
Ivanna, gadis kecil yang sudah berusia satu bulan itu membuat Fajira heran. Pasalnya, jika ia merasa haus atau tidak nyaman, ia hanya merengek sedikit saja. Tidak seperti bayi pada umumnya, yang akan menangis dan bergerak ke sana kemari jika keinginannya tidak segera di penuhi.
Seperti saat ini, Fajira memegang kain bedungan Putri kecilnya yang sudah terasa basah, namun Ivanna hanya terbangun tanpa menangis.
"kok Dede gak nangis, sayang?" tanya Fajira mengernyit.
"nangis dulu, Ayo nak!"
Lama sudah Fajira menunggu agar anaknya menangis, namun semua hanya sia-sia. Ia segera mengganti pakaian Ivanna yang ikut basah karna pipis yang merembes.
Terkadang ia merasa risau, ketika gadis kecil itu tidak menangis sedikitpun, bahkan dalam keadaan lapar.
Ia sudah berkonsultasi dengan beberapa dokter anak terbaik yang di carikan oleh irfan dan Ray. Namun tidak ada satupun jawaban yang berhasil memuaskan Fajira.
huft...
Hingga hari ini Ia hanya bisa menghela nafas beratnya. Ia takut jika terjadi kecacatan pada Putrinya di kemudian hari.
"kenapa, sayang?" tanya Irfan sambil mengecup tengkuk Fajira yang terbuka.
"Aku masih kepikiran tentang putri kita, Mas! Aku takut terjadi apa-apa dengan Iva nanti!" Ucap Fajira dengan rasa cemas yang tergambar jelas di wajahnya.
"sayang, bukankah dokter bilang, itu hal yang lumrah?" ucap Irfan.
"Tapi Fajri dan beberapa anak lainnya yang aku temui, gak seperti ini!" kilah Fajira.
"Sudah, ya! sekarang anak kita masih kecil, kita akan tau ketika Iva sudah sedikit besar nanti!"
"aku takutnya, ketika Iva terbangun waktu tengah malam dan kita ketiduran, sementara dia tidak menangis seperti ini, bagaimana?"
"sayang!"
"Aku takut, Mas!" lirih Fajira.
"Semoga saja tidak terjadi apapun, Sekarang kita tidur lagi ya!" ucap Irfan membaringkan Fajira dan memeluknya.
Sementara Fajri sudah terlelap sambil memeluk bantal guling kesayangannya.
Irfan paham dengan ketakutan Fajira, namun tidak ada hal yang bisa ia lakukan saat ini, mengingat sudah lebih dari 10 dokter anak terbaik di Indonesia bahkan Eropa yang ia panggil untuk memeriksakan keadaan Iva. Namun mereka tetap menjelaskan bahwa tidak ada hal apapun yang terjadi pada Putri Mahkota itu.
Mereka terlelap karna rasa kantuk yang mendera. Namun Iva yang baru saja tidur, kembali membuka kelopak matanya, Tetapi gadis kecil itu tidak menangis bahkan tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
Entah kenapa, Fajri tiba-tiba saja ikut terjaga. Ia duduk di atas ranjang sambil melirik ke arah Iva, adik kecilnya yang memiliki paras cantik seperti sang bunda.
Setelah mengumpulkan nyawanya, Fajri segera turun dari ranjang dan mendekati Iva.
"kok Dede bangun, sayang? Apa Dede gak ngantuk? kok gak nangis?" ucap Fajri.
Ia menepuk pelan kaki Ivanna, berharap adik kecilnya bisa tertidur kembali. Namun Gadis manis itu seolah ingin bermain dengan Fajri.
__ADS_1
Mereka mengobrol dengan bahasa masing-masing. Yang jelas terlihat rona bahagia terpancar indah dari wajah tampan itu.
Hingga mata Fajri kembali mengantuk, akan tetapi Ivanna masih belum ingin tidur. Fajri merangkak menuju ke arah Irfan dan membangunkan Ayahnya.
"Ayah! Ayah bangun!. Dede gak mau bobok, Aji udah ngantuk!" ucap Fajri yang sudah tidak bisa menahan matanya.
"Ayah!" panggil Fajri.
"iya, Nak?" serak Irfan terbangun.
"Dede bangun, ayah! Aji udah ngantuk!" ucap Fajri.
"Dede bangun?" Irfan bangkit dari tidurnya.
Ia melihat mata Ivanna masih terbuka dan berkedip-kedip. Irfan segera meraih gadis kecil itu dan menggendongnya.
Sementara Fajri malah merangkak mendekat ke arah Fajira dan memeluk bidadari cantik itu.
"bunda peluk!" ucap Fajri dan terlelap.
Fajira ikut memeluk Fajri, Sementara Irfan hanya bisa melongo menatap anak dan istrinya. Namun satu sisi, ia bahagia karna bisa merasakan bagaimana repotnya mengurus anak bayi.
...πΊπΊ...
"Sayang, bangun! ihhhh!" ucap Fajira yang sudah kesal membangunkan Irfan sedari tadi.
"Abang nanti pergi sama pak sakti saja ya sayang! ayah akan terlambat sepertinya!" ucap Fajira mengelus kepala Fajri lembut.
Ivanna masih terlelap di dekat Irfan. Sementara Fajri hanya menatap Ayahnya dengan tatapan iba.
"semalam, Dede bangun Bunda. Abang gak tau ayah tidur jam berapa. Mungkin dedenya lama juga tidurnya!"
"iya? kok gak bangunin Bunda, nak?" tany Fajira terkejut.
"Bunda pasti cape mengurus dede seharian. Makanya, Abang gak tega bangunin bunda. Jadi semalam Abang main sama dede, sambil menunggunya tidur, tapi Abang udah ngantuk banget tadi malam Bunda, makanya abang cuma bangunin ayah aja, Maaf!" ucap Fajri menunduk.
"Gak papa sayang, besok gak boleh seperti ini lagi ya. Kalau dedenya bangun bilang sama bunda ya!"
"iya, Bunda!" Fajri tersenyum.
"yuk, kita sarapan!" Fajira menemani Fajri untuk sarapan.
Ia meninggalkan Irfan dan Ivanna di dalam dalam kamar.
...πΊπΊ...
"Sayang, dasi aku mana?" pekik Irfan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Ia terlihat buru-buru karna sudah sangat terlambat untuk pergi ke kantor.
__ADS_1
"kenapa semalam gak bangunin aku?" tanya Fajira sambil memakaikan dasi suaminya.
"Kamu pasti capek banget ngurusin anak kita. Makanya aku gak bangunin!"
"apa kamu akan seperti ini setiap pagi? bangun terlambat dan buru-buru?" tanya Fajira ketika selesai memasangkan dasi pada Irfan.
"Nanti kita bahas ya, Aku sudah terlambat. I Love You, sayang!" ucap Irfan mengecup bibir Fajira singkat.
"Hati-hati!" teriak Fajira.
Irfan berlalu, tinggallah ibu dan anak itu berdua di dalam kamar. Fajira melihat Ivanna sudah bangun dari tidur lelapnya.
"Dede jam berapa sih tidurnya sayang? Main apa sama Ayah kemarin?" tanya Fajira sambil membuka kain bedung yang membalut tubuh mungil itu.
Ivanna menggeliat, ia terlihat sangat mengemaskan dengan wajah cantiknya. Fajira segera memandikan gadis manis itu menggunakan air hangat.
Hal yang sama terjadi, Ivanna hanya mengernyit ketika kulitnya menyentuh air, setelah itu ia hanya diam menikmati usapan dan pijatan dari tangan Fajira.
"Dede kok gak nangis sayang? jangan bikin Bunda risau, nak! nangis yuk!" ucap Fajira.
"Yuk nangis sayang!" ucap Fajira mengusap badan Ivanna menggunakan handuk kering.
Oeekk... ooeekk... oeekkk...
Perlahan tangis Ivanna terdengar cukup keras. Fajira bisa merasakan kelegaan ketika anaknya bisa menangis. Perempuan cantik itu segera menggendong Ivanna yang di balut oleh handuk dan segera menyusuinya.
Fajira tersenyum sambil mengajak anaknya berbicara, bernyanyi dan bercerita.
Ada satu hal yang membuatnya sungguh sangat tidak sabar menunggu Putri kecilnya besar. Paling tidak Ivanna berumur 2 tahun lebih.
"berapa ya kira-kira IQ Dede nak? Apa sama seperti abang, atau bahkan lebih dari abang?" ucap Fajira.
"kepandaian apa yang Dede miliki sayang? Jika abang bisa menguasai apapun dalam waktu singkat, Apa Dede bisa memahami isi buku dengan hanya memegangnya saja? astaga, Bunda gak bisa membayangkan bagaimana nanti ketika abang dan Dede tumbuh besar!" Fajira tersenyum cemas memikirkan kegilaan anak-anaknya nanti.
Sejenak ia tertegun, fikirannya menerawang dengan kemungkinan yang akan terjadi jika Irfan dan mertuanya juga ikut campur untuk mewujudkan keinginan dua bocil pintar itu.
"Apa Dede akan menjadi ahli fisika? dan abang akan membuat roket? Astaga, ya tuhan! Bunda gak bisa membayangkan apa yang akan kalian lakukan di masa depan!" kepala Fajira tiba-tiba saja berdenyut memikirkan kegilaan yang akan di ciptakan oleh anak-anaknya.
"Astaga, atau Dede akan membuat kantong ajaib seperti yang dimiliki oleh musang biru?, aduh Bunda gak bisa membayangkannya sayang! Yang jelas jangan sampai Bunda gila karna memikirkan kepintaran kalian!" ucap Fajira meringis.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Aku gak bisa membayangkan jika Ivanna memiliki IQ yang hampir sama dengan Fajri atau bahkan lebih π©
Jangan lupa tinggalkan jejak yaa gais, komentar teman-teman semua sangat bermanfaat untuk karya ku kedepannya.
terima kasih π€π€
__ADS_1