Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
220. Abang pilih kasih, Buna!


__ADS_3

Setelah cukup lama berbincang, Fajri mengajak Safira untuk pergi ke butik dan mencari beberapa pakaian yang akan di gunakan pada saat lamaran besok. Gadis cantik itu hanya bisa pasrah mengikuti tuan yang banyak maunya ini.


"Kak, apa kakak yakin akan melamar aku besok?" tanya Safira lirih.


"bukankah kamu sudah menerima lamaranku?" tanya Fajri.


"Iya, kak. Tapi ini terlalu cepat, apa nanti, tidak menimbulkan pemikiran buruk orang lain terhadap kita?" ucap Safira, mengeluarkan apa yang tengah membuatnya gundah.


"Gak akan, sayang. Kalau untuk masalah itu, kamu jangan takut! Aku sudah memikirkannya," ucap Fajri mengecup tangan Safira lembut.


Sementara karyawan butik hanya bisa menggigit jari, melihat perlakuan romantis Fajri kepada Safira.


Mereka kembali berkeliling untuk mencari baju, Fajri sudah menyampaikan kabar ini kepada keluarganya dan sukses membuat Fajira memekik kegirangan. Saat ini bidadari yang tak lagi muda itu sedang berjalan menuju butik bersama dengan Ivanna.


"huft, Ya sudah! yuk, kita cari lagi!" ucap Safira pasrah.


Mereka berkeliling, namun tidak ada satupun model baju yang mereka inginkan. Hingga Fajira datang dan membuat heboh toko baju itu.


"Aduh, calon menantuku!" ucap Fajira senang dan memeluk Safira.


"Terima kasih ya, Sayang. kamu sudah menerima lamaran putra Bunda yang jelek itu!" ucap Fajira terkekeh dan membuat Fajri melotot.


"iya, Bunda. Terima kasih karna sudah mendukung Fira!" ucap Safira berkaca-kaca.


"Sama-sama, nak!"


Fajira melepaskan pelukannya dan menatap Safira lembut. Perlahan ia mengecup kening gadis manis yang akan menjadi menantunya dalam waktu dekat.


"hiks,..." tangis Safira pecah, ketika merasakan kehangatan dan kasih sayang yang tercurahkan dari Fajira.


Semua orang terkejut mendengarkan tangisan dari Safira, tak terkecuali Fajri. Beruntung butik itu sudah di sewa olehnya, sehingga hanya ada mereka dan beberapa karyawan yang ada di sana.


"Kenapa, sayang?" tanya Fajri dan memeluk Safira.


Semua orang mengernyit bingung melihat reaksi Safira. Fajri segera membawanya duduk dan berusaha untuk menenangkan Safira.


"Kenapa, hmm?" tanya Fajri lembut menatap wajah sembab Safira.


"Gak papa," ucap Safira terisak.


"Terus, kenapa menangis?"


"A-aku, a-aku hanya terharu!"


"hanya itu?"


"i-iya!"


Fajri tersenyum dan kembali mendekap, Safira dengan lembut. Tanpa mereka sadari, Ivanna sudah mendelik karna merasa cemburu. Sungguh ia belum rela, jika Fajri menikah secepat ini, akan dipastikan jika waktu untuk bermanjanya akan berkurang dengan signifikan.

__ADS_1


Tapi mau bagaimana lagi, dia yang sudah membawa Safira masuk ke dalam rumah dan mencomblangkan Fajri dengan gadis itu.


"Sudah, Bunda fikir kenapa tadi. sekarang lebih baik kita lihat, baju keluarga yang sudah Bunda pesan!" ucap Fajira dan membuat mereka mengernyit.


"Bunda, sudah memesan baju?" tanya Fajri tidak percaya.


"Sudah dong!"


"Kapan?"


"Baru, sih. sejak kalian dekat, Bunda sudah bersiap-siap. Lagian, Pasti Abang gak bisa menunggu lebih lama lagi, untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dari pada semuanya mendesak, lebih baik Bunda siapkan dari jauh-jauh hari!" ucap Fajira terkekeh.


Fajri dan Safira hanya menatap Fajira dengan tatapan cengo. Lalu untuk apa mereka berkeliling butik untuk mencari baju, sementara semuanya sudah disiapkan.


Mereka segera pergi ke ruangan khusus untuk melihat beberapa rancangan baju yang akan di gunakan nanti. Mulai dari lamaran, acara adat, pernikahan dan pesta, sudah disiapkan oleh Fajira.


Gaun yang begitu mewah, di padukan dengan batik yang di rancang oleh perancang hebat negri ini. Safira begitu terkesima, melihat kebaya putih yang begitu indah di pandang. Berhiasan berlian dan beberapa batu permata lainnya, membuat baju itu terlihat berkilauan jika bertemu dengan sinar cahaya lampu.


"Bunda, i-ini kebaya siapa?" tanya Safira lirih.


"itu, kebaya untuk kamu menikah nanti! ini untuk lamaran, ini untuk bla, bla, bla,..." ucap Fajira menerangkan.


Pemilik butik tidak bisa datang, karna ia memiliki pekerjaan di luar kota, sehingga keluarga cemara itu hanya di temani oleh manajer dan beberapa karyawan lainnya.


Mereka mencoba baju itu satu persatu dengan tatapan kagumnya masing-masing. Terlebih Safira yang kembali berkaca-kaca ketika ia melihat pantulan dirinya di kaca yang terlihat begitu cantik dan berkelas.


Fajira sengaja memisahkan Fajri dari Safira, agar ia tidak melihat betapa cantiknya gadis itu. Biar ini akan menjadi kejutan untuk Fajri nanti.


🌺🌺


"Buna?" panggil Ivanna dengan mata yang berkaca-kaca.


"Eh, kenapa sayang?" tanya Fajira heran.


Saat ini mereka sudah berada di rumah, dan bersantai di depan televisi bertiga dengan Irfan.


"apa, Abang akan menikah dalam waktu dekat?" tanya Ivanna lirih.


Fajira paham dengan perasaan putrinya ini. Bukan ia tidak menyadari perubahan raut wajah Ivanna, namun harus bagaimana lagi, pasti suatu saat mereka akan menikah dan membuat keluarga yang baru.


"Bunda, belum tau, sayang! Dede kenapa nangis?" tanya Fajira lembut sambil mengusap kepala Ivanna


"hiks,... Abang udah gak sayang lagi. sama, dede!" ucap Ivanna terisak.


"eh, kok Dede ngomongnya gitu?" Ucap Fajira memeluk Ivanna.


"Abang, lebih sayang sama kakak, Buna. Abang, gak sayang, dede lagi!" ucap Ivanna meraung.


"Siapa bilang, de? Abang itu sayang banget sama, Dede. Banget-banget-banget malah! Mungkin karna Abang baru merasakan jatuh cinta, makanya lagi menggebu-gebu!" ucap Fajira menahan senyumnya.

__ADS_1


"Hiks,... Tapi Abang pilih kasih, Buna! Abang lebih sayang kakak dari pada, dede!" ucap Ivanna semakin meraung.


"Nanti, biar Bunda yang bilang sama Abang. Sudah jangan nangis lagi, ya! Nanti cantiknya, dede luntur!" ucap Fajira melirik Irfan sambil mengusap kepala Ivanna.


"De, sini peluk, Ayah dulu!" ucap Irfan tersenyum dan meraih Ivanna lalu memeluknya.


"Anak gadis, Ayah gak boleh sedih-sedih ya. Nanti Ayah marahin Abang, biar gak pilih kasih sama, Dede!" ucap Irfan tersenyum gemas melihat tingkah anak gadisnya.


"hiks,... tapi Abang jangan di pukul ya, Ayah! kasihan," ucap Ivanna terisak.


"iya. Apa boleh Ayah jewer?"


"boleh!"


Irfan masih mengelus kepala Ivanna dengan lembut, hingga gadis itu terlelap di dalam dekapanya. Irfan dan Fajira hanya bisa tersenyum sambil menggeleng satu sama lain. Pasti sangat berat bagi Ivanna, melepas Abang kesayangannya untuk wanita lain.


"Mas, apa kamu gak berfikiran untuk menambah bocil lagi?" tanya Fajira sambil menahan senyumnya.


"Apa kamu mau melihatku mendapatkan serangan jantung tiba-tiba, ketika melihat kamu kesakitan seperti itu lagi?" ketus Irfan.


"idih, malah ketus! Kan lucu, kalau Ivanna punya Dede lagi!" ucap Fajira mendelik.


"Ingat, sebentar lagi Abang akan menikah, masa iya, Om dan ponakan sama besar, kan gak lucu!" ucap Irfan juga ikut mendelik.


"huh, dasar tua!" ejek Fajira.


"Sayang, Jarak kita hanya 3 tahun. kalau lupa!"


"Iya. Kan kamu lebih tua, Mas! aku masih terlihat cantik, bahkan kalau hamil lagi aku masih kuat, tuh!" ucap Fajira bangga.


"Kamu mau hamil anak siapa?" tanya Irfan dingin.


"Anak dari orang yang mau bercocok tanam!" ucap Fajira terkekeh.


"Apa aku sudah terlalu tua untukmu?" tanya Irfan dengan wajah yang mulai memerah menahan cemburu.


"hmm, sepertinya sudah! buktinya kamu gak bisa bikin aku bunting lagi, Mas!" Ucap Fajira serius.


Namun setelah itu, ia tertawa hingga mengusik Ivanna yang sudah terlelap. Sementara Irfan, ia hanya mengeram kesal sambil menahan rasa cemburu. Walaupun ia tau jika Fajira sedang mengerjainya, tapi bagian hamil anak orang lain, ia tidak bisa menahan gejolak rasa yang membuncah.


Ia memilih untuk menggendong Ivanna menuju kamarnya, dan kembali kebawah, dengan raut wajah menyeringai. Fajira yang menatap Irfan seperti itu menjadi kesusahan untuk menelan ludahnya.


Aku membangunkan jiwa muda, Mas Irfan! dek, tolong Bunda! huaaa. Batin Fajira takut


Irfan segera menggendong Fajira dan membawanya menuju kamar. Dipastikan jika Irfan akan menggempurnya semalaman ini, hingga pagi menjelang.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE

__ADS_1


Aih, orang tua 😩😩


__ADS_2