Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
175. Bibit Unggul Irfan


__ADS_3

Didalam mobil, Ivanna terlihat cemas membayangkan kemarahan ibundanya nanti. Ia melirik berbagai macam makanan yang ada disampingnya.


Semoga saja Bunda gak marah nanti! tapi aku mau coba semuanya!.


"nona, kenapa?" tanya pak Sakti.


"gak papa, pak!"


"apa, non takut kalau Nyonya marah?"


"hmm"


Pak sakti menahan senyumnya melihat wajah murung Ivanna yang sangat jarang untuk ia lihat.


Mobil terus melaju menuju kediaman Dirgantara, membawa tuan Putri kerajaan yang tengah dirundung rasa takut.


🌺🌺


Irfan mengernyit, begitu banyak notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya. Dan itu berasa dari jam tangan milik Ivanna.


"apa yang Dede beli sebanyak ini, nak?" ucap Irfan tersenyum. ketika melihat ivanna menghabiskan uang hampir seratus lima puluh ribu dan waktu 10 menit saja.


"ada apa, sayang?" tanya Fajira.


"ini kerjaan anak, kamu!" ucap Irfan terkekeh sambil menyerahkan ponselnya.


Fajira terbelalak kaget, terlihat Ivanna membeli hampir semua makanan yang ada di kantin.


"astaga, anak kamu memang bibit unggul, Mas! lebih bandel dari Fajri!" ucap Fajira memegang kepalanya yang terasa berdenyut.


"hehe, mereka memang bibit unggul, sayang!" Irfan terkekeh sambil melihat ekspresi Fajira.


Drrtt,...


Drrtt,...


Ponsel Fajira berbunyi, ia segera mengangkatnya dan melihat siapa yang tengah menelfon.


"Halo, Pak?" ucap Fajira mengernyit.


"Halo, Nyonya! maaf saya hanya mengatakan kalau nona muda sudah tiba di rumah, namun nona masih berdiri di depan pintu utama dan enggan untuk masuk. Saya fikir mungkin nona takut jika anda memarahinya nanti, Nyonya!" ucap Pak sakti sedikit tergelak.


"aihh, gadis itu! Baiklah, pak. Terima kasih!" ucap Fajira mematikan panggilannya.


Tut,...


"kenapa sayang?" tanya Irfan.


"Anak gadismu gak berani masuk ke dalam rumah, karna takut melihat aku marah kepadanya!" ucap Fajira sambil menghela nafas.


Ia tergelak tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Ivanna. Fajira mengajak Irfan untuk turun kebawah dan menemui anak gadisnya.


"Ivanna tidak pernah takut dengan siapapun, tetapi ia sangat menghargai kita sebagai orang tua! Ahh, kamu memang ibu yang hebat dalam mendidik anak, sayang. Aku makin cinta!" ucap Irfan tersenyum dan mencolek hidung Fajira.

__ADS_1


"ihh dasar, gombal!" delik Fajira dengan wajah yang merona dan hati yang berbunga-bunga mendengarkan pujian Irfan.


Langkah mereka terhenti ketika berada di depan pintu utama. Fajira mengintip putrinya lewat jendela dan di ikuti oleh Irfan. Ia melihat jika Ivanna tengah memegang semua kantong belanjaan di tangannya sambil menghela nafas.


Wajahnya terlihat pucat dan tidak beranjak dari tempat ia berdiri. Sambil menunduk ia menatap kantong-kantong yang berisi makanan yang akan menjadi sumber kemarahan ibundanya nanti.


"lihatlah anak kamu, Mas! Itu terlihat sangat mengemaskan," bisik Fajira.


"buka lah pintunya, sayang! aku gak tega melihat anak gadisku seperti itu," bisik Irfan.


"tunggu sebentar lagi. Aku pengen lihat, apakah Putri kamu itu mau mempertanggung jawabkan kesalahannya atau tidak!" ucap Fajira mencegah Irfan yang hendak membuka pintu.


"tapi aku gak tega, sayang!" ucap Irfan memelas.


"harus tega untuk mengajarkan anak-anak, Mas!" ucap Fajira melotot. Irfan pasrah, mmereka kembali mengintip Ivanna dari balik jendela.


Sementara gadis cantik itu sudah takut karna membayangkan jika Fajira akan mendiamkannya. Terdengar helaan nafas berat keluar dari mulut mungil itu.


Ia kembali teringat dengan perkataan Fajira yang selalu di ucapkan ketika mereka ataupun ART berbuat kesalahan.


"Kalau berani berbuat, berarti harus berani untuk bertanggung jawab. Semuanya itu ada pilihan, fikirkan terlebih dulu sebelum bertindak, agar nanti kamu gak salah jalan. Walaupun nanti kamu melakukan kesalahan, tetap harus berani bertanggung jawab, itu lebih baik dari pada kamu mengelak dan melimpahkan kesalahan kepada orang lain" ucap Fajira tegas menasehati asisten rumah tangga yang nelakukan kesalahan dan tidak bertanggung jawab.


"dede harus bertanggung jawab, Bagaimanapun juga dede yang salah karna melanggar larangan, buna. Setidaknya kalau Buna marah dede tinggal nerengek dan memasang wajah imut seperti kata abang!" ucap Ivanna membulatkan tekad.


Fajira yang mendengarkan perkataan anaknya melotot dan mengernyit. Apa yang sudah di katakan oleh Fajri kepada adiknya tadi?. Ia tersenyum ketika melihat Ivanna mulai melangkah dan mengetuk pintu.


tok,... tok,... tok,...


"Buna?" panggil Ivanna.


Fajira segera membuka pintu dan menatap gadis kecilnya. Ivanna terkejut ketika melihat sang bidadari nan cantik yang membukakan pintu, ia langsung menunduk dengan mata yang berkaca-kaca.


"Dede, sudah pulang, sayang?" ucap Fajira lembut


"su-sudah, Buna" ucap Ivanna lirih.


"kenapa gak masuk, sayang? apa Dede bawa sesuatu untuk, Bunda?" ucap Fajira antusias.


Ivanna mengangkat wajahnya, apa Buna tidak marah? fikir gadis kecil itu. Ia menyerahkan semua bungkusan yang ada di tangannya kepada Fajira tanpa terkecuali.


"apa ini untuk, Bunda?" tanya Fajira antusias.


"untuk kita, Buna!"


"terima kasih, sayang. Yuk, kita masuk!" ucap Fajira menggandeng tangan Ivanna masuk.


Ivanna menurut, ia menggenggam tangan Fajira erat, berharap ia tidak mendapatkan amukan dari bundanya setelah ini. Fajira membawa Ivanna menuju dapur untuk membuka barang belanjaan gadis manis itu.


"tadi ayah dapat pesan dari jam tangan Dede, dia bilang kalau Dede belanja banyak di kantin sekolah," ucap Fajira.


"maaf, Buna!" ucap Ivanna lirih.


"sudah tau dimana salahnya, Dede?"

__ADS_1


"sudah, Buna!"


Perasaan bersalah menghampiri gadis kecil ini. Air matanya mengalir ketika mendapati Fajira tidak memarahinya.


"Dede tau kenapa Bunda melarang abang dan Dede untuk belanja di luar?" tanya Fajira tersenyum sambil memindahkan semua makanan itu ke dalam piring.


"tau, Buna!"


"kenapa?"


"karna, jajanan yang dijual belum tentu sehat dan higienis, Bunda juga sudah menyediakan banyak jenis kue di dalam rumah dan berganti setiap harinya!" ucap Ivanna.


"terus?"


"Dede dan abang gak terbiasa untuk jajan di luar, jadi kalau makanannya tidak sesuai, Dede bisa sakit perut. Kalau Dede mau sesuatu, bisa bilang sama Bunda untuk membuatkannya,"


"sekarang Dede sudah paham, sayang?" ucap Fajira memeluk Ivanna.


"paham, Buna! Maafin Dede ya!" Ivanna membalas pelukan Fajira dengan erat.


"iya, sayang. Bunda senang karna Dede bertanggung jawab dengan apa yang sudah Dede lakukan!" ucap Fajira lembut.


"Buna, gak marah?" mata polos itu menatap Fajira lekat.


"kenapa Bunda harus marah?"


"hisk, tadi abang bilang kalau Buna akan marah dan mendiamkan Dede!" Ivanna semakin terisak sambil menahan kesalnya karna sudah merasa di bohongi oleh Fajri.


"sudah, sekarang kita coba kuenya yuk. Mana tau kita bisa ganti Stok cemilan nanti!" ucap Fajira mangusap air mata yang mengalir di pipi mulus Ivanna.


Irfan menatap nak dan istrinya dengan tersenyum. Ia baru saja kembali setelah mendapatkan panggilan dari kantor.


Ia ikut bergabung bersama mereka dan mencoba kue yang di bawa oleh Ivanna walaupun keadaannya tidak lagi untuh karna sudah di coba oleh gadis manis itu.


"Ini kenapa kuenya gak utuh sayang?" tanya Irfan jahil.


"itu, tadi kuenya sudah Dede coba, ayah! apa ayah mau?" ucap Ivanna tersenyum kikuk dan menawarkan Irfan kue yang sangat enak menurutnya.


"makanlah, sayang!"


Ivanna tersenyum, hari ini ia mempelajari satu hal, bahwa bertanggung jawab itu adalah hal yang sangat penting. Berani berbuat dan berani bertanggung jawab.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


Malam Gais. yuk tinggalkan komentar positif teman-teman semua.


Tinggalkan like dan komentar sebagai uang parkirnya gais.


Jangan lupa bunga atau kopinya agar author bisa up lebih banyak lagi.😍😍


Vote? boleh dong di sedekahkan kesini dari pada nangkring dan terbuang sia-sia. wkwkwk

__ADS_1


terima kasih πŸ€—.


__ADS_2