Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
113. Gelar Baru Fajira


__ADS_3

Pagi menjelang, matahari merayap perlahan menyinari bumi, membuka lembaran baru bagi setiap orang yang membuka mata. Hari ini sangat mendebarkan bagi Fajira, ia akan melaksanakan sidang skripsinya yang di laksanakan pada pukul 9.30 pagi di kampus nanti.


Irfan sudah mengambil cuti untuk mengurus segala keperluan istrinha hari ini di bantu oleh beberapa pelayan agar tidak keteteran. Ia mengusap lembut perut Fajira yang terasa mengeras sedari tadi. Apa ini efek dari stresnya Fajira? begitu fikir pria tampan itu.


Fajira berusaha untuk mengatur nafas yang terasa berat karna detak jantungnya yang terasa tidak beraturan.


"sayang, apa kamu gugup?"


"iya, Mas. bagaimana aku gak gugup. ini perut aku juga keras sedari tadi," lirih Fajira menggenggam tangan Irfan erat.


"Coba tarik nafas dulu. Terus hembuskan, tarik nafas lagi, hembuskan" ucap Irfan berusaha untuk menenangkan Fajira.


Ibu hamil itu mengikuti instruksi Irfan, dan perlahan Fajira merasakan sedikit ketenangan.


"Bunda, apa boleh Abang ikut lihat Bunda ujian nanti?" tanya Fajri lirih sambil menatap Fajira.


"Abang kan sekolah, sayang!"


"Hari ini saja, Bunda. Pliis!" ucapnya memohon.


"Ya sudah. nanti Bunda telefon wali kelas Abang ya nak"


"iya bunda, terima kasih" ucap Fajri senang dan memeluk Fajira dari samping.


Fajri bercerita banyak hal tentang apa saja agar bisa menghibur bidadarinya yang tengah panik saat ini. Fajira merasa lebih tenang mendengarkan celoteh Fajri yang terlihat sangat lucu di matanya. Kini ia harus kuat demi masa depan anak-anaknya kelak.


"Dede bantu Bunda ya, sayang. Habis ini kita bisa istirahat dengan tenang" ucap Fajira mengelus perutnya.


Ia kembali membaca lembaran skripsinya dan mengulang-ulang apa saja yang ia temukan dalam penelitiannya beberapa waktu lalu. Dengan seksama ia kembali memahami dan membuat catatan-catatan kecil agar ia bisa mengingat lembaran kertas itu dengan baik.


"Sayang, Apa kamu mau bersiap-siap lagi? sekarang sudah hampir jam 8," tanya Irfan.


"iya, Mas. Bantu aku ya,"


"iya, yuk"


Irfan mengambilkan baju yang sudah di siapkan Fajira dari jauh-jauh hari. Baju kemeja putih dengan rok hitam, di padukan dengan blazer yang juga berwarna hitam. membuat Fajira terlihat seperti wanita karir berbadan bulat dengan perut yang cukup besar.


"wah Bunda cantik banget" ucap Fajri berbinar senang melihat tampilan Fajira.


"hehe terima kasih pangeran tampan Bunda" Fajira merona mendengarkan pujian yang sangat terdengar manis keluar dari mulut Fajri.


"Sudah selesai? Yuk kita turun lagi!" Ajak Irfan menuntun Fajira berjalan menuju ke bawah.


"Apa Aji boleh masuk nanti Bunda?" tanya Fajri.


"belum tau sayang, Semoga saja nanti Abang dan ayah bisa masuk ke dalam ya nak, temani Bunda nanti" ucap Fajira mengelus kepala Fajri lembut.


"Apa kita langsung berangkat"

__ADS_1


"Iya, Mas. Mending kita langsung berangkat biar aku bisa bersiap-siap terlebih dahulu" Ucap Fajira.


Keluarga kecil Irfan segera menaiki mobil dan mulai meninggalkan rumah mewah itu menuju kampus Fajira. Semakin dekat jarak yang tersisa, semakin kencang detak jantung Fajira di barengin dengan tangan yang gemetaran dan perut yang terasa mengeras.


"sayang, kamu tenang ya, tarik nafas lagi, hembuskan"


Fajira kembali mengikuti instruksi Irfan agar dirinya bisa sedikit lebih rileks dan anak di dalam kandungannya juga bisa lebih tenang.


Hingga mobil berhenti di parkiran kampus itu dengan hati-hati. Semakin mahasiswa yang ada di sana melihat dengan siapa pemilik mobil itu datang.


Tentu saja mereka sudah hafal dengan mobil mewah yang membawa Fajira setiap hari menuju kampus itu.


Irfan turun dari mobil terlebih dahulu lalu membantu istri dan anaknya untuk keluar dari mobil mewah itu. Semua menatap Irfan tanpa berkedip. Kapan lagi bisa melihat orang paling kaya di Indonesia itu.


"Hati-hati sayang"


"Ia Mas, terima kasih" ucap Fajira tersenyum.


"Terima kasih, Ayah" ucap Fajri yang baru saja turun dari mobil.


Mereka langsung masuk menuju ruangan yang akan di jadikan tempat untuk sudah skripsi Fajira nanti. Irfan menugaskan beberapa orang membantu mempersiapkan keperluan sidang nanti. Mulai dari konsumsi hingga perlengkapan seperti proyektor, laptop dan sebagainya.


Banyak mahasiswa yang melihat Fajira dari luar maupun dari dekat. karna untuk pertama kalinya, universitas itu memberikan kesempatan kepada mahasiswa agar bisa tamat dalam waktu 3 tahun saja.


🌺🌺


"Dengan ini Kami menyatakan bahwa saudari Fajira Hanindya resmi menyandang gelar Sarjana Kedokteran atau S.Ked. di tetapkan pada tanggal 11 oktober 2021. Selamat kepada ananda, Karna dengan resmi kami menyatakan jika anda menjadi mahasiswa terbaik yang lulus pada tahun ini." ucap ketua penguji sidang skripsi Fajira pada hari ini.


"terima kasih banyak saya ucapkan kepada bapak dan ibu. Semoga kedepannya saya bisa mengemban amanah sesuai dengan janji dan sumpah seorang dokter. Terima kasih atas bimbingannya, terima kasih" ucap Fajira dengan air mata yang berusaha untuk ia tahan.


Ia berdiri dan melangkah menuju Irfan dan Fajri lalu memeluk mereka erat.


"Aku lulus, Mas! hiks..." Tangis Fajira pecah di dalam pelukan suaminya.


"selamat, sayang" Irfan berkaca-kaca sedari tadi, karna melihat perjuangan Fajira duduk di kursi panas yang sangat membuat emosinya ingin meledak ketika para penguji berusaha untuk menyudutkan ibu hamil itu.


"Bunda" panggil Fajri.


"Sayang, Bunda lulus. Bukan! kita lulus sayang" ucap Fajira menggendong Fajri dan mengelus kepala putranya lembut.


"Iya Bunda, Kita lulus" pria kecil itu sudah menangis dalam dekapan Fajira.


Perasaan lega menghampiri perempuan cantik itu, ia tidak menyangka akan sampai pada titik ini dengan lancar tanpa hambatan.


Bukan hanya keluarga kecil itu saja yang terharu, semua mahasiswa yang melihatpun juga ikut berkaca-kaca menyaksikan tangis haru dan bahagia yang terpancarkan dari wajah Fajira.


Mereka mengabadikan momen haru itu bersama. Setelah selesai, Fajira segera keluar dari ruangan itu dengan perasaan lega.


"kakak" teriak Riska yang tengah membawa sebuah buket bunga dan menyerahkannya kepada Fajira.

__ADS_1


"selamat, do'akan akan agar aku bisa ikut sidang skripsi tahun depan" Ucapnya berkaca-kaca memeluk ibu hamil itu.


"aamiin, semoga kamu cepat menyusul ya Ris" ucap Fajira dalam pelukan mereka.


"Aku kesal karna mereka berkumpul di sini aku jadi susah untuk masuk"


"gak papa lah, yang penting datang" ucap Fajira tersenyum.


"sayang, yuk kita harus ceck up kandungan kamu dulu sebelum pulang. Kita sudah janji dengan dokternya jam 12 siang" ucap Irfan terpaksa meterai pelukan dua orang sahabat itu.


"iya, Mas. Ris aku pergi dulu ya nanti main lah ke rumah," ucap Fajira.


"iya kak, nanti aku mampir. itupun kalau diizinkan sama bapak yang pemarah itu" ucap Riska mendelik ke arah Irfan.


"kalau kamu gak membuat saya kesal, saya tidak akan marah Riska!" ucap Irfan dingin.


"Emang kapan saya benar di mata bapak, huh dasar pemarah. Kakak kenapa mau sih sama orang seperti dia" delik Riska semakin kesal melihat bapak dua anak itu.


"sudah! gak enak dilihat sama orang. Aku Pergi dulu Ris," pamit Fajira.


Ia berjalan sambil menggandeng tangan Irfan menuju mobil. Sementara pria kecil itu masih sibuk meladeni sapaan mahasiswi lain yang mengenal dirinya.


Untaian kata selamat mengiringi perjalanan Fajira menuju mobil. Ia hanya membalas dengan senyuman dan ucapan terima kasih.


Hingga ia masuk ke dalam mobil, Irfan memilih untuk keluar sebentar menuju mobil yang ada di belakang mobil mereka.


"Aku keluar sebentar ya. Sayang. Kamu tunggu disini"


"ngapain Mas?"


Irfan tidak menanggapi perkataan Fajira. Tak selang berapa saat, ia kembali datang dengan membawa satu buah buket bunga yang sangat besar dan berbentuk Love.


"Selamat, sayang" ucap Irfan tersenyum dan menyambar bibir cerry Fajira.


"terima kasih, Mas" ucap Fajira tersenyum manis.


"foto dulu" Irfan memotret istrinya dengan baik.


"perfect" ucap Irfan ketika melihat Fajira yang begitu cantik dengan sebuah buket bunga di tangannya.


"ayo ayah, bunda. kita pulang" Ajak Fajri dengan senyum manisnya.


"udah senang bertemu dengan kakak-kakak cantik itu?" ucap Fajira.


"udah bunda" cengir Fajri melihat ke arah ke dua orang tuanya.


Mereka segera berangkat menuju rumah sakit untuk melihat bagaimana keadaan anak yang ada di dalam kandungan Fajira pasca hari yang menegangkan ini.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2