Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
162. Ibu-ibu Rempong


__ADS_3

Fajira masih duduk di bawah tenda tadi sambil mengerjakan beberapa pekerjaan yang harus segera ia selesaikan. Bel pelajaran selanjutnya sudah berbunyi, Fajri dan Ivanna juga sudah masuk ke dalam kelas masing-masing.


Ketika sedang asik memeriksa berkas-berkas keperluan untuk di rumah sakit, ia di kejutkan dengan kedatangan beberapa wali murid.


"eh, ada ibu Fajira!" ucap mereka.


"boleh gabung, bu?"


"Iya boleh, Bu, silahkan!" ucap Fajira membereskan beberapa berkasnya.


Sejenak suasana hening karna tidak ada yang memulai pembicaraan, Fajira kembali mengerjakan pekerjaannya dan tidak terlalu menghiraukan ibu-ibu yang ada di hadapannya saat ini.


"eh dengar-dengar, anak bu Fajira baru masuk sekokah, ya?"


"iya, bu!" ucap Fajira tersenyum.


"wah, bukannya anak ibu masih di rahasiakan sampai sekarang? kenapa?"


"gak kenapa-napa, Bu. Hanya untuk kenyamanan anak-anak saja!" ucap Fajira mengernyit.


"Tapi sekarang gak papa gitu kalau anaknya di post ke publik?"


"Tidak masalah!" ucap Fajira yang mulai tidak suka dengan cara bicara ibu-ibu ini.


"Sibuk banget sih bu, punya suami kaya kok masih sibuk kerja?"


Ada masalah apa sih ibu-ibu ini? Mengganggu saja!. Bathin Fajira jengah.


"Saya bukan perempuan yang hanya bisa menampung saja dari suami, Bu! walaupun kekayaan Mas Irfan gak akan habis 7 turunan. Selagi saya mampu bekerja, Saya akan bekerja. Untung-untung untuk tabungan tak terduga di masa depan. Kita 'kan gak tau apa yang akan terjadi di kemudian hari!" ucap Fajira tersenyum smirk ketika melihat ekspresi masam dari ibu-ibu itu.


Sejenak suasana kembali hening, hanya terdengar suara ketikan keyboard pada laptop Fajira.


"ah iya, saya mau bertanya bu. Jika di hitung usia pernikahan dan usia Fajri, bukankah masa itu, Tuan Irfan masih berpacaran dengan Model cantik yang bernama Vina Anumerta?" tanya ibu-ibu itu.


deg...


Jantung Fajira berdetak lebih cepat ketika mendengarkan perkataan mereka yang tidak pernah ia prediksi sebelumnya.


"Saya rasa ibu kurang kerjaan untuk menanyakan hal yang sudah berlalu!" sarkas Fajira.


"Bilang saja, jika ibu yang menjadi perusak hubungan mereka!"


Apa-apaan mereka menuduku seperti itu! Aku harus jawab apa ya? karna seingatku, wanita itu meninggalkan Mas Irfan bersama pria lain sebelum kami bertemu!.

__ADS_1


Fajira mulain naik pitam, namun ia tetap berusaha untuk menjaga imagenya di hadapan ibu-ibu kurang kerjaan ini.


"Apa yang ingin ibu ketahui? apa ibu-ibu tidak takut jika pembicaraan kalian terekam oleh pengawal saya? Jangan salahkan saya jika suami ibu-ibu sekalian kehilangan pekerjaan jika hal ini sampai terdengar ke telinga suami saya!" sarkas Fajira dengan senyum smirknya.


Ibu-ibu tergagap, mereka tidak memikirkan hal ini sebelumnya. Namun rasa penasaran berhasil mengalahkan semuanya.


"Ibu tinggal jawab saja apa salahnya? tidak perlu mengancam kami seperti itu!" ucap ibu-ibu itu tanpa rasa takut.


"Saya bukan tipekal istri yang suka mengadu kepada suami, tapi jika kehidupan ibu hancur setelah ini jangan salahkan saya! karna beliau memiliki mata dimana-mana, Ini sudah peringatan yang ke dua kalinya!" ucap Fajira tegas.


"berarti memang benar ya, kamu pelakor yang sudah merusak hubungan Tuan Irfan dan Nyonya Vina!" ucap mereka bengis.


"Oh ya? apa ibu-ibu punya bukti? bukankah model cantik semampai itu tidak pernah muncul lagi? bahkan tidak ada tanda-tanda keberadaannya saat ini. Lagi pula, walaupun saya hanya orang miskin, setidaknya saya masih memiliki otak untuk berfikir agar tidak merusak hubungan orang lain, dan mencampuri kehidupan mereka!" ucap Fajira sarkas.


deg...


Ibu-ibu itu merasa tertampar mendengar perkataan Fajira. Tapi mereka masih penasaran mendengar apa yang sebenarnya terjadi.


Bukankah, jarak pernikahan mereka sangat dekat, bahkan berita putusnya Tuan Irfan tidak d beritakan oleh media mana 'pun!. batin mereka saling melirik satu sama lain.


"Jadi, seperti ini prilaku seorang Nyonya besar? berbicara kasar dan sarkas kepada orang yang lebih tua?" ucap mereka sinis.


"Iya, saya memang harus memiliki perilaku seperti itu, agar tidak di rendahkan oleh orang lain!, lagian apa ibu-ibu kurang kerjaan menggangu saya? Apa uang ibu terlalu banyak untuk di habiskan? atau memang ibu tidak punya uang lagi, sehingga memilih untuk mengganggu saya?" ucap Fajira dingin, namun ia masih berusaha untuk tenang.


"Jaga ya omongan, anda! kami bertanya baik-baik, tapi anda yang berbicara kasar kepada kami!" bentak salah satu ibu-ibu itu.


Hai manusia yang budiman! tolonglah, jangan mengganggu saya lagi! Pekerjaanku harus selesai hari ini juga.


Fajira hanya menatap datar ke arah mereka. Sebentar ia menyadari kehadiran Irfan tengah berdiri tepat di belakang ibu-ibu itu.


Aih, semoga Mas Irfan gak gila setelah ini! Aku gak bisa membayangkan nasib mereka jika sifat arogannya kembali keluar!. Bathin Fajira menatap Irfan.


Ibu-ibu itu semakin kesal karna Fajira hanya terdiam saja. Namun ia mengamati pandangan mata wanita cantik itu yang tertuju pada satu arah sontak mereka langsung mengikuti pandangannya.


deg...


Matanya membola ketika melihat keberadaan Irfan yang sudah siap untuk menerkam mereka. Peluh dingin bercucuran ketika Irfan berjalan semakin dekat, bersama dengan tiga orang pengawal yang ada di sampingnya.


Beruntung sekolah dalam jam pelajaran sehingga keadaan sekitar terlihat sepi. Ibu-ibu itu ketakutan melihat Irfan yang sudah berdiri tiga langkah di depan mereka.


"tu-tuan Irfan!" ucap mereka serentak dengan tangan yang gemetaran.


Fajira hanya menyaksikan apa yang akan di lakukan oleh suaminya. Ia tidak akan menghalangi keputusan Irfan kali ini, karna ia juga sakit hati mendengarkan tuduhan mereka yang mengatakan ia seorang pelakor.

__ADS_1


Aku harus mempertanyakan hal ini kepada Mas Irfan, aku harus tau bagaimana hubungan mereka yang sudah tidak pernah di ungkit lagi setelah 8 tahun semenjak pertemuan kami malam itu. Bathin Fajira penasaran.


"Pergi dari sini dan terima nasib kalian setelah ini!" ucap Irfan dingin.


Kemudian ia berjalan mendekat ke arah Fajira dan memeluk istri cantiknya itu dengan erat.


"Maaf, sayang!"


"Mas, Malu dilihatin orang!" bisik Fajira.


Irfan mengurai pelukannya, ia menatap manik mata Fajira dengan perasaan bersalah. Ia akan menghancurkan orang-orang yang sudah bersikap kurang ajar terhadap keluarganya sehancur-hancurnya.


Aku akan membuat mereka memilih untuk mati dari pada harus hidup! Berani-beraninya mereka mempertanyakan hal itu kepada Fajira. Pasti ini akan menjadi pembahasan saat di rumah nanti!, Tuhan aku harus jawab apa jika Fajira mempertanyakan masalah ini?. Bathin Irfan.


"Joe, Kau urus mereka! cari dimana suami mereka bekerja! kau tau apa yang harus kau lakukan!" ucap Irfan tegas tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Fajira.


"baik, Tuan!" Joe sang pengawal pribadi Fajira sekaligus panglima keamanan Dirgantara CORP. Ia segera memerintahkan anak buahnya untuk mengeksekusi perintah dari Irfan.


Sementara ibu-ibu tadi sudah pucat pasi mendengarkan perkataan laki-laki yang cukup memiliki kekuasaan dalam hal apapun.


"Tu-tuan Irfan saya minta maaf, sungguh saya tidak ada maksud apapun! tolong ampuni kami Tuan!" ucap ibu-ibu itu berlutut di hadapan Irfan.


Laki-laki itu tidak menghiraukan ucapan mereka, ia hanya menatap Fajira lembut dengan rasa berasalahnya. Menelisik satu persatu bagian tubuh Fajira, berharap semoga tidak ada hal yang semakin memicu kemarahannya.


"Pergilah! saya tidak ingin melihat orang seperti kalian!" ucap Irfan tanpa mengalihkan perhatiannya.


tring... tring... tring...


Ponsel ibu-ibu itu berbunyi, terlihat disana suami mereka tengah memanggil. Wajah mereka semakin pucat mendengarkan apa yang telah terjadi.


Mereka terdiam ketika mendengar bentakan dari suaminya masing-masing. Dengan air mata yang menetes, mereka segera pergi menuju ke rumah, karna Irfan tak lagi menghiraukan perkataan mereka.


Beruntung kejadian tersebut tidak memicu perhatian para siswa yang penasaran. Irfan hanya menatap Fajira yang memilih bungkam dan terlihat enggan untuk berbicara dengannya.


Hingga jam pulang sekolah tiba, mereka segera kembali ke rumah sambil menceritakan apa yang tengah di alami oleh Fajri dan Ivanna ketika berada di dalam kelasnya tadi.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


Hai gais, Hari ini aku mulai crazy up Yaa. yuk tinggalkan jejak 😍😍


Boleh dong sedekah vote dan giftnya. Koment dan like cerita ku gratis kok. 😍😍

__ADS_1


Terima kasih πŸ˜πŸ€—


__ADS_2