
Safira hanya pasrah ketika melihat Ivanna mengatur photoshoot yang akan di lakukan. Ia meringis melihat anak-anaknya yang tengah terlelap itu di ganggu oleh para fotografer khusus yang ada di manajemen Dirgantara.
Mulai dari membalut si kembar dengan kain seperti berada di dalam telur, menggunakan pakaian bajak laut, baju ala-ala mafia, Chef, bahkan badut pun tidak luput untuk di pakai.
Sementara gadis usil itu, ia berbinar senang ketika melihat hasil foto keponakannya begitu bagus dan mengemaskan. Ia juga ikut mendandani Naren dan Nayla agar terlihat lebih bagus lagi.
Plak!!
"Lo yang bagus dong, bang! pelan-pelan! gimana kalau anak-anak bangun atau badannya sakit? huh bikin kesal aja, lo!" ucap Ivanna kesal dan memuku fotografer itu.
"Ma-maaf, Nona. Saya akan lebih hati-hati lagi!" ucapnya takut.
Padahal ini udah lembut banget, bahkan aku sampai menahan nafas agar tuan dan nona kecil tidak terbangun dari tidurnya. Tuhan tolong aku!. Batin fotografer itu takut.
"Dek, udah ya! kasihan itu anak-anak di gituin!" ucap Safira hendak menangis.
"Kak, cuma hari ini oke. Besok gak lagi, kok. Janji!" ucap Ivanna tersenyum manis dan memeluk Safira.
"Kasihan, dek! Mereka lagi tidur!" ucap Safira.
"Sudah, gak papa. Itu orang yang Bunda panggil sudah profesional dalam hal ini!" ucap Fajira yang ikut andil dalam photoshoot cucu kembarnya.
Naren dan Nayla begitu terlelap hingga mereka tidak terganggu dan terbangun sedikitpun dengan apa yang tengah terjadi. Bayi kembar yang baru berusia satu minggu itu terlihat begitu mengemaskan bahkan membuat semua orang yang ada di sana ingin menggendong dan mencium mereka.
Beruntung aku bisa mendapatkan job besar ini. Mungkin aku orang luar yang pertama kali melihat mereka yang begitu tampan dan cantik. Ah terima kasih, tuhan! tidak di gaji pun aku ikhlas!. Batin Desi berbinar senang.
Ia memang sudah biasa menerima job untuk melakukan newborn photoshoot. Namun kali ini ia begitu gugup dan takut, karena menangani dua anak sultan ini.
"Tinggal dua kostum lagi ya, Nyonya!" ucap Desi tersenyum.
"Iya, kak. lanjutkan saja, tapi hati-hati ya! lecet sedikit saja keponakan saya, lihat apa yang akan saya lakukan nanti!" ancam Ivanna garang.
"Ba-baik, Nona!" ucap Desi gugup.
"Silahkan! Jangan terbebani, fokus ya kak!" ucap Ivanna tersenyum.
Namun siapa saja yang mendengarkan nada biaranya terdengar begitu mencekam dan menakutkan. Hingga Desi dan beberapa orang lainnya bekerja dengan keringat dingin yang sudah membasahi tubuh mereka.
Bagaimana tidak terbebani, pasti ada saja ancaman yang keluar, mana mereka bukan orang sembarangan lagi!. Batin sang fotografer.
Cekrek,...
Cekrek,...
Cekrek,....
Pemotretan selesai dan menghasilkan gambar yang sangat bagus. Safira bisa bernafas lega, ketika mereka sudah berhenti untuk mengambil gambar anak-anaknya.
"Akhirnya!" ucap Safira segera mengambil Naren dan Nayla dari sana.
Ia membaringkan anak-anaknya di atas kasur khusus yang ada di ruang keluarga, agar mereka bisa tidur dengan nyaman.
__ADS_1
"Aunty kamu jahil ya, nak! Gak ada yang lecet kan?" tanya Safira khawatir.
Ia begitu khawatir dengan baby twins, karena takut kulit sensitifnya akan menurun kepada mereka. Karena dari dulu waktu kecil Safira tidak bisa tidur dan menggunakan barang-barang yang sembarangan, karena kulitnya yang begitu sangat sensitif, makanya ibu panti memberikan Safira kamar khusus agar tidak bercampur dengan yang lainnya.
"Syukurlah, Naren gak papa!" ucap Safira lega.
Namun berbeda dengan Nayla, terlihat kulit mulus gadis kecil itu memerah di bagian leher dan tangannya.
"Ha, kan! tangan Dede jadi memerah!" ucap Safira berkaca-kaca.
Deg!,....
Jantung para fotografer itu berdetak kencang karena terkejut mendengarkan ucapan Safira. Keringat dingin mereka keluar sangat banyak karena takut akan ancaman dari Ivanna dan Fajira tadi.
Sementara Safira, ia tidak mempedulikan mereka, ia hanya ingin anaknya baik-baik saja. Sungguh ia sangat tidak mau alerginya menurun kepada anak-anak. Karena itu sangat menyiksanya, belum lagi rasa gatal dan obat yang harus di minum.
"Kenapa, kak?" tanya Ivanna ketika melihat mata Safira berkaca-kaca.
"Ternyata Nayla, kulitnya sensitif, dek. Sama seperti, aku!" ucap Safira.
"Iya kah? Astaga aku gak tau, kak!" ucap Ivanna merasa bersalah setelah melihat kulit keponakannya.
"Kak, gimana dong?" tanya Ivanna cemas.
"Tolong ambil lotion aja, dek! itu di dalam tasnya," ucap Safira membuka baju Nayla.
Ivanna bergegas untuk mengambilkan lotion khusus bayi, berharap bisa mengurangi sedikit iritasi pada kulit Nayla.
"Iya, Bunda. Bahkan lebih parah dari ini!" ucap Safira sambil mengoleskan lotion itu.
"Sudah, jangan di kasih lagi, kak! kita tunggu dokter datang saja!" ucap Fajira.
Mereka tiba-tiba saja cemas melihat kulit Nayla, ketika mendapati beberapa titik yang terlihat memerah.
"Kak, ini gimana? kasihan kalau gatal nanti!" Tanya Ivanna.
"Semoga saja gak gatal, dek! kita tunggu dokter saja ya!" ucap Safira mengelus kepala Ivanna.
"Maafin, aunty ya, sayang! Aunty gak tau, kalau kulit kamu begitu sensitif!" ucap Ivanna mengecup pipi Nayla.
Gadis kecil itu menggeliat dan mulai mengusap-usap tangannya yang sudah memerah. Safira paham ia membantu Nayla mengusap kulitnya dengan lembut, agar gadis kecil itu tidak terbangun.
Safira segera membawa Nayla dan Naren menuju kamar, bersama dengan Ivanna, agar bisa diberi asi. Ivanna tak hentinya mencium pipi Naren, hingga pria kecil itu terbangun dari tidurnya.
Ivanna terpesona ketika melihat mata coklat itu terbuka. Wajah tampan yanv menyilaukan mata dan hampir saja membuat Ivanna terjedot pintu.
"Astaga, nak! kamu bikin aunty hilang arah karena melihat ketampananmu!" ucap Ivanna terkekeh.
"Hehehe, hati-hati aunty. Naren memang ganteng banget, ayah Fajri mah, lewat!" ucap Safira terkekeh.
"Harus dong, Abang harus lebih ganteng dari pada Ayah ya, nak! harus lebih pintar juga!" ucap Ivanna terkekeh.
__ADS_1
Tak lama dokter datang untuk memeriksa keadaan Nayla yang masih merasakan gatal di kulitnya.
"Ini memang alergi, Nyonya. Mohon lebih diperhatikan lagi bahan kain atau kebersihan tangan ketika menggendong, Nona kecil. Namun tidak berbahaya. Ini ada salep, cukup di oleskan saja jika terjadi iritasi di kulitnya," terang dokter anak itu.
"Ah, syukurlah, nak! Terima kasih, dokter," ucap Safira sedikit lega karena Nayla tidak mengalami alergi yang parah.
"Sama-sama, Nyonya. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu, mari!" ucap dokter itu sambil tersenyum.
Aku beruntung bisa melihat wajah pangeran dan Tuan Putri keluarga ini. Sementara semua orang di luar sana sangat menanti berita dan melihat wajah dari si kembar yang begitu tampan dan mengemaskan. Terima kasih, tuhan!. Batin dokter itu dengan wajah yang merona.
Ia segera mengusap lembut kulit Nayla dan mengoleskan salep itu pada bagian yang terkena iritasi.
"Engh, oeek,.. oeek,... oeek,..." Nayla terbaring dan langsung menangis.
Tepat ketika Fajri baru saja pulang dari kantor. Ia terkejut dengan wajah yang berbinar ketika mendapati Nayla tengah menangis dan membuatnya gemas.
Ia segera pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri, lalu mengambil Nayla dari tangan Safira, namun di cegat oleh ibu muda itu.
"Kenapa, sayang? Aku kangen gadis kecilku!" ucap Fajri mengernyit.
"Bukankah aku gadis kecil, Abang juga?" ucap Ivanna cemberut.
"Kamu sudah kadaluwarsa, dek! Kamu sudah jadi wanita dewasa!" ucap Fajri mengacak rambut Ivanna dengan gemas.
"Ihh!" ucap Ivanna mendelik.
"Wleek!" cibir Fajri. Ia kembali melihat kearah Safira sambil menadahkan tangannya.
"Sayang, aku mau gendong Nayla!" ucap Fajri berbina.
"Gak boleh! Nayla baru aja tidur, Mas. Ternyata anak gadisku juga menderita kulit sensitif, seperti aku!" ucap Safira dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya kah? Astaga, nak! terus gimana?" tanya Fajri khawatir.
"Tadi dokter sudah datang. Terus katanya ini gak parah, hanya saja kebersihannya dan orang-orang sekitar harus diperhatikan agar iritasinya gak berlanjut!" ucap Safira.
"Gak papa. Semoga saja bukan hal yang buruk!" ucap Fajri tersenyum dan mengusap kepala Safira lembut.
Tuhan, semoga aku mendapatkan pasangan seperti Ayah dan Abang, yang begitu menyayangi keluarga. Gak papa bucin, asal sayang!. Batin Ivanna penuh harap.
Mereka berbincang di dalam kamar itu, tanpa sadar Ivanna juga ikut terlelap di atas kasur berdampingan dengan Naren.
Fajri dan Safira hanya tersenyum melihat Ivanna yang tidak ingin lepas dari keponakannya. Bahkan demi Photoshoot, ia rela bolos kuliah satu hari penuh.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Badanku masih belum terlalu fit gais, awal bulan depan kita udah tamat ya. Di tunggu cerita Ivanna di karyaku yang berikutnya.
Terima kasih ππ
__ADS_1