Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
246. Kesempatan


__ADS_3

Pagi menjelang, Ivanna sudah berada di kampus. Lebih tepat di depan kelasnya, karna dosen yang mengajar sudah izin untuk datang terlambat. Sehingga kelas itu tengah ribut karna ocehan mahasiswa yang lain.


"Hai?" sapa seseorang.


"Kalau hanya untuk mengajakku bertengkar, lebih baik pergi dari sini!" ucap Ivanna ketus


"Jangan seperti itu. Baiklah, maafkan Aku!" ucap Bryan tersenyum.


"Hmm,..."


"Huft, aku minta maaf soal yang kemarin! Sungguh aku benar-benar cemburu melihat kamu jalan sama laki-laki itu!" ucap Bryan lirih.


"Pandailah bersikap, Bry. Aku bukan Ivanna kecil lagi, masa itu mungkin aku akan memakluminya. Tapi tidak untuk masa sekarang, dengan sikapmu yang melayangkan janji lalu mengingkarinya membuatku semakin tidak suka denganmu!" ucap Ivanna santai.


"Maafkan aku, sungguh semua ini di luar kendaliku! setiap aku berjanji kepadamu, aku selalu mendapatkan panggilan dari asistenku untuk terbang ke Singapura!" ucap Bryan merasa begitu bersalah.


Mereka terdiam dengan fikiran masing-masing. Ivanna sebenarnya tidak mempermasalahkan sikap Bryan, hanya saja dia tidak lagi percaya dengan perkataan laki-laki itu.


"Apa kamu memaafkanmu?" tanya Bryan penuh harap.


"Ya, aku memaafkanmu, dan itu untuk yang terakhir kalinya. Aku tidak peduli siapa kamu, setinggi apapun jabatanmu, yang jelas sikap kamu kemarin membuatku malu! untung saja tidak ada paparazi yang mengambil gambar dan menyebarkannya! Itu yang harus kamu pahami!" ucap Ivanna tegas.


"Baiklah! Tapi, apa boleh aku memintamu untuk tidak dekat dengan laki-laki?" tanya Bryan dengan berani.


Ivanna terkejut, ia menatap Bryan tajam. Ia merasa semakin tidak suka dengan laki-laki ini.


"Apa kamu abangku? atau kamu ayahku?" tanya Ivanna mengernyit.


"Aku, calon suamimu!" ucap Bryan.


"Cih! Apa hak anda melarang saya untuk dekat dengan orang lain? Sementara Abang dan ayah saya tidak melarang dan membatasi pergaulan saya! Sudah, saya muak menghadapi laki-laki egois seperti anda!" ucap Ivanna kesal dan pergi dari sana.


Bryan segera bangkit untuk mengejar Ivanna dan menahan tangannya.


"Maafkan aku! Aku hanya bercanda!" ucap Bryan tersenyum.


"Lepas!" sentak Ivanna sambil melepaskan tangannya.


"Apa aku masih memiliki kesempatan untuk dekat denganmu lagi?" tanya Bryan.


"Semua orang memiliki kesempatan, tapi jika sikapmu yang mudah menyentuh perempuan seperti ini. Maaf kamu sudah tereliminasi! Saya harus belajar, permisi!" ucap Ivanna meninggalkan Bryan dan memilih untuk masuk ke dalam kelasnya.


Bryan hanya bisa menghela nafasnya karena ia merasa salah berbicara kepada Ivanna.


Padahal aku begitu yakin jika dia masih tetap Nana ku yang dulu! Tetapi tidak, dia sudah sangat dewasa dari umurnya. Sepertinya aku harus mencari cara yang ampuh untuk mendekatinya!. batin Bryan.


🌺🌺


Hari terus berlalu, Safira semakin terlihat aneh dengan ngidamnya yang tidak masuk akal. Usia kandungannya sudah memasuki 10 minggu. percayalah, dibalik Ibu hamil yang sehat, ada suami yang menjadi korban eksperimen aneh mereka.


Seperti pagi ini, Safira kembali mual setelah sarapan dan meminta Fajri untuk menemaninya hingga terlelap. Jangankan untuk pergi ke kantor, bergerak sedikit saja, bisa membuat Safira terbangun.


Hingga akhirnya, Fajri memaksa untuk pergi ke kantor, karena pekerjaannya yang sangat banyak dan juga mendesak. Sehingga mau tidak mau, ia harus pergi meninggalkan istrinya di rumah. Namun hal lain terjadi, Safira merengek sambil mengekorinya kemanapun Fajri melangkah.


"Sayang, ikut!" rengek Safira mengekori Fajri yang tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.


"Sayang, nanti kamu kelelahan, aktivitasku banyak hari ini!" ucap Fajri memberikan pengertian.


"Hiks,... tapi aku ikut!" ucap Safira menangis.


"Eh, kok nangis? Baiklah. kamu bersiap ya. Kita akan pergi ke kantor!" ucap Fajri memeluk Safira.


Selain tenaga ekstra, ia juga harus memiliki kesabaran yang tiada batas untuk menghadapi Ibu hamil ini.

__ADS_1


Memang semenjak mengandung, sikap Safira sangat manja dan gampang menangis, jika keinginan yang tidak masuk akalnya di bantah atau tidak di laksanakan oleh Fajri. Ia akan meraung dan mengadu kepada Bunda, agar Fajri mau menurutinya.


Setelah bersiap, mereka segera pergi menuju perusahaan Fajri. Genggaman tangan mereka tidak terlepas dari tadi. Hingga mobil berhenti di loby perusahaan, wajah senang Safira berubah sendu ketika melihat Fajri yang di tatap oleh karyawannya dengan penuh damba.


Ia semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Fajri sambil menatap dingin semua karyawan yang berpapasan dengannya. Mereka segera berjalan menuju ke ruangan Fajri.


"Aku gak suka dengan tatapan mereka, Mas!" ucap Safira cemberut dan hendak menangis.


"Terus aku harus apa, sayang?" tanya Fajri memelas.


Mereka baru saja duduk di atas sofa di dalam ruangan Fajri.


"Kenapa kamu begitu tampan? Bagaimana kalau mereka merebutmu? Aku gak mau!" ucap Safira hendak menangis.


"Gak ada yang akan merebut aku dari kamu, sayang! Kalaupun ada, aku gak akan mau! Jangan menangis, ya. Kasihan anak-anak nanti juga ikutan sedih kalau bundanya sedih!" ucap Fajri tersenyum sambil mengelus perut rata Safira


"Hmm,..." Safira memeluk Fajri sambil memejamkan mata, hingga ia tertidur pulas di dalam pelukan ternyaman itu.


Fajri segera menggendong Safira ke dalam ruangan pribadinya. Ia harus memeriksa setumpuk berkas yang sudah ia abaikan semenjak istrinya hamil.


"Aksa, tolong ke ruangan saya, sebentar!" ucap Fajri memanggil asistennya melalui sambungan interkom.


Tok,... tok,... tok,...


"Permisi Tuan!" ucap Aksa.


"Duduklah!" ucap Fajri tanpa menoleh.


"Bagaimana pekerjaanmu?" sambung Fajri.


"Semuanya berjalan baik, Tuan!" ucap Aksa.


"Huft, begini besok saya harus pergi ke Singapura untuk kontrak dengan perusahaan berlian yang ada di sana. Apa kamu bisa menggantikan saya?" tanya Fajri


"kamu berangkat pagi jam 7, rapat akan di laksanakan pukul 10 pagi waktu Singapura. Besok kamu akan di temani oleh Bianca, untuk bertemu dengan klien!" ucap Fajri menerangkan.


"Baik, Tuan!" ucap Aksa.


Mereka membicarakan tentang pekerjaan yang sedang di jalankan. Semuanya harus berada dia dalam kendali agar tidak terjadi kesalahan sedikitpun.


"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu, Tuan!" ucap Aksa.


"iya, silahkan! Bonus kamu saya naikkan bulan depan!" ucap Fajri tersenyum.


"Te-terima kasih, tuan! permisi." Aksa dengan hati yang bahagia keluar dari ruangan itu.


Sementara Fajri, ia begitu bangga dengan Aksa yang bisa di andalkan untuk mengurus perusahaan. Makanya ia berani menaikkan gaji dan bonus pria tampan itu.


Hingga rengekan Safira terdengar dari dalam ruangan yang tidak tertutup rapat. Fajri segera bergegas melihat keadaan istri manjanya.


"Maas?" panggil Safira masih berbaring di atas kasur.


"Apa, sayang? kamu butuh sesuatu?" tanya Fajri lembut.


"Aku mau pulang, terus masak burger!" ucap Safira dengan mata yang masih terpejam.


"Masak burger? gimana kalau kita beli saja?" tanya Fajri.


"Gak, mau! Aku mau masak, terus kamu yang makan, boleh ya?" ucap Safira memeluk pinggang Fajri.


Glek!


Makan lagi? pasti porsinya gak sedikit!. Batin Fajri meringis.

__ADS_1


"Ayo, sayang! Gendong aku ya!" ucap Safira merapikan penampilannya dan memakai masker.


Fajri dengan telaten mengikuti kemauan istrinya. Ia segera menggendong Safira keluar dari gedung mewah itu dan berjalan menuju pulang ke rumah. Tak lupa juga, Fajri membawa berkas-berkas yang akan di kerjakan di rumah nantinya.


Ia juga memesan semua bahan masakan secara online sambil bersandar di dada Fajri. Pria tampan itu kesulitan untuk menelan air liurnya karena melihat begitu banyak bahan yang di beli oleh Safira.


RIP perut sixpack ku! Ya tuhan, kenapa istriku Ngidam hal aneh seperti ini? Mama Ngidam apa waktu hamil Safira?. Batin Fajri meringis.


Tak lama mobil berhenti di halaman rumah bertepatan dengan datangnya beberapa bahan yang sudah di pesan oleh Safira. Ia bertepuk tangan karena sebentar lagi ia akan memasak burger yang banyak dan menyuapi Fajri hingga suami tampannya merasa kenyang.


Di bantu oleh beberapa juru masak dan Fajira, Ibu hamil itu berhasil membuat 25 burger dan terlihat sangat menggiurkan. Daging yang begitu menggoda dengan lelehan keju membuat siapa saja terpanggil untuk memakannya.


Safira segera memanggil Fajri yang tengah berada di ruang kerja. Tak lupa pria tampan itu harus mengganti bajunya dan hanya menyisakan singlet dan celana joger panjang.


Glek!


Keringat Fajri sudah lebih dulu keluar melihat banyaknya burger di atas meja.


"Sayang?" Panggil Fajri sedikit takut.


"Iya, Mas? yuk, kita makan!" Ajak Safira senang sambil menuntun Fajri untuk duduk.


Ia mulai menyuap Fajri sedikit demi sedikit, sambil tersenyum dan sesekali menggigit bibir bawahnya. Bukan semata-mata untuk mengerjai Fajri, tetapi ia begitu suka ketika melihat suaminya tengah makan hingga berkeringat seperti saat ini.


Melihat Safira yang terpana, Fajri juga ikut menyuapinya, tanpa di sadari oleh Ibu hamil itu.


Satu burger, dua burger, hingga enam burger di habiskan berdua saja. Bahkan Fajira pun sudah kenyang duluan melihat anak-anaknya yang begitu lahap memakan makanan itu.


"Enak, sayang?" tanya Fajira.


"Iya, Bunda. Enak banget!" ucap Fajri dan Safira berbarengan.


"Iya, habiskan lah!" ucap Fajira tersenyum.


"Ahh, kengnyang banget!" ucap Safira yang sudah tidak kuat untuk makan lagi.


"Aku juga, sayang!" ucap Fajri kesusahan untuk bernafas karma terlalu kenyang.


"Aku mau tidur, Mas! Ngantuk lagi!" ucap Safira mulai memejamkan matanya.


"Nanti, sayang. Tunggu makanannya di cerna dulu, baru tidur!" cegah Fajri.


"Engh,... Ngantuk, Mas!" ucap Safira dan tertidur.


"Aih, sayang!"


Fajira hanya menggeleng melihat tingkah mereka yang begitu aneh dan kompak.


Tidak masalah, yang penting mereka sehat dan baik-baik saja. Suami istri sama-sama aneh!. batin Fajira terkekeh.


Fajri segera mengangkat Safira yang sudah terasa berat itu menuju ruang keluarga dan membaringkannya dia tas karpet bludru tebal. Bahkan Fajri juga ikut terlelap sambil memeluk istrinya.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


Ini bab terakhir Safira mengidam ya gais. Aku gak tega kalau nyiksa Fajri lebih lama. 😩


Sedikit gambaran juga mengenai kehidupan Ivanna nanti di buku selanjutnya. Apa sudah tergambarkan?


Siapa Tono dan bagaimana Bryan sebenarnya akan kita bahas satu persatu. Siapakah yang akan dipilih oleh Ivanna atau ada lagi figur yang muncul tanpa di duga?.


Aku sudah tidak sabar untuk menamatkan Fajri secepatnya. Semoga cerita Ivanna tidak kalah seru dengan cerita Fajri. 😁😁

__ADS_1


Stay tune gais πŸ€—πŸ€—


__ADS_2