
Saat ini Fajri akan melakukan ceck up, untuk melihat kondisi kakinya yang terkilir. Sebenarnya pria kecil itu tidak lagi merasakan sakit pada kakinya, namun karna ia takut akan terjadi hal yang lain, ia memilih untuk selalu menggunakan perban itu agar bisa sembuh dengan sempurna.
Fajri tengah berada di pangkuan Irfan saat ini. Karna Fajira sudah sedikit susah untuk memangku pria kecil nan tampan itu.
"Bunda, kalau perbannya sudah di buka, apa Abang nanti sudah bisa berjalan?" tanya Fajri menatap ibundanya.
"Nanti kita coba ya sayang. Semoga saja setelah ini Abang sudah bisa jalan lagi," ucap Fajira.
Irfan hanya tersenyum sambil mengendarai mobil. Hari ini Ia ingin menikmati quality time bersama dengan keluarga kecilnya.
"Setelah ceck up nanti, Abang mau kemana, sayang?" tanya Irfan.
"hmm, kemana ya?" Fajri mengetuk-ngetuk dagunya.
"Apa Abang Mau bermain ke time zone?" tanya Fajira antusias.
"wah, boleh Bunda. Tapi Abang mau ke toko buku Aja! hehe" ucap Fajri terkekeh geli.
"aiih... dasar anak nakal! Jadi abang mau kemana, sayang?" ucap Fajira gemas melihat tingkah Fajri.
"Toko buku aja Bunda. Abang mau mencari buku tentang pembuatan kapal selam yang besaaar!" ucap Fajri berbinar sambil mengembangkan tangannya berbentuk lingkarang .
Deg...
Tuhan tolong! jangan mulai lagi!. Bathin Fajira terkejut.
"Kapal selam, nak?" tanya Irfan antusias.
"iya ayah, Boleh kan? hmm tapi ada gak ya yang menjual bukunya?" tanya Fajri serius.
"Nanti kita cari ya, sayang! kalau nanti gak ada di Indonesia, ayah akan carikan untuk abang sampai dapat!" ucap Irfan antusias.
"wah, terima kasih, Ayah!" teriak Fajri senang dengan wajah yang berbinar.
Ia kembali bersandar pada Irfan dengan senyum mengembang dan otak yang berjalan, mendesain bagaimana bentuk kapal selamanya nanti.
"apa helikopter Aji sudah siap nak?" tanya Fajira.
"Sudah bunda, hanya tinggal di coba saja lagi. Terus Abang mau bikin pesawat tempur tapi cara terbangnya seperti helikopter, Bunda. Hanya saja, Abang kesulitan untuk merakitnya karna salah terus!" ucap Fajri kesal.
glek!!!
Fajira kesulitan untuk menelan air liurnya mendengar perkataan Fajri. Walaupun ia sering mendengarkan anaknya bercerita, namun Ia masih saja merasa itu semua di luar nalar manusia normal.
Sementara Irfan, fikirannya sudah berkelana menyusun rencana masa depan Fajri yang harus ia rancang sedemikian rupa dari sekarang, agar putra kebanggaannya bisa menguasai ekonomi dunia dengan kepintarannya.
"Ya, sudah nanti kalau sudah sembuh, kita coba ya sayang," ucap Fajira.
Walaupun apa yang di kerjakan oleh Fajri di luar batas normalnya, namun ia hanya bisa mendukung apa yang di lakukan oleh Fajri dan memberikan putranya fasilitas, selama itu adalah hal yang baik dan benar.
Perlahan mobil mendarat di parkiran rumah sakit. Seperti biasa mereka menggunakan masker dan kaca mata agar tidak terlalu di kenali oleh banyak orang.
Mereka berjalan menuju ruangan dokter yang menangani Fajri beberapa waktu lalu. Fajira selalu melarang Irfan untuk membuat janji kepada dokter, Ia lebih senang menunggu giliran dan memiliki waktu lebih banyak untuk bercerita dengan suami atau anak atau bahkan orang lain.
Namun Irfan tetaplah Irfan, dia sudah lebih dulu membuat janji dan mengambil tiket antrean tanpa sepengetahuan Fajira. Hingga tidak berapa lama nama Fajri terpanggil dan membuat ibu hamil itu melotot ke arah suaminya.
__ADS_1
"hehehe" cengir Irfan tanpa dosa.
Mereka segera masuk ke dalam ruangan itu dan memeriksakan keadaan kaki dan kepala Fajri.
...🌺🌺...
"akhirnya Abang udah bisa jalan lagi, Bunda!" ucap Fajri senang.
"iya, nak. Besok jangan loncat lagi dari meja ya!" ucap Fajira mengeluarkan ultimatum.
"hehe iya bidadari Aji yang cantik," Fajri mengedip-ngedipkan matanya dengan imut, dan itu terlihat sangat mengemaskan di mata Fajira.
"Kita kemana lagi, sayang?" tanya Fajira kepada putra kecilnya.
"Ke toko buku Bunda, yang di dekat kampus tempat kita membeli buku cara pembuatan pesawat waktu itu," ucap Fajri.
"Let's go!" teriak Irfan sambil melajukan mobilnya.
"sayang, aku lapar!" ucap Fajira tersenyum sambil mengusap perut buncitnya.
"Wah bunda kok lapar terus, Aji juga lapar Ayah, heheh" Fajri terkekeh setelah menertawakan bundanya.
"iihh, Bunda gemas sama abang tau gak. Nanti Bunda cubit Yaa!" ucap Fajira sambil mencubit pipi tembam Fajri.
"hehehe, boleh! tapi jangan keras-keras ya, Bunda! Sakit soalnya," ucap Fajri terkekeh.
Merek singgah ke salah satu restoran. Bukan, itu lebih tepat di sebut dengan warung kaki lima. Ketika mereka berhenti di lampu merah, Fajira melihat gerobak bakso yang sangat menggugah seleranya.
Irfan pasrah, lagi-lagi ia hanya bisa pasrah dengan keinginan istrinya yang tidak mengenal tempat itu.
"dah sana kamu turun, Mas! Atau aku yang turun?" sambung Fajira.
"Aku saja, tapi pesannya gimana?" ucap Irfan menggaruk tengkuknya.
"pesan saja, mie so komplit 3 porsi, bakso saja 1 porsi untuk Abang, iya kan sayang?"
"iya bunda!" ucap Fajri mengacungkan jempolnya.
"3 tambah 1? 4 porsi? kita kan ber 3 sayang!"
"Aku dua Mas! ihh masih aja gak paham juga sih!" delik Fajira.
"haha. Ayah, Bunda kan mau jadi beruang, hoop" ucap Fajri mengembungkan pipinya.
"Heei! bisa banget siih ngatain bunda!" gemas Fajira mencium pipi Fajri bertubi-tubi.
"hehe, ampun ibunda ratu! hahaha"
Irfan mengalah, ia memesan 4 porsi mie so untuk keluarga kecilnya. Ia melangkah keluar dengan hati-hati menuju kios dagangan itu.
"hmm,, pak. Mie so nya 3 porsi komplit, satu porsi bakso saja hanya pake kecap. Nanti tolong antar ke mobil itu ya pak. Ini uangnya!" ucap Irfan kaku dan menyerahkan uang seratus ribu kepada pedagang itu.
"baik pak, mohon di tunggu ya!" ucap pedagang itu ramah.
"te-terima kasih" ucap Irfan.
__ADS_1
"sama-sama, pak!"
Ia kembali berjalan menuju mobil, karna sangat tidak mungkin jika ia masih bertahan di sana. Irfan merasa tidak nyaman dengan tatapan para wanita yang menatapnya lapar.
"sudah, Mas?" tanya Fajira ketika Irfan menutup kembali pintu mobilnya.
"sudah sayang! Aku grogi!" ucap Irfan memperlihatkan tangannya yang bergetar.
"ppffttt.... hahaha" Fajri dan Fajira kompak menertawai Irfan.
Bisa-bisanya pria tampan itu grogi ketika memesan makanan di tempat seperti itu. Padahal mereka juga biasa makan di luar dan Irfan yang selalu memulihkan menu untuk mereka. Namun kali ini ia seperti mencoba hal baru, padahal Fajira juga sering meengajaknya untuk membeli jajanan pada pedagang kaki lima.
"udah dong, jangan di ketawain Ayah terus, sayang!" ucap Irfan cemberut.
"Ayah lucu sih! masa iya kalah sama Aji, hehe," pria kecil itu tak hentinya tertawa.
Mereka tertawa dan bercerita banyak hal hingga mie so yang di pesan oleh Irfan datang dan segera menyantapnya.
Mie so itu terasa sangat nikmat, bahkan Irfan sampai berkeringat karna memakan makanan yang terbuat dari campuran tepung dan daging, di lengkapi dengan kuah kaldu dan beberapa kondimen lainnya yang terasa sangat pas di lidah pria pemilih makanan itu.
"sshhh ah enak banget!" ucap Irfan sambip mengusap keringat yang keluar dari keningnya. Ia menghabiskan satu mangkuk mie so dengan lahap dan cepat.
Fajira dan Fajri hanya bisa menatap pria tampan itu dengan cengo.
"Bunda, apa itu ayah? kok seperti orang belum makan berhari-hari?" tanya Fajri melongo.
"Bunda gak tau, sayang!" Fajira menatap Irfan tidak percaya.
"Tarik nafas, Mas!" ucap Fajira kepada Irfan.
Bayangkan saja, Irfan yang makan, malah ia yang merasa sesak. Dan langsung merasa kenyang.
"grokk... " sendawa Irfan terdengar keras.
"eh, maaf sayang. Hmm apa itu boleh untuk aku? Nanti aku pesankan lagi!" yaya Irfan sambil menggaruk tengkuknya.
"i-iya, makan lah, sayang!" ucap Fajira tercekat.
Irfan menghabiskan jatah makan untuk anak gadisnya, Ia merasa sangat malu dengan kelakuannya yang terlihat sangat kelaparan.
Telinganya memerah ketika mendapati Fajri dan Fajira yang masih berusaha untuk menahan tawa sambil melirik dirinya.
"Apa Bunda masih lapar?" ucap Fajri yang sudah tidak tahan.
"Bunda sudah kenyang sayang, melihat ayah makan dengan lahap, membuat Bunda juga ikut kenyang!" ucap Fajira menatap Fajri serius sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"sayang, ayo lah. Ayah sudah malu ini!" rengek Irfan.
"hahaha" mereka tergelak melihat sang CEO yang terkenal dingin, galak dan sadis itu terlihat tidak berdaya di hadapan anak dan istrinya.
Irfan memboyong keluarga kecilnya menuju toko buku sesuai dengan keinginan Fajri tadi.
🌺🌺🌺
TO BE CONTINUE
__ADS_1