Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
248. Nama si Kembar


__ADS_3

Mata Fajri kembali berkaca-kaca ketika melihat Safira baru saja keluar dari ruang operasi. Sambil tersenyum, Fajri menatap istrinya dan mengecup seluruh wajah cantik yang masih terlihat pucat itu.


"Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu!" Bisik Fajri membuat Safira tersenyum manis dengan mata sayunya.


Mereka segera pergi menuju ruang VVIP yang sudah di siapkan sebelumnya. Tak lupa, pangeran kecil dan Tuan Putri juga ikut di bawa. Hersy dan Fajira, sigap menggendong cucu mereka dengan hati-hati.


"Hai, sayang," sapa mama Hersy dengan tangis harunya ketika menggendong Tuan Putri nan cantik itu.


Fajira tidak lagi dapat berkata, Ia melihat jika bayi laki-laki itu begitu mirip dengan Fajri ketika kecil.


"Mas, wajahnya begitu mirip dengan Fajri waktu kecil!" ucap Fajira terekat sambil tersenyum.


"Benarkah?" tanya Irfan berbinar.


Ia menggendong bayi kecil itu dengan lembut dan memperhatikan wajah Fajri junior yang memang begitu mirip dengan Fajri waktu kecil.


"Iya, cucu kita pasti akan lebih hebat dari ayahnya!" ucap Irfan tersenyum haru.


Mereka segera pergi menuju lantai paling atas, dimana ruang inap VVIP berada. Fajri tidak melepas genggaman tangannya dari Safira barang sebentar saja. Bahkan ia selalu tersenyum sambil mendorong brankar itu.


Setibanya di kamar, Safira segera di pindahkan ke atas brankar khusus yang ada di sana. Fajri menjadi suami dan ayah siaga mulai dari detik ini. Ia menggendong Safira dengan hati-hati dan kembali membaringkannya.


"Sshh,..." desis Safira ketika merasakan sakit pada bekas operasinya.


"Kenapa, sayang?" tanya Fajri panik.


"engh,... Gak apa-apa, Mas! Aku hanya belum terbiasa dengan jahitan ini!" ucap Safira lirih.


"Apa aku panggilkan dokter saja?" tanya Fajri begitu khawatir.


"Gak usah, Mas!" ucap Safira tersenyum dan mengusap rahang tegas Fajri.


Oeek,... oeek,... oeek,...


Tangis bayi keci itu bersamaan. Mereka terlihat kehausan dengan menggerakkan mulut dan lidah seperti mencari sumber makanannya.


"Ma, bawa sini dulu dedenya, biar aku susui!" ucap Safira.


Mama segera menyerahkan bayi perempuan itu kepada Safira agar bisa di beri Asi. Matanya Safira berembun, ia menatap bayi mungil yang terlihat begitu cantik itu.


"Haus, nak?" ucap Safira memberikan Asi kepada Putrinya.


Ivanna dari tadi hanya menatap mereka dengan berbinar. Ia sungguh tidak sabar untuk mendengar nama dari keponakannya.


"Kak, apa nama mereka sudah ada?" tanya Ivanna penuh harap.

__ADS_1


"Apa aunty mau memberikan mereka nama?" tanya Safira tersenyum.


"Apa boleh?" tanya Ivanna terkejut dengan rasa tidak percaya.


"Boleh, sayang!" ucap Fajri.


Mereka memang sepakat akan memberikan kesempatan kepada Ivanna untuk memberikan nama kepada dua bayi kecil itu.


Ivanna menatap semua orang yang ada di dalam ruangan, untuk meminta izin dan restu. Mereka mengangguk menyetujui ide Safira.


Fajira segera menyerahkan cucu laki-lakinya kepada Ivanna dengan hati-hati, sambil mengajarkan gadis itu bagaimana cara menggendong bayi.


"Hai, sayang!" panggil Ivanna tercekat.


"Anak ganteng, aunty memberi kamu nama Narendra. Narendra Putra Dirgantara! Kelak kalau kamu besar nanti, bisa menjadi laki-laki yang hebat dan berkuasa, seperti ayah Fajri ya, nak! Jangan lupa bucin juga!" ucap Ivanna tersenyum dengan air mata yang sudah menetes.


"Narendra? Nama yang bagus!" ucap Safira berbinar.


"Nah sekarang gantian, Ini dedenya udah selesai mimi, gantian sama Abang lagi!" sambungnya dan menyerahkan bayi perempuan itu kepada Fajri.


Ivanna dengan hati-hati meletakkan Narendra di atas pangkuan Safira, tak lupa meninggalkan kecupan sana sini di wajah kecil nan tampan itu.


Ivanna beralih menatap bayi cantik yang berada di dalam gendongan, Fajri.


"Hai, cantik?" ucap Ivanna menyapa gadis bayi cantik itu.


"Ternyata, aunty pandai memilih nama ya, nak! Narendra dan Nayla," ucap Fajri tersenyum.


"Dede udah memikirkannya semenjak tau kalau kakak hamil, Bunda!" ucap Ivanna masih melihat Nayla yang berada di dalam gendongan Fajri.


Mereka sedikit berbincang di sana sebelum berpamitan pulang, agar bisa bergantian untuk menjaga Safira dan anak-anak mereka nanti.


Tinggal lah, Fajri dan Ivanna yang masih setia menunggu Narendra dan Nayla yang sudah terlelap, begitu juga dengan Safira.


Fajri memilih duduk di atas sofa, sambil memangku kepala Ivanna yang terlihat sudah mengantuk.


"Tidur lah, sayang!" ucap Fajri tersenyum.


Fajri masih tersenyum mengingat apa yang telah terjadi hari ini. Ia masih tidak menyangka, jika ia sudah menjadi seorang ayah. Walaupun tubuhnya masih terasa lelah, namun Fajri harus menjaga keluarganya sebelum yang lain datang untuk menggantikannya.


"Abang, gak apa-apa kalau aku tinggal tidur?" tanya Ivanna lirih.


"Gak apa, sayang. Tidurlah, nanti kita gantian!" ucap Fajri tersenyum.


Ia mengelus kepala Ivanna dengan lembut, hingga gadis itu terlelap. Cukup lama Fajri menanti keluarga yang datang agar ia bisa terlelap barang sebentar saja.

__ADS_1


Hampir 1 jam ia hanya berkutat dengan ponselnya, beruntung anak-anak tidak terbangun atau hal semacamnya. Karena sudah di pastikan jika ia akan kebingungan untuk mengurus dua bayi kecil itu.


"Bang?" panggil Fajira yang baru saja datang dengan beberapa ART untuk membantunya membawakan barang-barang yang akan di perlukan oleh anak-anaknya nanti.


"Bunda? Abang mau tidur sebentar, gak apa-apa kan kalau Abang, tinggal tidur?" ucap Fajri lirih.


"Gak apa-apa, sayang. Biar Bunda yang menjaga anak-anak dan istrimu!"


Fajri terlelap setelah membersihkan badannya. Ia berbaring di atas brankar yang di minta oleh Fajira agar anak-anaknya bisa beristirahat dengan baik.


Ia melihat dua orang cucunya yang masih tertidur dengan tenang. Sesekali mencolek pipi tembam mereka dengan gemas, hingga Nayla terbangun dan langsung menangis.


"Eh, bangun ya nak? maafin Oma ya, hehe," ucap Fajira terkejut dan terkekeh.


Ia menggendong bayi kecil itu dengan lembut sambil berdendang. Ia menunggu Safira bangun terlebih dahulu karena menantunya terlihat begitu kelelahan. Namun Safira sudah lebih dulu bangun, ketika mendengarkan tangisan yang cukup keras dari anak gadisnya.


"Bunda?" panggil Safira lirih.


"Eh, udah bangun nak?" tanya Fajira tersenyum dan menyerahkan Nayla kepada Safira.


"Hmm, iya, Bunda! Duh, anak Bunda nangis, haus ya nak? atau di ganggu sama Oma? hehe," ucap Safira terkekeh.


Begitu juga dengan Fajira yang juga ikut terkekeh dan mengambil Narendra dari box bayi. Pria kecil itu terlihat sudah bangun dan menggeliat berusaha untuk melepas bedung yang tengah mengikatnya.


Fajira semakin gemas, karena ia serasa melihat Fajri waktu kecil. Ia mencium Narendra dengan gemas dan seolah tidak ingin berhenti.


"Hmm, cucu, Oma. muach, muach, muach,! gerah ya nak? mau buka bedongnya?" ucap Fajira terkekeh.


Ia membaringkan Narendra di atas brankar Safira dan membuka bedongnya dengan perlahan.


Dengan ekspresi yang mengemaskan pria kecil itu menggeliat, melepaskan rasa penat seolah ia sudah terbungkus begitu lama. Setelah di rasa cukup, Narendra kembali memejamkan matanya dan tertidur.


"Eh, kok tidur lagi nak? gak mau mimi dulu?" tanya Fajira mencolek-colek pipi Naren dengan gemas.


"Bangun, bang! itu dedenya udah selesai mimi, Abang gak mau mimi juga?" ucap Fajira semakin gemas.


Sementara Safira juga ikut terkekeh, melihat kelakuan mertuanya. Ia begitu senang karena menjadi menantu Ibu yang kekinian ini.


Mereka masih berbincang ringan hingga si kembar kembali terlelap dengan tenang di dalam pangkuan Fajira dan Safira.


"Selamat datang di dunia peribuan, sayang. Selamat begadang dan menikmati setiap detik yang berharga dengan menyandang status ibu!" ucap Fajira tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya, Bunda. Bantu aku ya, biar bisa jadi ibu yang hebat seperti, Bunda!" ucap Safira yang juga ikut berkaca-kaca.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


Stay tune 😍


__ADS_2