
Namun ketika hendak melangkah, Fajira tak sengaja menyenggol seseorang yang sedang menatapnya tanpa berkedip.
BRAAK!!
Seorang siswa tak sengaja menabrak Fajira, karna ia kesulitan membawa beberapa buku yang akan ia gunakan untuk belajar nanti.
Bu-bunda Fajri? mampus aku!. bathin siswa laki-laki dengan rasa takut yang perlahan menyeruak.
Matanya membola ketika melihat Fajira berjarak semakin dekat dengannya.
"Kamu gak papa, Nak?" tanya Fajira sambil mengumpulkan kembali buku milik siswa yang masih berceceran di lantai.
"Maaf ya, Tante gak lihat kamu di belakang tadi" ucap Fajira lembut dan menyerahkan buku itu.
"eh gak-gak papa tante, A-aku juga yang salah kok. Kalau gitu aku..." ucapnya takut dan terbata.
"bunda" panggil Fajri dari belakang.
"iya sayang?"
Pria kecil itu mengernyit, ia membenci laki-laki yang ada di hadapan bundanya.
"Abang kenapa dekat-dekat sma bunda, Aji?" ucap Fajri ketus dan berdiri di hadapan Fajira.
"Aji. kok ngomongnya seperti itu nak?" tanya Fajira mengernyit.
"Dia itu jahat Bunda! Bunda pulang ya, nanti Bunda di jahatin sama dia" ucap Fajri lembut ke arah fajira.
Ibu muda itu mengernyit, apa anaknya sering mendapatkan kekerasan saat di sekolah? sepertinya ia harus menemui wali kelas Fajri setelah ini.
"apa Aji sering di jahatin sama abang ini?" tanya Fajira serius.
"cuma sekali Bunda, waktu dia bilang Aji gak punya ayah!" Fajri menatap tajam siswa itu.
Fajira juga ikut menatap anak laki-laki yang sudah pucat pasi karna ketakutan mendengarkan aduan dari Fajri.
"dia juga sering jahat sama anak yang lain Bunda. Jadi Bunda pulang saja ya, Nanti Bunda di jahatin juga sama dia"
"Abang kenapa keluar sayang?" tanya Fajira lembut sambil mengalihkan percakapan Fajri.
"Hehe abang lupa minta jajan bunda" ucap Fajri tersenyum sambil menampung tangannya.
"bukannya Abang punya credit card?"
"Abang tinggalkan di rumah tadi, bunda"
"ya, sudah" Fajira mengeluarkan satu lembar uang 50 ribu dan menyerahkannya kepada pria kecil itu.
"wah, apa uang jajan Aji naik Bunda?" Fajri menerima nya dengan berbinar.
"haha jangan di habiskan, tabung sebagian ya nak" Fajira mengelus kepala Fajri lembut.
__ADS_1
"iya Bunda terima kasih. Aji masuk dulu ya. Bunda habis ini pulang! jangan ngomong lagi sama dia"
"Awas ya kalau abang macam-macam sama Bunda Aji" Ancamnya sebelum melangkah masuk kembali ke kelas.
Fajira menatap bocah laki-laki yang terlihat berjalan mundur perlahan. Namun ibu muda ini hanya membiarkan anak itu pergi begitu saja. Karna ini bukan wewenangnya untuk menghakimi murid di sekolah.
Sepertinya nanti aku memang harus menemui ibu Rully untuk membicarakan masalah anak itu.
Fajira memilih untuk segera pulang, karna waktu semakin mepet untuk mengikuti seminar online nanti.
"kita pulang pak"
"baik nyonya"
Mobil bergerak dengan kecepatan sedang menuju pulang ke kediaman Dirgantara. Fajira membuka ponselnya untuk membaca kembali proposal yang akan di uji nanti.
"huft... bantu Bunda ya de!" ucap Fajira sambil mengelus lembut perutnya.
Perlahan mobil berhenti di halaman mewah itu. Fajira segera turun dan mempersiapkan segala sesuatu yang ia perlukan nanti.
πΊπΊ
"dengan ini kami menyatakan bahwa proposal ananda Fajira Hanindya di terima dengan syarat yang sudah di jabarkan sebelumnya. Selamat memasuki dunia revisi, semoga keinginan ananda untuk tamat dalam waktu 3 tahun ini bisa terwujud. aamiin" ucap pembimbing Fajira setelah hampir satu jam ia melakukan tanya jawab mengenai proposal yang akan menjadi langkah awal pembuatan skripsinya.
"terima kasih banyak buk, mohon bantuan dan bimbingannya agar skripsi saya bisa lancar dan sesuai dengan yang semestinya"
"baiklah, mungkin bisa kita akhiri seminar kita pada pagi hari ini. Jaga kesehatan karna ananda dalam keadaan hamil. Jangan sampai terlalu stres karna memikirkan skripsi ananda. Selamat pagi"
"terima kasih banyak buk, selamat pagi"
Senyum Fajira terukir indah di bibirnya. Ia bersyukur karna bisa menjawab semua pertanyaan yang di ajukan oleh dua orang penguji proposalnya kali ini.
"Hah, aku harus segera menghubungi Mas Irfan"
Ia mengambil ponselnya dan segera mendial nomor Irfan disana. Namun hingga dering berakhir, Irfan tak kunjung juga mengangkat panggilan itu.
"apa Mas Irfan sibuk banget? Lebih baik aku masak dan membawakannya makan siang" ucap Fajira senang.
Ia segera bergegas untuk mengganti baju menggunakan pakaian biasa yang ia kenakan di rumah. Daster dengan harga selangit membalut tubuhnya yang mulai berisi itu.
Dengan perut yang sudah terlihat menonjol, Fajira melangkah dengan hati-hati menuju dapur dan memasak makanan kesukaan suaminya.
Ia di bantu oleh beberapa ART untuk menyiapkan beberapa bahan masakan yang dibutuhkan untuk membuat Rendang dan Ayam rica-rica.
Setelah kurang lebih selama satu setengah jam ia memasak. tepat pada pukul 11.30 Fajira segera bersiap untuk pergi menuju kantor suaminya.
"eh tapi apa Mas Irfan ada di kantor hari ini? apa dia sudah balik dari pinggiran kota?"
Ia kembali merogoh ponselnya. Tepat pada dering pertama, Irfan segera mengangkat panggilan itu.
"halo sayang. Maaf ya tadi aku lagi kerja, gak sempat megang ponsel" ucap Irfan penuh dengan rasa bersalah.
__ADS_1
"iya, sayang. Gak papa. sekarang kamu dimana?"
"aku di jalan menuju kantor sayang. Ada apa cinta?"
"aku mau mengantarkan makan siang untuk kamu mas"
"cieee yang mau ngaterin suami makan siang nii ya,. Aku tunggu sayang. Hati-hati ya heheh" ledek Irfan tanpa mengurangi rasa senang di hatinya.
"ih..., kamu juga hati-hati, Sayang"
Fajira segera masuk ke dalam mobil setelah mematikan panggilannya. Ia segera bergegas pergi ke kantor irfan nan megah itu. Senyum manis tak henti mengembang di bibirnya. Ia sangat tidak sabar untuk menceritakan kebahagiaan yang ia dapat hari ini kepada Irfan.
Ia melangkah sedikit lebih cepat karna ingin segera bertemu dengan Irfan.
"Hati-hati Nyonya" teriak pak sakti melihat Fajira.
"hehe gak papa, Pak. Maaf ya, aku masuk dulu"
"Hati-hati nyonya!" ucap Pak sakti memelas.
"baik lah pak" Fajira tersenyum dan kembali berjalan perlahan menuju lift. Ia segera menekan angka 7 dimana ruangan suaminya berada.
Semua karyawan memandang Fajira dengan dengan heran, tidak biasanya ibu CEO itu terlihat sangat senang ketika berkunjung ke kantor. Mereka juga ikut menyapa Fajira dan di balas ramah oleh ibu muda itu.
Tiing...
lift terbuka, ia kembali berjalan semakin mendekat kearah ruangan Irfan. Tanpa mengetok pintu, Fajira langsung masuk begitu saja sambil berteriak.
"Maaaas, Aku datang sayang. Eh" ucapnya terkejut ketika mendapati ada beberapa orang di dalam ruangan itu.
Mereka menatap Fajira yang sudah merona malu. Iaasih berdiri mematung di pintu masuk sambil membawa tantang modern yang berisi makanan.
"eh maaf mengganggu. Saya permisi dulu" Fajira perlahan mundur dan hendak keluar.
"Sayang mau kemana?" cegah Irfan
"a-aku mau keluar Mas. Kamu masih ada tamu"
"Sini sayang, masuk aja gak papa"
"beneran?"
"iya sayang"
Fajira perlahan masuk kedalam ruangan itu dan duduk di sebelah suaminya. Irfan tersenyum manisenatap perempuan yang sangat terlihat cantik dengan wajah yang merona.
"sayang kenalkan dia Bayu Hamish orang tua dari Sherly Hamish"
deg...
"..."
__ADS_1
πππ
TO BE CONTINUE