
"Sayang tidur disini saja ya, temani ayah" ucap irfan cemberut kepada Fajri.
"Aji belum bisa tidur disini ayah, kerjaan Aji banyak" keluhnya.
"nanti kalau ayah kangen bagaimana sayang?"
"kan ayah bisa video call"
"Ayah mau peluk Aji terus seperti ini" Irfan mendekap Fajri dalam gendongannya.
"besok Aji sekolah Ayah, pulang sekolahnya kan kita bisa bertemu" lembut Fajri menjelaskan.
"ya sudah, hati-hati pulang ya sayang. Nanti kalau ada apa-apa cepat kasih tau ayah ya"
"iya ayah. muach... Aji pergi dulu" irfan menurunkan fajri dari gendongannya, tak lupa pria kecil itu mencium tangan Irfan dengan lembut.
"iya nak"
Irfan mendekati Fajira dan mengusap kepalanya lembut.
"hati-hati bawa motor sayang, nanti kalau belum kuat untuk pergi ke kampus biar aku yang mengantarkan Fajri ke sekolah. Kamu istirahat dulu di asrama ya"
"iya. aku pulang dulu"
"iya sayang, hati-hati"
Fajira berlalu dari rumah mewah itu menuju ke asrama. Dalam perjalanan ia sedikit bisa bernafas lega karna sudah berada jauh dari Irfan, paling tidak ia bisa menetralkan rasa trauma yang selalu menuntut untuk di lampiaskan.
"bunda"
"iya sayang"
"apa kita pindah ke rumah ayah saja?"
"Aji mau tinggal sama ayah nak?"
"sama Bunda juga. Boleh?"
"Bunda belum bisa sayang, kan ayah sama Bunda belum menikah"
"apa harus menikah dulu? bukannya kata Bunda kalau ciuman seperti ayah dan Bunda tadi harus menikah dulu kan? tapi sekarang Bunda sama ayah belum menikah tapi sudah ciuman seperti tadi, jadi bagaimana sih" omelnya dengan cemberut.
"kan Bunda sudah ada Fajri, tentu boleh dong seperti itu sama ayah. Aji kan masih kecil sayang. Pokoknya biar Bunda sama ayah aja yang seperti itu tapi Aji gak boleh. Tunggu menikah dulu ya nak" Fajira sedikit gelagapan menanggapi pertanyaan Fajri.
"huh, bunda curang"
"hahaha, Bunda gak curang sayang. Memang seperti itu"
Fajri masih bersungut di sepanjang jalan karna ia tidak mendapatkan keadilan atas bundanya.
huh kenapa sih? tadi kata Bunda harus menikah dulu sekarang Bunda bilang belum menikah sama ayah. Jadi yang benar bagaimana? Aji juga pengen mencium bunda seperti ayah, huaaa.
Sungguh Fajri sangat tidak terima dengan diskriminasi yang di lakukan oleh kedua orang tuanya, ia masih bertanya-tanya sampai saat ini mengenai hal itu. Bahkan otak cerdasnya mendadak lemot dan bercendawan karna tidak bisa mencerna penjelasan dari Fajira.
Jadi harus menikah dulu atau punya anak dulu sih? hai otak yang pintar keluarlaaah, apa karna Aji keseringan menonton film bintang berwarna pink itu makanya jadi lemot begini. Heei tolong laah Aji gak paham.
Pria kecil itu terus berdialog dengan fikirannya, bahkan panggilan Fajira pun tidak terdengar olehnya.
"Aji! sayang kamu ngapain bengong?"
"eh Bunda. Iya ada apa Bunda? Aji lagi berfikir"
"apa yang Aji fikirkan sayang?"
"tentang penjelasan Bunda mengenai berciu*man yang lama seperti ayah dan Bunda tadi itu"
__ADS_1
"astaga sayang, kenapa kamu malah memikirkan hal seperti itu terus nak?"
"Aji kan pengen tau Bunda, kenapa aji gak boleh menci*um Bunda seperti ayah" ucapan Fajri membuat Fajira serasa ingin menangis.
"sudah Bunda gak suka Aji memikirkan hal yang macam-macam seperti itu, kalau Aji sudah besar nanti akan paham sendiri apa maksud Bunda"
"iya bunda" Fajri kesal bercampur penasaran, tapi dirinya pasrah karna sudah di larang oleh bidadari kesayangannya ini.
"Aji mau beli sesuatu nak?"
"gak ada Bunda, Ayah sudah memasukan cemilan ke dalam tas Aji tadi"
"ya sudah kita langsung pulang saja ya"
"iya bunda"
Aku mengutuk laki-laki itu karna sudah memperlihatkan hal yang tidak senonoh dan menodai kesucian mata anakku. Bathinnya kesal.
Fajira terus melajukan motornya ke asrama dengan hati-hati karna ia merasa sedikit tidak enak badan. Sesampainya di asrama mereka segera beristirahat karna besok akan kembali menjalani kehidupan yang penuh dengan tipu-tipu ini.
Hingga pagi menjelang ibu dan anak itu masih terlelap dengan saling berpelukan. Namun dering ponsel milik Fajri berhasil mengejutkan Fajira.
Siapa yang menelfon sepagi ini?.
Ia segera meraih ponsel itu dan mengangkatnya. Dengan malas ia mengangkat telefon itu tanpa meligat siapa yang memanggilnya, Fajira merasa jika itu adalah panggilan suara, namun ia terkejut karna mendengarkan suara yang besar keluar dari sana.
Mampus laki-laki itu video call Fajri.
"sayang? sudah bangun?" ucap Irfan tersenyum senang di balik ponsel karna Fajira yang mengangkat telefonnya.
"sudah" ucap Fajira sambil meletakkan ponselnya di atas meja dan beranjak dari tepat tidur, ia melihat sudah jam stengah 6 pagi.
"sayang?" panggil Irfan yang hanya melihat loteng asrama di dalam kamar itu.
"bentar" Fajira bergegas untuk mencuci wajahnya agar sedikit lebih segar.
"hmm, kamu bikin sarapan hari ini?"
"iya. kenapa? mau aku lebihkan?"
"iya apa boleh?" irfan menatap fajira penuh harap.
"boleh nanti jemput saja kesini"
"iya sayang, Hmm Apa sudah kuat untuk pergi kuliah? apa aku antar saja?"
"aku sudah lebih baik kalau kita berjauhan"
"kejamnya kamu sayang" keluh Irfan.
"sakit tau gak" sambungnya.
"ngapain nelfon pagi-pagi?" ketus Fajira.
"mau lihat keadaan anakku"
"anakku masih tidur nanti saja telefon lagi"
"eh jangan di matikan, oke aku tampan aku diam. Tapi aku ingin melihat kamu masak" ucap Irfan sendu.
Fajira meletakkan ponsel itu agar Irfan bisa melihatnya yang tengah memasak.
"sayang masak apa?"
"masak sandwich kesukaan Fajri"
__ADS_1
"iya? ternyata dia memang anakku"
"kenapa?"
"itu juga makanan favorit ku sayang"
"hmm tapi aku gak bikin banyak, rotinya hanya tinggal 3 pasang. Apa cukup satu potong?" ucap Fajira.
"bentar, bibi baru beli roti kemarin, aku antar kesana ya" Irfan bergegas turun kebawah sambil berlari dan mengambil roti lalu segera menuju ke tempat Fajira.
"eh gak usah lah, ini bagi dua saja sama Fajri, nanti aku makan omlet saja. Irfan" ucap Fajira sedikit keras ketika melihat laki-laki itu sudah menaiki mobilnya.
"sudah tempat kita dekat" ucap Irfan tersenyum. Sementara Fajira hanya mendengus saja melihat kelakuan pria tampannya.
Eh pria tampan siapa thor? pria tampanku hanya Fajri sudah, gak ada yang lain. ucap Fajira mendelik kepada author.
Fajira masih asik memasak sandwich yang akan di bungkus oleh Irfan nanti sambil menunggu laki-laki itu datang.
"sayang aku sudah di luar" ucapnya turun dari mobil.
"tetap di dalam atau aku gak mau keluar" ucap Fajira sedikit tidak rela jika Irfan di lihat oleh yang lain.
"oke sayang, aku tunggu"
Irfan mematikan panggilannya dan memegang dada yang terasa berdetak lebih kencang.
Huh tenang Irfan, yang penting jangan sampai membuatnya takut.
Sementara Fajira membungkus tiga potong sandwich itu untuk di bawa oleh Irfan nanti. Ia juga merasakan hal yang sama, jantungnya berdetak lebih cepat seiring menipisnya jarak di antara mereka. Semenjak berci*uman kemarin Fajira merasa sedikit kesulitan membedakan mana getaran dari rasa takut dan mana getaran cinta yang mulai tumbuh.
Perlahan Fajira keluar dari kamar setelah memastikan Fajri masih terlelap. Kenapa jadi gugup seperti ini, begitu bathinnya.
Fajira yang melihat mobil Irfan terparkir langsung mengetok pintu kaca mobil mewah itu.
"masuk dulu sayang" ucap Irfan membuka kan pintu dari dalam.
"aku gak bisa lama. Ini bekalnya bawa aja dulu, nanti aku bikin lagi untukku dan Fajri. hmm cukupkan?"
"aku gak akan pernah merasa cukup jika itu menyangkut tentang kamu" ucap Irfan tersenyum manis, sementara Fajira hanya memasang wajah datarnya.
"sudahkan? aku pergi dulu" Irfan menggenggam tangan Fajira agar bisa menahan wanita itu sebentar saja.
Tepat ketika Fajira melihat ke arahnya Irfan dengan cepat menarik tengkuk perempuan itu dan sedikit melu*mat bibir tipis nan kenyal itu. Sementara Fajira membulatkan matanya ketika mendapatkan serangan mendadak itu.
Cup....
Tanpa sadar Fajira sedikit membuka mulutnya namun tidak membalas perlakuan Irfan. Sedikit ia juga ikut tergoda dengan gerakan Irfan namun ia tetap menahannya demi harga diri.
"morning kiss. terima kasih sayang. Nanti Fajri biar aku jemput saja. Kamu istirahat ya" Ucap Irfan tersenyum dengan matanya yang sayu sambil mengelus lembut bibir Fajira yang basah karna ulahnya
Perlahan tubuh perempuan itu mulai bergetar takut. Irfan yang melihat itu langsung mengambil tangan Fajira dan menamparkan ke pipinya.
"aku salah sayang, maaf. Tampar saja aku. Tapi aku mohon jangan membenciku"
Fajira yang sudah mulai berkaca-kaca itu meletakkan tangannya di pipi Irfan, sungguh ia sangat cerdas dalam mengatur emosinya. Ia membelai pipi yang baru di tamparnya itu.
"apa sakit?" tanya Fajira lirih.
"gak sakit sayang"
PLAAK!!!
"...."
πππ
__ADS_1
TO BE CONTINUE