Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
221. Meminta Restu Ibu Panti


__ADS_3

Sementara di dalam mobil, Fajri menggunakan mobil baru milik Ivanna untuk mengantarkan Safira pulang. Ia menghidupkan kemudi otomatisnya agar mobil itu bisa berjalan sendiri. Sementara Safira sudah gemetaran takut ketika melihat mobil itu belum berhenti ketika berada dekat dengan kendaraan lain.


"Kak, kamu nyetir aja deh! gak usah pake kemudi otomatis!" ucap Safira yang sudah tidak tahan.


"kenapa, sayang? apa kamu takut?" tanya Fajri mengernyit.


Ia sengaja menggunakan kemudi otomatis, agar bisa memeluk Safira sepanjang perjalanan.


"Apa, kakak gak merasa, kalau tanganku sudah gemetaran?" ketus Safira sambil memperlihatkan tangannya.


"eh, baiklah. Maafkan, Aku!"


Fajri mematikan kemudi otomatisnya dan mengendarai mobil itu dengan harti-hati, sambil menggenggam tangan Safira.


"Kak?"


"iya, sayang?"


"Aku merasa, raut wajah Ivanna berubah tadi. Apa kakak tidak memperhatikannya belakangan ini?" tanya Safira lirih.


Fajri terdiam, ia juga merasakan hal yang sama.


"Sepertinya, Dede merasa waktuku untuknya akan berkurang, jika kita menikah nanti!" ucap Fajri menghela nafasnya.


"Terus gimana?"


"Aku akan berusaha adil untuk kamu, Dede, dan Bunda! Semoga saja sepertiitu, Soalnya belum lagi menikah, perasaanku sudah tidak tertahankan lagi, ketika melihatmu!" ucap Fajri tersenyum genit.


"ish!" Safira memukul lengan Fajri pelan, dengan wajah yang merona.


"heheh. Apa mau pulang ke panti?"


"Iya, boleh, kak!"


"Nanti aku akan ngomong sama Ibu tentang acara kita besok. Kamu gak usah memikirkan apapun, karna aku akan mengaturnya. Tapi untuk pernikahan, aku serahkan semuanya kepada kamu, Bunda dan Dede, terserah kalian mau membuat pesta itu seperti apa!" ucap Fajri tersenyum.


"iya, kak!" Safira bernafas lega karna Fajri memberikannya kesempatan untuk ikut dalam merancang pernikahan mereka.


"Safira?" panggil Fajri lembut.


"iya, kak?"


"coba panggil, Aku menggunakan panggilan sayang!" ucap Fajri tersenyum jahil.


"a-aku harus manggil apa, kak?" ucap Safira gugup.


"apa saja!"


"a-aku harus memikirkannya terlebih dahulu, kak!" Safira menunduk dengan wajah yang merona.


"Aku maunya sekarang, sayang!"


"nan-nanti saja! setelah menikah!"


"yakin?" tanya Fajri memastikan.


"oke, kita akan menikah 1 minggu lagi!" sambungnya.


"Kak!" teriak Safira terkejut.


"Aku kaget, sayang!" ucap Fajri cemberut.


"Kakak, jangan bercanda!" teriak Safira kesal.


"Aku gak bercanda, Aku serius!" ucap Fajri serius.

__ADS_1


"ah, capek ngomong sama kakak!" kesal Safira.


Ia memilih diam dan memalingkan wajahnya. Sementara Fajri berusaha untuk menahan tawa ketika melihat wajah sangar Safira.


Huh, dasar tuan banyak mau! apa gak mikir untuk mempersiapkan pernikahan hanya dalam waktu satu minggu? bikin kesal saja! Bunda Ngidam apa sih dulu waktu hamil, kamu kak?. batin Safira menggerutu.


Ah, bukankah dia terlihat mengemaskan dengan wajah sangarnya. Pantas saja, ayah sangat suka membuat Bunda kesal!. Batin Fajri tersenyum senang.


Hening, mereka hanya sibuk dengan fikirkan masing-masing. Hingga mobil Fajri berhenti di salah satu toko kue dan oleh-oleh.


"mau turun, sayang?" tanya Fajri.


"ngapain?"


"hmm? mau beli toko oleh-olehnya!" ucap Fajri dengan tampang polos.


"terserah, kakak deh! Aku kesal!" ucap Safira ketus dan melipat kedua tangannya di dada.


Fajri keluar dari mobil dengan menggunakan masker dan berjalan masuk ke dalam toko. Benar saja, ia membeli hampir sebagian isi toko dan meminta untuk mengirimnya malam ini juga ke panti, untuk cemilan anak-anak nanti.


Setelah membayar tagihan, Fajri mengambil beberapa macam kue dan membawanya menuju mobil.


"Mau kue, sayang?" ucap Fajri menyerahkan satu kantong kue dengan berbagai macam jenis.


"Mau!"


Safira segera membuka kantong itu dan memilih beberapa makanan. Ada mochi es krim, muffin coklat dan vanila, kripik pisang, pisang coklat, dan brownies coklat lumer.


"Kakak, mau yang mana?" tanya Safira.


"Itu, mochi aja, sayang!"


"Ini!" ucap Safira memberikan mochi ke tangan Fajri.


"huh, dasar modus!" ucap Safira.


Ia menyuapkan Fajri beberapa makanan, sambil mengobrol.


"Kakak, yakin mau ngomong sama Ibu sekarang?" tanya Safira mengusap mulut Fajri yang belepotan.


"yakin, sayang! aku bukan orang yang suka mempermainkan perkataan. Kalau iya, berarti, iya. Kalau gak, berarti gak!" ucap Fajri serius dan mengecup tangan Safira ketika berada di lampu merah.


"baiklah, semoga Ibu menerima kakak Nanti!" ucap Safira tersenyum.


"Aamiin. Lagian, siapa yang mau menolakku?" ucap Fajri bangga sambil mengusap rambutnya kebelakang.


"cih, apa aku batalkan saja lamaran, kakak?" tanya Safira menantang.


"yakin sanggup pisah denganku?" tanya Fajri menatap Safira lekat.


"hehehe, gak!" cengir Safira.


Fajri yang gemas, mengacak rambut indah itu hingga empunya kembali cemberut sambil memperbaiki rambutnya yang sudah berantakan.


Mobil kembali bergerak hingga berhenti di halaman panti setelah penjaga membuka pintu gerbang, bersamaan dengan mobil box yang membawa kue dari toko tadi.


"Apa ibu sudah tidur, sayang?" tanya Fajri menggenggam tangan Safira.


"Sepertinya belum, kak! yuk, kita masuk!" ajak Safira.


Betul saja, ketika mereka hendak mengetuk pintu, Ibu sudah lebih dulu membukakannya.


"Nak Fajri, Safira? kalian dari mana?" tanya Ibu mengernyit.


"Kami dari rumah, kak Fajri Bu!" ucap Safira mencium tangan ibu bergantian dengan Fajri.

__ADS_1


"Masuk lah dulu, nak!" ucap ibu membuka pintu.


"eh, itu mobil apa?" tanya ibu mengernyit.


"Biasalah, Bu. calon menantu Ibu ini memang aneh!" ucap Safira mendelik.


"Hus! gak boleh ngomong gitu!" ucap ibu yang masih memperhatikan beberapa orang menurunkan dus makanan di dekat dapur.


"Itu sedikit oleh-oleh, untuk adik-adik ku di sini, Bu! mohon diterima," ucap Fajri tersenyum.


"Apa gak sayang uangnya, nak? beberapa hari yang lalu, kamu juga mengeluarkan banyak uang untuk membeli makanan, sekarang juga membawa makanan lagi!" ucap ibu merasa tidak enak.


"Mereka adik-adik Safira, Bu. Berarti mereka juga adik-adik, Aji," ucap Fajri tersenyum.


"Tapi, nak!"


"Aji mohon, jangan menolak pemberian, Aji, bu!" ucap Fajri memohon.


"Baiklah, Tapi jangan terlalu sering. Bagi juga untuk panti yang lain, nak!" ucap Ibu pasrah.


"iya, Bu!"


Suasana menjadi hening dan Fajri tiba-tiba saja merasa grogi. Peluh keringat mulai menyeruak keluar dari pori-porinya.


"Apa, kakak baik-baik saja?" tanya Safira khawatir dengan menggenggam tangan Fajri lembut.


"hmm? i-iya, Aku baik!" ucap Fajri.


"I-ibu?" panggil Fajri lirih.


"iya, nak?"


"A-Aji ingin mengatakan sesuatu!" ucap Fajri semakin gugup.


Entah mengapa ia merasa sangat gugup dan grogi ketika berhadapan dengan orang tua angkat kekasihnya ini.


"Iya, bilang saja, apa yang mau, Nak Fajri katakan!" ucap ibu mengernyit.


Hehehe, baru kali ini aku melihat CEO gugup. Aaaa, kakak terlihat mengemaskan dengan wajah seperti itu!" Batin Safira meringis sambil menatap Fajri.


"A-Aji, bermaksud untuk melamar Safira, bu!" ucap Fajri dengan keringat yang mulai menetes.


"Melamar, Safira?" tanya ibu mengernyit.


"i-iya, bu!" ucap Fajri.


"Apa, nak Fajri yakin memilih Safira untuk di jadikan istri?" tanya Ibu terkesiap.


"Aji yakin, Bu! Aji janji akan membahagiakan, Safira sampai maut menjemput, Aji!" ucap Fajri menatap Ibu dengan raut wajah penuh keyakinan.


Walaupun di sertai dengan keringat yang menetes dan jantung yang berdetak lebih kencang. Begitu juga dengan Safira, ia sangat mengenal bagaimana Ibu yang sudah membesarkannya dari kecil ini. Jantungnya juga ikut berdetak lebih kencang karna merasa takut, jika ibu menolak lamaran Fajri.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


Doble up.


Jangan lupa penasaran 😁😁


Kalau banyak yang ngasih Bunga, vote, koment, dan like, Aku akan triple Update hari ini gais 😁😁😁


Kuy laaaaah 😍😍😍


#typonya belum aku revisi πŸ˜πŸ˜…

__ADS_1


__ADS_2