
Beberapa hari berlalu, Fajri sudah lebih baik, dari pada sebelumnya. Pagi ini pria kecil itu merengek agar ia bisa di izinkan untuk pergi ke sekolah. Sementara Irfan dengan possesifnya melarang Fajri untuk pergi dan memintanya untuk izin satu hari lagi.
Fajira hanya menatap jengah dua pria tampan yang selalu berdebat itu. Bagi mereka tiada hari tanpa berdebat. Ia hanya bisa menghela nafas beratnya karna lelah menghadapi ayah dan anak yang sama-sama keras kepala itu.
"Sudaaah!" teriak Fajira menghentikan perdebatan mereka.
Dua pria tampan itu terdiam sambil membuang mukanya masing-masing.
"Apa masih mau berdebat lagi?" tanya Fajira dingin.
"Maaf" ucap Irfan dan Fajri berbarengan. Fajira hanya bisa berteriak gemas di dalam hati melihat kelakuan mereka.
"Sekarang Abang siap-siap pergi ke sekolah ya, Nak!" Ucap Fajira sukses membuat pria kecil itu senang.
"Yes! terima kasih Bunda" ucap Fajri senang sambil berlari menuju kamar ganti. Namun sebelum itu ia melihat Irfan dan memeletkan lidahnya.
Wleek...
"sayang" protes Irfan.
"Ayah juga harus siap-siap untuk ke kantor. Hari ini ayah gak ngidam kan?" tanya Fajira melotot ke arah Irfan.
"gak sayang"
"ya sudah, sana siap-siap dulu. Tapi jangan berantem lagi ya"
"Tapi sayang!"
"Mas!"
Irfan pasrah, ia berjalan dengan lesu menuju kamar ganti yang sudah ada Fajri di dalamnya.
"Aji tampan banget, Untung bunda cantik. kalau gak, huh mungkin kaca ini penuh dengan ke burikan" ucap pria kecil itu sengaja membuat Irfan panas.
Laki-laki itu membulatkan mata mendengar ocehan Fajri yang secara tidak langsung mengejek dirinya burik.
Tuhaaan, ini anak siapa coba? mulutnya astaga. Untung sayang, kalau gak udah ayah gantung kamu di pohon toge nak!.
"Sudah selesai. Wah Aji memang tampan. Pantas saja bunda lebih sayang sama Aji" ucap Fajri semakin menjadi sambil memperbaiki dasinya
Ia melangkah keluar dengan cool, dan mendelik ke arah Irfan, seolah berkata Aji boleh ke sekolah sama Bunda wleek. Haha ayah kena marah. Begitu kita-kita tatap Fajri kepada Irfan.
"astaga" Irfan memijat pelipisnya.
Ia frustrasi karna gemas melihat tingkah Fajri yang sangat mengemaskan baginya. Ia segera memakai baju yang sudah di siapkan oleh Fajira, stelan jas yang biasa ia gunakan untuk pergi bekerja.
Setelah selesai Irfan segera keluar dari sana dan berjalan mendekat ke arah Fajri yang tengah mengelus perut Fajira yang sudah menonjol itu.
"Sayang" Panggil Irfan meluk Fajira dari samping.
"Sudah selesai? yuk kita turun ke bawah," Ajak Fajira.
"Bunda Aji mau gendong ya" ucap Fajri merentangkan tangannya.
__ADS_1
"sini sama ayah saja" ucap Irfan menggendong Fajri.
"gak mau ayah! Aji mau gendong sama Bunda!" pria kecil itu memberontak.
"Abang!" Ucap Fajira menatap Fajri dan sukses membuatnya terdiam sambil mengerucutkan bibirnya.
Mereka berjalan beriringan menuju ruang makan. Belakangan ini Fajira jarang sekali memasak karna keadaan yang tidak memungkinkan. Namun jika masih sempat ia akan membuat sarapan ringan yang tidak memberatkannya.
"Bunda nanti jadi seminar proposalnya?" tanya Irfan.
"Jadi ayah, Do'akan bunda ya, semoga nanti lancar. Abang juga ya, do'akan bunda nanti nak"
"iya Bunda. Abang akan do'akan bunda biar nanti proposalnya di terima"
"Aamiin" ucap mereka berbarengan.
"Nanti jam berapa seminanrnya bunda?" tanya Irfan.
"Jam 9 nanti, Yah. Seminarnya online"
"Iya nanti kabari aku bagaimananya ya"
"iya"
"hmm, apa bunda ikut mengantarkan abang?" tanya Fajri penuh harap.
"iya sayang. Nanti Bunda antar ke sekolah ya"
"gak papa, Mas"
"Ya sudah"
Mereka kembali melanjutkan sarapan pagi itu dengan penuh kehangatan. Setelah selesai, mereka segera menuju keluar rumah dan menaiki mobil masing-masing.
Irfan hari ini akan meninjau proyek yang berada di pinggiran kota dan berlawanan arah dengan Fajri. Sehingga ia harus pergi sendiri dan Fajri di antarkan oleh Fajira.
"Sayang, Aku pergi dulu ya" Fajira tersenyum dan meraih tangan Irfan lalu menciumnya.
Pria tampan itu mengecup mesra kening Fajira tak lupa ia juga mengecup singkat bibir yang manis itu.
"hati-hati. Nanti kabari aku ya" ucap Fajira mengelus rahang kokoh Irfan.
"ih udah ayah. Aji juga mau cium Bunda" pria kecil itu cemburu karna ia merasa terabaikan.
"Bunda gendong Aji juga mau cium Bunda seperti ayah" ucapnya merentangkan tangan.
"Bang, Bunda lagi hamil lo. Abang kan sudah berat" sergah Irfan.
"kemarin Abang di gendong lo sama Bunda, Ayah!"
Fajira menggendong Fajri dan membiarkan pria kecil itu melakukan apa yang di inginkannya.
"muach" satu kecupan mendarat di bibir Fajira dari pria kecil itu.
__ADS_1
"muach... muach... muach..." Fajri tanpa henti mencium Fajira.
"Bang, udah dong! ayah kan cium bunda dua kali, Kok abang lebih sih?" Ucap Irfan menahan gemasnya sedari tadi.
"Kok ayah masih di sini? tapi katanya mau kerja, udah sana ayah pergi lagi nanti telat. Abang juga mau pergi sama Bunda. Yuk sayang!" ajak Fajri dan membuat Fajira terkekeh geli.
"Dah Ayah" ucap Fajira melambaikan tangannya.
"hati-hati ya"
Fajira menggendong Fajri masuk ke dalam mobil dan segera berangkat menuju ke sekolah pria kecil itu. Di susul Irfan yang berlawanan arah dengan anak dan istrinya.
Di dalam mobil, Fajri menatap Fajira intens, ia masih duduk di atas pangkuan Fajira yang juga menatapnya dengan tersenyum.
"kenapa sayang?"
"Apa ayah kan merebut Bunda dari Aji?"
"Bunda itu milik abang, Milik ayah juga, milik Dede. Jadi gak boleh cemburu ya nak"
"tapi ayah selalu bilang mau merebut Bunda dari Aji. Aji kesal Bunda"
"Kalau Ayah mau merebut bunda dari Aji, gak akan bisa sayang. Karna bunda milik bersama. Jadi, abang jangan berantem lagi sama ayah ya"
"iya bunda" Senyum pria kecil itu terbit. Ia selalu bisa tenang setelah mendapatkan kepastian dari Fajira.
Hingga mobil berhenti di sekolah Fajri. Mereka bergegas turun dan segera melangkah menuju ruang kelas pria kecil itu.
Saat tengah asik berjalan, mereka mendengar ada orang yang tengah memanggil Fajri, sehingga memaksa langkah kaki itu agar berhenti dan melihat siapa yang tengah memanggil.
"Fajri" panggil Hanna sambil sedikit berlari.
"eh kak Hanna. Selamat pagi"
"Pagi Fajri. Pagi juga bunda" gadis kecil itu mencium tangan Fajira lembut dan tersenyum.
"pagi sayang. Yuk kita sambil jalan, bentar lagi belnya sudah berbunyi. Kamu apa kabar Hanna?"
"Ana baik bunda. Kata Fajri bunda lagi mengandung?"
"iya nak, Hanna juga baru punya Dede ya?"
"iya bunda"
Mereka berbincang ringan sambil menuju ke kelas. Hingga tiba di depan kelas, fajri dan hanna segera masuk ke dalam. Fajira memilih untuk segera pulang dan bersiap untuk mengikuti seminar proposalnya pada pukul 9 nanti.
Namun ketika hendak melangkah, Fajira tak sengaja menyenggol seseorang yang sedang menatapnya tanpa berkedip.
BRAAK!!
πππ
TO BE CONTINUE
__ADS_1