Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
71. Kembali Pulang


__ADS_3

Di atas helikopter, Fajira yang merasa kelelahan dan lapar bersandar di bahu Irfan sambil menggenggam tangan suaminya


"Mas, Apa kamu mengenal Kak Zayn?"


"iya, dia mantan sahabat aku sayang. Dia orang yang egois, dan selalu menginginkan apa yang aku punya. Dan sekarang dia juga menginginkan kamu" ucap irfan dengan emosi yang tertahan.


"Aku gak tau jika dia anak orang kaya Mas. Dulu ku fikir dia hanya laki-laki biasa"


"sejak kapan kamu mengenalnya, sayang?"


"Sudah lama mas. Hanya saja dia pernah melamarku selang beberapa hari setelah kejadian kita di kantor"


deg...


"Kamu serius sayang?" ucap irfan terkejut.


"Iya Mas. Aku ngantuk"


"Tidur lah sayang. Aku disini"


Fajira memejamkan matanya dan terlelap. Irfan masih mengeraskan rahangnya mendengar cerita Fajira. Ia cemburu! bahkan sangat cemburu.


Ini terakhir kalinya kejadian seperti ini terjadi. Aku gak akan pernah membiarkan siapapun mengusik keluargaku.


Mereka masih mengudara menuju kediaman Irfan yang berada di kota xx.


🌺🌺


Sementara di rumah mewah Irfan, Papa, Mama dan Anaya sudah berada di rumah itu dengan panik dan cemas menanti kabar dari Irfan. Fajri sedari tadi tidak henti untuk menatap layar komputer agar tidak kehilangan jejak Ayah dan Ibundanya.


"apa Papa harus mengerahkan semua orang-orang kepercayaan Papa untuk menyusul mereka, Ma?" tanya Papa kepada Mama.


"Sepertinya tidak usah Pa, Mama yakin Irfan bisa membawa Fajira pulang dengan segera,"


"semoga saja"


Mereka menunggu dengan perasaan harap-harap cemas sembari berdo'a untuk keselamatan anak dan menantu yang tengah berada dalam bahaya saat ini.


"Fajri apa sudah ada pergerakan dari Ayah dan Bunda kamu nak?" tanya Mama.


"Ini Ayah sudah berada dekat dengan Bunda Oma." Fajri menatap layar itu dengan seksama


"Bunda sudah mulai bergerak" pekik Fajri ketika melihat titik hijau milik Fajira bergerak.


"berarti Bunda sudah bertemu dengan Ayah Oma" pekik Fajri senang.


"semoga saja Bunda bisa di bawa pulang dengan selamat oleh ayah ya nak"


"Iya Oma. Aji sudah kangen banget sama Bunda" ucapnya berkaca-kaca. Mama segera mengelus dan memangku pria kecil itu agar bisa menguatkannya.


Mereka masih mengamati layar komputer dengan lamat. Hingga mereka terpekik melihat dua titik hijau itu bertemu.


"Sepertinya Ayah sudah mendapatkan Bunda Oma, Opa" Pekik Fajri senang dengan air mata haru.

__ADS_1


"Iya nak, syukurlah" ucap mereka senang


Mereka masih memperhatikan kembali layar itu. Dua titik hijau tadi bergerak menjauhi pulau dan mengarah ke arah kota.


"Se-sepertinya Ayah sudah berjalan menuju ke sini Oma" ucap Fajri sabil menangis.


"iya nak, Syukurlah Ayah dan Bunda selamat" ucap Mama lega.


"Bi, siapkan makanan untuk anak dan menantuku. Mereka pasti kelaparan. Aji juga ya sayang" sambungnya


"iya Oma"


Fajri masih mengawasi pergerakan kedua orang tuanya sambil mengusap air mata yang selalu mengalir di pipinya.


Akhirnya Bunda pulang, Maafkan Aji yang lalai menjaga Bunda. Aji janji ini gak akan pernah terjadi lagi. Bathin Fajri tersenyum namun masih sesegukan.


"Permisi Tuan besar, Di luar banyak wartawan yang menunggu di depan pagar" Ucap penjaga yang masuk dan memberikan informasi.


"Wartawan?" Tanya Papa mengernyit.


"Iya Tuan, Dan ini lebih banyak dari sebelumnya. Apa yang harus saya lakukan tuan?"


Papa berfikir keras agar bisa memutuskan apa yang akan di lakukan setelah ini.


"Pastikan tidak ada satupun dari mereka yang masuk ke dalam"


"Baik tuan. Satu lagi, ada seorang laki-laki yang berteriak di depan sambil memanggil Nyonya Fajira dan Tuan Irfan. Sepertinya itu teman kuliah Nyonya, tuan"


"baik tuan. kalau begitu saya permisi terlebih dahulu. Mari nyonya"


"Ia silahkan Pak"


Penjaga itu berlalu, sementara papa menelfon beberapa body guardnya agar bisa memberikan pengamanan yang ketat di rumahnya.


"Ayah sudah semakin dekat Opa" Ucap Fajri.


Mereka tersenyum senang melihat Irfan dan Fajira sudah memasuki batas kota. Apa lagi Fajri yang sudah sangat merindukan bidadari kesayangannya itu.


Mereka masih menunggu hingga mobil yang membawa Irfan memasuki pekarangan rumah pada sore hari nan mendung. Yap, mereka pulang sudah menjelang senja karna drama yang terjadi seharian ini. Beruntung Fajira bisa cepat di temukan, dan orang-orang yang menculik Fajira pun tidak se hebat pasukan yang dimiliki oleh Irfan.


Bruumm.....


Beberapa Mobil masuk ke perkarangan rumah dengan menderu. Mereka berbaris dan berusaha untuk menutupi pandangan kamera wartawan yang sibuk mencari berita.


Sedari tadi, Fajira terlelap dalam pelukan Irfan yang sangat membuatnya nyaman. Irfan segera menggendong Fajira masuk ke dalam rumah.


Semua orang berdiri di depan pintu menyambut mereka dengan haru. Terutama Fajri yang sudah terisak berlari mengejar Irfan.


"bundaa!" teriak Fajri dengan fikiran yang melayang karna melihat Fajira di gendong oleh Irfan.


Perempuan muda itu terkejut dalam gendongan Irfan karna mendengarkan suara Fajri yang memanggil dirinya.


"Mas turunin Aku" ucap Fajira ketika melihat Fajri berlari ke arahnya.

__ADS_1


"Sayang!" Ucap Fajira


"Bunda. hiks... maafin Aji" Ucap Fajri terisak dalm pelukan bundanya


"sstt... Bunda gak papa sayang. Bunda disini" Ucap Fajira menenangkan Fajri.


"Kita duduk dulu yuk" Ucap Mama.


Mereka beranjak menuju sofa ruang keluarga. Semua orang menatap Irfan dan Fajira dengan tatapan penasaran.


"Sayang" Panggil Fajira kepada Fajri.


"hiks... Bunda gak papa?" Ucap Fajri terisak.


"Bunda gak papa sayang. Terima kasih nak"


"jangan tinggalkan Aji lagi bunda" lirih Fajri dan terlelap.


"Iya sayang"


Semua orang hanya bisa menatap haru ibu dan anak itu. Bahkan Mama juga ikut meneteskan air matanya. Mereka sedikit berbincang bercerita mengenai musibah yang sudah menimpa Fajira dan keputusan untuk para pelaku yang terlibat dalam kasus itu.


Hingga malam menjelang, Irfan, Fajri dan Fajira sudah berada di dalam kamar mereka dengan saling berpelukan satu sama lain. Apa lagi Fajri yang tidak mau melepaskan Fajira barang sebentar saja dan membuat Irfan mendengus karna tidak bisa terlalu beranja dengan istrinya.


"Aji udah mak gantian kita yuk"


"Ihh Ayah kan bisa itu bagian sana. Aji kan masih kangen sama bunda" delik Fajri jengah melihat tingkah Irfan yang selalu mengganggu dirinya saat bersama Fajira.


"Seolah Ayah kan juga kangen sama Bunda sayang"


"Ihh yaudah, Ayah sebelah sana dan Aji sebelah sini" Ucap Fajri cemberut.


Irfan mengalah, ia berbaring di sisi kanan Fajira dan memeluk istrinya erat, begitu juga dengan Fajri yang tak mau kalah dengan Ayahnya.


"ihh Bunda sesak ini. Geser-geser" ucap Fajira mengurai pelukan itu.


Namun bukannya merenggang, pelukan itu semakin erat dan membuat Fajira pasrah berada di antara Pria tampannya. Ia tersenyum haru karna sedari tadi ini lah yang paling ia butuhkan, yaitu pelukan dari mereka yang mampu membuat Fajira merasa lebih tenang.


Perlahan tangan lembut itu mengusap lembut kepala Fajri dan Irfan bergantian. Perlahan mereka terlelap dengan saling mendekap satu sama lain.


Tuhan, jangan ada lagi musibah yang akan terjadi ke depannya. Bathin Fajira sebelum terlelap.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE


Hai gais, kemungkinan jadwal Update akan berubah ya, tapi tetap Update 2 bab setiap hari. Aku gak tau sampai kapan, do'akan saja Author sehat terus, alurnya gak rancu dan gak garing. Terima kasih sudah mampir dan mendukung cerita ku ini.


Berkah selalu πŸ€—


BTW, aku belum nemu nih visual untuk Fajira, kalau ada yang mau ngasih usul silahkan koment di bawah Yaa 😁


terima kasih

__ADS_1


__ADS_2