Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
165. Ivanna Sakit


__ADS_3

Di belahan dunia lain, Ray hanya bisa menatap ponselnya dengan raut wajah terkejut. Ia sangat tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Fajira tadi.


"tenanglah kak, Semua itu kerajaannya Ivanna, sekarang Fajri sudah memperbaiki kerusakan yang di timbulkan oleh gadis kecil itu. Semua data perusahaan sudah tersimpan dengan aman!" ucap Fajira melalui sambungan telefon.


"Gimana, kak?" tanya Riska yang juga ikut panik.


"Kamu akan terkejut mendengarkan hal ini, sayang!" ucap Ray serius menatap Riska.


"apa kak? jangan bikin aku penasaran!" sungut Riska.


"Ivanna, gadis kecil itu penyebab terjadinya kekacauan ini! Semoga saja bapaknya tidak terkena serangan jantung melihat kenyataan yang sebenarnya!" ucap Ray masih tidak percaya.


deg...


"wah, kak Jira dapat dua anak genius. Aku juga mau dong kak!" ucap Riska berbinar dan merengek kepada Ray.


"hus! mana bisa request anak seperti itu!" ucap Ray dingin.


"hehe, kaka bisa tanya sama Pak Irfan gimana caranya!" ucap Riska menggoda Ray.


"Mana bisa, sayang! Tuan Irfan dan Fajira itu memang sudah pintar. Nah kita? aku saja masih kurang pintar dari tuan Irfan, sementara kamu?" ray menatap Riska dari atas sampai bawah.


"aku, apa? kakak bilang aku bodoh gitu? dasar suami kulkas, jahat lagi! sesekali senangin hati istri gitu!" ucap Riska ketus.


Bugh...


Bugh...


plak!...


Tangan lentik Riska mendarat begitu saja di badan kekar Ray. Sementara laki-laki itu hanya tergelak karna berhasil mengerjai istrinya.


🌺🌺


"ayah, bangun! jangan mati... hiks... maaf!" ucap Ivanna mengigau di dalam tidurnya.


"ayah! hiks..." ulangnya dengan terisak.


Fajira terbangun karna mendengarkan tangisan Ivanna yang terdengar sangat lirih. Betapa terkejutnya ia, ketika mendapati suhu tubuh Ivanna yang terasa panas.


Ia segera melepaskan pelukan Irfan dari tubuh kecil Putrinya. Ia mengambil termometer untuk memeriksa suhu pada tubuh Ivanna sambil menggendong gadis kecil itu.


Wajahnya pucat dengan air mata yang menetes pada sudut mata yang tengah terpejam.


Berarti benar dugaanku, jika Ivanna mengalami gangguan kecemasan. Aku harus memanggil psikiater ke sini besok!. Batin Fajira.


"38°? ini cukup tinggi!" ucap Fajira ketika melihat suhu tubuh Ivanna.

__ADS_1


Ia segera mengambil air hangat sambil menggendong Putri kecilnya dan mengompres kepala Ivanna. Ia melihat pada jam dinding baru menunjukkan pukul 2 dini hari.


"hiks... ayah!" ucap Ivanna mengigau.


"sstt...sstt... Buna disini, sayang! tidurlah!" ucap Fajira lembut sambil mengelus lembut kelapa Ivanna dan menimangnya.


Fajira terus mendekap Ivanna sambil mengganti kain yang ia gunakan untuk mengompres dahi gadis kecil itu. Perasaan khawatir menyeruak di dalam dirinya, Irfan yang masih lemas dan Ivanna yang juga ikut sakit, semoga Fajri baik-baik saja.


Ia membaringkan Ivanna di atas sofa bed yang ada di dalam kamar itu. Dengan telaten ia merawat anak gadisnya walaupun harus menahan kantuk.


"Buna? hiks..." rengek Ivanna yang terbangun.


"pusing, nak?" tanya Fajira lembut.


"iya, Ayah mana, Buna?" lirih Ivanna.


"Ayah lagi tidur sama abang di atas kasur, sayang!" ucap Fajira kembali memangku Ivanna dan mengelus lembut kelapa Putri kecilnya.


"ini apa, Buna?" tanya Ivanna membuat kain basah yang ada di dahinya.


"Badan Dede panas, sayang. makanya Bunda kompres biar cepat turun panasnya!" ucap Fajira.


"hiks... apa Dede jahat, Buna? Dede udah buat ayah sakit!" ucap Ivanna terisak.


"Dede gak jahat, sayang! anak Bunda 'kan anak yang baik! Ayah hanya kaget karna Dede bisa meretas data perusahaan yang sangat canggih itu dengan mudah!" ucap Fajira berusaha untuk membuat Ivanna tidak merasa bersalah.


"Tapi tadi ayah sesak nafas, Buna! Apa ayah akan meninggal?" mata polos nan sayu itu menatap Fajira penuh harap.


Ivanna tersenyum, ia sangat tau persis ucapan Irfan yang memuji dirinya dan Fajri, ketika berhasil mempelajari hal baru.


"iya, Buna. Ayah selalu ngomong seperti itu. Tapi ayah gak pernah sakit kalau Dede menemukan hal yang baru, Buna! kenapa kemarin ayah sesak nafas?"


"Ayah memang memiliki riwayat jantung, sayang! makanya Bunda memilih untuk mengambil spesialis jantung biar ayah bisa cepat sembuh kalau sewaktu sakit ayah kambuh seperti kemarin. Jadi Dede gak salah! jangan merasa bersalah ya, sayang!" ucap Fajira lembut memberikan pengertian kepada Ivanna.


"Tapi Dede kemarin bikin ayah terkejut, Buna!" Ivanna kembali memeluk Fajira erat.


"iya, karna ayah kagum dengan kepandaian, Dede! Bunda juga kaget lo, waktu tau Dede bisa melakukan hal yang kemarin!" ucap Fajira antusias.


"yang jelas, Bunda bangga dengan apapun yang abang dan Dede kerjakan. Hanya saja jangan bermain dengan hal yang penting ya sayang! seperti kemarin itu gak boleh! gimana kalau data perusahaan ayah dicuri sama orang lain?" tanya Fajira.


Tidak terdengar lagi jawaban dari Putri kecilnya, Ivanna sudah tertidur di dalam pelukan nyaman itu. Fajira hanya bisa tersenyum mmenatap putri kecilnya yang memiliki sifat dingin seperti Irfan, namun memiliki hati yang sangat mellow dan sensitif.


Tumbuhlah dengan baik, sayang! walaupun apa yang Dede kerjakan itu masih diluar akal sehat manusia normal, tapi Bunda bangga dengan pencapaian abang dan Dede. Bunda gak akan risau jika suatu hari ayah dan Bunda pergi meninggalkan kalian!. Bathin Fajira dengan air mata yang menetes.


Ia masih terus mendekap Ivanna yang hanya menggunakan singlet dan celana pendek itu dengan lembut, sambil sesekali mengusap kepala Ivanna dan berdoa untuk kesembuhan Putrinya.


Hingga tanpa sadar ia terlelap dalam keadaan duduk, hingga pagi menjelang. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, keluarga kecil itu belum juga ada yang menunjukkan tanda-tanda kembali dari alam mimpinya.

__ADS_1


Tok... tok... tok...


"Tuan? Nyonya?" panggil bibi.


Fajira segera tersadar, ia terkejut karna cahaya matahari sudah sangat terang menembus dinding kaca kamarnya. Apapagi ia melihat Fajri yang masih terlelap di atas ranjang sambil memeluk Irfan.


"sshhh" kepalanya berdenyut di iringi dengan pinggang yang terasa nyeri.


tok... tok... tok...


"Nyonya?" panggil bibi kembali.


Fajira segera pergi ke arah pintu dan membukanya.


"Bi, Tolong katakan kepada pak sakti, kirimkan surat untuk Fajri dan Ivanna ke sekolah mereka. Ivanna sakit dan Fajri harus pergi ke perusahaan!" ucap Fajira yang masih menggendong Ivanna.


"baik, Nyonya!" Bibi berlalu dari kamar.


Fajira kembali menutup pintu, ia segera membangunkan anak dan suaminya. Ia mendekat kearah Irfan dan membisikkan kata-kata manis di telinga suaminya. Begitu juga dengan Fajri, mereka bangun dengan senyuman yang melengkung.


Namun sebentar senyum itu luntur ketika melihat wajah pucat Ivanna.


"Dede kenapa, Bunda?" tanya Fajri panik.


"Semalam badan dede panas, Bang! Tapi sekarang sudah lebih baik!" ucap Fajira mengelus kepala Fajri.


"Abang mau peluk dede, Bunda. apa boleh?" tanya Fajri dengan mata yang berkaca-kaca.


"tunggu dedenya bangun dulu ya, sayang!" Ucap Fajira tersenyum.


Ivanna tidak mau melepaskannya barang sebentar saja, jika ia di baringkan di atas kasur, maka gadis kecil itu akan terbangun dan menangis.


"sejak kapan Dede sakit, sayang?" tanya Irfan menegang dahi Ivanna.


"jam berapa tadi ya? Jam 2 an kalau gak salah, Mas! Ini udah mendingan," ucap Fajira tersenyum.


"kenapa gak bangunin aku?"


"kamu kan lagi sakit, kondisi tubuh kamu juga belum stabil! Yuk mandi dan bersih-bersih dulu. Abang kembali ke kamar ya sayang. Mandi dulu, nanti mau ke perusahaan 'kan?" ucap Fajira.


"terus Dede gimana, Bunda?" tanya Fajri dengan mata yang berkaca-kaca.


"Dede baik-baik aja, sayang! Nanti juga sudah sembuh! sana mandi lagi, nanti om Ray datang menjemput abang, tapi kamu belum selesai!"


"iya, bunda!"


Fajri beranjak dari kamar dan segera bersiap untuk pergi ke pabrik dengan pakaian formalnya. Sementara Irfan juga membersihkan tubuhnya dan bergantian dengan Fajira.

__ADS_1


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


__ADS_2