Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
87. Possesifnya Fajri


__ADS_3

Setelah drama percemburuan tadi, Fajira segera berangkat dengan Fajri menuju kampusnya. Ia masih tersenyum sesekali mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu tentang perdebatan Fajri dan Irfan.


"Bunda kenapa tersenyum terus?" tanya Fajri.


"hemm? gak ada sayang, bunga hanya mengingat kamu dan Ayah tadi" ucap Fajira menahat tawanya.


"ihh, Aji selalu saja terlupakan kalau Ayah dan Bunda sudah berdua" Keluh Fajri kesal.


"Siapa yang melupakan Aji sayang? buktinya ayah menjemput Aji dulu biar kita bisa makan bareng"


"iya hanya untuk itu, untuk yang lain?" wajah Fajri masih cemberut.


Ia sudah tidak menggunakan pakaian sekolahnya saat ini. Fajri menggunakan pakaian santai yang cocok untuk ia bawa ke kampus agar bisa menemani Fajira kemanapun bidadarinya pergi.


"Sayang" pnggil Fajira lembut ketika menyadari keterdiaman anaknya.


"hmm" dehem Fajri masih kesal


"eh kok gitu sih" sentak Fajira.


"Iya bundaku sayang" Ucap Fajri memaksakan senyumnya karna masih merasa kesal.


"sudah ya, Nanti dedenya marah lo sama abang" ucap Fajira sedih.


"eh jangan dong Bunda. Dede jangan marah ya sama abang" sergah Fajri cepat sambil mengelus perut Fajira dan mengecupnya pelan.


"jangan marah ya sayangnya abang. Bunda bilangan sama dedek jangan marah ya"


"iya sayang. Dede jangan marah ya sama abang" Ucap Fajira mengelus perutnya dan kepala Fajri bergantian.


Fajri tersenyum manis menatap Fajira, ia bersandar pada lengan perempuan cantik dan mengelus lembut tangan bidadarinya.


"Bunda, Aji bahagia sekarang" ucap Fajri.


"Bunda juga sayang"


"Ternyata semua yang kita takutkan itu tidak terjadi bunda"


"iya sayang. Bunda bersyukur karna bisa bersama ayah dan memberikan Aji keluarga yang utuh dan Dede bayi"


"iya Bunda. Ahhh rasanya Aji tidak menginginkan apapun lagi, selain keluarga" helaan nafas lega mengiringi ucapan Fajri.


"iya sayang, Bunda juga. Nanti kalau seandainya Dede lahir, Aji gak boleh cemburu Ya sama dedenya, hehe" ucap Fajira terkekeh.


"iya Bunda. Aji akan jadi abang yang baik seperti ayah. Dan laki-laki yang kuat dan tangguh. Bahkan semua orang akan takut dengan Aji nanti" Ucapnya tersenyum membayangkan dirinya beberapa tahun kemudian.


"tapi gak boleh menindas orang yang lemah ya nak. Aji harus jadi anak yang baik hati dan suka membantu orang lain yang sedang mengalami kesusahan" peringatan Fajira.


"iya Bunda. Dari dulu Aji memang seperti itu, kan Bunda yang ngajarin" ucap Fajri tersenyum


"lakukan semampu Aji ya nak. Kalau Aji merasa tidak mampu jangan di paksakan"


"iya Bunda. Terima kasih sudah mengajarkan Aji banyak hal,"


"sama-sama sayang. Semua itu adalah kewajiban Bunda sebagai ibu. Bunda hanya menginginkan yang terbaik untuk anak-anak Bunda. Nanti Aji juga ajarkan Dede ya nak"


"iya Bunda. Aji akan mengajarkan Dede bagaimana cara menjadi anak pintar walaupun usia Dede masih kecil. Aji juga akan mengajarkan Dede cara membuat pesawat, mendesignnya dan masih banyak lagi bunda"


glek...

__ADS_1


Aku memang menginginkan seorang perempuan, tapi kalau mendengarkan perkataan Fajri, aku ikhlas jika harus mempunyai dua anak laki-laki dari pada anak perempuan tapi bertingkah seperti laki-laki. bathin Fajira meringis.


"iya sayang, kalau dedenya laki-laki Aji boleh mengajarkannya. Tapi kalau perempuan, jangan kenalkan satupun. alat-alat milik Aji ya nak"


"kenapa Bunda?" mata bulat itu menyiratkan kekecewaan.


"Apa Aji melihat Bunda memegang hal itu semua?"


"gak ada Bunda" kirihnya sambil menggeleng pelan.


"itu berarti?"


"Aji harus menemani Dede bermain tetapi tidak boleh memaksa Dede mempelajari apa yang Aji bisa"


"Gak papa kan sayang?"


"gak papa Bunda. Yang penting Aji memiliki Adik, soalnya sendiri itu gak enak bunda. Kalau bunda dan ayah sibuk aji pasti sendiri, kalau ada dede kan bisa di jak ngobrol" ucap Fajri sendu.


deg...


Fajira mengingat dirinya hanya sebatang kara, Ia hanya menatap Fajri lembut dan tersenyum.


"Aji mau adek berapa sayang?"


"hmm berapa di kasih sama tuhan saja Bunda. Kan kita gak bisa menentukan apapun yang kita mau, tapi tuhan memberikan apa yang kita butuhkan"


"iya sayang. Tapi Aji janji ya, Harus menjaga Dede nanti"


"Iya Bunda. Aji kan juga sedang menjaga dede" ucap Fajri tersenyum sambil mengelus perut Fajira lembut.


"anak Bunda ini memang pintar. Terima kasih sayang"


Mobil terus berjalan hingga berhenti di parkiran kampus. Ibu dan anak itu segera turun dan melangkah dengan hati-hati menuju kelas Fajira yang akan di mulai 10 menit lagi.


"Aji sudah lama gak ikut Bunda ke kampus ya"


"iya sayang. Yuk kita jalan dulu nanti mengobrolnya"


"iya bunda"


Ketika ia masuk ke dalam kelas, hampir semua orang menatapnya berbeda, begitu juga dengan Fajri. Namun perempuan cantik itu sudah lebih dulu mewanti-wanti anaknya untuk tidak menghiraukan tatapan mereka. Dan benar saja pria kecil itu berjalan dengan wajah dingin dan datarnya menuju salah satu kursi kosong yang ada di sana.


"Bunda, duduk disini yuk" Ajak Fajri tersenyum kearah Fajira.


"iya, sayang. Terima kasih"


"sama-sama bidadari Aji"


Siang itu Fajri senantiasa memperhatikan Fajira yang sedang mendengarkan perjelasan dosen. Hingga pria kecil itu di tegur karna tidak ikut memperhatikannya.


"Fajri" panggil dosen itu


"eh iya, Pak"


"Kamu di kelas untuk belajar atau memperhatikan Bunda kamu?"


"maafin Aji pak" Ucap pria kecil itu tersenyum kikuk.


Sementara dosen itu tersenyum jahil karna ia hanya iseng saja mengerjai calon abang itu. Begitu juga dengan Fajira yang tersenyum sambil mengusap kepala Fajri dengan lembut.

__ADS_1


"perhatikan dosen ya nak, atau nanti Aji gak boleh ikut Bunda belajar lagi" bisik Fajira.


"iya bunda"


Fajri memperhatikan dosen di depan sambil menggenggam tangan Fajira erat. Ia berperan layaknya laki-laki dewasa yang tengah melindungi seorang perempuan hamil.


Hingga pembelajaran itu selesai, Fajira segera memilih untuk pulang, karna ia merasa sangat lelah hari ini.


Aku ngapain tadi ya? kenapa capek banget sih?. Bathin Fajira berfikir keras.


Aiihh,, Pantes saja terasa capek banget. tadi siang kan, ahhh.... bathin Fajira kembali merasa hasratnya mulai bereaksi ketika mengingat kejadian siang tadi.


Fajri yang melihat wajah Fajira memerah menjadi cemas dan panik.


"Bunda, Bunda gak papa?" pekik Fajri menyentuh wajah Fajira.


"Bunda gak papa sayang"


"Panas, Kening sama pipi Bunda panas. Pak kita kerumah sakit sekarang"


"Aji, Bunda gak papa sayang. duduk tenang ya" ucap Fajira menenangkan Fajri.


"Bunda sakit apa? bilang sama Aji sini. Atau Aji telvon ayah saja"


Ia meraih ponselnya dan segera mendial nomor Irfan di sana.


tuut... tuut...


"halo sayang" ucap Irfan di bali telefon.


"ayah di mana? Bunda sakit, Aji sedang...." Ucapan Fajri terputus karna ponsel itu sudah di rebut oleh Fajira


"halo mas, aku gak papa. Aku tunggu di rumah ya. babay Ayah"


Fajira mematikan panggilannya dan menatap Fajri intens. Dan membuat yg di tatap menjadi terdiam melihat tatapan serius Fajira.


"bunda" panggilnya lembut.


"Bunda gak papa sayang, itu hmm, itu biasa untuk ibu hamil. Jadi Aji jangan panik ya sayang"


"Apa Bunda bohong sama Aji?"


"Bunda gak bohong sayang"


glek...


"Apa dedenya baik-baik aja bunda?"


"baik sayang. Duduk bagus-bagus lagi ya!"


"iya bunda"


Pria kecil itu masih terlihat was-was dengan pergerakan Fajira.


Aji harus memastikan Bunda dan Dede bayi tidak kenapa-napa.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2