyak makanan yang akan di kirim ke panti nanti. Beruntung ia sempat mengisi saldo payment di ponsel itu sehingga ia tidak terlalu kesusahan saat ini. Sementara Safira juga ikut terdiam karna tidak menyangka dengan perlakuan Fajri tadi.
Bukankah itu wanita yang ia temui kemarin? Zwetta kan? aku gak salah dengar kemarin, bahkan Ivanna juga membahasnya. Kak, jangan berbuat lebih, atau aku akan susah untuk mengendalikan hatiku!. bathin Safira.
"Yuk, kita jalan!" ucap Fajri tersenyum.
Ia segera menjalankan mobil dan keluar dari parkiran perusahaan.
"Aku yakin, kalau kamu belum sarapan!" ucap Fajri memecah keheningan.
"siapa yang masih mampu menelan nasi, jika sudah di hadapkan dengan masalah ini, kak!" ucap Safira lirih.
"Jangan seperti itu, kamu juga butuh asupan dan tenaga untuk memikirkannya!" ucap Fajri menggenggam tangan Safira.
__ADS_1
Gadis itu terpana melihat tangan kekar Fajri menggenggam tangannya. Ia berusaha untuk mengendalikan detak jantung yang sangat tidak stabil dari tadi.
"ah, maaf!" ucap Fajri terkejut.
Ia segera melepaskan pegangan tangannya. Namun senyum manis khas Fajri terbit begitu saja tanpa bisa ditahan.
"Safira?" panggil Fajri lembut.
"i-iya, kak?"
"apa kamu memiliki kekasih?"
"aku belum memikirkan hal itu, kak! Karna sekarang aku hanya fokus untuk belajar dan bekerja!" ucap Safira lirih.
Nyess!
Entah mengapa hati Fajri sedikit tercubit mendengarkan ucapan Safira.
"Apa kamu tidak berniat untuk menikah muda?" tanya Fajri lagi.
"Tidak, kak. Aku harus bisa membantu panti sedikit banyaknya. ketika aku memastikan mereka tidak kekurangan. Baru aku akan memikirkan hidupku, kak!" ucap Safira.
Hati Fajri semakin terasa sesak mendengarkan ucapan Safira.
"Apa aku memiliki peluang untuk memilikimu?" tanya Fajri.
Deg!
Safira terkejut dengan pernyataan Fajri. Ia termagu, ada harapan besar jika ia bisa bersama dengan pangeran ini, namun itu tidak akan mungkin melihat begitu banyak wanita cantik yang dikabarkan dekat dengan Fajri.
"Aku pernah ditinggalkan karna dia merasa tidak pantas untukku. Padahal sebelum aku berada di titik ini, aku pernah tinggal di gubuk tua dan reot. Aku bahkan berfikir, perempuan seperti apa yang pantas untukku, apa itu harus anak orang kaya yang berada di urutan 20 besar di dunia? Atau Putri kerajaan Inggris? Atau aku harus menikahi anak sultan negeri Arab?" ucap Fajri tersenyum miris.
"padahal aku hanya menginginkan seorang istri bukan rekan bisnis. Perempuan yang bisa menjadi rumah untuk aku pulang, Perempuan yang memiliki wajah yang teduh dan menenangkan, Hanya itu saja. Aku gak butuh perempuan glamor yang membanggakan apa yang di milikinya. Dan semua itu aku temukan di diri kamu!" ucap Fajri menatap Safira lekat.
Mobil sudah berhenti di halaman panti asuhan, namun Fajri belum membuka pintu untuk mereka.
Safira terpana melihat tatapan Fajri, ia menelisik mencari alasan yang logis tentang ucapan Fajri tadi.
"Jangan memberiku harapan kak! Aku gak akan pantas,... hmmpphh" Fajri membungkam mulut Safira lembut.
Hanya menempel tanpa bergerak. sementara gadis itu terbelalak kaget ketika mendapatkan serangan mendadak dari Fajri.
"Jangan berkata yang aneh-aneh! kamu milikku mulai hari ini!" ucap Fajri tersenyum manis dan kembali mengecup kening Safira dengan berani.
Lalu ia turun dan membukakan pintu untuk gadisnya lalu menggandeng Safira yang masih terkejut.
πΊπΊπΊ
Aku gak sempat triple Update kemarin gais.
Maaf Yaa, kalau sikap Ivanna tidak sesuai ekspetasi readers. Aku hanya takut, jika Ivanna bertindak lebih akan membuat citranya sebagai Nona Muda akan hancur.
__ADS_1
ππ