Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
63. Aku Percaya Padamu, Mas


__ADS_3

...WARNING TERDAPAT ADEGAN 21+...


...BOCIL SILAHKAN SKIP, TAPI JIKA INGIN MEMBACA, AUTHOR TIDAK BERTANGGUNG JAWAB JIKA TERJADI BANJIR DAN GUNUNG MELETUS DI DAERAH SEKITAR....


🌺🌺


Seorang pria tampan sedang berada di club malam ternama di kota itu. Suara dentuman musik yang sangat keras menggema diseluruh ruangan. Ia menatap nanar di sekeliling berharap ada sesuatu yang bisa menghiburnya malam ini.


Fajira!... Bukankah kau mengatakan sedang berjauhan dengan suamimu? Sementara laki-laki itu sudah hampir satu tahun pindah ke kota ini. Apa dia memaksamu untuk kembali atau memang ada masalah di antara kalian? kenapa kau malah memilih dia dari pada aku. Kau tidak akan pernah bahagia dengan predator itu Fajira.


Kraak!!!


Ia meremas gelas yang tengah di pegangnya hingga pecah. Mata elangnya yang tajam, membuat perempuan berfikir dua kali ketika ingin mendekati laki-laki itu. Perlahan tangannya mengeluarkan darah bekas sayatan pecahan beling, namun tidak sedikitpun ia hiraukan. Fikirannya berkelana mencari cara bagaimana Fajira bisa berada dalam genggaman tangannya.


Gue gak akan pernah membiarkan kau bahagia Fajira. Kau lihat saja nanti.


Ia kembali memesan minuman haram itu, berharap segera melupakan masalah dan menemukan cara baru untuk mendapatkan wanita yang di cintainya.


🌺🌺


Sementara di kediaman utama Irfan, Fajri sudah lebih dulu terlelap selepas makan malam tadi. Sementara pengantin baru itu memilih untuk duduk di balkon sambil menikmati suasana malam yang terasa sangat romantis.


Fajira bersandar di dada bidang Irfan yang selalu membuatnya nyaman berada di sana, sementara Irfan masih setia mengelus lembut kepala wanita yang paling ia cintai.


"sayang," panggil irfan lembut.


"iya mas,"


"Kamu tau kalau trauma itu gak akan bisa sembuh?,"


"iya ku tau!"


"Tapi kamu bisa mencoba untuk berdamai dengan trauma yang kamu alami saat ini, sayang,"


"iya aku sedang berusaha Mas,"


"Apa kita perlu praktek?," ucap Irfan genit, tangannya sudah mulai berkelana kemana-mana.


"Mas, Aku belum bisa," cegah Fajira.


"coba dulu sayang, Apa kamu gak kasihan sama aku yang selalu horny walaupun hanya melihat kamu bernafas?,"


"itu kamu saja yang mesum Mas," Fajira bangkit dari duduknya dan melangkah ke dalam meninggalkan Irfan di sana.


Namun belum lagi melangkah, Irfan sudah menarik tangannya sehingga Fajira kembali terduduk di atas pangkuan Irfan. Dengan posisi yang sangat intim dan romantis, pria tampan itu segera memanfaatkan kesempatan untuk mencumbu istrinya lebih dalam.


Irfan lagi dan lagi melahap bibir cerry Fajira dan memainkannya dengan panas. Perempuan yang memang menyukai manisnya bibir Irfan itu tidak menolak sedikitpun, bahkan saat ini ia sudah lebih mahir dari sebelumnya dan berhasil membuat Irfan tersenyum senang.


Tangan nakal Irfan mulai beraksi, berusaha untuk membuka kancing piama Fajira, perlahan tapi pasti dan tanpa di sadari oleh istrinya. Mereka masih berpagut mesra menyalurkan hasrat masing-masing, bahkan Fajira seolah tidak ingin melepaskan Irfan begitu saja. Hingga tanpa sadar bagian atas wanita cantik itu sudah terbuka lebar menyisakan kaca mata hitam berenda yang terlihat kontras dengan kulit putih bersih miliknya.


Irfan dengan nakal, terus berkelana hingga menyentuh gundukan benda kenyal dan memegangnya lembut. Karna terlena dengan sentuhan Irfan, bahkan Fajira tidak menyadari kondisinya saat ini.


Irfan meraba perlahan tubuh istrinya, berusaha agar Fajira tidak menyadari apa yang sedang terjadi saat ini.


"enghhh..." lenguh Fajira terdengar membuat mereka terkejut.

__ADS_1


"sa-sayang. Ap-apa boleh kita lanjutkan?" lirih Irfan


"ma-mas, A-aku hhmph..."


Irfan kembali melu.mat bibir merah Fajira dengan lembut agar istrinya bisa lebih santai. Fajira meremas rambut bagian belakang Irfan ketika bayangan itu kembali hadir.


"mas..." panggil Fajira.


"aku gak akan kasar sayang. Aku mohon"


"Aku takut" lirih Fajira.


"sayang... Tatap aku, Aku gak akan kasar. Percaya padaku" Irfan menatap lekat mata Fajira dengan tatapan memohon.


"Mas..."


Irfan segera membaringkan Fajira di kursi itu dengan lembut. Ia menatap Fajira lamat dengan tersenyum manis.


"kamu gak akan tau rasanya jika tidak mencoba kembali sayang. Boleh ya?"


"mas, Aku takut"


"perlahan ya sayang"


Irfan kembali mencu.mbu Fajira dengan lembut. Irfan yang sudah sangat tidak tahan itu berusaha untuk mengendalikan dirinya agar tidak kembali menyakiti Fajira. Ia melancarkan aksinya dengan melucuti pakaian yang di kenakan oleh Fajira dan dirinya. Beruntung balkon itu sedikit lebih tertutup sehingga aman dari mata jelalatan dan mencari sesuatu yang menarik untuk di lihat.


"mas dingin," lirih Fajira.


Tanpa menunggu lama Irfan segera menggendong Fajira dan membaringkannya di atas sofa yang membelakangi tempat tidur.


"Jangan berisik ya sayang," bisik Irfan dan menjilat telinga Fajira dan sukses membuat perempuan manis itu meremang.


Akhirnya aku mendapatkan kamu sayang, istriku.


Fajira berusaha untuk menahan trauma yang kembali menghantui dirinya. Dengan nafas yang menderu ia mengikuti instruksi Irfan untuk tetap berfikit positif dan mencoba untuk menghalau sekelebatan bayangan trauma itu.


"mas...," lirih Fajira tertahan ketika akan merasakan puncak kenikmatan setelah beberapa lama.


"keluarkan sayang. Terus berfikir jika ini tidak akan sakit. Cukup rasakan kenikmatannya" ucap Irfan lirih di telinga Fajira.


"enghhh..." erang Fajira menggelinjang ketika cairan panas itu mengalir dari dalam goa sucinya.


"gimana sayang? Kita lanjut ya?


"aku percaya padamu, Mas."


Fajira memejamkan matanya menahan hasrat yang membuncah dan menginginkan lebih.


Irfan mengarahkan pisang laras panjangnya menuju lembah yang sudah ia cari selama ini. Goa yang menjadikannya laki-laki bajing*an yang tidak pernah puas dengan satu perempuan.


Namun kali ini ia bertekad, hanya Fajira tempatnya pulang, hanya Fajira perempuan terakhir yang akan ia sayangi dan cintai hingga akhir hayatnya nantinya.


"mas sakit" Lirih Fajira mendorong tubuh Irfan yang berusaha menerobos dan menembus sempitnya jalan untuk memasuki goa suci itu.


"tahan sayang, Ini sebentar saja. Gak papa ya, sakitnya cuma sebentar" ucap Irfan mengelus kepala Fajira lembut.

__ADS_1


"aku takut mas," ucap Fajira di kala kelebatan bayangan trauma itu kembali hadir dalam fikirannya.


"gak papa sayang, Kamu nikmati saja ya"


"eumm..." angguk Fajira dengan badan yang bergetar.


"sayang coba lihat aku," Irfan tersenyum manis dengan mata sayunya.


"Aku, shhh.... akhhh...," lenguh Fajira ketika Irfan mulai bergerak di atasnya.


"sstt... nanti anak kita bangun sayang. Gimana apa kamu nyaman sayang?"


"enghhh... mas ssshhh,,," lenguh Fajira sambil mendorong tubuh Irfan.


"Halau rasa takutmu sayang. Aku gak akan menyakiti kamu. Yang tenang ya"


Irfan terus membisikkan kata cinta dengan sangat romantis sehingga membuat Fajira lambat laun mulai menikmati pergerakan suaminya yang lembut walaupun sesekali ia mendorong tubuh Irfan ketika bayangan itu kembali terlintas. Namun irfan dengan cepat memberikan ketenangan dan kenyamanan pada Istrinya.


Dengan lembut dan penuh kasih sayang, Irfan berusaha agar membuat Fajira nyaman dengan aktivitas yang mereka lakukan. Ia selalu berusaha agar trauma Fajira bisa di kendalikan untuk kedepannya.


Hingga lenguhan panjang Irfan mengakhiri pergulatan panas mereka malam ini. Sebenarnya Irfan masih belum puas dengan permainannya, namun mengingat kondisi Fajira yang sudah terkulai lemas, membuatnya menjadi tidak tega untuk meminta lagi.


"terima kasih sayang," Irfan mengecup lama kening Fajira.


"Mas, Beri jarak dulu. Aku gak kuat," lirih Fajira.


"Apa mau mandi sayang?,"


"Besok pagi saja. Tolong bajuku Mas. Aku mau istirahat,"


"iya sayang,"


Irfan mengambilkan baju untuk Fajira dan memperhatikan istrinya yang masih lemas, namun tidak ingin di bantu.


"Apa mau istirahat sayang?,"


"Iya mas,"


Tanpa menunggu lama Irfan segera menggendong Fajira menuju ranjang mereka. Membaringkan perempuan itu dengan perlahan, lalu ia mengambil tempat di sisi lain ranjang agar bisa memeluk dua malaikatnya dengan nyaman.


Fajira tersenyum manis menatap Irfan yang memancarkan rona bahagia. Ada kebahagiaan tersendiri dalam dirinya. Walaupun tidak maksimal yang terpenting ia bisa melayani Irfan denga baik, semampu dan se bisa dirinya.


Hingga mereka terlelap dengan saling memeluk satu sama lain.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE


Rakhania


Kisah seorang detektif cantik bernama Khayla yg menelusuri misteri kematian saudara kembarnya Khania.


Banyak rahasia yg akhirnya terkuak dari Khania yang telah menghilang selama satu tahun.


Apakah Khayla berhasil memecahkan misteri itu?

__ADS_1


Yuk simak kisah Khayla dalam Rakhania



__ADS_2