Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
190. Sifat Terpendam Ivanna


__ADS_3

Seorang gadis manis tengah berjalan dilorong gedung perkuliahan yang terlihat ramai dengan mahasiswa. Ivanna gadis manis itu sering di tatap sinis oleh mereka karna sifatnya yang dingin dan pastinya ia seorang selebgram dan orang terkaya di Indonesia bahkan Asia.


Ivanna hanya cuek dengan apa yang orang lain bilang terhadapnya. ia tidak butuh mereka yang hanya bisa menjilat dengan berbagai macam cara agar bisa kecipratan kaya ataupun menambah followers. Bahkan Fajri dan Fajira kerap kali menasihati gadis itu. dan ia hanya bisa mengedikkan bahunya pertanda tidak setuju.


Bruk!


Ivanna tak sengaja di tabrak oleh seorang mahasiswi yang terlihat culun dan berpakaian lusuh. Ia terlihat begitu ketakutan dengan mata sembabnya. Ia semakin terlihat takut ketika melihat siapa yang tengah ia tabrak.


"ma-maaf, kak! maafkan saya!" ucap gadis lusuh itu sambil bersimpuh.


Deg,...


Ivanna termagu, baru kali ini ia mendapatkan perlakuan seperti ini dari orang lain. Ia segera membantu gadis itu untuk berdiri.


"Bangunlah! kenapa kamu bersimpuh?" ucap Ivanna berjongkok.


"Ma-maaf, kak. Aku gak sengaja!" ucapnya menangis.


"Bangunlah! gak papa, sini saya bantu!" ucap Ivanna membantu gadis itu untuk berdiri.


Ivanna terkejut, ada sedikit memar di bagian bibir gadis itu. Ia mengeram, siapa yang berani berbuat hal kurang ajar seperti ini?.


"apa kamu di bully?" tanya Ivanna, gadis itu hanya terdiam sambil menunduk.


"jangan takut, siapa yang bully kamu? bilang sama saya!" ucap Ivanna tegas


Matanya menangkap segerombolan mahasiswa dan mahasiswi yang saling mendorong satu sama lain.


"Hei. kalian berhenti!" teriakan Ivanna terdengar sangat keras menggema di lorong itu.


Semua orang yang mendengarkannya bergidik ngeri, termasuk gadis yang menabraknya tadi.


"Apa kamu kuat berjalan?" tanya Ivanna lembut.


"ku-kuat, kak. Ma-maafkan saya, sa-saya gak sengaja," gadis itu semakin panik.


"Ayo kita obati dulu wajah, kamu!" ucap Ivanna dan membawanya pergi menuju mobil.


Sebagai seorang dokter, Fajira memang membekali Fajri dan Ivanna bagaimana cara memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan, ataupun luka kecil. Bahkan di dalam setiap mobil, sudah dilengkapi dengan kotak P3K yang lengkap disana.


Ia mengajak gadis itu untuk masuk ke dalam mobil mewahnya dengan sedikit paksaan, karna dia menolak untuk masuk. Namun Ivanna menggunakan sedikit ancaman hingga gadis itu duduk di dalam mobil.


Hal pertama yang ia lakukan yaitu menghubungi orang-orang yang memang di utus oleh Irfan untuk menjaganya.


πŸ“ž"Om, Tolong cari beberapa orang mahasiswa yang melakukan tindakan penganiayaan. Mereka terlihat di lorong C, arah ke labor Kimia. Cari secepatnya dan bawa mereka ke ruangan rektor!" ucap Ivanna tegas. Namun berhasil membuat gadis lusuh itu melotot kaget dan takut.


"Jangan takut!" ucap Ivanna lembut.

__ADS_1


"Namanya siapa?" Tanya Ivanna lembut dan menerima kotak P3K dari pak sakti.


"Sa-Safira, Nona. Nama saya Safira," ucapnya takut.


Ivanna hanya terdiam dan fokus untuk membersihkan beberapa luka yang ada di telapak tangan dan pipi gadis itu. Ivanna merasa teriris karna mengingat bagaimana paniknya Fajira ketika mengetahui jika ia atau Fajri terluka sedikit saja apalagi separah ini.


"Tahan, ya. Mungkin akan sedikit sakit!" ucap Ivanna membersihkan luka itu menggunakan revanol.


"sshh,..." Ringis Safira


"sudah!" ucap Ivanna setelah membersihkan semua luka yang di alami oleh gadis itu dan membereskan semua perlengkapan itu kembali.


"Kakak semester berapa?" tanya Ivanna.


"Saya sudah semester 4, Nona muda!" ucap Safira menunduk.


"Jangan panggil seperti itu, Saya lebih kecil dari pada, kakak!" Ivanna tersenyum simpul.


"Apa masalahnya?" tanya Ivanna.


"saya gak tau, Nona,..."


"panggil Nana saja kak!"


"sa-saya tidak pantas,..."


"pantas! kalau kakak tidak pantas, mungkin gak akan saya ajak untuk kesini!" ucap Ivanna tersenyum dan mengelus tangan Sakira.


Deg,...


"dilecehkan? biadaab!" Ivanna kasar.


"Pak, kita ke ruang Rektorat, sekarang!" ucap Ivanna.


Pak Sakti langsung menjalankan mobil menuju gedung Rektorat. Ia juga ikut geram mendengar ucapan Safira. Beruntung Ivanna juga sudah mendapatkan panggilan dari bawahannya jika mereka semua sudah berada di ruangan rektor.


...🌺🌺...


Tidak ada yang susah bagi Ivanna dengan berbagai macam fasilitas bisa ia dapatkan, termasuk untuk mengeluarkan mahasiswa kurang ajar itu dengan mudah. Walaupun harus meminta sang Ayah untuk turun tangan, namun yang namanya kebenaran tetap akan ia junjung tinggi.


Lima orang mahasiswa itu di skor selama satu bulan oleh pihak restoran dan menandatangani surat pernyataan dengan materai. Safira menangis tersedu untuk pertama kali ada yang membelanya. Ingin ia memeluk gadis jangkung yang ada di hadapannya ini, namun ia sadar siapa dirinya.


"Habis ini, kakak ikut sama aku, ya!" ucap Ivanna menggandeng tangan Safira kembali ke mobil.


Semua mahasiswa terkejut melihat perlakuan Ivanan yang berbeda dari biasanya. Namun mereka hanya bisa melihat tanpa bersuara sedikitpun.


"kita kemana, Na?" tanya Safira sungkan.

__ADS_1


"Kakak harus merobah penampilan biar gak di bully lagi. Aku akan traktir kakak, kali ini!" ucap Ivanna tersenyum.


Entah mengapa ia begitu merasa nyaman ketika berada dekat dengan Safira. Mereka berbincang banyak hal sambil berkenalan satu sama lain.


Safira merupakan anak yang besar di panti asuhan, yang memiliki keberuntungan untuk mendapatkan beasiswa di universitas elite dimana Ivanna menempuh pendidikan. Ia merupakan mahasiswa pertanian dan satu angkatan dengan Ivanna. Penampilan yang cupu dengan kaca mata yang besar, membuatnya sering kali menjadi bahan ejekan oleh mahasiswa yang lain.


"Kenap kakak memilih untuk berpenampilan seperti ini?" tanya Ivanna yang begitu bingung.


"ya, memang seperti inilah saya, Jangankan untuk bergaya, makan pun kadang tidak!" ucap Safira dengan mata yang berkaca-kaca.


Begitu banyak orang yang lebih susah diluar sana, namun mereka harus tetap bekerja dan bertahan hidup hingga tuhan memanggilnya. Apa Abang atau Ayah bisa membantunya?. Bathin Ivanna.


Perlahan mobil berhenti di salah satu pusat perbelanjaan yang sering ia kunjungi bersama Ibundanya.


"Kita ngapain kesini, Na?" tanya Safira.


"Aku ingin membeli sesuatu, kak. Nanti habis ini aku antar pulang, ya!" ucap Ivanna tersenyum.


"ba-baiklah!"


Apa dia sedang memamerkan hartanya kepadaku?. Bathin Safira.


Ivanna membawa gadis manis itu menuju salah satu toko baju, ia sengaja tidak membawa Safira masuk ke dalam toko baju branded, karna kebanyakan mahasiswa mengetahui siapa Safira, dan itu akan semakin membuatnya di ejek oleh mahasiswa yang lain jika ia memakai pakaian bermerek itu.


"kakak, kalau mau beli, boleh kok Ambil aja, aku yang bayar!" ucap Ivanna tersenyum sambil memilih baju-baju di sana.


"gak usah, Na! terima kasih," ucap Safira sungkan.


Namun matanya berkeliaran kemana saja melihat beberapa potong baju dan celana


Ivanna, memperkirakan ukuran yang cocok untuk Safira dan di bawa pulang. 10 pasang baju, dua sweater, rok, celana dan beberapa aksesori lainnya. Tak lupa sepatu dan sendal yang bagus untuk gadis malang itu.


Ivanna juga mengawalnya ke toko buku dan membeli beberapa perlengkapan kuliah untuk Safira. Setelah di rasa cukup, mereka segera pulang, tak lupa mereka mengantarkan Safira terlebih dahulu menuju ke kontrakannya.


...🌺🌺...


"Kakak, tinggal disini?" tanya Ivanna terkejut.


"iya, Na! hanya ini yang mampu untuk kakak sewa!" ucap Safira.


Mereka membawa semua barang tadi dengan bantuan pak sakti. Ivanna tak lupa memakai masker agar tidak membuat kegaduhan dengan kedatangannya. Gang sempit yang hanya bisa di lalui oleh motor roda dua dan pejalan kaki itu, terlihat kumuh dan pengap.


Hati Ivanna terenyuh, melihat kondisi kontrakan Safira, hanya ruangan sempit dengan ukuran 3x3 meter dengan kamar mandi di dalamnya namun terlihat bersih dan tertata dengan rapi.


"silahkan masuk, Na, Pak Sakti! beginilah keadaan saya!" ucap Safira tersenyum kecut.


Gadis lusuh itu memaksa Ivanna untuk duduk di atas kasurnya agar lebih bersih. Ivanna bertanya banyak hal mengenai kehidupan Safira, namun semua itu harus berakhir ketika Fajira menelfon dirinya.

__ADS_1


Ivanna segera bangkit dengan membawa begitu banyak cerita yang baru saja ia dapatkan bersama dengan Safira.


🌺🌺🌺


__ADS_2