
Malam menjelang, Fajri memilih untuk duduk di kawasan proyek dan mengamati sekitarnya. Entah kenapa, ia merasa ingin sendiri malam ini. Ditemani kabut yang berusaha untuk menyentuh kulutnya, Fajri duduk termenung di atas batang kayu sambil melihat keadaan sekitar yang terlihat tidak jelas karna tertutup kabut.
"huft,... Ternyata seperti ini rasanya di tinggal menikah," ucap Fajri tersenyum kecut.
Berulang kali Fajri menghela nafas beratnya, berharap rasa sesak ini bisa berkurang. Mungkin jika di hadapan Fajira ia akan mmenangis sambil memeluk ibundanya, ketika mengetahui kenyataan ini.
"sial banget sih!, ternyata selama ini aku menunggu istri orang dan bahkan sedang mengandung," ucap Fajri menertawakan dirinya.
Ia teringat jika besok adalah hari kepulangan Hanna. Berarti besok suaminya juga akan menjemput ibu hamil itu.
"Aku harus bertemu dengan laki-laki itu dan mengirim beberapa orang untuk mengawasi mereka. Walaupun aku tidak mungkin bisa memiliki, setidaknya kak Hanna adalah orang yang sangat berjasa karna sudah melindungiku dulu di masa sekolah!" ucap Fajri mencoba untuk ikhlas.
Setelah puas ia memilih untuk kembali ke rumah joglo dan beristirahat. Beruntung tidak ada yang bertanya, ia dari mana. Sehingga Fajri bisa terlelap tanpa harus menjawab pertanyaan dari mereka.
...πΊπΊ...
Sementara di rumah mewah Dirgantara, Ivanna sudah terlelap dengan mata sembab. Ia sengaja tidur di atas ranjang orang tuanya sambil memeluk bantal guling kesayangan Fajri. Semenjak kepergian pria tampan itu, ia sudah menangis dan terisak, berhenti sebentar dan menangis lagi.
Fajira hanya bisa memeluk sambil mengusap kepala gadis manis itu seraya menenangkannya. Hingga Ivanna terlelap, Ia hanya menatap putrinya dengan rasa yang bercampur aduk. Fajira juga merasakan hal yang sama, ia begitu khawatir memikirkan bagaimana Fajri di desa orang selama dua bulan.
Beruntung dari kecil, Fajira selalu mengajarkan Fajri dan Ivanna untuk mandiri dan beberapa cara untuk bertahan hidup. Sehingga ia tidak terlalu risau, namun bagaimana jika Fajri kenapa-napa?. Begitulah isi kepala Fajira.
"sayang?" panggil Irfan yang baru saja kembali dari ruang kerjanya. Ia0 segera memeluk Fajira dari samping, karna paham bagaimana kekhawatiran istrinya terhadap Fajri.
"iya, Mas? udah selesai kerjanya?"
"sudah Sayang! Kamu kenapa belum istirahat?"
"Aku belum bisa tidur, aku masih kepikiran dengan Fajri!" ucap Fajira lirih.
"Sudah, jangan terlalu di fikirkan. Anak kita sudah besar, negri mana yang tidak di jajaki oleh Fajri? Percayalah, anak kita akan baik-baik saja di sana!" ucap Irfan melayangkan kecupan sana sini di wajah Fajira.
"Sekarang yuk, kita tidur. Kamu peluk Ivanna saja, biar aku tidur di sofa!" sambungnya.
"iya!"
Fajira membaringkan tubuhnya di samping Ivanna. Irfan bukan tidak ingin tidur bersama di atas ranjang, tapi Ivanna sudah gadis dan sedikit tidak pantas jika harus tidur bersama dengan anak gadisnya lagi. Kecuali ketika Ivanna tengah bermanja dengannya.
__ADS_1
Setelah memastikan Fajira dan Ivanna terlelap, Irfan mengambil ponselnya dan pergi menuju balkon untuk mengunjungi seseorang.
"Halo? tolong jaga anak-anakku dengan ketat. Jangan sampai mereka kenapa-napa, walau seujung kuku pun!" ucap Irfan dingin.
Ia segera melangkah menuju sofa bed dan terlelap di sana dengan nyaman hingga pagi menjelang.
...πΊπΊ...
Fajira sedikit risau dengan keadaan Ivanna pagi ini. Badan gadis itu tiba-tiba saja panas sambil memanggil nama Fajri.
"Abang, Jangan pergi!" ucap Ivann mengigau dalam tidurnya.
Fajira sudah menempelkan kompres demam di kening putrinya dan melihat berapa suhu tubuh Ivanna kali ini. Termometer menunjukkan pada angka 39 derajat celsius.
"Mas?, sayang bangun!" ucap Fajira membangunkan Irfan.
"iya, kamu kenapa?" tanya Irfan mengernyit ketika mendapati keadaan Fajira yang tidak baik-baik saja.
"Ivanna demam, Mas. Aku khawatir. Apa kita bawa ke rumah sakit saja?" ucap Fajira dengan mata yang berkaca-kaca.
"ya sudah. kamu bersiaplah!" ucap Irfan bangun dari tidurnya dan melihat keadaan Ivanna.
Sehingga Irfan meminta agar anak dan istrinya bisa segera di tangani dengan baik. Dokter mengatakan jika mereka kelelahan karna beban fikiran yang begitu berat. Sehingga membuat dua bidadari cantik itu tumbang dan sakit.
Irfan hanya bisa menghela nafasnya, saat ini hanya ia yang bisa di andalkan oleh anak dan istrinya. Setelah pemeriksaan selesai, Irfan segera membawa Ivanna dan Fajira pulang ke rumah agar bisa beristirahat agar bisa cepat pulih.
...πΊπΊ...
Di desa selimut, Fajri terlihat gelisah dengan prasaan yang tidak tenang. Fikirannya hanya tertuju pada keluarganya.
Semoga mereka baik-baik saja!. bathin Fajri.
"Ji, kamiu kenapa?" tanya Boy mengernyit.
"Gak papa, Boy. Aku hanya kepikiran sama Ivanna dan Bunda. Perasaanku gak enak dari tadi!" ucap Fajri.
"mungkin hanya perasaan kamu, berdo'a saja, semoga semua keluarga kita baik-baik saja," ucap Boy.
__ADS_1
"Aamiin!" Fajri menghela nafasnya.
Hari ini mereka akan memulai pembangunan karna beberapa truk yang berisikan material dan alat berat lainnya sudah tiba dengan selamat di desa. Mereka akan melihat barang-barang itu terlebih dahulu, memastikan mereka aman dan lengkap. Setelah itu barulah mereka kembali mengitari Desa dan membantu apapun yang bisa dibantu.
Fajri juga memanggil beberapa orang yang ahli di dalam bidang pertanian untuk memberikan kiat dan cara bercocok tanam. Saling bertukar pikiran dan bercerita mengenai masalah dan mencari solusi masing-maisingnya.
Sebentar, fikiran Fajri bisa teralihkan dengan aktivitas kita pagi ini. Namun perasaan cemas itu kembali menghampirinya. Sejenak ia tertegun memikirkan hal yang biasa terjadi jika ia mengalami dabaran seperti ini.
Aku harus memastikan bagaimana keadaan Ayah, Bunda dan Dede. Perasaanku tidak tenang sedari tadi!. bathin Fajri.
Ia memanggil salah satu orang suruhannya untuk pergi ke perbatasan dan mencari signal agar bisa menghubungi keluarganya di rumah.
"Ji, apa yang kamu fikirkan?" tanya Dion yang memperhatikan Fajri dari tadi.
"Aku gak papa, Di. Hanya saja aku merasa khawatir dengan keluargaku. Perasaan seperti ini selalu datang ketika salah satu dari mereka dalam keadaan tidak baik," terang Fajri sambil menghela nafasnya.
"Aku paham, apa yang kamu rasakan sekarang. Karna Aku dan Rion juga seperti itu. Pasti rasanya tidak enak sampai kamu bisa melihat dan ada di samping mereka," ucap Dion mengusap bahu Fajri.
"Iya, aku kepikiran sama ivanna,..."
"Ji, sepertinya kita akan mengadakan meeting di lokasi proyek!" ucap Rana mengalihkan pembicaraan mereka.
Fajri, dan yang lain segera pergi ke lokasi pembangunan untuk mengadakan rapat mendadak sebelum melakukan pembangunan. Mereka memperhitungkan bahan dan alat yang dibutuhkan untuk minggu depan, karna mobil pasti membutuhkan jarak tempuh yang cukup jauh untuk sampai ke sini dan tidak ada alat komunikasi yang bisa membantu mereka.
Setelah selesai, peletakkan batu pertama segera di lakukan. Fajri menjadi orang yang terpilih untuk melakukannya.
Bugh,...
Batu itu berdiri dengan kokoh di tepat yang sudah di sediakan. Ini menjadi simbol jika pembangunan ini sudah di mulai. Semua orang bertepuk tangan dengan raut wajah bahagia, karna setelah ini mereka tidak perlu lagi pergi ke kota untuk berobat penyakit yang serius.
Setelah selesai Fajri dan yang lain, berjalan kembali ke rumah Joglo. Kebetulan mereka harus melewati puskesmas untuk sampai kesana. Hingga mata Fajri membulat dengan sempurna ketika melihat seseorang yang sangat ingin ia temui.
Akhirnya!. bathin Fajri
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
__ADS_1
Bonus hari ini gais, besok lagi ya πππ