
"Fajira!" teriak seorang perempuan sebaya dengan ibu hamil itu.
Irfan dan Fajira menoleh, mereka mengernyit melihat seorang perempuan yang berusaha untuk menembus barisan penjagaan yang cukup ketat itu.
"lepaskan! saya ingin bertemu dengan saudara saya!" teriak perempuan itu.
"Fajira!. Tunggu Fajira!" teriaknya kembali.
"Siapa kamu? saya tidak kenal dengan kamu!" ucap Fajira ketus.
"jangan biarkan ada satu orang 'pun yang masuk ke dalam rumah ini!" tegas Fajira.
"Yuk, Kita masuk, sayang!" ajaknya kembali berjalan.
Irfan membantu Fajira untuk masuk ke dalam rumah dengan hati-hati. Sementara perempuan tadi hanya mematung dengan menahan kesalnya. Ia tidak menyangka Fajira yang dulu lemah dan sering ia tindas, bisa berubah tegas dan berwibawa. Pelet apa yang dia pakai? begitu fikir perempuan itu.
Ceklek....
Pintu terbuka, suasana rumah yang sudah lama ia tinggalkan masih terasa sama. Kehangatan yang pernah ia rasakan dulu mulai menyelimuti hatinya kembali.
Rindu! hanya satu kata untuk mewakili hati nya saat ini. Sepanjang langkah mereka masuk ke dalam rumah, Fajira hanya terdiam sambil mengamati beberapa bingkai foto yang masih terpajang di sana.
Ia menelisik keadaan sekitar, begitu bayak foto kenangan keluarganya. Apalagi ketika Ia Melihat senyuman habahagia orang tua dan adiknya yang tidak akan pernah pudar dari ingatan Fajira, dan kini masih terasa nyata. Walaupun hanya sekedar di dalam foto saja.
Semakin ia melangkah ke dalam, semakin air mata itu tidak lagi terbendung. Ia sangat merindukan orang tua dan adik kecilnya. Melihat tawa mereka, yang selalu menghiasi wajah tampan dan cantik itu. Mendengarkan ocehan dan teriakan sang ibunda setiap pagi untuk membangunkan seluruh anggota keluarga.
"Kakak, Adek, Ayah! bangun lagi! udah jam berapa ini? aduuuh!" teriak Bunda yang sudah kesal karna anak dan suaminya tidak kunjung bangun.
Sreek...
Tirai jendela terbuka lebar, Bunda sudah berada di dalam kamar anak-anaknya dan membangunkan Fajira dengan lembut, walaupun ia tengah menahan kesal.
"kakak, bangun lagi yuk! katanya hari ini akan ada ulangan kan?" ucap Bunda Fajira lembut.
"eh? iya bunda, lima menit lagi ya!" rengek Fajira yang masih mengantuk karna ia begadang semalaman untuk menyelesaikan tugas sekolahnya.
__ADS_1
"kakak begadang lagi, nak? Bunda 'kan sudah bilang, jangan terlalu di forsir belajarnya. Nanti kakak sakit malah gak bisa belajar!" ucap Bunda mengelus lembut kepala Putri sulungnya.
"Iya, Bunda! Kan kakak mau jadi dokter. Jadi harus rajin belajar dan menguasai banyak hal. Kakak pengen mewujudkan cita-cita bunda yang belum tercapai itu. Do'akan kakak terus ya, biar suatu saat nanti Bunda dengan bangga melihat kakak menggunakan jas kebanggaan para dokter!" ucap Fajira dengan semangat.
Ia tidak tau jika itu adalah hari terakhirnya untuk melihat wanita paruh baya itu.
"Iya, nak! Bunda selalu mendo'akan yang terbaik untuk anak-anak Bunda. Sudah sana mandi. Bunda mau bangunin adek dulu!" ucap Bunda dengan mata yang berkaca-kaca.
"Baiklah ibunda ratu, anakmu ini akan menjadi orang yang hebat di masa depan. Mempunyai rumah sakit gratis untuk orang kecil seperti kita!" ucap Fajira sambil berjalan dan berputar-putar menuju kamar mandi.
Semoga cita-cita mulia kamu bisa terwujud nak, teruslah menggapai mimpimu ada atau tanpa Bunda. Bunda bangga sama kakak.! bathin Bunda Fajira hanya bisa tersenyum di dan berdo'a di dalam hati.
Fikiran Fajira kembali berputar pada masa itu. Pandangannya nanar melihat foto keluarga yang di ambil beberapa hari sebelum kecelakaan itu terjadi. Foto terpajang dengan sangat besar di dinding yang menjadi saksi ratapan gadis 17 tahun yang baru saja kehilangan ke dua orang tuanya.
Memori yang penuh kebahagiaan itu terulang dan kembali berulang. Fajira berusaha untuk menatah tangisnya, namun sayang ia malah terisak ketika Irfan memeluk dan mendekapnya.
Ia sungguh sangat tidak sanggup berada di sini, namun harus bagaimana lagi, jika ia tidak mencobanya, maka hal seperti ini akan selalu terjadi.
"lepaskanlah sedih di dalam hati kamu sayang!" ucap Irfan lirih dan membuat tangis Fajira semakin menjadi.
Ia membawa istrinya menuju sofa yang berada tak jauh dari sana. Saat ini ia hanya bisa meminjamkan bahunya agar Fajira bisa melupakan kesedihan yang sudah ia pendam selama bertahun-tahun.
"bunda?" lirih Fajri yang mematung melihat Fajira yang tengah menangis.
"sini nak!" panggil Irfan.
Fajri mendekat, ia segera naik ke atas sofa. Dengan mata yang berkaca-kaca Fajri memeluk Fajira semampu yang ia bisa.
"Bunda?" panggil Fajri lirih.
"iya, sayang!" Fajira tercekat, ia segera mendekap Fajri dan Irfan bersamaan.
Hanya mereka yang ia punya saat ini. hingga beberapa saat, Fajira berusaha untuk menghentikan tangisnya.
"sudah, Bunda lapar. Kita makan yuk!" ucap Fajira terkekeh dalam tangisnya.
__ADS_1
Sesedih apapun dirinya, yang namanya makan tetap nomor satu. Mereka sama-sama tergelak melihat wajah sembab masing-masing.
"Bunda gak asik banget sih! Kan lagi sedih kenapa malah disuruh makan?" ucap Fajri cemberut.
"karna dengan makan, kita bisa kembali merasa senang dan bersyukur sayang," ucap Fajira tersenyum.
"Dulu Bunda sempat gendut setelah kehilangan Kakek, nenek dan Onty. Jadi Bunda selalu membeli makanan apa saja yang Bunda inginkan sampai uang Bunda habis. Dengan itu Bunda bisa sedikit lupa dengan kesedihan yang sedang Bunda rasakan" ucap Fajira tersenyum kecut.
"Bunda jangan sedih lagi ya! Bunda gak sendiri lagi, ada Aku, ada ayah dan dedek bayi. Ada Oma dan Opa juga," ucap Fajri menatap Fajira lembut.
"iya sayang. Yuk kita makan. Habis itu kita bisa istirahat sebentar!" ucap Fajira berusaha untuk berdiri di bantu oleh Irfan.
Mereka melangkah menuju ruang makan yang masih terlihat sama seperti dulu, walaupun bebebrapa bagian lainnya sudah ada yang di ganti dengan yabg baru.
"makan yang banyak, sayang! biar cepat besar" ucap Fajira mengambilkan makanan untuk Fajri.
"Terima kasih bunda"
"Sama-sama, sayang. Ayah juga makan yang banyak, biar cepat buncit! hehe" ucap Fajira terkekeh.
"iih, ayah gak mau buncit. Nanti gak tampan lagi!" delik Irfan.
"gak papa, biar Aji saja yang buncit. Biar Bunda makin sayang. Iya 'kan Bunda?" tanya Fajri sambil tertawa.
"iya, sayang. hehehe" ibu dan anak itu tertawa.
Sementara Irfan hanya bisa mendelik kesal, ketika Fajri dan Fajira berhasil menertawainya.
Siang itu mereka makan dengan lahap, walaupun suasana hati yang masih di dinding kesedihan.
Irfan memandang Fajira dengan sedih sekaligus bangga. Ia memiliki istri yang sangat kuat dan bisa bangkit dari keterpurukannya dengan baik. Walaupun tidak di pungkiri jika ia juga menjadi salah satu orang yang membuat hidup Fajira menderita.
Setelah makan siang, mereka beristirahat sejenak sebelum pergi mengunjungi makan kedua orang tua Fajira, dan berkeliling mengunjungi beberapa tempat yang menjadi tempat wisata tersembunyi di desa itu.
πΊπΊπΊ
__ADS_1
Maaf ya gais aku uploadnya lama. Alyu gak kuat untuk mengetik bab ini sekaligus. π
Jangan lupa tinggalkan jejak ya π