
Sore ini Fajri akan kembali mengikuti ujian ke dua pada cabang lomba Fisika. Ia masih sibuk mencari keberadaan Ivanna sebelum ia turun ke bawah dan menuju Ballroom hotel.
Puas berkeliling, namun ia tidak menemukan adik kecilnya. Ia hanya menemukan Fajira yang tengah bersiap-siap untuk menemani ia pergi nanti.
"Bunda, Dede mana?" tanya Fajri.
"Dede tadi di ajak keluar sama Oma, sayang. Dede, kelihatan bete dari tadi!" ucap Fajira mengedikkan bahunya.
Fajri terdiam, tumben adiknya tidak berpamitan terlebih dahulu. Tapi ia tau apa penyebab bad mood Ivanna. Gadis itu cemburu karna kedekatannya dengan Raisa. Fajri hanya menghela nafasnya dan tersenyum, berfikir bagaimana cara untuk membujuk Ivanna nanti.
"yuk, sayang, kita pergi!" ucap Fajira tersenyum.
"iya, Bunda."
ketela segera pergi menuju Ballroom hotel bersama dengan Riska dan Raisa. Sementara Irfan dan Ray, mendadak harus pulang hari ini, karna ada pekerjaan yang tidak bisa untuk di undur. Sehingga dengan berat hati mereka harus meninggalkan Fajri dan Ivanna di sana.
...πΊπΊ...
"Bunda!" Wajah sendu Fajri tergambar jelas.
"Sabar, sayang. Yang penting Abang sudah lolos satu cabang lomba 'kan?" ucap Fajira tersenyum sambil membalas pelukan Fajri.
"iya, Bunda!"
"berarti belum rezeki, Abang!" ucap Fajira menenangkan.
Fajri gagal untuk masuk ke dalam grand final dalam cabang lomba Fisika. Ia hanya mampu menempati urutan keempat, setelah Jepang, Cina dan Malaysia.
Lengkap sudah kesedihan pria kecil itu hari ini. Bahkan Ivanna belum terlihat batang hidungnya sedari tadi. Fajira segera mengajak putra kebanggaannya untuk kembali ke kamar dan beristirahat. Ia tau jika Fajri sangat ambisius untuk membuat dirnya bangga. Seperti ini lah jadinya, ketika ia gagal, Fajira akan kesusahan untuk membujuk pria kecil itu.
Ketika mereka hendak berjalan, Bunga kembali mencari gara-gara dengan Fajri. Ia menatap pria tampan itu dengan tatapan tidak suka dan meremehkan.
"ternyata, anak genius se Indonesia bisa gak lolos juga ya!" ucap Bunga.
"kenapa? kakak mau cari masalah lagi sama, Aji?" tanya Fajri mengernyit.
__ADS_1
Fajira dan Riska hanya menatap dan menyaksikan respons Fajri. Jika sudah bermain fisik dan kekerasan nanti, barulah ia turun tangan untuk memisahkan mereka.
"gak, tuh! Kasihan ya, gak lolos. Padahal kurang beberapa poin lagi!" ejek Bunga semakin menjadi.
"Gak masalah. Yang penting, cabang Matematika udah masuk grand final. gak dapat juara pun gak masalah. Aji sudah bisa membawa nama Indonesia, semakin harum di tingkat Internasional!" ucap Fajri tersenyum smirk.
Mereka terdiam, seolah tertampar dengan ucapan Fajri yang begitu menusuk hingga ke jantung. Bunga kalah telak, ia berniat untuk mempermalukan Fajri, namun sekarang berbalik, ia menjadi malu dengan kata-katanya sendiri. Sementara Fajira dan Riska hanya bisa menahan senyumnya ketika mendengarkan perkataan pria kecil nan tampan itu.
"sudah, ya! Akui saja kekalahan kamu, jangan sampai ucapan yang tidak berbobot itu semakin membuat kakak jatuh! Akui saja jika Aji memang lebih pintar dari kakak!" ucap Fajri tersenyum.
Mereka semakin bungkam dan tidak berkutik. Fajri segera berlalu dengan wajah yang kembali sendu karna mengingat dirinya hanya butuh dua poin saja untuk mengalahkan siswa yang berasal dari Malaysia.
"Sudah, bang! Jangan sedih seperti itu. Besok grand finalnya akan di adakan, jadi Abang harus semangat, buktikan jika Abang bisa menang!" ucap Fajira tersenyum sambil mengusap kepala Fajri lembut.
"iya, Bunda! tapi sedih aja rasanya, karna hanya abang dah Dede yang lolos, selebihnya gak dapat, Bunda. ini seperti beban untuk Abang," ucap Fajri.
"gak papa, Abang 'kan sudah memberikan yang terbaik untuk kita semua, untuk Bunda, untuk Ayah, untuk keluarga, untuk sekolah juga. bahkan untuk Indonesia!" ucap Fajira semangat.
"Iya, Bunda benar. Setidaknya, Abang sudah melakukan apapun yang Abang bisa, begitu 'kan, Bunda?" ucap Fajri kembali bersemangat.
"Yuk, Bunda!"
Mereka tidak jadi pergi ke kamar namun memilih untuk menyusul ivanna, ke restoran yang ada di lantai dasar hotel itu. Rumah makan khas Indonesia yang disediakan khusus oleh Irfan untuk mengenalkan bisa Indonesia kepada para wisatawan yang menginap atau hanya sekadar makan di dalam restoran itu.
...πΊπΊ...
Ivanna memeluk Fajri dengan erat, ia merasa bersalah karna tidak menemani abangnya tadi saat ujian. Ditambah mendengar kabar jika Fajri tidak lolos untuk masuk ke babak selanjutnya.
"Dede mau apa, sayang?" tanya Fajri lembut ketika melihat Ivanna tidak memakan apapun.
"belum mau apa-apa, bang!" lirih Ivanna.
"Dede kenapa, sayang?" tanya Fajri mengernyit.
"gak papa. Dede mau peluk, Abang aja!" ucap Ivanna.
__ADS_1
Fajri paham, pasti gadis ini kembali merasa bersalah karna tidak ada di sampingnya ketika ia merasa sedih. Gadis kecil itu tidak lepas dari Fajri hingga mereka kembali ke kamar dan beristirahat.
...πΊπΊ...
Malam menjelang, Semua siswa sudah berkumpul di dalam ruang tamu lantai tertinggi itu. Mereka sedang belajar bersama untuk mempersiapkan diri mengahadapi ujian besok. Fajira yang sudah terlihat kelelahan itu memaksakan diri untuk membantu para siswa mengulang kembali pelajaran mereka.
"kenapa, Bunda Fajri gak jadi guru saja?" tanya mereka.
"Bunda, kan sudah jadi dokter!" ucap Fajira tersenyum.
Sementara Fajri dan Ivanna malah tertidur di atas karpet lembut sambil berpelukan. Sungguh dua anak genius itu terlihat tidak peduli dengan orang-orang yang tengah antusias mendengar penjelasan dari Fajira.
Keadaan tenang itu seketika menjadi gelak tawa ketika mendengarkan gumaman dari Ivanna.
"Ya, akar pangkat dua, nanti di tarik akarnya terus ikat ke tiang sana!" ucap Ivanna mengigau sambil tersenyum.
Fajira terkejut mendengarkan ocehan anaknya. Ia segera mendekat ke arah Ivanna dan memperbaiki posisi tidur gadis cantik itu yang terlalu lama menghimpit lengan kecil Fajri.
"engh,... peluk bang!" racau Ivanna manja sambil memeluk Fajri kembali.
Semua orang hanya terkekeh dan menatap dua anak genius itu. Ini sesuatu yang sangat langka, tidak mungkin bisa di lihat kembali, begitu fikir mereka.
Setelah Fajira menyelimuti anak-anaknya, ia kembali bergabung dengan siswa untuk mengajarkan mereka tentang cabang olimpiade yang tersisa. Mereka bisa paham, dari mana kepintaran Fajri dan Ivanna berasal.
Hingga waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Mereka segera kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat setelah membersihkan bekas makan mereka masing-masing.
Fajira yang merasa sangat lelah, terlelap di samping Ivanna dan memeluknya. Riska dan Raisa sudah tertidur di kamar tamu, Mama dan Papa juga sudah terlelap.
Ceklek,...
Irfan datang dari Indonesia dengan membawa beberapa pesanan Fajira. Hatinya menghangat melihat pemandangan itu. Ia segera membersihkan diri dan berganti pakaian. Setelah selesai, ia segera berbaring di belakang Fajri, memeluk anak dan istrinya dengan lembut. Bergabung dalam selimut yang sama, berharap malam ini tidak berakhir dengan cepat.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
__ADS_1
Pagi gengs, maaf ya aku belum bisa up banyak-banyak. Soalnya aku lagi sibuk banget π€π€