
"Kakak pulang sama siapa?" Tanya Fajri yang sudah menyandang tasnya.
"Aku di jemput sama Papa. Aji sudah di jemput?"
"Sepertinya sudah kak. Hmm,,, Apa Aji antar kakak pulang saja?" ucap fajri menawarkan diri.
"eh gak usah, Aji. Nanti Papaku nyariin" Tolak Hanna halus.
"hmm, Aji temani kaka ya, sampai Papa kakak datang"
"Iya, boleh"
Mereka berjalan beriringan menuju gerbang sekolah. Pak Sakti melihat Fajri berjalan menuju gerbang segera memanggilnya.
"Tuan muda" Panggil Pak Sakti.
"eh iya pak?"
"tuan muda mau kemana?"
"Aji mau menemani kak Hanna di gerbang sambil menunggu Papanya datang"
"Ya sudah, tunggu dulu tuan muda. Bapak mau mutar mobil dulu, biar nanti bisa langsung pulang"
"iya pak"
Fajri dan Hanna masih berdiri disana hingga pak sakti memarkirkan mobil berada dekat dengan gerbang sekolah. Mereka menunggu kedatangan Papa Hanna untuk menjemput gadis manis itu.
"Apa kakak boleh ikut lomba sama orang tua kakak?"
"boleh, Ji. Aji gimana? tadi katanya mau nanya dulu sama Bunda"
"iya kak. Aji mau nanya dulu sama Bunda, soalnya Aji gak mau melakukan sesuatu tanpa se izin bunda"
"wah, kamu anak yang baik ya" Ucap Hanna kagum.
"terima kasih. Bunda bilang, Aji harus nurut sama Bunda biar Bunda senang dan bahagia. Makanya Aji selalu minta pendapat dan izin dari Bunda untuk melakukan sesuatu kak"
"Hanna" panggil seseorang yang baru saja keluar dari sebuah mobil sedan.
"Papa!" Panggilnya tersenyum.
"Aji, Aku pulang dulu ya, Terima kasih sudah menemaniku, kamu hati-hati pulangnya. Sampai bertemu lagi" ucap hanna melambaikan tangannya.
"iya kak hati-hati"
Fajri menunggu Hanna berlalu dari sana, barulah ia memasuki mobil dan segera pulang ke rumah.
"pak, Apa ayah sudah baik-baik saja?"
"Bapak kurang tau Tuan muda. Soalnya seharian kan bapak menemani tuan disini"
"eh iya? kok bapak gak bilang?. Apa bapak sudah makan?" tanya Fajri terkejut.
Pria paruh baya itu termagu mendengarkan perkataan Fajri yang membuatnya merasa terharu. Sebab sangat jarang ada anak majikan yang bertanya seperti Fajri.
"bapak sudah makan, Tuan Muda"
"syukurlah. Apa besok Aji minta sama Bunda untuk membungkuskan bapak bekal saja biar tidak repot mencari makanan?" ucap Fajri menawarkan.
__ADS_1
"eh jangan, tuan muda. Saya gak papa mah. Nanti bapak bisa makan di kantin"
"terima kasih pak sudah menjaga Aji" ucap pria kecil itu tersenyum manis.
"sama-sama tuan muda"
Nyonya Fajira memang hebat mendidik Tuan muda. Bahkan ia tidak membeda-bedakan kasta. Ucapan terima kasih? Itu sangat jarang sekali saya dengar dari mulut anak-anak orang kaya tempat saya bekerja sebelumnya. Tumbuhlah menjadi anak yang hebat Tuan muda.
Mobil terus melaju hingga mereka tiba di pelataran rumah mewah keluarga Dirgantara. Fajri segera keluar dari mobil setelah mengucapkan kata terima kasih kepada pak sakti.
Fajri berlari menuju kamar utama, berharap bisa menemukan ayah dan bundanya di sana, karna ia sudah teramat rindu dengan dua orang yang sangat ia sayangi.
ceklek...
Fajri mengedarkan pandangannya dan hanya mendapati seseorang yang tengah berbaring di atas tempat tidur. Ia segera mendekat setelah meletakkan tasnya. Fajri melihat bidadari cantik itu tengah terlelap dengan tampang kusut dan tidak beraturan. Dahinya mengernyit bertanya-tanya.
Apa Bunda belum mandi? kok kusut banget gak seperti biasanya.
Ia membuka sepatu dan mengganti bajunya terlebih dahulu, lalu mencuci kaki dan segera menghampiri Fajira. Fajri mencium kening bidadarinya dengan lembut dan mengusap pelan pipi mulus yang selalu menjadi incaran bibir manisnya.
"muach... Bunda" panggil Fajri lembut.
"Bunda sayang. Sayangnya Aji" Uangnya lagi sambil berbaring dan memeluk Fajira.
"Bunda, Aji sudah pulang lo. Apa Bunda gak kangen? hehee" ucapnya terkikik geli.
"engh... Sayang" lenguh Fajira terbangun dari tidurnya.
"apa Aji mengganggu Bunda?"
"emm? gak sayang. Jam berapa sekarang?"
"Baru jam setengah 3 bunda"
"Ayah? memang Ayah kemana Bunda? bukannya ayah lagi sakit?"
"Ayah tadi ke kantor sayang. Tadi ayah sudah merasa lebih baik, makanya Ayah pergi bekerja.
"hmm... Aji kangen" Ucapnya tersenyum manis memeluk Fajira.
"Bunda juga kangen nak. Aji udah makan sayang?"
"sudah Bunda. Apa Bunda sudah makan?"
"belum sayang. Ah iya Bunda ada kabar bagus untuk Aji"
"kabar bagus apa Bunda?" Mata bening itu berbinar menatap Fajira.
"Aji sebentar lagi mau jadi Abang" ucap Fajira tersenyum antusias.
"ha? Bunda serius? Apa Bunda sudah hamil?" Mata bulat itu menatap Fajira dengan terkejut.
"sudah sayang" Fajira mengambil tangan Fajri dan mengusapkan perut datarnya.
"Waaah" mata polos itu berbinar senang.
"tapi Bunda, kok Aji gak lihat Bunda berhubungan sama ayah" ucapnya mengernyit.
"eh, Itu cuma ayah dan Bunda saja yang tau. Aji atau orang lain gak boleh tau sayang" ucap Fajira gelagapan.
__ADS_1
"kok gitu" prosesnya tidak terima.
"memang seperti itu sayang. Hmm apa Aji mau ikut melihat Dedek bayi nanti malam?" tanya Fajira mengalihkan perhatian Fajri.
"Aji mau Bunda. Aji mau"
"Ya sudah, siapkan dulu tugas Aji biar bisa ikut nanti malam sama ayah dan bunda"
"Siap Bunda. Aji pergi dulu. Dede abang belajar dulu ya... muach..." pria kecil itu mengecup perut rata Fajira dan segera pergi menuju perpustakaan untuk mengerjakan tugasnya.
"Yeeei Aji mau jadi abang. Aji mau jadi abang" teriaknya senang sambil keluar kamar.
Fajira menghela nafasnya, ia masih syok mendengarkan pertanyaan Fajri tadi.
"aku tidak bisa lengah ataupun membohongi Fajri. Dia sudah lebih pintar dari sebelumnya. Untung saja aku punya topik pembahasan yang lain. kalau tidak, entah bagaimana aku bisa menjelaskannya kepada anak genius itu"
Ia segera beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan badannya. Setelah 15 menit ia keluar dengan tubuh yang sudah lebih segar dari sebelumnya.
Wajah Fajira merona ketika mengingat kelakuannya sebelum Irfan pergi tadi.
"bisa-bisanya Aku bertindak memalukan seperti itu. Apa karna hormon kehamilan. Aduh pasti mas Irfan tertawa dan akan mengejek ku nanti. huaaa" jerit Fajira di dalam kamar ganti.
Tanpa ia sadari Irfan sudah berdiri di belakangnya dengan tersenyum senang. Laki-laki itu memang sengaja menunggu Fajira di dalam kamar ganti agar bisa melanjutkan aktivitas mereka yang tertunda tadi.
"sayang" panggil Irfan sambil memeluk Fajira dari belakang.
deg...
"Mas! Kamu bikin aku kaget!" kesal Fajira dengan jantung yang bergemuruh.
"maafin aku sayang. Kenapa sudah mandi saja? kan kita belum memulainya"
"se-sejak kapan kamu datang, Mas?"
"Sejak tadi sayang. mumpung Fajri lagi sibuk mengerjakan tugas, kita main dulu yuk sebentar saja" Ucap Irfan mulai menyentuh titik sensitif Fajira dan membuat pertahanan perempuan itu runtuh.
"maasshh... hmm... Aku... Aku mau kuliah, Nanti malam saja ya" ucap Fajira berusaha untuk menghentikan Irfan yang sudah ke sana kemari mengitari bukit dan lembah kenikmatan yang ada pada dirinya.
"sebentar saja sayang. Aku juga sudah tidak tahan" lirih Irfan dengan suara seraknya.
Irfan membaringkan Fajira di atas sofa yang ada di sana. Ia menyentuh lembut tubuh yang indah itu dengan melayangkan pujian yang membuat Fajira tersenyum senang.
"Badan kamu masih bagus walaupun sudah memiliki anak. Aku suka" ucap Irfan di sela aktivitasnya.
"hhmmpp iya, mas. Pelan-pelan ya, Aku lagi hamil"
"iya sayang"
Irfan Menyentuh Fajira dengan lembut dan tenang, berusaha agar istri dan anaknya baik-baik saja di dalam. Hingga puncak kenikmatan itu mendera ke duanya. Peluh keringat bercucuran di tengah dinginnya suhu udah di dalam kamar ganti itu.
"terima kasih sayang. muach" Ucap Irfan mengecup kening Fajira lama.
"hmm... Aku mau mandi lagi mas" Ucap Fajira terengah-engah.
"Iya sayang"
Irfan dengan hati-hati menggendong Fajira menuju kamar mandi dan membersihkan tubuh mereka sampai bersih. Fajira yang awalnya ingin pergi ke kampus, malah kembali terlelap setelah mandi bersama suaminya tadi.
πππ
__ADS_1
TO BE CONTINUE
π