Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
206. Rusuh


__ADS_3

Pagi menjelang, Fajri sudah menunggu di depan pintu kamar Ivanna dengan wajah yang kesal. Berita itu semakin naik, walaupun ia sudah meredamnya kemarin. Namun para sahabat Fajri kembali mengupload vidio itu ketika ia sudah terlelap.


"bang, kamu ngapain di sini?" tanya Fajira yang hendak membangunkan Ivanna.


"Bunda tau, apa yang di lakukan oleh anak gadis Bunda, semalam?" tanya Fajri menghela nafasnya.


"emangnya adik kamu ngapain, bang?" tanya Fajira mengernyit.


"Dia bikin Abang viral lagi, Bunda!" rengek Fajri.


"Abang kan bisa meredam beritanya sayang!" ucap Fajira.


"sudah, tapi para curut itu kembali menaikkan beritanya!" ucap Fajri semakin cemberut dan memeluk Fajira.


"Emang beritanya gimana? kenapa kamu bisa sampai panik seperti ini?" tanya Fajira.


Fajri segera memperlihatkan video semalam kepada Fajira. Dengan ekspresi mengernyit Fajira memperhatikan layar ponsel itu.


"ini di depan rumah kita kan?"


"iya, Bunda,"


"terus itu siapa? eh captionnya?" tanya Fajira terkejut, namun setelah itu ia tersenyum ketika menyadari siapa yang ada di dalam video tersebut.


"bagus dong. Bunda setuju kalau kamu sama Safira!" ucap Fajira terkekeh.


"Bundaaa!" rengek Fajri semakin menjadi.


"Bang, Safira itu gadis yang baik. Mungkin kamu bisa melihat kalau matanya itu memancarkan ketulusan! Dua bulan ini, Bunda sudah memperhatikannya. Ya, kalau Abang mau sama dia, Bunda setuju kok!" ucap Fajira tersenyum.


"Bunda, Ayolah! Abang akan menikah, setelah Dede menikah nanti!" ucap Fajri.


"Sudah, jalani saja dulu. Lebih baik kamu mencari yang pasti, dari pada kamu harus menunggu Hanna yang entah dimana sekarang!" ucap Fajira.


"kak Hanna sudah menikah, Bunda!" ucap Fajri tersenyum hambar.


"iya kah?" ucap Fajira terkejut.


Ia segera memeluk Fajri dan mendekapnya erat.


"sabar ya, sayang!" ucap Fajira sedih sambil mengelus punggung Fajri lembut.


"tapi kamu tenang aja, kan ada Safira " ucap Fajira santai.


"Bunda!" rengek Fajri.


Tanpa mereka sadari, Ivanna sudah menguping di dalam kamarnya. Ia sengaja mendengarkan perbincangan bunda dan abangnya dari balik pintu kamar.


Apa benar yang dikatakan sama Abang tadi? Jadi kak Hanna sudah menikah? Abangku yang malang. Sepertinya tuhan sudah menyiapkan kak Safira untuk abang!. batin Ivanna sedih.


Ia semakin bertekat untuk menyatukan Fajri dan Safira dalam waktu dekat.


"Kapan Abang mau nikah kalau nungguin aku? umur 30, gak mungkin kan?" ucap Ivanna menggeleng.

__ADS_1


tok,... tok,... tok,...


"dek, bangun lagi, sayang! kamu ada kelas pagi hari ini!" ucap Fajira.


deg,...


"Aduh, aku keluar gak ya? pasti Abang akan mengamuk nanti, huaa!" ucap Ivanna sedikit takut.


"dek?" panggil Fajira lagi.


"I-iya, Buna. Dede udah bangun!" ucap Ivanna dari dalam.


"Aku harus gimana ya? apa aku langsung meluk Abang aja dan memasang wajah memelas, atau aku pura-pura sakit? Ah pasti Buna akan panik nanti!" Ivanna mondar-mandir di dalam kamar sambil menggigit jarinya.


Suara mereka tidak terdengar lagi dari arah luar. Ivanna membuka sedikit pintunya dan mengintip, apakah Fajri masih ada di sana atau tidak.


"Hah, syukurlah Abang dan Bunda sudah pergi!" ucap Ivanna bernafas lega.


Ia berjalan sambil mengendap-endap dan turun ke bawah menuju meja makan. Namun Ivanna terkejut ketika merasakan kerah bajunya di tarik dari belakang.


"Mau kemana, sayang?" tanya Fajri yang terdengar horor di telinga Ivanna.


deg,...


Aduh, mampus! kenapa Abang bisa muncul sih? kan tadi gak ada orang!. Bathin Ivanna meringis.


"eh, Abang kok belum berangkat kerja?" ucap Ivanna tersenyum manis.


Hug,...


"maafin, Dede!" ucap Ivanna yang langsung memeluk Fajri dengan erat.


"kenapa minta maaf?" ucap Fajri dingin.


"karna Dede udah menyebar video Abang semalam! maaf!" ucap Ivanna sambil memasang puppy eyesnya.


Fajri langsung menjewer telinga Ivanna dengan gemas dan menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan.


"Aaaa, sakit bang. hiks ampun!" ucap Ivanna berteriak.


"masih mau seperti itu lagi?"


"gak mau! maafin Dede!" ucap Ivanna pura-pura menangis.


"janji?"


"Ho,oh!" Ivanna mengangguk dengan ekspresi imutnya.


Fajri menatap tajam Ivanna, seolah tidak percaya. Karna ia begitu hafal dengan tingkah adik kecilnya ini. Ivanna semakin memasang wajah mengemaskan, berharap Fajri bisa melepasnya pergi.


"Kamu, sudah janji ya!" ucap Fajri memastikan. Ivanna hanya mengangguk meyakinkan.


Fajri melepas pelukan itu, dan menjadi kesempatan untuk Ivanna agar bisa lari dari Abangnya

__ADS_1


"gak janji, wleek!" ucap Ivanna berlari ke bawah menuju meja makan dan mencari perlindungan.


"Dede!" teriak Fajri yang ikut berlari mengejar adiknya.


Terjadilah adegan bak film India, di meja makan. Fajura berusaha untuk melerai mereka namun tidak bisa. Pada akhirnya ia hanya bisa menunggu kedatangan Irfan agar bisa menghentikan anak-anak nakalnya.


"Ha, dapatkan!" ucap Fajri ketika berhasil menangkap Fajira.


"hahaha, ampun! ampun bang! hahaha," ucap Ivanna tertawa karna Fajri menggelitiknya.


"Sudah!" suara berat Irfan menggema.


Fajri dan Ivanna terkejut dan langsung berpisah dan duduk di kursi masing-masing.


"Ini masih pagi lo! kalian bukan anak-anak lagi!" ucap Irfan.


"Maaf, Ayah!" ucap Ivanna menunduk sambil menahan senyumnya.


Mereka sarapan dengan tenang dan sesekali mendengarkan perdebatan antara Fajri dan Ivanna yang tidak akan pernah berhenti.


...🌺🌺...


"Nanti siang, dede ke perusahaan Abang ya!" ucap Ivanna ketika mobil mewah Fajri memasuki gerbang kampus.


"iya, sayang. Nanti kuliah yang rajin! jangan kelayapan kalau sudah selesai!" ucap Fajri tersenyum dan mengacak rambut Ivanna.


Tanpa mereka sadari, ada beberapa paparazi yang mengikuti dari belakang. Ketika mobil Fajri berhenti di parkiran kampus, mereka mengambil gambar secara diam-diam. Semoga mendapatkan sedikit bocoran siapa yang tengah bersama dengan pangeran tampan itu.


Namun mereka mendesah kecewa karna hanya Ivanna yang turun. kemudian mobil itu segera pergi meninggalkan kampus. Mereka kembali mengikuti, Fajri dari belakang dengan membawa harapan besar nantinya.


"apa aku diikuti oleh paparazi?" tanya Fajri mengernyit. ketika melihat beberapa pengendara mobil dan motor yang mencurigakan.


"Joe, Tolong cek paparazi di belakang saya!" ucap Fajri kepada Joe.


"Baik, Tuan!"


Beberapa saat, Fajri tidak menemukan pengendara yang mencurigakan lagi, hingga ia tiba di kantor.


Namun hal yang lebih parah terjadi. Banyak para wartawan yang memberondong mobilnya, untuk mendapatkan klarifikasi.


Aduh aku harus apa ini?. Bathin Fajri.


Ia seolah enggan untuk keluar dari mobil. Ia memilih untuk pergi dari sana, dan kembali pulang ke rumah. Ia takut untuk salah bicara nanti dan akan menyinggung banyak pihak. Atau bahkan melukai hati Safira.


"tapi kenapa aku harus memikirkan perasaannya? Apa aku?..." mata Fajri membola ketika menerka apa yang tengah terjadi dengannya.


"tidak mungkin aku bisa move on begitu saja dari kak Hanna?" Ucap Fajri menggeleng-gelengkan kepalanya.


"sepertinya aku seharus segera pulang dan mengobrol dengan Bunda, Apa yang harus aku lakukan setelah ini!" ucap Fajri segera melajukan mobilnya kembali pulang ke rumah.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2