
Kajadian Fajri dan Tono tadi, menyebar dengan cepat di kampus itu. Ivanna dan Safira cukup kaget mengetahui kabar itu dan segera mencari keberadaan Tono.
ddrrtt,... ddrrtt,...
Ponsel Ivanna berdering, Safira tengah menghubunginya dan mengajak bertemu. Ia segera pergi menuju titik kumpul dan mencari Tono bersama.
"Dek, kok aku gak yakin ya, sama cerita mereka!" ucap Safira mengernyit.
"Aku juga, kak! Gak mungkin ada orang yang berani seperti itu sama Abang. Itu sama saja dia mengantarkan nyawa menuju neraka! apalagi dengan terang-terangan mengatakan jika dia adalah pacar, kakak!" ucap Ivanna yang masih tidak percaya.
"Astaga, anak itu memang mencari masalah! Padahal kakak dan dia gak pernah menyinggung tentang hal itu. Apalagi sampai berpacaran!" ucap Safira frustrasi.
Ia takut, jika Fajri akan salah paham dan menimbulkan pertengkaran di dalam rumah tangganya.
"kakak, tenang saja! orang-orang kita sudah mencari keberadaan Tono!" ucap Ivanna duduk di kursi yang ada di sana.
"Aku takut kalau Abang marah, dek!" ucap Safira lirih.
"Abang gak akan marah kok, hanya saja dia pasti cemburu banget! dia orang yang gak akan rela jika miliknya di ganggu dan di sentuh oleh orang lain!" ucap Ivanna tersenyum.
"Aihh, aku gak bisa membayangkan bagaimana abangmu itu ketika cemburu, dek!" ucap Safira.
Fikiran mereka berdua melayang, memikirkan ekspresi Fajri ketika cemburu.
Wajah dingin yang terlihat garang, menatap mereka berdua dan menumpahkan kekesalannya kepada Safira, dengan mengurung perempuan itu dan membawanya kemana-kamana.
"iihh, aku gak bisa membayangkan, jika Abang ngikutin aku kemana-mana atau aku yang ngikutin dia kemana-mana!" ucap Safira bergidik.
"hehe itu pasti, kak. Paling nanti satu atau dua minggu paling lama!" ucap Ivanna terkekeh.
"Astaga! kenapa abangmu itu berbeda, dek?" ucap Safira memijit keningnya yang terasa berdenyut.
"hahaha, itu adalah resiko menikahi anak sultan, kak!" Ivanna semakin tergelak.
Mereka masih duduk di bawah pohon rindang sambil menunggu informasi di mana keberadaan Tono.
tring,...
Sebuah pesan masuk, dari anak buah Ivanna. yang mengatakan jika mereka sudah bertemu dengan Tono. Mereka segera bergegas menuju salah dariku kostan cowok yang hanya di huni oleh Tono sendiri.
Orang-orang Ivanna sudah meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik kost untuk mengeksekusi pria malang itu.
Mereka menaiki mobil yang di bawa oleh Mang Arya menuju kost Tono. Tak lama mereka sampai di ruangan petak berukuran, 5x5 meter itu.
tok,... tok,... tok,...
Ivanna mengetuk pintu, Ia masih berusaha untuk tidak berbuat kasar, kepada orang lain.
Ceklek,...
Tona terkejut ketika melihat siapa yang tengah mengunjunginya. Ia bergegas menutup pintu, namun sial Ivanna lebih dulu medobraknya, sehingga membuat Tono hampir terjungkal ke belakang.
Wajah laki-laki itu berubah pias seketika, melihat wajah dingin Ivanna yang sangat menyeramkan.
"Tono? kenapa kamu berbuat seperti itu kepada suamiku? kamu bahkan mengaku sebagai pacarku! untung saja Mas Fajri tidak membunuhmu, Tono!" ucap Safira tegas.
__ADS_1
"Sa-Safira. Maaf, maafkan aku!" ucap Tono ketakutan.
"Siapa yang menyuruhmu? kau sudah membuat kami malu!" tanya Ivanna.
"A-aku tidak di suruh sama siapapun! maafkan saya!" ucap Tono yang sudah ketakutan.
"saya benci seorang pembohong!" ucap Ivanna dingin.
Glek!.
Tono kesusahan untuk menelan air liurnya mendengar ucapan dari Ivanna.
Aih, cowok macam apa ini, kenapa dia sangat lemah dan ketakutan. Baru di bentak aja sudah seperti orang yang tengah meregang nyawa, apa lagi di pukul!. Batin Ivanna mengernyit kasihan.
"Tono, apa kita masih berteman?" tanya Safira melunak.
"a-apa kamu masih mau berteman denganku?" tanya Tono lirih.
"iya, bukankah kamu tetap akan menjadi temanku?"
"apa kamu tidak malu, Safira? kamu sudah menjadi Nyonya besar saat ini," tanya Tono menatap Safira penuh harap.
"tentu tidak!. Tapi tolong, jangan memancing amarah suamiku. karna dia bisa membunuhmu dalam satu kali pukulan!" ucap Safira meraih tangan Tono.
Tepat setelah tangan mulus itu bersentuhan dengan tangan Tono, sebuah teriakan berhasil mengagetkan mereka.
"Lepaskan tanganmu dari dia, sayang!" ucap Fajri dan meraih Safira agar menjauh dari laki-laki itu.
"Ma-mas?" panggil Safira tidak percaya.
"kalian ngapain ada di sini? gak boleh menghakimi orang sembarangan!" ucap Fajri tegas.
"Tapi, bang! Kami sudah dibuat malu sama dia, dan Abang juga di anggap remeh oleh mahasiswa yang lain, bang!" terang Ivanna.
"Sudah! lebih baik kita pergi dari sini. Jangan mengganggu orang lain, jangan sampai kamu semakin membunuh mentalnya, dek!" ucap Fajri tegas.
"Baiklah!" ucap Ivanna menahan senyumnya dan menarik Safira untuk keluar dari ruangan itu.
Tinggal lah, Fajri dan Tono dalam ruangan itu.
"Saya tau kalau kamu di suruh oleh seseorang! Kamu itu laki-laki, bersikaplah sedikit lebih tegas dan berwibawa. Belajar ilmu beladiri sana, agar kamu bisa mempertahankan harga diri! Aku masih mengizinkanmu untuk berteman dengan Safira. Tapi jangan pernah menyentuhnya seujung kuku pun!" ucap Fajri keluar dari ruangan itu.
Mereka sengaja memakai masker dan kaca mata hitam agar tidak terlalu di kenali oleh masyarakat sekitar. Fajri segera berjalan menuju mobil istrinya.
Ia mendengar, jika Safira dan ivanna tengah tertawa di dalam mobil. Fajri langsung masuk dan membuat mereka terdiam.
"Kenapa kalian bisa sampai ke sini?" tanya Fajri.
"karna satu kampus membicarakan abang dan dia! makanya kami mencari Tono dan bertanya apa maksud dia berkata seperti itu!" terang Ivanna.
"Dede sayang! gak semua orang harus kamu berikan tindakan seperti itu. Kamu juga harus melihat siapa orang yang tengah kamu hadapi, dia itu lemah, sayang! harusnya kamu melindungi dia, bukan malah mengeroyok seperti ini!" ucap Fajri melotot.
"iya, Dede salah, bang. maaf!" ucap Ivanna yang takut melihat Fajri.
"Dia disuruh dan diancam oleh seseorang untuk berkata seperti itu. Dan Abang sudah menemukan siapa pelakunya!" ucap Fajri menghela nafas.
__ADS_1
"Siapa, Mas?" tanta Safira penasaran.
"Fans kamu! tapi kita belum ada bukti yang kuat untuk menuduh dia!" ucap Fajri terselip nama cemburu di dalamnya.
"Mas?" panggil Safira lembut.
Ia begitu takut, jika Fajri salah paham dan marah kepadanya.
"Kita pulang! Sore ini, kita akan berangkat menuju kota asalmu!" ucap Fajri yang masih cemberut karna cemburu.
"Kak, mending Abang di manja dulu sebelum berangkat. Dari pada kegiatan selanjutnya jadi kacau!" bisik Ivanna kepada Safira.
"Alamat ini, kalau aku manjain Abang dalam keadaan seperti itu!" bisik Safira begidik ngeri.
"gak usah bisik-bisik!" ketus Fajri.
"Hehe, jangan marah sayang, nanti kamu cepat tua!" ucap Safira tersenyum.
Ia merebahkan kepalanya di dada Fajri sambil mengusap pelan perut sixpack suaminya.
Mereka segera menuju pulang dan berkemas.
"Apa Abang akan pergi lagi?" tanya Ivanna yang baru saja mencerna ucapan Fajri.
"iya, dek. Abang pergi hanya dua hari. Kakek mertua abang sakit. Jadi, tadi pagi Papa datang ke kantor untuk membicarakan tentang hal itu!"
"ihh, dede mau ikut!" ucap Ivanna yang tiba-tiba saja kesal.
"Tapi kan mau ujian?" ucap Fajri.
"kakak kan juga mau ujian! Kenapa Dede gak boleh ikut?" ucap Ivanna semakin kesal.
"Astaga, sayang! Habis ujian nanti, kita kesana lagi! ini mendesak dek!" ucap Fajri memberikan pemahaman.
"Huh, selalu saja seperti itu. mendesak, mendesak, mendesak!" ucap Ivanna mendelik kesal.
"Terus Abang harus apa?" tanya Fajri polos.
Ivanna hanya terdiam, Ia ingin mengikuti kemana Fajri pergi, karna kalau dirumah, ia pasti kan kesepian, kerja Fajira lebih sering ikut dengan Irfan untuk menemani suaminya yang belakangan ini sering mengeluh sakit jantung.
Hingga mobil berhenti di halaman rumah, Ivanna langsung keluar dan berjalan cepat menuju kamarnya.
Sementara Fajri dan Safira hanya bisa menggeleng melihat kelakuan gadis labil itu.
"kenapa gak dibawa saja, Mas?" tanya Fajri.
"Kita bukan pergi liburan, sayang!" ucap Fajri lirih.
"Bawa saja, ya! Kasihan kalau di tinggal!" bujuk Safira.
"Baiklah!" Fajri pasrah.
Ia memang tidak bisa menolak Ivanna yang sudah merajuk kepadanya. Fajri segera menemui Ivanna dan mengatakan jika ia juga akan ikut pergi bersama.
Gadis itu kembali tersenyum sambil memeluk Fajri. Memang tidak sia-sia jika ia merajuk kepada Fajri, apapun pasti akan ia dapat dengan mudah.
__ADS_1
🌺🌺🌺
TO BE CONTINUE