
Mereka segera pergi keluar dan melihat apa yang tengah terjadi. Betapa terkejutnya Fajira, melihat polisi yang sudah mengepung rumah Sandi. Mereka masuk ke dalam rumah dan membawanya pria paruh baya itu keluar beserta anak dan istrinya.
"Mas!" pekik Fajira memanggil irfan.
"Mas!" pekiknya lagi ketika tidak mendapatkan jawaban.
"Sayang, Ayo masuk kedalam!" panggil Irfan menarik tangan Fajira dengan hati-hati unthk masuk ke dalam rumah.
"Mas, itu mereka?" tanya Fajira tidak percaya.
"biarkan saja, Sayang! Mereka sudah terbukti melakukan berbagai macam tindak kejahatan!" ucap Irfan membawa Fajira duduk di atas sofa dan mengelus perut buncit yang terasa keras itu.
"ba-bagaimana bisa?" Tanya Fajira tidak percaya. kepalanya serasa pusing dengan apa yang barusan ia lihat.
"Apa kamu?..." sambung ibu hamil itu sambil melotot.
"Aku hanya mengungkap kebenaran, sayang. Ketika aku mampu untuk mengungkapkan kejahatan kenapa tidak? dari pada semakin banyak korban yang berjatuhan, semakin banyak masyarakat yang sengsara karena ulah mereka, bukankah lebih baik seperti ini?" Ucap Irfan menatap manik mata Fajira.
"Maaf, karna aku memenjarakan paman kamu! Bagi aku, kalau sudah salah, siapa saja memang harus mempertanggung jawabkan kesalahannya sayang! aku harap kamu paham!" ucap Irfan lembut memberikan pengertian kepada Fajira.
Ibu Nurma berkaca-kaca melihat perlakuan Irfan kepada Fajira. Ia bersyukur Karna anaknya di perlukan dengan baik oleh suaminya.
"Aku hanya syok, Mas!. Kamu benar, siapa yang sengaja membuat kesalahan, berarti dia juga siap mempertanggung jawabkan perbuatannya!" ucap Fajira.
Terdengar kehebohan di luar rumah Fajira. Keluarga Amel meneriaki namanya dan juga ikut mengutuk siapapun atas penangkapan orang tua nya.
"Mas, Fajri mana?" pekik Fajira.
"Aji disini Bunda. Di luar ada banyak polisi, ada yang di tangkap Bunda!" ucap Fajri tanpa mengalihkan pandangannya.
"Aji jangan keluar ya nak! bahaya!" ucap Fajira.
"iya, Bunda," Fajri mengernyit ketika melihat beberapa orang berteriak ke arah rumahnya.
"Bunda, ada yang berteriak di depan rumah, terus om penjaga itu juga menghadang mereka!" ucap Fajri.
Fajira dan yang lain segera mengintip lewat jendela, memastikan apakah benar apa yang di katakan oleh Fajri.
"Fajira! keluar kau perempuan murahan!" teriak Amel dan adiknya, ia tidak terima jika orang tuanya di bawa oleh pihak kepolisian.
"Mereka meneriaki Bunda dengan perkataan yang tidak pantas! Apa ayah akan diam saja?" sarkas Fajri menatap Irfan.
"sabar, sayang! Kita selesaikan satu persatu ya!" ucap Irfan tersenyum dan mengusap kepala Fajri.
"Aji gak terima, ayah! Dia kurang ajar sekali!" ketus Fajri dengan emosi.
"Sabar ya nak, Nanti kita urus mereka, sayang!" Ucap Fajira lembut.
"Aku keluar dulu!" ucap Irfan membuka pintu rumah dan menutupnya kembali.
__ADS_1
Semua orang terdiam sesaat melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu dan berjalan menuju ke arah kerumunan polisi. Ia berniat untuk berbincang dengan Kapolda daerah itu.
"selamat siang tuan, Irfan!" sapa kapolda mengulurkan tangan kepada Irfan.
"siang, pak! Bagaimana?" tanya irfan sambil menjabat tangan Kapolda itu.
"Semuanya sudah selesai, Tuan! kami mengucapakan beribu terima kasih kepada Anda, karna sudah membantu kami mengungkap kasus ini!" Ucap Kapolda itu senang.
"Iya, saya hanya menjalankan tugas sebagai warga negara, dan kebetulan juga istri saya adalah salah satu korban kejahatan dia! Tolong proses secepatnya dan hukum mereka seberat-beratnya. Saya akan menyediakan banyak pengacara untuk pera korban. Semuanya saya serahkan kepada anda!" ucap Irfan tanpa ekspresi.
Ia sengaja berkata seperti itu di depan Amel agar perempuan itu sadar atas apa yang telah di perbuat oleh orang tua mereka.
"Anda manusia bia'dap tuan Irfan! terkutuklah kau! Fajira keluar kau!" teriak amel kembali.
"Seharusnya saya juga melaporkan anda atas tindakan penganiayaan kepada istri saya dengan bukti yang valid dan relefan! Tapi karna kamu masih muda, saya masih berbaik hati kepada kalian!" ucap Irfan dingin dan kembali melangkah menuju rumah.
"kepa'rat anda tuan Irfaaan!" teriak Amel.
ceklek...
Fajira keluar dengan wajah datar daan di belakangnya, berdiri tiga ibu-ibu yang siap untuk membela Fajira.
"Ada apa?" tanya Fajira dingin.
Irfan segera menghampiri ibu hamil itu dan membelakangi Amel. sehingga membuat perempuan itu mengumpat kesal.
"Hei ja'lang! Sini kau kalau berani, jangan bersembunyi di balik nama suami kau! Aku akan membalas semua perbuatan kau Fajira!" teriak Amel.
"Kamu mau membawa mereka kemana, Mas?"
"Panti rehabilitasi, sayang!"
Fajira terdiam, beberapa masyarakat mendekat ke arahnya dengan wajah yang masih terkejut, namun tidak di pungkiri jika wajah mereka juga memancarkan kebahagiaan.
"Yuk, masuk, sayang! sebentar lagi kita akan kembali ke kota!" ucap Irfan mengajak Fajira masuk kedalam rumah.
"Ibu juga ikut ya, sama kami!"ucap Irfan tersenyum.
Fajira mematung, suami tampannya ini menang sangat pengertian dan mengetahui apa yang sedang ia inginkan.
"terima kasih, sayang!" ucap Fajira memeluk Irfan.
...πΊπΊ...
"Sudah siap, bunda?" tanya Irfan kepada Fajira.
"Sudah, Mas!. Fajri mana?"
"Fajri sudah di ruang tamu bersama dengan ibu, sayang."
__ADS_1
Irfan menggandeng tangan Fajira sambil membawa tas tenteng istrinya. Mereka segera berjalan menuju keluar rumah. terlihat banyak warga yang berdatangan dengan membawa sesuatu di tangan mereka.
"Fa-fajira?" panggil kepala desa dengab gugup.
"I-iya pak? ada yang bisa saya bantu?"
"kami mengucapkan ribuan terima kasih karna sudah membantu untuk mengungkap kejahatan Sandi. Kami ada sedikit oleh-oleh sebagai ucapan terima kasih. Kami berharap tuan dan Nak Fajira bisa menerima sedikit oleh-oleh ini!" Kepala desa mengulurkan satu kardus kecil yang entah apa isinya.
Fajira menatap Irfan dengan penuh harap. Laki-laki itu mengangguk mengizinkan Fajira untuk mengambil kota itu.
"Terima kasih banyak, Bapak, ibu sekalian!. semoga ada hikmah yang akan kita dapatkan setelah ini. Saya titip rumah dan gudang peninggalan orang tua saya ya!" Fajira tersenyum dan menerima kardus itu.
"Untuk warga yang lain silahkan berikan kepada pengawal kami!" ucap Irfan.
Bagaimanapun juga, ia tetap memastikan keselamatan anak dan istrinya. Barang-barang itu akan di cek satu persatu agar tidak ada sesuatu yang membahayakan nanti.
"kami pamit ya semuanya!" ucap Fajira melambaikan tangan ke pada semua masyarakat.
"sehat-sehat terus sampai lahiran ya!"
"terima kasih banyak sudah membantu kami!"
"jangan lupa berkunjung lagi Fajira!"
Begitulah terdengar berbagai macam ucapan dan do'a yang keluar dari mulut masyarakat di sana.
Hingga mobil berjalan meninggalkan kampung itu. Fajira merasa, keputusannya untuk menerima Irfan kembali adalah pilihan yang tepat. Sungguh ia sangat menantikan hari dimana kejahatan Sandi bisa terungkap tanpa ada hambatan sedikitpun.
"Sayang, terima kasih banyak ya!" ucap Fajira mengusap lembut tangan Irfan.
"Apapun akan aku lakukan untuk keluarga kita sayang. Jangan pernah takut selama kita bersama!"
Fajira hanya bisa tersenyum sambil menahan harunya. Merasa sangat bersyukur dengan apa yang sudah mereka lalui bersama.
Mereka berbincang hangat di dalam mobil, bahkan tanpa terasa tiga jam sudah di lewati begitu saja. Mereka tiba di kediaman Dirgantara dengan kelegaan hati yang teramat.
Fajira mengajak ibu Nurma untuk masuk kedalam rumah. Wanita paruh baya itu tak hentinya terkagum melihat rumah yang dihuni oleh anaknya. Sementara Fajira hanya tersenyum melihat kelakuan wanita paruh baya yang paling ia sayangi itu.
Sekarang, ibu adalah orang tua ku, apapun akan aku lakukan untuk kebahagiaan ibu. Semoga ibu senang tinggal disini. Bathin Fajira berkaca-kaca.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Pagi gengs....
Maaf ya kemarin aku gak bisa up banyak, karna ada satu dan lain hal.
Semoga hari ini bisa crazy up yaa. Dukung terus ceritaku dengan cara terbaik dari readers semua.
__ADS_1
Terima kasih π€