Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
109. Drama Irfan dan Fajri, lagi?


__ADS_3

Langkah kaki mereka berhenti di salah satu toko perlengkapan Bayi yang paling lengkap di sana. Fajira mulai melihat-lihat apa saja yang menarik di matanya. Pandangan itu tertuju pada rak bagian baju bayi perempuan. Ia menelisik dengan mata yang berbinar melihat pakaian-pakaian lucu dan cantik yang tengah terpajang di sana.


"waaah, pakaiannya bagus-bagus ya Bunda? pasti Dede terlihat cantik menggunakan baju ini, itu, itu juga!" Tunjuk Fajri berbinar melihat lengkapnya pakaian yang ada di sana.


"iya, Sayang. Abang juga mau memilihkan baju untuk Dede?"


"harus Bunda. Yuk kita pilih" Ucap Fajri tersenyum sambil menggandeng tangan Fajira untuk memilih perlengkapan yang di butuhkan nanti.


Sementara Irfan sudah berkelana mencari beberapa barang yang menarik di matanya. Ia memilih baby walker, bak mandi, tempat makan dan beberapa perlengkapan lainnya, mulai dari barang yang kecil sampai barang yang besar.


Fajri, pria kecil itu terlihat serius mengambil beberapa barang sesuai dengan list yang ia buat tadi. Ia menelisik dan mengamati apakah bahan baju itu aman atau tidak untuk adiknya nanti.


"Bunda ini bagus kan?" tanya Fajri ketika melihat dres kecil berwarna pink tergantung indah di salah satu pajangan di sana.


"iya sayang" Fajira tersenyum.


Lama mereka mencari perlengkapan, Hingga Fajira menyerah, ia merasa lelah karna terlalu lama berdiri.


"sayang, Bunda duduk di sana dulu ya, nak. Bunda udah capek! Abang terusin aja dulu, nanti cari ayah ya!" ucap Fajira mengusap perutnya.


"iya Bunda. sini Aji bantu ya"


"iya sayang, terima kasih."


Fajri menggandeng Fajira menuju salah satu kursi yang ada di sana. Pria kecil itu memastikan jika bundanya dalam keadaan baik-baik saja, dengan membantu mengusap lembut punggung bidadari itu.


"Apa kita pulang saja, Bunda?" tanya Fajri khawatir.


"hmm? gak papa sayang. belum cukupkan perlengkapannya?"


"belum bunda,"


"ya sudah. Abang cari ayah dulu ya nak,"


"iya bunda, Apa Bunda gak papa kalau abang tinggal sendiri?" tanya Fajri memastikan.


"gak papa sayang" Fajira tersenyum sambil mengusap kepala Fajri.


"ya sudah kalau begitu Abang cari ayah dulu ya, bunda hati-hati disini. Kalau ada apa-apa cepat telefon abang ya, Bunda!"

__ADS_1


"iya sayang"


Fajri berlalu dari sana meninggalkan Fajira di kursi tunggu itu. Ia mengelus pelan punggungnya yang terasa penat akibat berdiri terlalu lama.


Fajira merasa hamil yang sekarang jauh berbeda waktu ia mengandung Fajri dulu. Sekarang ia lebih manja dan lebih mudah lelah, sementara waktu kehamilan pertama, ia mampu berjalan mengitari beberapa kampung setiap harinya.


Ia hanya tersenyum mengingat masa-masa yang penuh perjuangan itu. Sekarang ia hanya perlu mengatakan apa yang diinginkan, akan terkabulkan dengan cepat tanpa harus menimbang apa yang harus di dahulukan.


Fajira mengernyit ketika melihat Fajri datang ke arahnya dengan wajah cemberut. Pria itu langsung memeluknya dan merengek, mengadukan apa yang di lakukan oleh Irfan.


"kenapa sayang?" tanya Fajira sambil mengusap kepala Fajri.


"Ayah itu, Bunda! Masa iya ayah membeli barang-barang untuk cowok semua. Itu kereta dorong warna hitam, tempat mandi Dede juga warna biru tua, Itu tempat tidur Dede juga di ambil warna coklat bunda. Abang gak suka!" Adu Fajri yang tidak suka dengan pilihan ayahnya.


"Kan Dede perempuan, kalau laki-laki gak papa, Bunda!" sambungnya merengek tidak terima.


Irfan datang dengan membawa beberapa barang yang ia ambil tadi. dan benar saja sayang di katakan oleh Fajri. Fajira juga ikut melotot melihat warna yang sudah di ambil oleh Irfan.


"tuh kan! Bunda lihat," Sungut Fajri menatap Irfan kesal.


"Mas!" panggil Fajira.


"iya sayang. Ini aku sudah mengumpulkan keperluan untuk anak kita" ucp Irfan semangat.


"sama sayang, kan bisa di pakai sama perempuan juga. ini warnanya netral lo!" ucap Irfan.


"Ayah, apa gak ada gitu yg warna pink atau peach atau putih? Kalau dedenya laku-laki gak masalah lo, Ayah!" sergah Fajri semakin menjadi.


"Apa masih mau berdebat?" ucap Fajira horor menatap ke dua pria tampan itu.


"huh, kapan ayah dan abang bisa berhenti bertengkar seperti ini, berebat mulu, apa gak capek?. Abang, biar ayah memilih apa yang mau di kasih ke dede, ayah kan gak ngelarang abang untuk mengambil apa aja yang abang mau.


Ayah juga! kan anaknya perempuan kenapa beli dark color semua? Apa gak takut image kamu jatuh karna kelakuanmu seperti ini? gimana Kalau ada yang lihat, sayang?" ucap Fajira memijat pelipisnya.


"Maaf bunda" ucap Fajri menyesal.


"maaf sayang. Lagian gak ada yang lihat juga, tokonya sudah aku sewa sampai kita selesai belanja" ucap Irfan tersenyum menggarukk tengkuknya.


"kamu serius?" tanya Fajira sambil melotot.

__ADS_1


"iya sayang"


Pantas saja disini cuma ada aku, Fajri dan Mas Irfan. Gini amat ya punya punya suami kaya. Bathin Fajira menjerit karna mendengar ucapan suaminya yang sangat terdengar santai.


"huft... Sekarang ayah sama Abang duduk disini bagus-bagus. Jangan ada yang beranjak sampai kalian baikan lagi. Kalau sampai Bunda selesai memilih perlengkapan dede, tapi ayah sama abang belum baikan, Gak usah pulang! biar bunda pulang sendiri!" ucap Fajira mengancam dua pria tampan itu.


Mereka menatap Fajira dengan mata yang membola. Ketika Irfan hendak memprotes ibu muda itu malah mengangkat tangannya menandakan jika ia tidak menerima interupsi lagi.


"Sampai Bunda kembali nanti kalau belum juga baikan, bunda pulang sendiri!" ancam Fajira dan berlalu dari sana.


Sementara Fajri dan Irfan masih diam satu sama lain. Mereka tidak ada yang mau mengalah untuk menukar barang yang sudah di ambil oleh Irfan.


"Sayang!" panggil Irfan.


"hmm... Aji gak mau ngomong ya sama ayah! itu perlengkapannya untuk cowok ayah bukan untuk cewek!" delik Fajri


Anak siapa ini? kenapa mulutnya bisa ketus seperti ini? .


"Hanya ini warna yang tersisa sayang. Kalau abang gak percaya, yuk kita ke belakang lagi untuk mencari barang-barang yang lain, bagaimana?" tawar Irfan.


"ya sudah. Tapi Aji gak mau ya kalau Ayah mengambil warna yang seperti ini lagi" tegas Fajri melotot ke arah Irfan.


"iya," Irfan tersenyum gemas melihat tingkah putranya ini.


Untung sayang! jerit Irfan di dalam hati. Ia mengalah agar perdebatan mereka berhenti. Dua pria tampan itu kembali ke belakang dan memilih barang-barang yang sedikit lebih mengarah pada keinginan Fajri. Ia menginginkan semua barang berwarna pink, Putih atau peach, jika tidak ada barulah ia mengambil warna hitam atau biru yang terkesan netral.


Hampir 15 menit mereka menukarkan barang itu. Setelah selesai, Irfan membayar semua belanjaan dan sewa toko hari ini di meja kasir. Namun setelah membayar semua tagihannya, ia mendengar Fajri terpekik karna tidak menemukan Fajira di dalam toko itu.


"Ayah Bunda gak ada di sini!" ucap Fajri menangis.


"Kamu serius, nak?"


"iya, ayah. Yuk kita cari Bunda Ayah!" ucap Fajri menarik tangan Irfan.


"mbak tolong kirim ke alamat saya"


"baik pak"


Irfan segera berlalu dari toko itu dan mencari keberadaan Fajira yang tiba-tiba saja menghilang.

__ADS_1


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


__ADS_2