Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
222. Meminta Restu Ibu Panti 2


__ADS_3

"Kenapa, nak Aji bisa seyakin itu? Safira hanya berasal dari panti asuhan. Walaupun keluarga, nak Fajri tidak pernah memandang orang lain dengan status sosial. Tapi, kamu adalah orang yang sangat berkuasa dan berpengaruh. Ibu takut jika suatu hari nanti, kamu menemukan yang lebih baik dari Safira, ibu takut kamu akan menyia-nyiakan anak ibu!" ucap Ibu serius dan memberanikan diri untuk menatap Fajri.


Fajri termagu, ini di luar dugaannya tadi. Ia menatap Safira dengan mata yang memancarkan keyakinan dan meminta sedikit semangat dari kekasihnya itu. Safira paham, ia hanya bisa mengangguk dan mengeratkan genggaman tangan mereka.


"Bu, Mungkin Ibu tidak akan percaya dengan apa yang Aji katakan. Tapi, Aji bukan orang yang suka mempermainkan orang lain, apalagi ini tentang pernikahan. Ibu bisa mempercayakan Safira kepada Aji, menggantikan ibu untuk menjaga Safira dan membahagiakannya. Aji janji dengan apapun yang Aji miliki!" ucap Fajri dengan yakin menatap manik mata ibu.


"Fajri, Safira itu anak yang paling membanggakan untuk, ibu, untum panti. Ibu begitu menyayangi gadis cantik ini. Ibu begitu takut, jika ia tidak mendapatkan kebahagiaan dikemudian hari, jika ibu sudah tiada. Ibu belum ikhlas untuk melepas Safira menikah!" ucap ibu lirih dengan mata uang berkaca-kaca.


Deg!.


Jantung Fajri dan Safira, seolah berhenti saat itu juga. Mereka merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh Ibu.


"Bu, Jika ibu mengkhawatirkan kebahagiaan Safira. Aji janji akan memberikan berbagai macam kebahagiaan itu Safira. Bunda mengajarkan Aji, jika perempuan itu harus dijaga dengan sepenuh hati bahkan hingga tetes darah terakhir. Dan Aji akan melakukan itu untuk perempuan yang ada di dalam hidup Aji!" ucap Fajri dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aji akan membuktikan, jika Safira akan bahagia bersama, Aji, Bu! mohon restui kami!" ucap Fajri lirih namun terselip ketegasan di dalam setiap ucapannya.


"Bu, Fira sudah memilih, kak Fajri untuk menjadi pendamping hidup, Jira! Jira yakin, akan bahagia bersama kak Fajri, Bu! mohon restui kami!" ucap Safira menggenggam tangan ibu lembut.


"Ibu, hanya merasa, ada amanah yang masih harus ibu emban dari abah, nak! Ibu belum bisa melepaskan kamu!" ucap Ibu dengan mata yang berkaca-kaca sambil menatap Safira.


"Bu, biarkan Aji menggantikan, Ibu dan Abah untuk menjaga Safira. Ibu bisa mempercayakan amanah itu kepada Aji!" ucap Fajri bersimpuh dan menggenggam tangan Ibu dengan lembut.


"Bu, Bahagia Fira bersama, kak Fajri. Restui kami, Bu!" Ucap Safira sudah meneteskan air matanya.


"Bu, beri aku kepercayaan, aku hanya butuh kepercayaan dari ibu. Sungguh restu ibu sangat penting bagi kami. Aji janji apapun akan Aku lakukan untuk membahagiakan Safira, Bu!" ucap Fajri dengan mata yang berkaca-kaca.


Untuk pertama kalinya, ia bersimpuh di hadapan orang lain selain orang tua, nenek dan Omanya. Fajri hanya akan melakukan itu, jika ada orang yang memang pantas menjadi tempat untuk ia bersimpuh.


Ibu semakin terisak, sungguh ia masih belum merelakan, Safira menikah dalam usia yang masih sangat muda. Ia menatap Fajri lekat sembari berusaha untuk menghentikan tangisnya.


Tangan yang sudah terlihat keriput itu merangkup wajah tampan Fajri. Ia menatap laki-laki yang begitu terlihat tulus mencintai anaknya, bahkan ia rela berlutut hanya untuk orang biasa seperti dirinya.


"Nak, Seharusnya ibu tidak melarang kamu untuk menikahi Safira,..."


"Bu, jangan ngomong seperti itu!" ucap dan Safira.


Gadis itu semakin menangis mendengarkan ucapan Wanita yang sudah seperti ibu baginya.


"Kalian masih terlalu muda, untuk menikah, nak!" ucap Ibu.


Mereka terdiam, memang mereka yang baru memasuki usia 20 tahun dan keinginan untuk menikah sangatlah tinggi. Bukankah menikah lebih baik, dari pada kebablasan? begitu pikir Fajri.


"Bu, Aji sangat menginginkan Safira untuk menjadi pendamping Aji. Karna Ibu berhasil mendidiknya menjadi perempuan yang memiliki sikap dan perilaku yang baik, menjadi gadis yang pintar, dan menjadi perempuan yang hebat. Bu, Aji membutuhkan Safira untuk mendampingiku. Aji mohon, Restui kami, Bu!" ucap Fajri menatap manik mata Ibu.


"Apa perkataan kamu bisa ibu pegang, nak?"


"bisa, Bu. Ibu bisa berbuat apapun kepadaku, jika aku menyakiti Safira!" ucap Fajri meyakinkan.


"Baiklah! Ibu merestui kalian! dengan catatan, buktikan semua perkataan yang sudah kalian katakan tadi!" ucap Ibu pasrah.


"hiks,... terima kasih, Bu!" ucap Safira terisak dan memeluk Ibu dengan erat.

__ADS_1


Begitu juga dengan Fajri, Air matanya menetes begitu saja. Ia menyandarkan kepalanya di lutut ibu seraya menangis. Akhirnya ia mendapatkan restu, Ibu dari kekasihnya.


"terima kasih, Bu! terima kasih! Aji akan menepati semua janji, Aji bu. Saya janji!" ucap Fajri tersenyum dengan air mata yang masih menetes.


"Jaga Putri ibu ya, Nak!" ucap ibu menatap Fajri dengan lamat.


"Iya, Bu! Ibu bisa percaya kepada, Aji!" ucap Fajri tersenyum.


"Bangunlah!" ucap Ibu.


Fajri dengan patuh bangkit dan kembali duduk di kursi sofa di dalam rumah Ibu. Sementara Safira masih berusaha untuk menahan tangisnya di dalam pelukan wanita paruh baya itu.


"Kapan kamu akan melamar Safira, nak?" tanya Ibu sambil mengusap kepala Safira lembut.


"Besok malam, Bu! Aji sudah menyiapkan semuanya. Jadi Ibu gak usah repot-repot. Besok lamaran akan di adakan di sini, semoga ibu mengizinkan!" ucap Fajri menunduk.


"besok?, besok ini?" tanya ibu tidak percaya.


"iya, Bu. besok!"


"Hah?" ucap Ibu tidak percaya.


"sudah, ibu ikuti saja. Kakak memang gitu, Aku juga setuju!" bisik Safira.


"Kamu gimana sih, kita kan belum bersih-besih!" sewot Ibu berbisik kepada Safira.


"Ibu tenang saja. Banyak orang yang akan, Aji kerahkan untuk acara besok. Safira juga sudah membawa baju untuk ibu, dan anak-anak yang lain," ucap Fajri tersenyum.


"Jangan bercanda, nak!" sentak Ibu yang masih tidak percaya.


"ya, tuhan! apa ini sebenarnya?" ucap Ibu memegang kepalanya yang terasa sangat berdenyut.


"Sudah, Bu. serahkan saja semuanya kepada, kak Fajri!" ucap Safira yang tak kalah pasrah.


"Baiklah!" ucap Ibu lirih.


Mereka sedikit berbincang mengenai hari pertunangan besok. Hingga malam semakin larut, Fajri harus berpamitan untuk pulang.


"Hati-hati, di jalan nak!" ucap Ibu.


"iya, Bu. Sekali lagi terima kasih banyak karna Ibu sudah merestui kami!" ucap Fajri tersenyum.


"Sama-sama! semoga kalian bahagia!" ucap Ibu tersenyum.


"Aamiin!"


Safira dan Fajri berjalan menuju mobil yang terparkir. Senyuman selalu mengembang dan terukir indah di wajah mereka yang tengah berseri.


"Akhirnya, tak lama lagi, kamu akan menjadi milikku. Hanya untukku!" ucap Fajri mengecup mesra kening Safira.


"jangan egois, kak!" delik Safira.

__ADS_1


Namun wajahnya masih bersemu merah, ketika mengingat hal yang memalukan tadi.


"Masuk dulu, sayang!" ajak Fajri.


"Ada apa, kak?" tanya Safira mengernyit.


"ada yang ingin aku sampaikan!" ucap Fajri tersenyum.


Ia memasuki mobil, setelah Safira duduk manis di dalamnya. Tanpa menunggu aba-aba, Fajri meraup manisnya bibir gadis cantik itu dengan lembut.


Cup,...


Safira terkesiap, lagi-lagi ia mendapatkan serangan mendadak dari Fajri. Namun kali ini ia berusaha untuk membalas perlakuan calon suaminya dengan mesra dan lembut.


Perlahan namun pasti, ia melingkarkan tangannya di leher Fajri dan sedikit menekan kepala pria tampan itu agar lebih memperdalam ciuman mereka.


Fajri yang mendapatkan lampu hijau, tidak menyia-nyiakannya kesempatan ini. Bahkan ia seolah tidak ingin melepaskan calon istrinya walau hanya sebentar saja.


Decapan demi decapan terdengar begitu menggairahkan di dalam mobil itu.


"akhhh,..." lenguh Safira tanpa sadar membuat mereka terkejut.


Fajri tersenyum nakal menatap calon istrinya yang sudah sangat merona.


"apa kamu sakit, sayang? wajahmu merah banget!" tanya Fajri usil.


"Ih, jangan di ledek!" rengek Safira manja dan memukul bahu Fajri.


"Hehehe, aku sudah sangat tidak sabar, sayang!" ucap Fajri memeluk Safira lembut.


"Aku juga, kak! semoga pernikahan kura bisa lancar dan awet, sampai kakek nenek!"


"aamiin!"


"ya sudah, pulang sana!" ucap Safira mengusir Fajri.


"Bonusnya, sayang?" ucap Fajri memonyongkan bibirnya.


"gak ada bonus, aku rapel aja kalau udah sah!" ucap Safira mendelik.


"Baiklah!" ucap Fajri pasrah.


Safira turun dari mobil dan melambaikan tangannya kepada Fajri. Perlahan mobil itu hilang dari pandangannya. Ia masuk ke dalam kamar dengan perasaan yang begitu senang, bahkan ia merasakan hari ini adalah hari yang paling membahagikan untuknya.


Tuhan, tolong restu kami!. Batinnya menatap langit.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE.


Walaupun gak banyak yg like, koment, vote dan bunga tapi alhamdulillah.

__ADS_1


Terima kasih😍😍


semoga reviewnya gak lama ya 😁😁


__ADS_2