Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
235. Mas Aji?


__ADS_3

"Dek, abang mau ngomong!" ucap Fajri kepada Ivanna.


"Abang tunggu di ruang kerja!" sambung Fajri melangkah menuju ruang kerjanya.


Mereka beru saja menyelesaikan sarapan. Ivanna tau, jika Fajri pasti mendapatkan laporan dari anak buahnya yang di tugaskan untuk mengawasi Ivanna.


"Kak, Dede pergi ke tempat Abang dulu!" ucap Ivanna lirih.


"iya, dek. Pergilah!" ucap Safira mengelus kepala Ivanna.


"Abang kenapa, kak? kok seperti sedang marah?" tanya Raisa polos.


"Abang lagi banyak kerjaan, sayang! habis ini istirahat lagi ya!" ucap Safira tersenyum.


"iya, kak!"


🌺🌺


Saat ini Fajri dan Ivanna sudah berada di dalam ruang kerja Fajri. Beberapa saat, keheningan melanda adik kakak itu.


Huft,...


"Dek?" panggil Fajri sembari merentangkan tangannya.


Ivanna menoleh dan langsung memeluk Fajri dengan erat. Matanya mulai berembun, ia berfikir Fajri akan memarahinya, namun tidak. Bahkan pria tampan itu menawarkan sesuatu yang sangat ia butuhkan saat ini juga yaitu sebuah pelukan.


"Sekarang, Dede mau tau, kenapa Abang tidak mengizinkan kamu untuk dekat dengan laki-laki itu?" tanya Fajri.


"Apa karna kesalahan kami di masa lalu?" ucap Ivanna lirih sambil terisak.


"Bukan, karna dia laki-laki yang lemah dan egois! Dia memang selalu mencukupi segala kebutuhan keluarganya, namun tidak untuk mengunjungi mereka. Apa Dede mau, ketika menikah nanti, Dede hanya di tinggal sendiri di rumah dan berteman dengan ruang hampa atau nenek kuntil?" tanya Fajri.


"ih, Abang!" ucap Ivanna kesal sambil memukul pelan dada Fajri.


"Bukankah, kita sama-sama buta dengan cinta? kita memang genius di dalam bidang akademik, namun kita kurang memahami jika menyangkut tentang percintaan!" ucap Fajri tersenyum dan memeluk Ivanna dengan gemas.


"iya! Padahal kemarin Dede marah gitu sama Abang, gegara wanita ular itu!" ucap Ivanna merasa bersalah.


"Kalau itu, Dede wajar marah sama Abang! Sekarang, apa Dede masih mau nangis?" tanya Fajri menatap Ivanna.


"Gak mau, ngapain Dede menangisi dia! ya, walaupun sedih juga sih! bukankah Abang lebih merasa sakit ketika di tinggal sama, kak Hanna?" ledek Ivanna.


"Aiih, dasar kamu ya!" Fajri kembali memeluk adik kecilnya dengan gemas.


"Abang akan mencarikan kamu laki-laki yang memang bertanggung jawab, penyayang dan dekat dengan keluarga!" ucap Fajri.


"jangan! Dede, gak mau!" rengek Ivanna.


"Apa boleh Dede, yang mencarinya sendiri?" tanya Ivanna menatap Fajri dengan mata yang berbinar.


"3 kali kesempatan kamu dekat dengan laki-laki. Kalau masih kandas, terima saja pilihan dari, Abang!" ucap Fajri.


"cuma 3 kali? kenap abang kejam?" rengek Ivanna semakin menjadi.


"Terus kamu mau berapa? mana tau kamu dapat laki-laki toxic, terus kamu di rusak, bagaimana?" tanya Fajri garang.


"huh, Baiklah!" ucap Ivanna pasrah.

__ADS_1


Ia memeluk Fajri dengan erat sambil mengusap hidung dan matanya yang basah di dada bidang itu.


Dede fikir, Abang masih menaruh dendam kepada Angga! tetapi memang ada alasan lain di balik itu semua. Dede yakin, Abang selalu memberikan yang terbaik untuk keluarga kita!. Batin Ivanna.


"Dede sayang, Abang!" ucap Ivanna serak.


"Abang lebih sayang, sama Dede!" ucap Fajri tersenyum dan mengecup kepala Ivanna bertubi-tubi.


"Sekarang, istirahat dulu, habis itu kita lanjut jalan-jalan lagi!"


"iya, bang! terima kasih!" ucap Ivanna tersenyum dan mengecup pipi Fajri.


🌺🌺


Sudah hampir satu minggu mereka berada di Jerman, beruntung Fajri mengalahkan lawannya dengan mudah, karna ia berhasil membangun image positif tanpa kebohongan di dunia dan berani mengakui kesalahannya jika memang ia bersalah. Sehingga semua orang lebih mudah percaya kepadanya.


Ini adalah hari terakhir mereka di Jerman, setelah puas berbelanja, menguras tabungan Fajri dan membuat tagihan kartu kreditnya membengkak. Pria tampan itu hanya bisa menghela nafasnya, tidak ada rasa kesal sedikitpun, karna uang yang terkuras selama lima hari di sana itu, merupakan penghasilannya selama 3 jam saja.


"Hehe, untung aku ikut ke Jerman!" ucap Raisa tergelak.


"Aih, kamu mah kalau ada maunya, pasti jadi anak baik!" delik Ivanna.


"Kan, kakak yang ajak, biar gak ngenes sendiri!" ucap Raisa tergelak.


"iiih!"


Mereka sudah berada di atas pesawat dan terbang menuju Indonesia. Senyum bahagia tidak lepas menghiasi wajah mereka, karna sebentar lagi akan bertemu dengan keluarga yang sudah menunffu di Indonesia.


🌺🌺


Terutama menanti kehadiran pengantin baru yang diharapkan bisa membawa calon penerus selanjutnya. Apalagi Mama Hersy yang sangat tidak sabar untuk membawa anak gadisnya untuk pulang ke kota asal mereka.


"Bunda!" teriak Ivanna berlari menuju ke arah Fajira yang sudah menantinya dengan senyuman hangat dan penuh ke rinduan.


"Dede, rindu!" ucap Ivanna memeluk Fajira dengan erat.


"Bunda juga rindu, sayang!" ucap Fajira tersenyum.


"Ayah gak ikut jemput, Bunda?"


"Ayah ada rapat penting, sayang!"


"Bunda?" panggil Fajri dengan wajah yang berseri.


"Gimana, apa lancar?" tanya Fajira menggoda Fajri.


"Lancar, Bunda! do'akan biar Abang bisa cepat ngasih Bunda cucu!" ucap Fajri tersenyum dan mengecup kening Fajira lembut.


"Aamiin, selalu Bunda do'a kan untuk anak-anak, bunda! yuk kita pulang!" Ajak Fajira.


Tak lupa mereka menyapa mama Hersy dan onty Riska sebelum kembali pulang ke rumah masing-masing.


"Bagaimana perusahaanmu, bang?" tanya Fajira.


"Baik, Bunda! Mereka sudah mati ketakutan karna melihat kedatanganku! Jangankan untuk berdebat, berbicara saja mereka sudah gugup!" ucap Fajri tersenyum.


"Baguslah kalau memang seperti itu! Bunda cemas, kalau kamu sampai membunuh orang disana!" ucap Fajira lirih.

__ADS_1


"Abang, gak akan melakukan hal itu, Bunda!"


"iya, Bunda percaya!" ucap Fajira tersenyum.


Sementara Mama Hersy, mengernyit mendengar percakapan Fajri dan Fajira. Ia menatap Safira dengan raut wajah penuh tanya, apakah Fajri memang sudah pernah membunuh orang atau bagaimana.


Mobil terus bergerak menuju kediaman Dirgantara, mereka segera merebahkan badan dan beristirahat di kamar masing-masing.


"Kakak, mau mandi dulu?" tanya Safira ketika melihat Fajri hendak berbaring.


"hmm? iya, Sayang. Aku mau mandi dulu!" ucap Fajri tersenyum smirk.


Ia segera berdiri dan menggendong Safira menuju kamar mandi untuk melakukan ritual sebelum beristirahat.


"Kak! turunin!" ucap Safira memberontak.


"sstt! Temani Aku mandi. sambil kamu memikirkan pangilan baru untukku!" ucap Fajri tersenyum.


Ia segera melepaskan pakaiannya di hadapan Safira dan membantu wanita cantik itu untuk melepaskan bajunya satu persatu.


"Aaah istriku memang sempurna! cantik, lembut, pengertian. Pastinya gak pelit kalau aku minta jatah!" ucap Fajri genit.


"Ihh, kamu muji kalau ada maunya! dasar suami mesum!" ucap Safira kesal dengan wajah yang merona.


Ia masih belum terbiasa ketika di tatap lama oleh suaminya. Walaupun di panti ia sering mandi bersama dengan anak perempuan yang lain. Namun ini berbeda jenis, tentu saja masih terasa canggung jika harus mandi dengan saling menyentuh satu sama lain.


"Hahaha. Yuk, sini, sayang. Kita main air!" ucap Fajri yang sudah berada di dalam Bath tube.


Safira pasrah, ia duduk di hadapan Fajri dan ikut berandam dengan suaminya. Fajri masih saja terkekeh geli setela Safira bersandar di wajahnya.


"kakak kenapa tertawa terus? apa ada yang lucu?" Tanya Safira.


"iya, sayang. Ini lucu banget! hahaha," ucap Fajri semakin tergelak.


"Apa sih yang membuat kakak bisa terkekeh seperti ini?"


Fajri menceritakan kejadiannya waktu mandi bersama waktu ia kecil, dengan Ayah dan bundanya. Ia mengingat jika waktu itu tidak sengaja menginjak sesuatu. Namun setelah itu, Ayahnya tiba-tiba saja meringis dengan wajah yang memerah.


"Ternyata aku menginjak, saluran tempat dede keluar,!" ucap Fajri terkekeh.


"Astaga, Mas! kamu ini ada-ada saja!" pekik Safira dengan wajah yang semakin merona.


"Hahaha, kamu terlihat begitu cantik dengan wajah yang merona. Apa tadi? Mas? ya, aku menyukainya! coba ulang lagi!" ucap Fajri berbinar.


"Ma-mas, Mas Aji!" ucap Safira tersenyum.


"ah, aku meleleh, sayang! Lagi-lagi!" pekik Fajri gemas.


"Mas Aji!" ulang Safira.


Dan itu membuat Fajri semakin gemas dengan wajah yang merona senang.


Jangan harap kamu lepas kali ini, sayang! Kamu begitu mengemaskan!. Batin Fajri mengeras Safira lagi dan lagi.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2