
"Saya Masih tidak menyangka, jika tuan Irfan memecat anda begitu saja, tuan Ray. Jika saya tau dari awal jika anda di pecat, mungkin saya akan lebih dulu meminta anda untuk menjadi sekretaris pribadi saya," ucap salah satu petinggi perusahaan yang baru saja menjalin kerja sama dengan perusahaan di tempat Ray bekerja.
"Memangnya anda berani membayar saya berapa, Tuan Halim? Saya yakin gaji yang anda tawarkan belum 50% gaji saya di perusahaan Tuan Irfan!" ucap Ray sinis karna merasa harga dirinya di lecehkan.
"Lalu berapa gaji anda bekerja di perusahaan ini?" tanya Halim dengan wajah masamnya.
"perbandingannya ada sekitar 70-80 persen Gaji saya bersama dengan, Tuan Irfan! Mungkin karna ini perusahaan baru. Jika sudah berkembang dan maju, saya yakin bisa mendapatkan gaji lebih besar dari pada tuan Irfan. itu belum termasuk bonus dan uang lembur," Ray memasang wajah datarnya.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, tuan Halim! Karna masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan!" Ray berlalu meninggalkan Tuan Halim yang menatapnya dengan wajah masam.
Ray saat ini bekerja di salah satu perusahaan yang baru saja berdiri satu tahun ini. Perusahaan yang bergerak di bidang produksi kendaraan itu di rintis dari awal bersama dengan karyawan lainnya.
Ray segera berjalan menuju mobil dan meninggalkan tempat itu. Hari ini ada banyak hal yang harus ia kerjakan, terutama meminta tanda tangan sang pemilik perusahaan yang melimpahkan 80 persen pekerjaan kepadanya.
Ia tersenyum mengingat bagaimana Irfan memecatnya beberapa tahun lalu. Ingin ia mengumpati laki-laki yang sudah seperti adik baginya itu. Namun bagaimana lagi, keputusan Irfan memang sangat benar setelah ia mendapati kebenaran di balik pemecatannya.
...πΊπΊ...
"Om, apa masih banyak? tangan Aji capek!" keluh Fajri ketika ia harus menanda tangani setumpuk berkas perusahaan.
"Sedikit lagi, Tuan Muda! Setelah itu anda bisa bermain kembali!" ucap asisten Fajri.
Pria kecil itu sudah memiliki perusahaannya sendiri, yang bernama PT. FHD Indonesia. Perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan transportasi udara ini berhasil dibangun dalam waktu 3 tahun dan menguras habis semua tabungan pria kecil itu. Ditambah dengan aliran dana yang cukup banyak dari Opa kesayangannya.
Perusahaan Fajri sudah berhasil membuat dua buah pesawat komersil, 1 buah jet pribadi dan 1 buah helikopter dalam 1 tahun ini. Perusahaan Fajri berhasil mendapatkan perhatian dunia, karna designnya yang sudah lebih dulu muncul dalam bentuk mainan.
Mereka beramsumsi jika Irfan yang memproduksi dan mengelola perusahaan ini. Namun setelah melakukan klarifikasi, semua orang paham dan mulai tertarik untuk bekerja sama.
Hingga saat ini, perusahaan Fajri sudah memiliki daftar pesanan yang sangat banyak. Sehingga, Irfan memberi kebijakan untuk menutup sementara blog pemesanan pesawat milik Fajri.
Design pesawat yang sempurna dan selalu lolos dalam masa uji coba, membuat berbagai perusahaan tertarik untuk memesan jet pribadi kepada Fajri. Bahkan pria kecil itu juga sempat menerima penghargaan tertinggi dari presiden atas kerja kerasnya.
Walaupun saat ini Identitas Fajri masih di rahasiakan. Namun semua orang berasumsi jika ini merupakan anak perusahaan milik Dirgantara CORP.
tok... tok... tok...
"Abang?" terdengar suara imut nan merdu milik Ivanna dari luar.
ceklek...
"nona muda, ada yang bisa saya bantu?" tanya Ray.
"saya mau bertemu dengan abang, Apa boleh?" ucap Ivanna datar sambil memeluk boneka buatan tangan Fajri yang menjadi kesayangannya saat ini.
"silahkan, Nona!" ucap Ray mempersilahkan Ivanna masuk kedalam ruang kerja Fajri.
"Apa Abang sudah selesai?" cicit Ivanna.
"sedikit lagi, sayang. Dede mau apa?" tanya Fajri lembut, sambil mengusap kepala adiknya.
"Dede mau latihan sama abang, Apa boleh?" tanya Ivanna dengan puppy eyesnya.
"Boleh, sayang! tunggu sebentar ya! kerjaan abang sedikit lagi selesai!" ucap Fajri.
Ivanna memilih untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu. Ray menatap gemas kepada gadis kecil itu. Ia juga merindukan Putri kecilnya yang sudah berusia 2 tahun.
"Nona muda, apa nona mau bermain dengan Dede Raisa?" tanya Ray.
Ivanna hanya menatap pria tampan itu dengan datar, namun matanya bergerak mengingat siapa Raisa yang di maksud oleh Ray.
"Dede Laisa? apa anaknya onty Liska?" tanya Ivanna dengan logat cadelnya.
__ADS_1
"iya, anak om juga!"
"mau! kalau dia main kesini!" ucap Ivanna yang terkesan tidak sopan.
"dek, yang sopan ngomong sama om Ray! ayo minta maaf!" ucap Fajri tanpa mengalihkan pandangannya.
"maaf!" ucap Ivanna menunduk.
"minta maaf yang benar, sayang!" ucap Fajri lembut.
"Maafin Nana, om Ray!"
"gak papa, nak!"
Mereka teridam dengan fikiran masing-masing, hingga Fajri menyelesaikan pekerjaannya.
"Minggu depan, ada pengecekan ke pabrik, apa Tuan Muda mau ikut?" ucap Ray membereskan berkas-berkas itu.
"Boleh om, Nanti kabari saja Aji kapan om akan pergi kesana! terima kasih banyak karna om mau menggantikan pekerjaan Aji!" ucap Fajri tersenyum.
"Sama-sama Tuan Muda, Ini adalah amanah yang harus om emban! Kalau begitu Om permisi dulu!" ucap Ray mengelus kepala Fajri dan Ivanna lembut dan berlalu dari sana.
Kini tinggallah duo bocil genius itu. Ivanna membentangkan tangannya kepada Fajri. Pria kecil itu paham, ia segera menggendong Ivanna dan membawanya menuju ruangan khusus yang berisikan alat musik lengkap di sana.
Ivanna, memiliki minat di bidang musik. Ia memiliki IQ yang sedikit lebih rendah di bandingkan Fajri yaitu antara 180-190. Berbeda dengan Fajri yang menyukai segala hal.
Ivanna cenderung berbuat sesuka hatinya. Ia menolak permintaan Fajira yang memintanya untuk masuk sekolah ataupun akademi yang menyediakan pelatihan musik dan segala macamnya. Namun gadis cantik itu berkilah dengan berbagai macam alasan.
"Dede mau nyanyi apa sayang?" Tanya Fajri.
Mereka sudah berada di dalam ruangan musik. Fajri yang masih memangku Ivanna duduk di kursi yang berada di dekat piano besar yang berwarna putih itu.
"oo lagu itu! bisa dong, itu lagu kesukaannya Bunda dari dulu dek. Apa Dede udah hafal liriknya?"
"sudah, bang!" ucap Ivanna berbinar senang.
"Oke mari kita coba!"
Fajri mengambil posisi, jari lentiknya mulai memainkan tuts piano dengan merdu. Mereka menikmati alunan instrumen yang terdengar sangat merdu itu.
"Share my life, Take me for what I am. Lendah bang, coba naikkan 1 nada lagi!" ucap Ivanna.
"ini nada asli lo dek! apa kamu kuat kalau ambah satu nada lagi?" tanya Fajira terkejut.
"kuat bang, Coba dulu ya!" ucap Ivanna menatap Fajri datar.
"okey"
Fajri menaikkan 1 nada dari dana aslinya. Ia meresapi alunan lembut nada-nada yang melambai di telinganya. Mereka semakin terhanyut ketika mendengarkan suara yang merdu mulai menyalip di antara instrumen yang tengah mengalun merdu.
"Share my life, Take me for what I am
'Cause I'll never change, All my colors for you.
Take my love, I'll never ask for too much. Just all that you are, And everything that you do.
I don't really need to look, Very much further.
I don't wanna have to go, Where you don't follow.
I will hold it back again, This passion inside.
__ADS_1
Can't run from myself, There's nowhere to hide.
Your love I'll remember forever" Suara Ivanna mengalun merdu.
"siap dek?" tanya Fajri yang membuat feeling Ivanna hancur.
Plak!!
"abang gangguin aja! kan lagi menghayati. gimana sih!" sungut Ivanna kesal sambil memukul lengan Fajri.
"hehe abang kira Dede belum siap, kan ini nadanya tinggi banget, sayang!" ucap Fajri menggaruk tengkuknya.
"Makanya, abang main piano aja. Biar dede yang nyanyi!, ulang lagi!" ucap Ivanna kesal.
"I will hold it back again, This passion inside.
Can't run from myself, There's nowhere to hide.
Your love I'll remember forever
Don't make me close one more door,
I don't wanna hurt anymore.
Stay in my arms if you dare,
Or must I imagine you there.
Don't walk away from me.
No, don't walk away from me. Don't you dare walk away from me.
I have nothing, nothing, nothing
If I don't have you, you" Suara tinggi dan melengkung Ivanna keluar dengan sendirinya.
Ia berekspresi layaknya Whitney Houston sedang live pada konser besar.
"wah, Dede bisa!" ucap Fajri terkejut.
"Dede gitu lo!" Ucap Ivanna senang.
Tanpa mereka sadari, Irfan, Fajira dan beberapa ART menyaksikan kehebatan gadis kecil itu. Apalagi Fajira, ia bersyukur karna Ivanna memiliki bakat yang berbeda dari abangnya.
Semoga Dede gak memiliki keinginan yang gila seperti abang ya, nak. Bunda gak kebayan jika suatu saat Dede meminta untuk dibuatkan pabrik alat musik, atau meminta bertemu dengan para penyanyi dunia itu. bathin Fajira yang berkaca-kaca.
Prok... prok... prok...
Tepuk tangan menggema di dalam ruangan dan membuat dua bocil genius itu terlonjak kaget karna tidak menyadari kehadiran mereka.
Ivanna merona malu, namun ia berusaha untuk menyembunykannya di balik wajah datar nan cantik itu.
Fajira meminta kepada anak-anaknya untuk kembali bernyanyi, bahkan Irfan 'pun enggan untuk beranjak dari sana. Ia merasa ingin selalu mendengarkan suara merdu dari anaknya.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE.
Hai gais, ini sudah masuk season 2 ya. Kepandaian Ivanna masih banyak yang lain. Dan akan aku bahas satu persatu ya.
Semoga suka dengan ceritaku. Terima kasih banyak π€π€
__ADS_1