Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
60. Firasat Irfan


__ADS_3

Setiap pasangan pasti menginginkan yang terbaik untuk kehidupan rumah tangganya, begitu juga dengan Fajira, walaupun hingga saat ini ia belum bisa berhubungan layaknya suami dan istri dengan Irfan, tetapi laki-laki itu tidak pernah marah ataupun protes dengan apa yang sedang di alami Fajira karna itu memang akibat dari perbuatannya sendiri.


Pagi ini seperti biasa, Fajira tengah sibuk mengurusi dua pria tampannya yang kompak tidak ingin bangun dari tidur mereka. Sehingga membuat ibu muda itu menjadi kesal.


"Fajri, Ayah, kalau gak mau bangun juga, mandi sendiri, pake baju sendiri, bikin sarapan sendiri. Bunda mau pergi ke kampus" ucap Fajira kesal.


"engh... sebentar sayang. Aku masih ngantuk" ucap Irfan kembali memeluk Fajri.


"iya Bunda, Aji juga masih mengantuk"


"Kemaren sudah Bunda bilang jangan begadang, karna besok mau sekolah. Masih aja bandel di bilangin, nanti kalau terlambat, Aji menangis karna malu sama teman-teman yang lain" oleh Fajira membuka gorden memggunakan remote khusus.


"kamu juga Mas, bukannya mencontohkan yang baik malah mengajak Fajri begadang. Seperti tidak ada hari lain saja"


Semalam Irfan meladeni Fajri yang bercerita panjang lebar mengenai proyek pesawat remot kontrol yang akan ia produksi masal nantinya. Mereka berbincang hingga lewat tengah malam, sehingga membuat ayah dan anak itu kekurangan kualitas tidur mereka.


"Ayo bangun iih, jangan seperti ini Ayah, Aji. huh Ya sudah kalau gak mau bangun, Nanti jangan marah kalau bunda sudah berangkat ya" ancam Fajira


Ia melangkah menuju kamar ganti dan menyiapkan pakaian untuk Fajri dan Irfan. Setelah itu ia menuju ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk Fajri mandi nanti. Semenjak tinggal di rumah Irfan pria kecil itu ke tagihan untuk mandi menggunakan air hangat.


Bagaimana ya cara membangunkan mereka lagi? capek mulut aku berkoar-koar dari tadi.


Fajira berjalan menuju ranjang dan duduk di belakang Irfan yang tengah memeluk Fajri. Ia membelai kepala suaminya lembut sambil mengamati wajah pria tampannya.


"mas, bangun lagi" ucap Fajira lembut.


"sayang" ulangnya.


"engh... iya sayang"


Irfan menatap Fajira lembut, namun tanpa disangka Fajira sudah mulai berani untuk membungkam mulutnya dengan lembut. Mata irfan membola merasakan pergerakan lembut dari Fajira, dengan cepat ia membalas pugutan itu dengan sedikit panas, hingga Fajira terpaksa harus mengakhiri morning kiss mereka pagi ini.


"bangun lagi sayang" ucap Fajira masih menatap Irfan dengan jarak yang dekat, bahkan sangat dekat.


"muach... aku tambahain bonus, Yuk bangun lagi" sambungnya kembali mengecup bibir seksi Irfan.


"i-iya sayang" Irfan masih melongo mencerna apa yang baru saja terjadi.


I-istriku su-sudah berani. Apa ini pertanda jika sebentar lagi masa percobaanku berakhir?


"jangan berfikir macam-macam Mas, Aku hanya capek berkoar-koar membangunkan kalian" ucap Fajira membuat senyum Irfan memudar.


"apa salahnya menyenangkan hati suami" Ketus Irfan dan membuat Fajira mendelik.


Ia menggendong Fajri sambil membangunkan pria kecil itu dan membawanya menuju kamar mandi, di susul oleh Irfan.


"Bunda Aji masih mengantuk" rengeknya dalam gendongan Fajira.


"Siapa yang suruh begadang sayang"

__ADS_1


"iiiihhhh"


Fajira memandikan Fajri di dalam bathtube. Tanpa ia sadari jika Irfan sudah berdiri di belakangnya hanya menggunakan dalaman saja, bahkan Fajri pun melongo melihat otot kekar sangat ayah yang sangat jarang ia lihat.


"wah badan Ayah bagus" ucap Fajri berbinar.


"gak kayak badan Aji gembul" cemberut Fajri sambil memegang perutnya.


Sontak perkataan Fajri membuat Fajira melihat ke belakang. Matanya melotot ketika melihat Irfan dengan santainya mandi di bawah guyuran shower.


"mas" pekik Fajira membuat dua pria tampan itu terlonjak kaget.


"bunda Aji kaget" rengek Fajri.


"apa sih yang? kamu ngagetin aja" Ucap Irfan dengan smirk nya.


"Kamu ngapain sih naked seperti itu, Tau di sini ada Fajri" Ucapnya dengan wajah yang merona


"kan anak sendiri gak masalah sayang"


"apa Bunda sakit? kenapa mukanya merah seperti itu" ucap Fajri


"gak papa sayang, Yuk Aji sudah selesai kan mandi nya? Kita keluar lagi ya"


"iya Bunda. Apa Bunda beneran gak papa"


"iya sayang"


Huh kenapa aku sangat suka melihat wajah meronanya yang terlihat manis dan mengemaskan. Ah satu malaikat kecil dan satu bidadariku, aku beruntung memiliki kalian. Tuhan jaga mereka selalu untukku hanya untukku.


Ia segera menyelesaikan ritual mandinya dan bergegas mengingat hari semakin siang. Tepat ketika ia keluar, Fajri dan Fajira juga keluar dari kamar ganti. Mereka terlihat sangat cantik dan tampan, sehingga Irfan seolah tidak ingin melepaskan mereka untuk di pandang dan di lihat oleh orang lain.


"anak ayah sudah selesai sayang?"


"sudah ayah. Ayah juga cepat pakai baju, udah siang nanti kita terlambat" ucap Fajri.


"iya, Bunda bantu Ayah pake baju ya biar cepat"


"iya ayah, nanti Bunda bantu pake bajunya, sekarang pakai dulu sendiri bajunya sudah Bunda siapkan di dalam"


"iya sayang, Ayah tunggu ya"


Irfan melangkah ke dalam kamar ganti, lalu mengenakan baju dan celananya, Karna tidak mungkin ia kembali mengerjai Fajira. Bukannya senang malah kena marah begitu fikiran Irfan menerka.


"Aji tunggu disini dulu ya sayang, Bunda mau bantu Ayah dulu"


"iya Bunda jangan lama-lama ya"


"iya sayang"

__ADS_1


Fajira dengan jantung yang berdetak kencang langkah masuk ke dalam ruang ganti untuk menyusul Irfan.


"sayang, tolong pasangkan dasi ku"


"iya mas"


Fajira berdiri dekat di hadapan Irfan dan membantu memakaikan dasi suaminya. Irfan yang merupakan pria nakal dan mesum malah mengambil kesempatan itu. Ia menarik pinggang Fajira dan menempelkan tubuh mereka. Hal itu sukses membuat perempuan cantik itu terkejut sambil menatap Irfan.


"Aku pegangin ya, biar gak jatuh nanti"


"i-iya"


Fajira kembali fokus dengan apa yang ia kerjakan. Namun berbeda dengan Irfan, jantungnya berdetak kencang dengan perasaan cemas yang tiba-tiba menghampirinya.


"sudah mas, Ayo kita kebawah, sudah gak ada waktu lagi" ucap Fajira tersenyum.


"iya sayang, terima kasih muach.." Irfan mengecup kening Fajira lembut


Entah kenapa perasaan ku tiba-tiba menjadi tidak enak. semoga saja tidak ada sesuatu yang akan terjadi.


Mereka segera berjalan menuju ruang makan dan sarapan. Irfan terus menatap Fajira, ia seolah tidak ingin wanitanya pergi meninggalkannya lagi. Namun ia masih berusaha untuk menghalau fikiran negatifnya dan berdoa semoga anak dan istrinya baik-baik saja.


"kenapa mas?" ucap Fajira yang merasakan ada yang aneh pada Irfan.


"gak papa sayang, Nanti kamu hati-hati ya di kampus"


"ia mas, Aku bisa jaga diri" ucap Fajira tersenyum.


"yuk kita berangkat"


Mereka segera berangkat menuju tempat masing-masing. Fajri pergi bersama dengan Irfan karna se arah, sementara Fajira pergi bersama dengan supir karna berbeda arah dengan ke dua pria tampannya.


"sayang hati-hati ya" ucap Irfan kembali.


"iya mas, Apa ada sesuatu yang mengganjal?"


"perasaan ku gak enak" lirih Irfan dan membuat mereka terdiam.


"semoga gak ada hal buruk yang akan terjadi mas"


"iya sayang. Mas berangkat dulu ya. muach..." Irfan kembali mengecup kening Fajira lembut.


"iya hati-hati".


Perlahan mobil itu berjalan menghilang dari pandangan Fajira. Setelah itu ia bergegas untuk menaiki mobilnya dan berangkat menuju kampus.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2