
Pada akhirnya, Fajri memutuskan untuk ikut dalam olimpiade sains tingkat Asia. Sore hari nan indah ini, ia dan Ivanna berada di ruang perpustakaan bersama dengan Fajira untuk mempelajari apa saja yang sekiranya di ikut sertakan dalam olimpiade kali ini.
Bukan hal yang susah bagi Fajira, untuk menjelaskan materi-materi kepada duo bocil nan genius ini. Ivanna dan Fajri membawa begitu banyak contoh soal ujian dan kisi-kisi untuk olimpiade nanti.
"Dede harus menang, Soalnya ini lomba pertama yang Dede ikuti!" ucap Ivanna di sela-sela mengerjakan soal yang diberikan oleh Fajira.
"semoga abang dan Dede bisa menang ya, nak! tapi, gak boleh terlalu ambisius untuk menang. Bagaimanapun hasilnya nanti, yang penting apa?"
"yang penting, ayah dan Bunda bangga!" ucap Fajri dan Ivanna bersamaan.
"nanti selesai lomba, bunda akan kasih Abang dan Dede hadiah masing-masingnya,"
"Yeeei, walaupun nanti gak menang, Buna?" ucap Ivanna berbinar.
"iya, dong. Terpilih untuk mengikuti lomba saja Bunda usah senang banget, apalagi kalau menang," ucap Fajira tersenyum bangga.
"iya dek, banda ngasih hadiahnya gak tanggung-tanggung lo!" ucap Fajri antusias.
"iya kah, Buna?" tanya Ivanna.
"iya, dong! Hmm apa kita pergi liburan aja ya?"
"MAU!" teriak Fajri dan Ivanna bersamaan. Fajira terkejut mendengarkan suara anak-anaknya namun ia tersenyum melihat mereka yang cukup antusias.
"ya sudah, nanti kita pergi ketika libur sekolah!"
"Yeeei!" sorak Fajri dan Ivanna senang.
Mereka tergelak sambil belajar, sebenarnya pihak sekolah sudah menyediakan fasilitas intensif khusus untuk pada peserta olimpiade, namun Fajri lebih memilih untuk belajar bersama ibundanya yang sangat pandai dalam mengajar.
"kenapa, Buna gak jadi guru saja?" tanya Ivanna.
"karna Bunda mau jadi dokter, sayang. Apa Dede mau jadi guru?" tanya Fajira.
"hmm, Dede gak bisa menerangkannya sebagus, buna!" ucap Ivanna cemberut.
"Nanti 'kan bisa belajar,"
"Dede mau jadi penyanyi aja, Buna. Atau mau jadi ahli sains yang memiliki suara bagus!" ucap Ivanna berbinar.
__ADS_1
Fajira dan Fajri terkekeh mendengarkan celotehan Ivanna. Semakin ke sini, sifat dingin Ivanna semakin mencair. Namun jika gadis itu sudah marah atau kesal, jangan harap bisa melihat senyum manisnya, dan siap-siap untuk mendengarkan ketusan dari Putri mahkota itu.
Mereka belajar dengan santai dan sambil bercanda atau mendengarkan Ivanna bernyanyi yang menjadi hiburan tersendiri bagi mereka. Hingga ketukan pintu mengalihkan keseruan mereka.
"permisi, Nyonya, Tuan dan nona muda! Tuan Irfan memanggil, tuan muda untuk menemui beliau di ruang kerja," ucap bibik.
"Terima kasih, bik. Nanti Aji akan ke atas menemui, Ayah!" ucap Fajri tersenyum sopan.
"kalau begitu, bibik permisi dulu, Nyonya, Tuan dan nona muda!" ucap Bibi berlalu.
"ada apa Ayah memanggil, Abang?" tanya Ivanna penasaran.
"Abang gak tau, sayang! Bunda, Abang naik dulu ke atas ya. Dede, lanjut dulu belajarnya!" ucap Fajri pergi meninggalkan dua bidadarinya, tak lupa ia mengecup kening mereka bergantian.
Pria kecil itu berjalan sambil memikirkan apa yang akan dibicarakan oleh ayahnya nanti. Ketika langkah kaki kecilnya berada di depan pintu ruang kerja itu, Fajri segera mengetuknya.
"silahkan masuk, Tuan muda!" ucap Ray membukakan pintu.
"eh, ada om Ray!" ucap Fajri sambil berjalan masuk ke dalam ruangan itu.
Disana ia melihat ada Ayah dan Pandu yang tengah duduk di atas sofa.
"begini, sayang. Abang dan Dede mau ikut olimpiade 'kan?" tanya Irfan.
"iya, Ayah. Apa ada masalah?" tanya Fajri.
"Bisa di bilang begitu, bisa dibilang tidak!"
"maksudnya apa, Ayah?" tanya Fajri mengernyit.
"Jadi, Kemaren panitia lombanya memberikan proposal acara mereka ke salah satu cabang perusahaan ayah yang ada di Singapura. Karna kebetulan lomba besok akan diadakan di Singapura dan Ini proposalnya!" ucap Irfan menerangkan dan menunjukkan proposal acara itu.
"Mereka juga mengajukan proposal ke perusahaan, Abang! yang ayah takutkan, nanti mereka akan berfikir buruk jika Abang atau Dede mendapatkan juara. Sementara proposal acara seperti ini sangat berpotensi untuk mendapatkan rekan bisnis ataupun investor," terang Irfan.
"bukankah Aji tidak membawa nama Dirgantara jika pergi kemana-mana?" ucap Fajri.
"benar, apa nanti pihak sekolah atau teman-teman kamu tidak akan curiga?"
"bukankah sistem lomba itu menggunakan hitungan poin, Ayah? jadi ketika lomba itu sudah bisa dipastikan siapa yang menang. Bukankah rahasia soal sangat dijaga dengan sebaik mungkin, Jadi Aji rasa itu gak akan berpengaruh atau menimbulkan berbagai macam asumsi publik!" terang Fajri.
__ADS_1
"berarti kamu setuju jika perusahaan ayah menjadi salah satu sponsor olimpiade itu, sayang?" tanya Irfan.
"Gak masalah, Ayah! bahkan Aji juga mau ikutan menjadi sponsor acara itu, hehe," ucap Fajri terkekeh.
"aiihh, dasar kamu ya!" ucap Irfan terkekeh sambil mengacak pelan rambut Fajri.
Mereka tergelak bersama, lalu menyusun rencana apa yang akan mereka lakukan setelah ini. Walaupun Fajri memiliki perusahaan sendiri, namun Irfan tetap memegang kendali agar anaknya bisa belajar banyak hal dan tidak salah dalam mengambil keputusan. Tentu saja mereka juga berdiskusi bersama dengan Ray, karna laki-laki tampan itu yang mengatur semua hal yang ada di perusahaan Fajri.
Hingga mereka mendapatkan kesepakatan, jika perusahaan Fajri akan menyumbang dana yang cukup besar dalam lomba ini, sekitar 100 juta, dan Irfan memberi dana sebesar 75 juta, dengan beberapa catatan. Hal yang pasti, mereka mengatur hadiah untuk para pemenang lomba.
Hingga diskusi itu selesai, Fajri memilih untuk kembali ke perpustakaan dan melanjutkan perjuangannya melawan kemalasan dalam mempelajari teori berhitung.
Ketika sampai diruangan itu, Fajri mengernyit ketika melihat Ivanna tengah membelai kepala ibundanya yang sudah terlelap sambil membahas soal matematika tingkat SD.
"Bunda tidur, dek?" ucap Fajri.
"iya, bang. Buna baru saja tidur. Sepertinya, Buna kelelahan!" ucap Ivanna berbisik.
"Ya sudah, yuk kita lanjut belajarnya!. Apa dede udah capek?" tanya Fajri membelai kepala Ivanna lembut.
"Dede gak capek, bang. Ini lagi seru banget, Dede sudah selesai, satu, dua, hmm 10 soal lebih kayaknya!" ucap Ivanna tersenyum.
Mereka kembali menyelesaikan soal yang belum di bahas, Fajri dan Ivanna kompak untuk saling mengajarkan. Ivanna, walaupun memiliki IQ lebih rendah di bandingkan Fajri, namun daya tangkainya tidak kalah cepat di bandingkan abangnya. Ia begitu antusias untuk menghitung apa saja termasuk uang yang sudah ia tabung di dalam brankas kecil miliknya.
Fajira sudah terlelap karna tidak mampu untuk menahan rasa ngantuk dan lelahnya. Dengan kepala yang berada di atas meja, mata indah itu terpejam, ia semakin terlelap ketika usapan lembut dari tangan dup bocil itu, membuat tidurnya semakin terlelap.
Hingga matahari tenggelam dan di gantikan oleh sinar bulan yang temaram. Fajri terpaksa memanggil Irfan agar bisa menggendong ibundanya yang terlihat sangat kelelahan.
Mereka terpaksa makan malam hanya bertiga sajak, seperti tadi pagi ketika sarapan. Ivanna dan Fajri masih membahas soal-soal yang mereka kerjakan tadi dengan tanpa menggunakan baju buram atau semacamnya. Irfan, jangan ditanya lagi, ia hanya bisa menemani anak-anaknya mengulang kembali apa yang sudah mereka pelajari tadi, walaupun otaknya masih bisa menjawab soal, namun ia kalah cepat dengan mereka yang bisa menjawab dalam waktu singkat.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Tinggalkan like dan komentar sebagai uang parkirnya gais.
Jangan lupa bunga atau kopinya agar author bisa up lebih banyak lagi.ππ
Vote? boleh dong di sedekahkan kesini dari pada nangkring dan terbuang sia-sia. wkwkwk
__ADS_1
terima kasih π€.