
Pagi menjelang, keluarga kecil itu masih terlelap di atas ranjang, karna waktu masih menunjukkan pukul 05.00 pagi. Fajira masih betah memeluk Irfan dengan erat, sementara Fajri juga sudah tidur di bawah kaki mereka, karna pria kecil itu tiba-tiba saja pindah namun tidak ingin membangunkan kedua orang tuanya.
"engh..." Lenguh Fajri mengerjabkan mata.
Ia menelisik keadaan sekitar, lalu merangkak untuk tidur di samping Irfan dan memeluknya.
"Ayah. Bangun yuk" lirih Fajri sambil menepuk dada irfan pelan dengan mata yang kembali terpejam.
"Ayah, Aji mau main gelembung lagi" sambungnya dan kembali terlelap.
"engh..." Irfan mengerjab dan merasakan Fajri tengah memeluknya.
"jam berapa sekarang?" Irfan menggeser tangan Fajira yang melingkar di badannya dan memindahkan Fajri agar bisa tidur di tengah mereka.
"Mas..." lirih Fajira memeluk Fajri.
"bangun lagi yuk, aku lapar sayang" ucap Irfan yang sudah duduk di atas ranjang.
"iya sebentar lagi ya" lirih Fajira yang kembali terlelap.
"hmm..." irfan membekap mulutnya ketika merasakan mual yang kembali mendera. Ia segera pergi ke kamar mandi dan kembali mengeluarkan isi perutnya.
Fajira yang baru saja terlelap, tidak menyadari keadaan Irfan yang tengah lemas di dalam kamar mandi. Namun laki-laki itu tidak ingin mengganggu istrinya dan lebih memilih untuk langsung mandi agar merasa lebih segar.
Hampir 20 menit ia berada di dalam kamar mandi, Irfan keluar dengan balutan handuk di pinggangnya. Aroma sabun yang wangi itu semerbak memenuhi rongga hidung Fajira dan membuat ibu hamil itu terbangun.
Fajira mengerjab, ia melihat Irfan yang sudah mandi tanpa membangunkan dirinya.
"Mas, kamu sudah mandi?"
"eh, sudah sayang. apa kamu mau mandi?" ucap Irfan sedikit terkejut.
"kenapa gak bangunin aku?" ucap Fajira cemberut dengan wajah bantalnya.
"maaf sayang, tadi aku mual, terus biar segar, aku langsung mandi saja" ucap Irfan mengaruk tengkuknya dan berjalan ke arah Fajira.
"Pakai lah baju kamu dulu, aku mau mandi" ucap Fajira bangun dari tidurnya tak lupa agar ia membuat Fajri kembali terlelap.
"Apa mau aku mandiin sayang?"
"hmm? gak usah mas, Aku mau mandi sendiri. Kamu jagain Fajri aja, dia udah keracunan main gelembung karna kamu kemaren" ucap Fajira tergelak.
"keracunan" ucap Irfan dengan mata yang membola.
"kamu serius?" pekik Irfan membuat Fajri terkejut.
"ayah sudah bangun? yuk kita main gelembung lagi" ucap Fajri duduk namun masih menutup matanya.
"ini maksud aku, Mas. Dia ketagihan main gelembung terus"
"gak keracunan kan sayang?" Tanya Irfan kembali sambil menggendong Fajri.
__ADS_1
"gak lah. Kalau keracunan sudah aku bawa ke rumah sakit, Mas"
"syukurlah"
"Ayah udah mandi?" tanya Fajri ketika merasakan kulit Irfan menyentuh pipinya.
"sudah sayang, Aji mau mandi?"
"kok ayah gak mengajak Aji sih? huaaa" rengek pria kecil itu.
"Abang mau main gelembung lagi?" tanya Fajira.
"eum" ucap Fajri sambil mengangguk.
"yaudah kita mandi dulu, Bunda sudah menyiapkan tempat untuk Abang main gelembung nanti" ucap Fajira.
"Betul Bunda?" Fajri mengangkat kelapanya daruuh pundak Irfan dan menatap Fajira.
"iya sayang"
"ya sudah yuk kita mandi Bunda. ayah turunkan Aji lagi" ucap Fajri semangat dan turun dari gendongan Irfan.
Fajira sangat senang dan bersemangat pagi ini mendengar kenginan Fajri semalam yang sangat menginginkan untuk bermain gelembung sabun lagi.
"terima kasih sayang" ucap Fajira genit kepada Irfan.
Sementara laki-laki itu hanya menggigit bibir bawahnya agar terlihat seksi. Hal itu sukses membuat Fajira merona malu dengan gairah yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Irfan semakin menjahili Fajira dengan mengusap tubuhnya yang masih terbuka.
Ia segera melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan menyegarkan badannya dan tak lupa ia juga memandikan Fajri.
Setelah selesai, Fajira segera pergi ke dapur untuk memasak sarapan mereka pagi ini. Hanya nasi goreng spesial dengan campuran udang dan sosis, wortel dan beberapa sayuran lainnya.
Irfan dan Fajri sudah menunggu di meja makan. Pria kecil itu tak hentinya mempelajari cara membuat gelembung sabun dengan menggunakan tangan. Irfan membentuk huruf O pada tangannya dan di ikuti oleh Fajri.
"begini sayang, Tangannya di beri rongga seperti huruf O, nanti di tiup pelan-pelan sampai balonnya keluar"
"Apa begini ayah?" Fajri menirukan apa yang di kerjakan oleh Irfan.
Fajira hanya menatap Fajri penuh semangat karna ini adalah sejarah baru bagi putra tampannya itu. Untuk pertama kalinya Fajri mau bermain dan menikmati masa emas pertumbuhannya. Semoga Fajri mau memainkan mainan yang sudah ia siapkan semalam, begitu harapan Fajira kedepannya.
"Kita sarapan dulu ya, habis ini kita bisa langsung bermain gelembung yang besar" Ucap Fajira.
"Aji mau kan?" sambungnya.
Gelembung besar?, Apa bisa berbentuk gajah seperti di film si kuning?. Mata Fajri membola senang.
Ia segera menghabiskan makanannya hingga tandas, Meminum susu dan air minumnya.
"Aji sudah selesai, terima kasih Bundaku sayang. Ayah yuk kita main lagi" Desak Fajri kepada Irfan.
"sama-sama sayang" ucap Fajira.
__ADS_1
"Ayah yuk, Aji mau buat gajah" ucap Fajri berlari keluar.
"membuat gajah?" tanya Irfan mengernyit.
"hahaha" gelak Fajira menggema.
"kenapa kamu tertawa sayang?"
"Aku yakin Fajri pasti memikirkan jika ia bisa membuat gelembung berbentuk gajah. Semangat Mas, hahaha" Ucapnya masih tergelak.
Irfan segera menghabiskan makanannya dan menyusul Fajri sambil menggandeng Fajira. Benar saja, Fajri sudah berdiri di depan wadah yang sudah ada alat untuk membuat gelembungnya disana.
Mata pria kecil itu berbinar dengan menghayalkan berbagai macam bentuk hewan dan apapun itu yang akan ia buat nanti.
"Abang" panggil Fajira tersenyum.
"Bunda, Ayah. Yuk kita main gelembung lagi. Apa seperti ini caranya ayah?"
Fajri mencoba teori yang ia pelajari dari Irfan tadi. Namun beberapa kali percobaan ia tidak kunjung pandai dan malah membuatnya semakin kesal.
"Bagini sayang" ucap Irfan memperagakan cara membuat gelembung.
"waaah. Apa bisa berbentuk gajah ayah, Ayo coba Aji mau belajar" ucap Fajri antusias.
"gak bisa sayang, kita cuma bisa membuat bentuk bulat, gak bisa berbentuk gajah atau hal lainnya sayang" ucap Irfan tersenyum kepada Fajri.
"apa gak bisa membuat gajah ayah?" sorot mata pria kecil itu menyimpan kekecewaan.
Fajira hanya tersenyum melihat Fajri yang seolah mendapatkan mainan baru, padahal dulu ia sering mengenalkan gelembung itu kepada Fajri, namun pria kecil itu seolah tidak peduli.
"kita pake yang ini aja sayang, biar gelembungnya besar" ucap Irfan menarik tangkai membuat gelembung itu ke atas.
"wah ayah, gelembungnya besar. Aji mau coba"
Fajri bermain gelembung sambil tertawa. Berlari kesana kemari membuat banyak gelembung dan kemudian ia kerjakan kembali.
Fajira tak hentinya tersenyum dan tertawa melihat tingkah Fajri yang begitu mengemaskan baginya. Sambil mengawasi Fajri ia juga sedikit berjemur sambil berteduh di bawah pohon yang tidak terlalu rindang namun masih tetap memantulkan sinar matahari pagi ke arahnya.
Fajira juga mempersiapkan mainan yang lainnya untuk Fajri, seperti menumpahkan 1000 bola plastik yang kecil ke dalam kolam berenang, agar setelah bermain gelembung ia bisa berenang bersama Irfan sambil bermain bola.
πππ
TO BE CONTINUE
Maaf ya gais, aku baru Update malam karna gak cukup waktu untuk ngetiknya sekaligus wkwkw
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, terima kasihππ€
__ADS_1