Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
88. Gelembung Sabun


__ADS_3

Irfan menjadi kalang kabut di kantornya setelah mendapatkan telefon dari Fajri tadi. Walaupun Fajira sudah mengatakan jika ia baik-baik saja, namun irfan masih merasa gelisah dan tidak tenang.


Aah aku harus segera pulang dan memastikannya.


Irfan membereskan pekerjaan yang akan ia bawa pulang ke rumah. Tepat ketika ia hendak melangkah keluar, Ray datang dan masuk ke dalam ruangan mewah itu.


"permisi tuan!" ucap Ray.


"ada apa Ray?" tanya Irfan mengernyit.


"saya hanya mengingatkan jika kita akan mengadakan rapat bersama perusahaan XTG untuk perencanaan proyek pembangunan apartemen yang akan kita tangani Tuan"


"jam berapa?"


"Jam 16.00 Tuan. 10 menit lagi, dan mereka sudah menunggu di ruang rapat,"


"apa tidak bisa di undur Ray? Fajri baru saja menelfonku dan mengatakan jika Fajira tengah sakit saat ini" Ucap Irfan frustrasi.


"Maaf tuan, jika di undur kembali, saya tidak bisa mencegah mereka untuk membatalkan kerja samanya dan kita akan mengalami kerugian yang sangat banyak tuan. Rapat ini sudah tertunda 3 kali karna anda sakit tuan"


Irfan mengeram kesal karna tidak memiliki pilihan lain lagi. Ia kembali duduk di atas sofa dan mengambil ponsenya lalu mendial nama "Istriku 😘".


tuut... tuut..


"halo mas, Ada apa?" tanya Fajira di balik telefon.


"sayang gimana keadaan kamu?"


"keadaan aku? emangnya aku kenapa?" tanya Fajira mengernyit.


"bukannya tadi kamu..."


"aku gak papa sayang, Tadi cuma keinget itu, hmm...," ucap Fajira ragu.


"itu apa sayang? jangan bikin aku khawatir" ucap Irfan semakin frustrasi membayangkan keadaan istri dan calon anaknya.


"aku gak papa mas, cuma tadi aku terbayang aktivitas kita tadi siang saja" cicit Fajira yang sudah malu mengatakan apa yang sedang ia bayangkan.


"astaga sayang, kamu bikin aku khawatir tau gak. Apa mau lagi?" ucap Irfan genit.


"hmm... Aku tutup dulu ya, ada Fajri disini"


"hehe tunggu aku pulang sayang"


"iya"


tut...


Panggilan itu berakhir dan menyisakan kelegaan di dalam hati Irfan.


"Ray apa semuanya sudah siap?"


"sudah tuan"


"kita ke ruang meeting sekarang"


"baik tuan, silahkan"


Irfan dan Ray berjalan menuju ruang meeting. Dengan wajah dingin yang selalu memancarkan aura ketampanan di antara keduanya membuat mereka terlihat sangat sempurna tanpa cacat sedikitpun.


ceklek...

__ADS_1


"selamat sore" sapa Irfan setelah masuk ke dalam ruang meeting.


Ada sepasang mata cantik yang menatap Irfan tanpa berkedip. Ia merasa kesusahan untuk menelan air liurnya bahkan ia tidak mendengarkan sapaan Irfan.


Ganteng banget.


"Nona!" panggil Irfan sedikit meninggi karna perempuan itu tidak kunjung rersadar dari lamunanya.


"eh iya tuan. Saya Sherly Anak dari Bapak Juanda. Senang bertemu dengan anda tuan" ucap Sherly mengulurkan tangannya.


"Irfan" laki-laki itu duduk tanpa menghiraukan uluran tangan dari Sherly.


Dia dingin, dan terlihat arogan, biasanya yang seperti dia juga panas di ranjang. Aku harus mendekatinya. Bathin Sherly menatap Irfan tanpa berkedip.


"apa bisa kita mulai rapat kali ini?" ucap Irfan tegas membuat perempuan itu tersentak dan tersenyum kikuk.


"baik tuan, silahkan"


Mereka memulai rapat dengan berdiskusi tentang rancangan yang akan di sepakati dan beberapa hal perubahan lain agar bisa menyempurnakan pembangunan apartemen mewah yang akan mereka bangun nanti.


Dua jam berlalu, meeting dapat terselesaikan dengan baik dan mendapatkan keputusan final untuk proyek itu.


"kami sangat senang bisa berbisnis dengan anda tuan, semoga kedepannya kita bisa menjadi partner kerja yang cocok" ucap Sherly tersenyum sambil membungkukkan sedikit badannya.


"iya, sama-sama. Kalau begitu saya pamit undur diri terlebih dahulu, selamat sore" ucap Irfan pamit dan melangkah keluar dari sana.


Sherly yang melihat kepergian Irfan segera mengikutinya.


"Tuan Irfan! Tuan Irfan tunggu!" panggilnya setengah berlari.


Irfan mulai jengah melihat tingkah perempuan yang selalu mencari perhatiannya sejak rapat di mulai. Ia menghentikan langkah tanpa memutar badannya.


"tuan, Apa boleh kita bertukar nomor ponsel? mana tau nanti saya mengalami kesulitan saat mengerjakan proyek kita"


Apa? dia sudah punya anak dan istri? Tidak apa, bukankah rumput tetangga lebih segar dari rumput sendiri?. Aku akan mendapatkan kamu pria tampan. Bathin Sherly tersenyum jahat.


Ia segera melangkah menuju parkiran untuk mengambil mobil mewahnya dan meninggalkan perusahaan Irfan.


Sementara laki-laki itu merasa kesal karna waktunya terbuang sia-sia karna meladeni perempuan gatal tadi.


Kalau dari awal aku tau akan berurusan dengan dia, tidak akan aku ambil proyek ini walaupun keuntungannya yang sangat menggiurkan. Sayang maafin aku ya, bagaimana caranya aku bisa mengatakan ini kepadamu.


Ada sedikit rasa cemas dalam dirinya untuk menceritakan hal ininkepada Fajira. Namun hal yang paling penting adalah bagaimana ia bisa mendapatkan kepercayaan Fajira yang sangat sulit untuk ia dapatkan.


Semoga kamu gak salah paham setelah aku menjelaskannya sayang.


"Percepat, Pak!"


"baik tuan"


Mobil melaju dengan cukup cepat membelah jalanan yang padat dan berpotensi untuk terjadi kemacetan. Beruntung Pak Budi sudah sangat ahli mencari jalan yang tidak terlalu padat dan lebih cepat sampai ke rumah.


Tidak butuh waktu lama, Sekitar 15 menit kurang Irfan sudah sampai di rumah mewahnya. Hal pertama yang ia cari adalah keberadaan Fajira yang sudah memporak-porandakan hati dan fikirannya.


"sayang? Istriku?" ucap Irfan masuk ke dalam rumah. Ia terdiam sejenak ketika mencium aroma yang sangat ia sukai belakangan ini.


"sayang" panggil Irfan sambil melangkah menuju dapur.


Ia terpana melihat tubuh sintal Fajira yang mulai berisi, sedang membelakanginya. Terlihat seksi dengan leher jenjang yang terpampang jelas, seolah memanggilnya dan meminta untuk di kecup.


"sayang" Ucap Irfan sambil memeluk Fajira dari belakang.

__ADS_1


"mas, kamu sudah pulang?" sentak Fajira yang mulai terbiasa dengan kelakuan suami mesumnya itu.


"suami pulang, bukannya di sambut malah asik di dapur" Ucap Irfan cemberut.


"maaf ya, Mas. Aku lagi masak ini, dikit lagi selesai. Kan biasanya juga aku sambut kalau kamu pulang," ucap Fajira mengelus rahang tegas Irfan.


"hmm, Apa benar kamu gak papa sayang?"


"iya mas, aku gak papa"


"Apa mau lagi?" Ucap Irfan genit dan mencium tengkuk Fajira hingga meninggalkan bekas disana.


"Mas! Kamu ihh. Udah sana mandi dulu, bajunya sudah aku siapkan di kamar ganti. Aku mau nerusin ini dulu"


"iya sayang. Pangeranku mana Bunda?"


"Lagi tidur tadi, kecapean kayaknya Mas. Jangan di ganggu ya"


"iya sayang. Hmm ada yang mau aku omongin sama kamu, tapi nanti aja sebelum tidur"


"iya Mas." Fajira tersenyum manis menatap Irfan.


Setelah puas rasanya mengganggu Fajira, laki-laki itu segera melangkah menuju ke kamar mereka untuk menyegarkan badan terlebih dahulu. Namun bukan Irfan namanya kalau tidak jahil, Ia melihat Fajri yang tengah tertidur lelap sambil memeluk guling kecilnya.


"ihh anak siapa sih ini, kenapa bisa imut banget? muach muach muach..." ucap Irfan gemas menciumi Fajri bertubi-tubi hingga pria kecil itu terbangun dan menangis sambil memukul Irfan.


"hiks.. ayah jahat. Bundaa" tangis Fajri kesal karna di ganggu.


Plak...


Plak...


Tangan kecil itu tidak henti memukul Irfan yang ada di sebelahnya.


"ayah jahat!" teriak Fajri.


"hehe bangun lagi sayang, mandi yuk sama ayah" ucap Irfan tergelak sambil menggendong Fajri.


"gak mau Ayah, Aji ngantuk! Aji sudah mandi sama Bunda tadi" rengeknya kembali.


"sama ayah belum mandi. muach... acem banget"


"ihh jangan cium-cium kalau acem, ayah!"


Irfan tidak mendengarkan rengekan Fajri, ia masih bersikeras untuk memandikan pria kecil itu dan sedikit menghiburnya dengan Bermain gelembung sabun. Fakir yang masih kesal dan menangis sedikit tertarik dengan permainan Irfan.


"Aji mau coba?"


"mau Ayah"


Irfan berhasil membuat pria kecil itu terdiam dari tangisnya dan bermain sabun bersamanya.


"seru kan kalau mandi sama ayah?"


"iya ayah, apa besok Aji boleh main sabun lagi?" tanya Fajri merona.


"haha,,, boleh sayang." sungguh Irfan sangat gemas melihat tingkah Fajri, apalagi ia tengah merona seperti ini.


Mereka berhenti ketika Fajira mengetuk pintu kamar mandi. Mereka segera membilas badan lalu keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian masing-masing.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2