Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
51. Uji Coba Proyek Baru


__ADS_3

"Bunda kita pulang ke rumah ya"


"iya sayang. Nanti sore kita ke rumah Ayah lagi nak"


"iya bunda"


Saat ini Fajri dan Fajira tengah berada di dalam mobil menuju jalan pulang ke rumah mereka. Fajri sangat tidak sabar untuk mengoperasikan pesawat yang sudah rampung itu. Ia sudah menemukan bagaimana cara agar bisa menyambungkan antara pesawat dengan remote control canggih yang sudah ia buat. Tapi wajah berbinar itu kembali redup karna ia melupakan sesuatu, yaitu komputer, ia belum memiliki set komputer yang memadai.


"Bunda" panggil Fajri sendu.


"iya sayang, Aji kenapa nak?" tanya Fajira yang menyadari perubahan pada raut wajah Fajri.


"Aji belum punya komputer Bunda, kalau gak pake komputer gak bisa membuat aplikasinya"


"ya sudah kita pulang dulu ya, ganti baju habis itu makan siang baru kita beli komputer yang Aji butuhkan ya sayang"


"iya bunda"


"yuk kita turun sayang" ucap Fajira ketika mobil berhenti di depan gerbang rumah mereka.


"terima kasih pak. kalau bapak mau pergi makan siang dulu silahkan. Saya juga mau istirahat sebentar" ucap Fajira sopan.


"baik nyonya, terima kasih banyak. Kalau begitu saya makan siang di sekitaran sini saja agar nyonya tidak kesusahan kalau membutuhkan saya. Mari nyonya"


"iya pak silahkan"


Fajira mengajak pria kecilnya untuk masuk ke dalam rumah. Dengan langkah gontai Fajri masuk ke dalam dan duduk di atas sofa. Sejurus kemudian matanya membola ketika melihat satu set komputer keluaran terbaru sudah tersusun di meja dekat pintu kamar mereka.


"bu-bundaa. it-itu?" ucap Fajri dengan mata yang berkaca-kaca.


"eh itu sejak kapan ada disana?" ucap Fajira terkejut.


"ayo kita lihat bunda"


Pria kecil itu menggandeng tangan Fajira dan menariknya. Di sana sudah lengkap terpasang kabel yang saling terpaut satu sama lain. Fajri berbinar melihat secarik kertas yang menempel di sana.


..."untuk Fajri, anak Ayah yang paling tampan. Semoga komputernya sesuai dengan apa yang Aji butuhkan ya nak, Apapun yang aji butuhkan akan ayah penuhi sayang. Ayah sayang Aji sampai kapapun. Semoga pesawat Aji bisa terbang ya nak. Love You sayang"...


Begitu kira-kira isi secarik kertas yang menempel di monitor komputer. Mata Fajri berkaca-kaca melihat surat yang manis dari Irfan. Tanpa menunggu lama ia segera menghubungi ayah sambil menyalakan komputer itu.


tuut... tuut..


"halo sayang" ucap Irfan di balik telefon.


"ayah" lirih Fajri dengan air mata yang perlahan menetes


"iya nak. Aji kenapa sayang?" tanya Irfan panik.


"terima kasih ayah"


"untuk apa sayang?"


"Ayah sudah membelikan Aji komputer"


"sama-sama sayang, Ayah hanya ingin yang terbaik untuk Aji. Hanya itu yang bisa ayah berikan saat ini"


"iya ayah, terima kasih. Aji sayang Ayah"

__ADS_1


"Ayah lebih sayang sama Aji. Semoga berhasil ya sayang" ucap Irfan parau.


"iya ayah, Aji tutup dulu ya"


"iya nak, tiap salam sama Bunda ya"


"iya ayah"


Fajri menutup panggilan itu dan mengusap matanya perlahan. Ia tersenyum melihat barang yang sangat ia butuhkan. Tanpa menunggu lama, Fajri segera mengotak atik komputernya dan membuat sebuah aplikasi untuk menghubungkan pesawat dengan remot kontrol yang sudah ia buat. Sementara Fajira langsung memasak makan siang untuk mereka, dan menyuapkan Aji agar anaknya tidak terlambat makan.


Sudah hampir tiga jam Fajri berusaha untuk menyambungkannya. Beberapa kali ulang membuat aplikasi pun sudah ia jalani, namun barang itu belum juga terhubung.


"Bunda, sepertinya ini belum bisa hidup sekarang" ucapnya lesu.


"Gak papa sayang, kan besok masih ada waktu. Istirahat lagi yuk"


"tapi Aji mau selesai hari ini Bunda" keluhnya.


"istirahat dulu sayang, Nanti sambung lagi ya"


"tanggung sedikit lagi Bunda, boleh ya"


"sayang"ultimatum pertama meluncur.


"satu kali lagi bunda, boleh?"


"ya sudah. Jangan di paksa ya sayang"


"iya bunda"


Fajri kembali fokus untuk memperbaiki kesalahan dan kekurangan pada aplikasi yang sudah ia buat. Dengan peluh yang membasahi keningnya Fajri tampak seperti orang dewasa yang tengah bekerja, Sehingga membuat Fajira tersenyum geli menatap anaknya.


tit... tit... tit...


Lampu pada remot kontrol mengedip pertanda signalnya terhubung ke pesawat mainannya.


"Bunda mereka terhubung" pekik Fajri senang dan sukses membuat Fajira terlonjak kaget.


"iya nak? Apa sudah bisa di terbangkan?" tanya Fajira antusias melihat kepandaian Fajri yang terus terlihat dan bertambah setiap harinya.


"kita coba dulu bunda"


Fajri perlahan menggerakkan pesawat itu menggunakan remot kontrol, matanya berbinar senang karna pesawat itu bergerak dan berjalan. Sungguh ia sangat tidak sabar untuk mencoba menerbangkannya.


Fajri membuat tiga buah pesawat, sengaja ia buat lebih agar memiliki cadangan ketika melakukan uji coba nanti. Selain itu ia juga mengantisipasi agar ilmu yang ia dapat tidak sia-sia atau terlupa begitu saja.


Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Fajri segera mengajak Fajira untuk pergi ke rumah mewah mereka agar bisa mencoba menerbangkan pesawat itu di area yang lapang.


"Bunda Ayo kita pergi" desak Fajri.


"sebentar sayang, Bunda mau bungkus sambal dulu untuk kita makan malam nanti"


"cepat ya Bunda. Aji sudah gak sabar"


"iya sayang. barang-barangnya sudah di masukkan ke dalam mobil?"


"sudah Bunda"

__ADS_1


"yuk kita pergi lagi sayang"


Fajira segera menggendong Fajri menuju ke mobil. Dan tak lupa membawakan bayi besarnya makanan untuk makan malam nanti.


"kita pulang pak"


"baik nyonya"


Mobil melaju menuju rumah mewah Irfan dengan kecepatan sedang dan hati-hati. Walaupun Fajri terus mendesak untuk menambah laju mobil, namun Pak Sakti lebih memilih untuk membawa kendaraan seperti biasanya.


Setibanya di rumah, Fajri segera keluar dari mobil dan mengambil tempat untuk menerbangkan. pesawatnya. Namun hal yang tidak terduga terjadi.


"kenapa sayang?" tanya Fajira ketika melihat Fajri hanya menjalankan pesawatnya di atas tanah.


"Aji belum belajar bagaimana cara menerbangkannya Bunda" ucap Fajri lesu, sementara Fajira meringis menahan tawa mendengar kepolosan anaknya.


"yuk kita coba dulu sayang. Sini lihat Bunda tombolnya"


Fajira melihat begitu banyak tombol yang ada di sana, mulai dari turn-off, take off dan landing, flight, kiri-kanan dan yang lainnya. Fajri perlahan menjelaskan kepada Fajira apa saja yang akan di tekan nanti.


"oke kita coba ya sayang. Ini harus lebih jauh lagi sayang" Fajri segera memindahkan posisi pesawat itu lebih jauh.


"sudah nak, Bunda coba ya" Perlahan Fajira melajukan pesawat itu dengan hati-hati. Ketika sudah sampai batas kecepatan maksima ia segera menekan tombol take off dan wusshhh... pesawat itu terbang namun sejurus kemudian jatuh kembali karna Fajira juga tidak bisa mengendalikannya.


"yah, jatuh sayang. Bunda juga gak bisa ternyata"


"waaaah Bunda hebat, ternyata proyek Aji berhasil bunda" ucap Fajri berkaca-kaca dan tersenyum bangga.


"iya sayang. Aji sudah semakin pintar sekarang yaa nak" Fajira mengusap kepala Fajri lembut.


"Aji mau memproduksinya apa boleh Bunda?"


"boleh sayang. Nanti kita bicarakan dengan ayah ya nak"


"iya Bunda"


"yuk kita coba lagi"


"iya yuk"


Mereka mencoba menerbangkan pesawat itu tanpa henti sampai Fajri bisa mengendalikannya. Bahkan sudah cukup banyak baterai yang di habiskannya. Praktek mereka juga menarik perhatian para pekerja yang sedang bersantai.


Ketika sedang asik bermain, mereka di kejutan dengan kedatangan sebuah mobil mewah dan langsung memarkirkannya di depan Fajira. Saat pintu terbuka, keluarlah seorang wanita paruh baya namun masih terlihat cantik di usianya. Ia menatap Fajira lamat tanpa ekspresi.


"apa kamu Fajira?


"...."


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE


Suka dengan cerita romansa


Bosen dengan yang satu novel isinya hanya 1 cerita?


Mampir ke Raanjhana, berisi kumpulan kisah romansa, tapi awas, untuk yg belum cukup umur harap bijak menyikapi yak, hehehe

__ADS_1




__ADS_2