
Dalam tidur lelap Fajira, ia merasakan ada sesuatu yang berjalan dan menempel di kulitnya. Setengah sadar ia mengibaskan tangan agar bisa kembali tidur dengan nyenyak. Namun benda itu tidak berhenti menggerayanginya, sehingga memaksa Fajira untuk membuka mata dan melihat apa yang tengah mengganggu tidur lelapnua malam ini.
"Mas, Tangan kamu iih," lirih Fajira kesal ketika mengetahui bahwa Irfan adalah pelakunya.
"hmm... Aku pengen sayang," tangan nakalnya tetap menggerayangi tubuh sintal itu dan berhenti di salah satu bukit kenyal yang ada di sana.
"Mas, Aku ngantuk, capek juga. Kamu juga harus istirahat kan?"
"sebentar saja sayang. Boleh ya?"
"Ada Fajri disini mas!"
"Di sofa saja. Yuk."
Irfan bangkit dan menggendong Fajira perlahan. Agar pria kecil itu tidak terbangun dan tidak mengganggu aktivitasnya nanti.
"Mas, Aku lagi capek lo, ngantuk juga," rengek Fajira dengan wajah yang merona
"Tapi aku kangen. Apa dia menyentuhmu sayang?" Tanya Irfan setelah membaringkan Fajira di atas sofa
"hmm? Ada mas,"
deg...
"ka-kamu?" tanya Irfan dengan mata yang melotot.
"Dia cuma mengoleskan salep di tanganku saja. Jangan Cemas," Fajira mengusap rahang tegas itu dengan lembut sambil tersenyum.
"Ahh syukurlah. Kalau sampai kamu di sentuhnya macam-macam, akan aku potong perkututnya sampai habis," Tegas Irfan dan membuat Fajira bergidik ngeri.
"Kamu seperti yang berani saja, Mas," Delik perempuan cantik itu.
"berani dong, membunuh orang pun hmphh..." ucap Irfan terputus karna mulutnya sudah di bekap dengan tangan Fajira.
"Jangan ngomong seperti itu, Mas. Gak boleh"
"Maafin Aku sayang, muach... muach... Aku gak akan pernah membiarkan kamu di sakiti oleh siapapun. Aku pastikan ini terakhir kalinya kamu berada dalam bahaya," Ucapan Irfan menatap manik mata Fajira.
"Terima kasih. Terima kasih karna kamu datang di waktu yang tepat. Aku gak bisa membayangkan bagaimana keadaannya jika kamu telat sebentar saja,"
"Ini semua karna Fajri yang berhasil menemukan posisi kamu sayang. Aku juga merasa bersalah kepada uwak karna Aku gak minta izin kepadanya secara langsung untuk menikahi mu," ucap Irfan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Fajira.
"Iya, dia memang kesal sama kamu, Mas. Besok kita ke rumah Uwak ya. Apa kamu mau?"
"Iya sayang, Aku mau. Tapi tunggu beberapa hari lagi ya. Aku harus istirahat di rumah dulu"
"Kata Fajri tadi kamu masuk rumah sakit. Sakit apa?" Fajira membelai kepala Irfan lembut.
"Aku hanya gak bisa syok sayang. Jantung Aku juga lemah dari kecil. Hmm... Apa jantung Fajri baik-baik saja sayang?" tanya Irfan.
Fajira sedikit termagu mendengarkan penuturan Irfan. Perlahan tangannya bergerak menyentuh dada sebelah kiri Irfan dan mengusapnya pelan.
"Maaf..." ucap Fajira dengan mata yang berkaca-kaca.
"maaf kenapa sayang?"
"Karna aku pernah meminta kamu untuk menjauhi Fajri. Saat itu kamu masuk rumah sakit kan?"
"Gak papa sayang, Aku paham bagaimana perasaan kamu waktu itu. kita mulai semuanya dari awal ya"
__ADS_1
"iya Mas. Beruntung Fajri tidak ada riwayat penyakit bawaan"
"Syukurlah. Hmm... apa boleh kan kalau kita..." Irfan menatap Fajira sambil menaik-turunkan alasnya.
"kamu kan harus istirahat, Mas. lagian masa uji coba kamu belum selesai" dengus Fajira.
"kan kemarin kita udah mencobanya sayang. Ayo lah boleh ya" Rayu irfan mengecup leher Fajira hingga berbekas.
"Gak mau, Mas!" sentak Fajira ketika merasakan kecupan Irfan.
"iihh... sayang"
"gak boleh" Fajira menahan mulut Irfan ketika hendak menciumnya kembali.
"hiks... Bunda" Rengek Fajri terbangun dari tidurnya.
"Bunda di sini sayang" Ucap Fajira menyembulkan kepalanya di balik sofa.
"Bunda kenapa di sana?, sini Aji mau di peluk" rengeknya kembali.
"Iya sayang. Mas awas dulu ih"
"sayang!" panggil Irfan melongo melihat Fajira yang lebih memilih Fajri dari pada bermain bersama dirinya.
"Sini, Mas. Kamu mau tidur di sofa ya? boleh kok hehe" ucap Fajira tergelak.
"iihh..." Irfan berdecak kesal, namun ia tetap melangkah ke arah ranjang dan memeluk Fajira dari belakang.
Dua laki-laki possesif itu tidak akan membiarkan Fajira lepas barang sebentar saja, karna pelukan dan usapan lembut dari Fajira membuat mereka merasa nyaman dan bagaikan candu untuk mereka. Keluarga kecil itu terlelap dengan saling memeluk satu sama lain. Menyalurkan kehangatan yang penuh dengan kasih sayang.
Hingga pagi menjelang, Mereka masih terlelap dalam tidurnya masing-masing. Walaupun bibi sudah beberapa kali membangunkan, namun keluarga kecil itu masih betah berada di atas ranjang besar itu.
"engh..." lenguh Fajira terbangun.
"Astoge udah siang! Mas, Fajri bangun lagi, sudah siang!" Pekik Fajira ketika melihat waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang.
"engh... sebentar lagi Bunda" ucap Fajri kembali memeluk Fajira yang masih berada di dalam kukungan mereka.
"bangun lagi sayang, Bunda mau ke kamar mandi" Ucap Fajira menggeser ke dua tangan yang masih memeluknya
"Maas!! bangun ih... Aku mau ke kamar mandi" rengek Fajira yang merasa ingin membuang air.
"Hmm sebentar"
"Maas!! Ayo lah, Aku kebelet ini"
"Ya sudah"
Fajira segera berlari menuju kamar mandi dan membuang hajatnya. Namun ketika hendak keluar, ia mendapati Irfan dan Fajri yang sudah membuka bajunya dan menyisakan daleman saja.
Mata Fajira membola ketika melihat Irfan dengan santai berjalan di depannya sambil mengaruk kepala yang terasa gatal dan menguap.
"Sayang mandiin ya" ucap Irfan meletakkan Fajri di dalam Bath tube dan menyalakan keran air.
"ka-kamu mandiin Fajri dulu mas"
"Aji mau mandi sama bunda" Ucap Fajri masih setengah sadar.
"Ia sini mandi sekalian sayang. buka Bajunya" ucap Irfan dengan senyum smirk khasnya.
__ADS_1
"Ia Bunda, Sini Aji mau mandi sama ayah sama Bunda juga" Ucap pria kecil itu antusias.
Fajira yang memang tidak bisa menolak ke inginkan Fajri, hanya bisa pasrah dan membuka bajunya dan menyisakan daleman saja.
Irfan tidak hentinya tersenyum senang karna segudang kejahilan sudah muncul di dalam benaknya. Fajira yang sudah malu, hanya fokus untuk memandikan Fajri sambil berbincang dengan putra kecilnya. Sementara Irfan yang merasa tidak di hiraukan malah mencari cara agar Fajira bisa memperhatikannya.
"Bunda, Ayah gak bisa menggosok kaki. Gak sampai, tolong ya bunda" ucap Irfan tersenyum jahil.
"Sabar ya Ayah, Bunda lagi mandiin pangeran kecil Bunda yang tampan ini dulu" delik Fajira ke arah Irfan.
Berapa lama mereka bermain air bersama dan di bumbui dengan segala macam tingkah Irfan yang membuat Fajira kesal setengah mati.
"Aji udah selesai bunda" Ucap Fajri berdiri dan beranjak dari dalam Bath tube.
Namun Irfan terpekik karna Fajri tanpa sengaja menginjak sesuatu yang mulai melambai di bawah sana.
"Arrrkkhh.... Aji" Suara Irfan tertahan, membuat pria kecil itu terkejut.
"A-ayah kenapa?"
"eng gak papa sayang. Aji pakai baju sendiri ya nak, biar bunda bantu Ayah mandi dulu. Terus cari Oma ke bawah ya" ucap Irfan dengan wajah yang memerah. Sementara Fajira mengernyit melihat Irfan yang menahan rasa sakit.
"Mas, Kenapa?"
"Adikku ke injak sama Fajri" lirih Irfan
"kamu serius?" pekik Fajira.
"te-terus itu bagaimana?" sambungnya polos.
"Bantu ya sayang, tapi tunggu Fajri keluar dulu"
"ha? i-iya"
Fajri masih melongo di sana melihat Irfan kesakitan.
"Ayah" lirih Fajri hampir menangis.
Fajira segera membantunya untuk mandi dan mengambilkan baju pria kecil itu.
"nanti langsung cari Oma ya sayang. Kalau Oma bertanya, Bunda lagi bantuin ayah tadi. Soalnya ayah tadi sakit ya nak"
"iya Bunda. Tapi apa ayah gak papa?" ucap Fajri sedih
"gak papa sayang. Jangan sedih ya. muach muach... Bunda mau bantuan Ayah dulu sayang"
"iya bunda" Fajri berlalu dari kamar dan Fajira segera berjalan kembali ke kamar mandi.
"Mas"
"Iya sayang, sini bantu aku" lirih irfan
"bantu gimana? apa masih sakit?"
"masih sayang"
Siang itu Irfan mengerjai Fajira hingga ia puas dan juga bentuk balas dendam karna penolakan Fajira semalam.
πππ
__ADS_1
TO BE CONTINUE
π