
"Buna, dede ikut ya! kan kita belum selesai belajarnya!" rengek Ivanna.
"gak boleh, sayang! belajar sama abang dan ayah dulu ya, Bunda gak lama kok! nanti kita belajar lagi ya, Nak!" ucap Fajira berjongkok dan mengecup wajah Ivanna dengan gemas.
Ia segera meraih jas putih dan tas jinjingnya, melangkah keluar menuju mobil yang sudah siap untuk berangkat.
"dadah, sayang! Belajar sama abang duku ya nak! nanti Bunda cepat pulang. Abang jagain Dede ya, sayang! muach. Love You honey! Mas, aku pergi dulu!" Fajira berpamitan sambil berjalan cepat agar tidak terlambat untuk pergi ke rumah sakit.
Ivanna menatap Fajira dengan sedih, ia masih ingin belajar bersama dengan ibundanya. Namun apalah daya, baru kali ini ia merasa sedih di tinggal kerja oleh bidadari cantik itu.
"Yuk, kita masuk, sayang!" ajak Fajri dan menggendong Ivanna.
"Dede mau bobo aja, bang!" ucap Ivanna lirih.
Ia menyembunyikan wajah sedihnya di ceruk leher Fajri. Mereka segera menuju ruang keluarga agar bisa beristirahat di sana.
"bobo di sini saja ya, sayang?"
"iya, bang. Tapi peluk ya!" ucap Ivanna sedih.
"iya, sayang! duh tayang abang ini!" Fajri segera memeluk adik kecilnya yang terlihat sedih karna di tinggal oleh Fajira.
Irfan melihat anak-anaknya dengan gemas, ingin rasanya ia ingin menggigit pipi dua bocil itu karna saking gemasnya. Ia ikut menemani mereka tertidur di depan televisi yang berukuran besar itu. Ia menyalakannya, mencari film kartun, berharap bisa menghibur Putri kecilnya yang terlihat sedih.
...πΊπΊ...
"Saya mungkin agak lama, Pak! gak papa 'kan kalau bapak menunggu?"
"gak papa, Nya! saya akan tunggu di dekat ruangan, Nyonya saja. Jika anda membutuhkan sesuatu, Nyonya bisa memanggil saya!" ucap Pak Sakti memberhentikan mobilnya di loby rumah sakit.
Ia segera berjalan menuju ruangan pasien khusus penderita penyakit Jantung. Bersama dengan beberapa orang perawat ia berjalan tergesa-gesa agar tidak berakibat fatal.
Setelah ia menyelesaikan KOAS nya, Fajira langsung mengambil pendidikan profesi spesialis jantung dan lulus dalam waktu dua tahun.
Ia segera masuk ke dalam ruangan itu tanpa memperhatikan keluarga pasien yang sudah menunggu dengan cemas. Ia melihat seorang laki-laki paruh baya yang sudah mengalami sesak nafas bahkan sudah sulit untuk bernafas sambil memegang jantungnya.
Fajira segera melakukan penanganan dengan cekatan sembari berharap agar pasiennya bisa sembuh dari penyakit yang sedang di derita.
"sepertinya ini sudah sangat parah, Dok!" ujar perawat yang membantu Fajira menangani pasien yang tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda baik.
"iya sepertinya pasien membutuhkan kan operasi dengan segera. Siapkan semuanya jika keluarga pasien setuju!"
"baik, dokter!"
Hampir Satu jam ia menangani pasien itu, dengan peluh yang menetes. Fajira bisa bernafas lega ketika semua masalah bisa di atasi, sekarang ia harus menyusun kata-kata yang akan ia sampaikan kepada keluarga pasien.
__ADS_1
"Sus, setelah ini pindahkan pasien ke dalam ruangan khusus, dan lakukan pemeriksaan secara berkala untuk meninjau keadaan pasien!" ucap Fajira.
Ia mencuci tangannya dan menggunakan handsanitizer agar lebih higienis.
Huft...
Ini adalah hal yang sangat berat untuk dilakukan, memberitahukan bagaimana keadaan pasien kepada keluarga mereka. Sungguh ia sangat tidak sanggup melihat wajah sedih dan putus asa dari mereka. Beda lagi jika ia menyampaikan kabar baik dari pasien yang mengalami peningkatan dalam fase penyembuhannya.
Ceklek...
Pintu terbuka, keluarga pasien sudah berdiri di depan pintu dengan perasaan cemas. Fajira melangkah keluar, matanya mengerjab melihat siapa yang tengah berada di hadapannya saat ini.
"kak, Vino?" panggil Fajira.
"Jira?" Vino terkesiap melihat perempuan yang pernah mengisi hatinya.
"jadi yang di dalam itu?"
"Papa, Itu Papaku! bagaimana keadaannya Ji?" tanya Vino tidak sabar.
Bukannya Kak Vino punya rumah sakit sendiri? kenapa malah berobat kesini?. bathin Fajira.
"begini, pasien sebentar lagi akan kami pindahkan ke dalam ruangan khusus agar bisa di periksa secara berkala. Untuk saat ini kondisi pasien masih belum stabil. Terjadi penyumbatan pada aliran darah menuju jantung, sehingga kami menyarankan untuk pemasangan ring pada jantung pasien!" terang Fajira.
"Penyumbatan? Ring jantung?" tanya Vino tidak percaya.
"Jira! tunggu, Ji!" panggil Vino.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Fajira formal.
"Bisa kita bicara sebentar? kamu jangan berfikir macam-macam, kakak sudah menikah!" ucap Vino.
"maaf, justru karna anda sudah menikah, bukankah anda harus menjaga hati dan perasaan istri anda? Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu!" ucap Fajira dingin.
Ia segera pergi menuju ruangannya untuk mengambil beberapa berkas dan pekerjaan yang lain untuk di bawa pulang ke rumah.
Irfan memang membatasi pekerjaan Fajira dengan dalih anak-anak sangat membutuhkannya di rumah. Sehingga Fajira hanya bisa pasrah dengan keputusan suami tampannya itu. Ia akan dinas di rumah sakit ketika mendapatkan panggilan darurat atau ada pekerjaan yang memang harus ia kerjakan dan tidak bisa di wakilkan oleh orang lain.
"kita pulang, Pak!" ucap Fajira.
"baik, Nya!"
Mobil bergerak meninggalkan rumah sakit mewah itu menuju kediaman Dirgantara. Fajira menghela nafas beratnya, ia harus menyusun kata-kata, untuk menyampaikan tentang apa yang terjadi hari ini kepada Irfan, .
Setelah 15 menit, mobil berhenti di halaman rumah, Fajira keluar dari mobil dan segera mencari keberadaan anak dan suaminya.
__ADS_1
Mata Ivanna berembun, melihat mereka tengah tertidur sambil berpelukan dengan Ivanna berada di tengah-tengah antara Irfan dan Fajri.
Ia segera melangkah menuju kamar dan membersihkan diri, lalu ikut bergabung di dalam lingkaran kehangatan itu.
Ia tidur di belakang Fajira sambil mengamati satu-persatu wajah mereka. Hanya satu kata yang bisa ia ucapkan hingga hati ini, Bersyukur! ia sangat bersyukur mendapatkan keluarga yang hangat dan saling melindungi satu sama lain.
Setelah puas, Fajira segera menyusul anak dan suaminya menuju alam mimpi yang begitu indah. Bak berada di syurga, begitulah deskripsi mimpi mereka pada pagi menjelang siang itu.
...πΊπΊ...
Irfan menatap Fajira tajam setelah mendengarkan cerita istrinya itu. Wajahnya memerah karna menahan amarah, Ia mencengkram seprai agar tidak melakukan sesuatu di luar akal sehatnya.
Ia cemburu! walaupun Fajira hanya menangani ayah dari mantan rivalnya, tetap saja ia cemburu. Ia sangat tidak rela jika istri cantiknya itu di pandang oleh orang lain, apalagi laki-laki yang lebih muda darinya.
"Sayang, tenang dulu! Aku hanya merawat ayahnya!" ucap Fajira berusaha untuk menenangkan Irfan.
Bak makan buah simalakama, jika di ceritakan beginilah hasilnya, jika tidak laki-laki ini pasti akan lebih murka. Beruntung anak-anak masih tertidur pulas di ruang keluarga.
"Mas?"
"Aku gak rela, sayang! gak rela!" ucap Irfan sarkas.
Tuhan tolong aku!. Jerit Fajira di dalam hati.
"sayang, aku hanya milik kamu! hanya milik kamu! apa kamu gak percaya dengan cintaku?" ucap Fajira sedih sambil mendrama.
"Aku percaya! tapi aku gak rela dia muncul lagi, sayang!" Irfan menatap wajah Fajira dengan intens.
"terus aku harus gimana? itu risiko kamu punya istri cantik!" delik Fajira.
Irfan melotot membenarkan perkataan istrinya. Ia mendelik karna tidak mampu menjawab perkataan Fajira.
"sudah, ya! Aku hanya milik kamu sayang. Lagian kamu aja sudah lebih dari cukup untukku! aku gak mau yang lain lagi. Ya beda cerita sih, kalau takdir berkata lain!" ucap Fajira dengan senyum smirknya.
Irfan semakin meradang mendengarkan perkataan Fajira. Ia semakin tidak rela jika harus melepas istrinya untuk bepergian keluar rumah.
"Mulai besok, kamu gak oleh keluar, sayang!" ucap Irfan tersenyum penuh kemenangan.
deg...
"sa-sayang!"
Sepertinya aku harus mencari cara untuk membujuk Tuan pemaksa ini! aih senjata makan Tuan lagi! π©. Bathin Fajira menjerit
πΊπΊπΊ
__ADS_1
TO BE CONTINUE