
Pagi menjelang, mata bulat nan cantik itu perlahan mengerjab. Ia merasakan ada sesuatu yang berat sedang menghimpit badannya.
Apa ini? tangan?.
Fajira menatap ke depan, ia hanya melihat Fajri disana. Sudah bisa di tebak jika orang yang tengah terlelap sambil memeluknya adalah Irfan.
Kamu susah banget di bilangin mas, Untung saja Fajri gak jatuh ke bawah. Dengus Fajira kesal.
Perlahan ia memindahkan tangan yang besar itu ke belakang agar bisa terbebas dari kukungan pria tampannya. Setelah lepas, Fajira menggeser Fajri agar lebih dekat dengan Irfan.
Ibu muda itu melihat jam baru menunjukkan pukul 05.00, Masih terlalu pagi, begitu fikirnya. Sehingga ia lebih dulu pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan badannya.
"dari pada bengong mending ke dapur kali ya"
Ia segera bergegas menuju dapur untuk membuatkan sesuatu yang spesial untuk dua pria tampannya.
"pagi bi" sapa Fajira mengejutkan beberapa ART yang tengah mempersiapkan bumbu-bumbu untuk memasak sarapan.
"eh pagi nyonya. Ada yang bisa saya bantu"
"hmm, bibi mau masak ya?"
"iya nya"
"Biar saya saja yang masak ya. Mau bikin nasi goreng ya bi?"
"eh jangan non biar saya saja"
"gak apa bi. Hmm mulai hari ini dan seterusnya jika saya ada di sini, biar saya yang masak ya untuk Mas Irfan dan Fajri" ucap Fajira tersenyum.
" tapi Nya"
"waktu sudah semakin siang bi, saya masak dulu ya"
"ta-tapi Nya"
"sudah bi. Atau saya bilang sama mas Irfan"
"eh jangan Nya, ya sudah kalau begitu, Ini nyonya pakai saja semua bahan yang sudah kami sediakan"
"iya bi, Terima kasih ya"
"sama-sama nyonya. mari"
Fajira tersenyum manis menatap semua bahan yang sudah di siapkan oleh bi Yuri tadi.
"yuk kita selesaikan Fajira"
Perlahan keterampilan memasakya menyeruak untuk berlomba menunjukkan kepandaian masing-masing. Mulai dari memotong, mencincang, dan mengiris Fajira lakoni dengan cepat dan profesional. Karna ia ingin menambahkan beberapa kondimen untuk campuran nasi gorengnya nanti.
"huh deg-degan juga ya. Padalah ini bukan yang pertama aku membuat sarapan untuknya" ucap Fajira memegang jantung yang berdetak lebih cepat.
Tak butuh waktu Lama sekitar 20 menit Fajira sudah menyelesaikan masakannya, Tak lupa ia juga memindahkan nasi goreng itu ke wadah khusus di bantu oleh ART Tadi.
"tolong di selesaikan ya bi, saya mau ke atas dulu"
"iya Nya"
Fajira berlalu dari sana dan segera menuju ke kamar untuk membangunkan dua pria tampannya. Sementara para ART itu sedang menggunjingi Fajira yang tidak-tidak, namun mata mereka membola ketika merasakan masakan Fajira yang terasa begitu enak sehingga membuat mereka tanpa sadar terus mencoba nasi goreng buatan Fajira dan tersentak ketika melihat nasi itu tinggal sedikit. Mereka tiba-tiba panik dan mencampurkan nasi goreng yang mereka buat dengan milik Fajira.
ceklek...
Fajira masih melihat dua laki-laki beda generasi itu saling berpelukan satu sama lain. Ia menghidupkan lampu agar bisa melihat mereka dengan jelas. Perlahan Fajira duduk di tepi tempat tidur, di samping Irfan yang tengah membelakanginya.
"sayang bangun lagi yuk" ucap Fajira membelai kepala Fajri dan Irfan bergantian.
"mas, bangun yuk sayang"
huft,,, apa seperti ini kerjaku setiap pagi setelah menikah nanti?.
"Aji sayang"
"peluk bunda" rengek Fajri yang semakin mengeratkan pelukannya kepada Irfan.
"bangun lagi yuk sayang, Mas bangun yuk"
"cium dulu sayang" ucap Irfan serak dan mata yang masih terpejam.
__ADS_1
"iya Bunda, cium dulu" ucap Fajri memonyongkan bibirnya ke arah Irfan.
"muach..." Irfan mengecup bibir kecil itu dengan gemas membuat Fajri membuka matanya.
"iih apa ayah yang cium Aji tadi?"
"iya sayang"
"ih pantesan gak sama rasanya" cemberut Fajri.
"hahaha" Fajira tergelak, sementara Irfan hanya tersenyum.
"bangun lagi yuk, sini Bunda mandikan sayang" sambungnya dengan menggendong Fajri yang sudah duduk.
"iya bunda"
"Ayah juga mau di mandikan" celetuk Irfan dengan senyum smirknya.
"mandi sendiri mas" delik Fajira.
"Aji, Bunda gak mau mandiin Ayah" adu Irfan.
"Ayah sudah besar, sudah bisa mandi sendiri" celetuk Fajri dan membuat Irfan tersenyum masam.
"hahaha, iya sayang Ayah sudah besar jadi harus mandi sendiri ya"
"iya bunda"
"wleeek" ucap Fajira memeletkan lidahnya.
Ia segera memandikan Fajri dan memakaikan bajunya. tak lupa bedak dan gel rambut yang menbuat ketampanan pria kecil itu bertambah.
"duh anak Bunda sudah tampan. muach" Fajira menghujani Fajri dengan kecupan.
"hihi bunda kan juga cantik, gak mungkin Aji tampan, kalau Bunda jelek" ia terkekeh sambil mengedipkan matanya.
Tak lupa Fajira juga menyiapkan pakaian Irfan untuk berangkat kerja hari ini. Namun mata Fajira membola ketika mengingat jika ia harus menyiapkan daleman juga untuk Irfan. Dengan ragu ia membuka lemari khusus menyimpan pakaian dalam, Ia menatap nanar kain tipis itu dengan wajah yang merona. Hingga fajira di kejutkan dengan sepasang tangan yang melingkar di pinggang rampingnya.
deg....
"Ma-mas, ka-kamu sudah siap? it-itu bajunya sudah aku sediakan, in-ini lagi mau ambil itu" Fajira gugup dan malu setengah mati.
"terima kasih sayang. Duh belum lagi menikah aku sudah merasa bahagia seperti ini, apalagi ketika kita menikah dan menyatu lalu memberikan Fajri Adik"
"Mas pake baju dulu ya. Aku takut Fajri melihat kita nanti. Dia anak yang sangat penasaran dengan apapun yang asing baginya"
"iya sayang. terima kasih" Irfan membalikkan tubuh Fajira dan menatapnya lembut.
"pakai bajumu Mas, aku keluar dulu" Ucap Fajira gugup dan melangkah namun tangannya kembali di cegat oleh Irfan.
Laki-laki itu perlahan mendekatkan kepalanya kepada Fajira, mereka semakin dekat dan Fajira hanya terdiam sambil menutup matanya. Ketika mulut itu akan mengadakan temu ramah, ketukan pintu membuat mereka harus membatalkan niat untuk mempertemukannya.
tok... tok... tok..
"ayah, Bunda Sudah siang ini, kenapa ayah lama sekali?" ucap Fajri kesal.
ceklek...
"iya sayang, Gak boleh marah-marah lo nak" ucap Fajira setelah keluar dari kamar ganti dan menggendong Fajri.
"ayah mana bunda?"
"masih di dalam sayang, belum selesai"
"kok lama banget sih?"Fajri berjalan masuk ke dalam ruangan itu dan melihat Irfan tengah memakai celananya.
"Aji nanti turun sama Ayah ya nak. Bunda mau bikinkan Aji susu dulu sayang"
"iya bunda"
"ayah kenapa kok lama?"
"eh iya sayang, ini hampir selesai"
Irfan mengaitkan celananya lalu mengambil Jas dan dasi. Tak lupa ia mengoleskan gel rambut dan menyisirnya dengan rapi.
"yuk sayang kita turun nak" ucap Irfan menggendong Fajri.
__ADS_1
Di dapur, Fajira sedikit mengernyit melihat warna masakannya sedikit berbeda dengan yang ia ingat tadi, namun ia hanya membiarkannya dan fokus untuk membuat kopi dan susu untuk Irfan dan Fajri.
ketika sedang asik mengaduk kopi dan gula, di pria tampan itu datang memeluk dan menciumnya.
"morning bunda" ucap keduanya kompak.
"astaga sayang, kalian ngagetin aja"
"hehehe maaf bunda"
"huh ya sudah yuk duduk lagi kita sarapan"
Fajira mengambilkan mereka nasi goreng yang ia buat tadi, mata Irfan berbinar melihat tampilan yang sangat ia kenali.
"kamu yang masak sayang?"
"iya Mas, yuk makan lagi. Aji mau Bunda suapkan?"
"Aji mamam sendiri saja bunda" ucap pria kecil itu tersenyum.
Hap...
kening mereka mengernyit merasakan nasi goreng itu berbeda dengan rasa yang biasanya.
"sayang, ini yakin kamu yang bikin?"
"iya Mas, tapi perasaan punyaku gak seperti ini rasanya. Tadi sudah seperti biasa kok"
"Bibi" panggil Irfan.
"i-iya tuan" ucapnya rada-rada takut.
"apa kalian mencampurkan buatan Fajira dengan buatan kalian" Irfan bisa menebak itu karna ia tau bagaimana rasa nasi goreng buatan rumahnya.
"i-iya tuan, maaf"
praang....
Irfan membanting sendoknya dan membuat semuanya terkejut.
"Mas, udah ya makan saja dulu, nanti siang aku buatkan lagi"
"sampaikan kepada semuanya jangan pernah mencampurkan masakan kalian dengan masakan istriku. paham?" bentak Irfan
"pa-paham Tuan"
"Mas sudah ya, bibi silahkan kembali ke belakang lagi ya"
Bukan hanya Irfan yang tidak ingin memakannya fajripun juga sama,
"Aji gak mau makan Bunda. Rasanya gak enak"
"sayang gak boleh mubazir nak, makan ya nanti Aji sakit perut"
Dengan paksaan Fajira mereka memakan nasi goreng itu dengan terpaksa. Setelah selesai Irfan meminta Fajira untuk memakaikan dasinya dan berangkat menuju ke tempat kantor seletah mengantarkan Fajri ke sekolahnya. Sementara Fajira kembali masuk ke dalam dan berganti pakaian.
"Aji nanti pulang sama bunda ya nak. Jangan percaya kalau kamu di jemput sama siapapun"
"iya Bunda. Aji pergi dulu ya" Fajri mengecup tangan Fajira lembut.
"iya nak, hati-hati ya sayang"
"iya bunda"
"sayang aku pergi dulu ya"
"iya mas, Hati-hati"
"kamu nanti pergi sama driver ya"
"iya Mas"
Dua pria tampan itu berlalu dan Fajira juga bergegas untuk pergi ke kampus, tak lupa ia mengganti bajunya terlebih dahulu agar terlihat rapi dan cantik. setelah itu iya pergi ke kampusnya dengan driver yang sudah di tugaskan oleh irfan.
πππ
TO BE CONTINUE
__ADS_1