Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
44. Kebersamaan part 1


__ADS_3

Hari ini adalah hari Minggu dimana keluarga kecil itu akan berangkat menuju Perpustakaan Nasional seperti keinginan Fajri agar bisa mendapatkan buku mengenai cara menerbangkan pesawat. Fajira sudah mempersiapkan segala perlengkapan Fajri dan dirinya agar tidak keteteran nanti.


"Aji sudah siap nak?"


"sudah bunda"


"yuk kita keluar, ayah sudah datang"


Fajira dan Fajri segera keluar dari rumah baru mereka yang di beli beberapa waktu yang lalu. Beruntung Irfan mengerahkan beberapa orang untuk mengurus kepindahan anak dan calon istrinya, sehingga pekerjaan Fajira bisa lebih ringan.


"Ayaah" teriak Fajri berlari kearah Irfan yang menunggu di luar pagar, mobil belum bisa masuk ke dalam pekarangan rumah karna masih dalam masa pembangunan atap dan perbaikan pagar.


"udah siap nak?"


"siap Ayah. Yuk kita berangkat" ucap Fajri sangat antusias.


"iya, yuk kita masuk. Ayo sayang" Irfan membukakan Fajira pintu dan meminta perempuan itu masuk lebih dahulu.


"Ayah apa bukunya boleh Aji bawa pulang?" ucap Fajri menatap Irfan penuh harap ketika berada di dalam mobil.


"boleh tapi berjangka waktu sayang. tinggal kita kan jauh dari sana. Hmm gimana kalau kita pergi ke toko buku saja, kalau seandainya Aji membutuhkan buku untuk di bawa pulang"


"boleh ayah?" mata pria kecil itu berbinar senang.


"boleh sayang, Hari ini credit card ayah khusus untuk Aji dan Bunda"


Irfan menoleh ke arah Fajira yang tengah melihat Fajri berbicara sambil tersenyum. Sejurus kemudian mata cantiknya bertemu dengan mata tajam Irfan, dan hal itu sukses membuatnya terpana.


"apa?" tanya Fajira.


"Bunda hari ini cantik banget ya" ucap Irfan genit dengan mengedipkan matanya.


"iya Ayah, Bunda memang selalu cantik" Ayah dan anak itu sama-sama genit, mereka selalu kompak untuk membuat Fajira tersipu malu.


"memang Bunda cantik, Kalau tidak mana mungkin Aji bisa genteng dan pintar" ucap Fajira mengibaskan rambutnya yang wangi dan itu sukses membuat wajah Irfan memerah.


"Ayahkan juga tampan... eh apa ayah sakit?" tanya Fajri yang menyadari jika wajah Irfan memerah.


"eum? ayah baik-baik saja sayang, Cuma ayah tadi itu,, hmm... itu Ayah pusing sedikit sayang" ucap irfan mencari alasan.


huh bilang aja horny, dasar maniak. Bathin Fajira mendelik.


"iya ayah? Bunda tolong minyak angin Aji" ucap Fajri memegang kepala Irfan dan memijitnya.


"ini sayang" Fajira mendelik ke arah Irfan yang masih mengontrol sesuatu yang mulai bergejolak di dalam dirinya.


kenapa aku selalu lemah jika itu berhubungan dengamu Fajira, sungguh ini sangat menyiksaku. Apa yang harus aku lakukan nanti ketika kita menikah.Tuhan bantu aku.


Irfan frustrasi dengan keadaannya saat ini, namun ia masih berusaha untuk mengendalikannya dengan berusaha rileks sambil merasakan pijatan lembut dari tangan mungil itu di kepalanya.


"apa ayah sudah sarapan?" tanya fajri khawatir.


"sudah sayang, tadi ayah jemput ke rumah"


"kenapa ayah gak bangunin Aji?" ucap Fajri cemberut.


"Hari ini kan Aji mau pergi ke perpustakaan nasional sayang, nanti kalau kurang tidur, Aji malah ketiduran di sana. Makanya gak ayah bangunin"


"ihh... terus Bunda kapan mau menikah sama ayah? Aji mau bobo bertiga sama ayah juga bunda" ucapnya cemberut.


deg...


"sabar ya nak" ucap Fajira.


"kapan Bunda? apa masih lama?"


"gak lama sayang, nanti ayah akan secepatnya menikah dengan Bunda, Aji do'akan ayah ya nak" ucap Irfan Santi.

__ADS_1


"iya ayah, Aji selalu mendo'akan Ayah biar bisa menikah dengan bunda"


Fajira yang melihat begitu besar keinginan Fajri menjadi semakin lemah, hatinya yang keras tidak ingin bersama irfan menjadi goyah karna melihat mata bulat itu menatapnya penuh harap. Sungguh ia sangat lemah jika Fajri sudah memohon kepadanya.


Mobil tiba di bandara, mereka segera turun dan melangkah menuju tempat ceck in dan menunggu sebentar karna sekitar 30 menit lagi pesawat akan take off.


"wah Ayah Apa kita naik pesawat?" ucap Fajri berbinar.


"iya nak, Aji mau lihat pesawatnya?" ucap Irfan.


"boleh Ayah?"


"boleh nak. Tuh Aji bisa lihat dari dinding kaca itu"


"uwaaaah"


Fajri berjalan dengan hati-hati dan menggandeng tangan Irfan untuk melihat pesawat yang berjejer di lapangan besar itu.


"huh Aji kesal, kenapa pesawat Aji gak bisa terbang Ayah. Kalau sudah bisa terbang nanti, Aji mau menyambungkannya dengan remot kontrol. Tapi Laptop Bunda gak support untuk membuat aplikasinya Ayah" ucap Fajri melihat pesawat yang akan take off.


"nanti kita beli komputer saja ya nak. Sekarang yuk kita pergi. Pesawatnya sudah mau berangkat" ucap Irfan membelai kepala Fajri.


"iya Ayah"


Mereka segera berjalan menuju pesawat pada jalur business class. Tak lupa ia menggenggam erat tangan Fajira yang terasa lebih tenang dari sebelumnya. Irfan melihat ke arah belakang dan tersenyum lembut kepada Fajira.


"kenapa?" ketus Fajira pelan.


"gak apa sayang, Tangan kamu dingin"


"hmm"


"jangan takut ya, Ada aku"


"Ada Aji juga Bunda hehe" pria kecil itu sangat pandai mencairkan suasana.


"Ayah, Aji mau duduk di dekat jendelanya boleh?"


"boleh Sayang, Ayah memang sengaja menyediakannya untuk Aji, duduk bagus-bagus ya"


"iya Ayah, terima kasih"


Irfan membantu Fajri memasang seat belt dengan baik dan memastikan anaknya nyaman dalam perjalanan nanti. Setelah aman, Irfan beralih kepada Fajira yang masih fokus dangan ponselnya.


klik...


Bunyi saat belt itu membuat Fajira terkejut, ia melihat wajah Irfan sangat dekat dengannya.


cup...


Laki-laki itu mencuri satu ciuman dari Fajira dan membuat perempuan itu terdiam sambil menatap Irfan.


"kamu sibuk sendiri saja sayang, Kita mau take off, matikan dulu ponselnya"


"iya terima kasih"


"sama-sama sayang"


Fajira masih terdiam sambil menetralkan detak jantungnya berdetak lebih cepat karna serangan tiba-tiba dari Irfan tadi.


Instruksi dari pramugari sudah terdengar, perlahan pesawat itu bergerak kencang dan semakin kencang melayang ke udara. Sementara Fajira tanpa sadar menggenggam tangan Irfan erat, sedangkan Fajri terdiam dengan wajah yang memerah.


"Bunda pusing" ucap Fajri lirih.


"sebentar ya nak, pesawatnya belum stabil sayang, sini Bunda oleskan minyak angin dulu"


"iya bunda"

__ADS_1


Fajira mengoleskan minyak angin di beberapa titik tubuh Fajri agar bisa mengurangi sakit kepalanya. Irfan tersenyum dan kembali menggenggam tangan Fajira lembut, kemudian melihat ke arah Fajri, Sungguh pria kecil itu sangat mengemaskan baginya.


"Aji, Kalau pusing bobok Aja ya nak" ucap Irfan ketika pesawat sudah stabil.


"iya ayah"


Fajira dengan telaten mengusap kepala Fajri hingga ia terlelap, Begitu juga dengan Irfan yang bersandar di bahu Fajira.


"sayang"


"hmm"


"Aku mau dengar cerita kamu semenjak kejadian itu apa boleh?"


"Apa yang ingin kamu dengar?"


"hmm aku ingin mendengar apa saja yang bisa di lakukan oleh anak kita"


"apa kamu belum bercerita banyak dengan Fajri? bukanya beberapa hari ini kalian bersama?"


"iya tapi aku gak ingat untuk bertanya sayang"


"hmm.. Fajri itu anak yang sangat cerdas, di umur satu tahun ia sudah bisa berbicara dan membaca. Saat itu juga untuk pertama kalinya ia bisa menghasilkan uang"


"kamu serius?"


"ih ngapain juga aku mengada-ada. Dulu selepas kejadian itu, aku masih merasa biasa saja dan gak ada yang tau jika aku hamil. Tepat setelah satu bulan aku positif, setelah menerima gaji aku memutuskan pergi menggunakan bus, Aku juga sempat pingsan di terminal, untung aku bertemu dengan Nek Ira, Dan dia yang merawatku"


"apa nenek itu masih hidup sayang" wajah Irfan berubah sendu


"nenek itu sudah meninggal 2 tahun lalu. Waktu aku hamil kamu tau aku Ngidam apa?"


"apa sayang"


"aku ingin di peluk oleh laki-laki bajing*an yang sudah memberikan luka dalam hatiku"


deg...


"kamu serius" ucap Irfan termagu.


"saat itu aku hanya bisa memeluk nenek berharap Ngidam ini segera berakhir. Setelah trimester pertama, Aku sudah gak terlalu Ngidam. Karena aku butuh uang, aku berjualan gorengan setiap pagi dan sore. Sepanjang jalan itu banyak orang menatapku sinis, bahkan aku harus berjalan jauh agar gorenganku habis terjual. Mungkin sudah rezeki juga, setiap hari gorenganku habis, jadi aku bisa menabung untuk biaya persalinan.


Untung saja ada uwak dan istrinya yang selalu membantu aku, bahkan menganggap Fajri sebagai anak mereka. Jika pergi ke pasar dan membelikan anaknya baju pasti Fajri juga dapat.


Dia juga yang memberikan Fajri semacam fasilitas untuk bekerja memperbaiki apapun. Mulai dari belum punya apa-apa sampai sekarang Fajri memiliki satu peti besar peralatan untuk memperbaiki segala macam elektronik.


Aku gak tau jika tidak bertemu dengan mereka. Mungkin aku sudah meninggal bersama dengan Fajri"


Perkataan Fajira membuat Irfan berkaca-kaca, Ia hanya menggenggam erat tangan Fajira dan sesekali mengecapnya lembut sambil mengucapkan kata maaf.


"sayang, aku janji akan memberikan kebahagiaan yang tidak terhingga. Izinkan aku untuk bersamamu, Aku akan terima jika harus menunggu kesembuhanmu terlebih dahulu"


"berusahalah untuk itu, karna bukan hanya fisik tapi mental dan hati ku juga yang jamu sakiti" Fajira mengelus lembut tangan Irfan


"terima kasih sudah memberikan aku kesempatan, Tolong kedepannya hanya percaya kepada ku, jika ada perkataan orang lain yang buruk tentangku, kamu bisa tanyakan langsung sayang" kedua tangan itu aling berpegangan mengalirkan kehangatan yang akan susah mereka dapat kedepannya.


"maafkan Aku" Irfan menarik fajira masuk ke dalam pelukannya


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE


Hai readers akuu mau ngasih referensi baca nih untuk mengisi waktu sembari menunggu anak sultan milik CEO Update. yuk kunjungi mana tau suka. Ceritanya keren banget, gak boong, Aku sudah baca 😍😍



__ADS_1


Terima kasih πŸ€—


__ADS_2