Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
108. Seonggok Tepung


__ADS_3

"Kalian ngapain?" Tanya Fajira sambil mendudukkan dirinya di atas kursi, ia memijat kepala yang terasa pusing karna melihat apa yang sedang di lakukan oleh anak dan suaminya.


"Maafin Abang, Bunda. Tadi abang mau membuatkan Bunda sarapan. Tapi malah seperti ini" Ucap Fajri menunduk sedih dan membuat Fajira tidak kuasa menahan gemasnya.


"Apa sudah ada yang siap nak?" Tanya Fajira dan hanya di balas gelengan oleh Fajri.


"Ayah?"


"Maaf, Sayang"


"Huft" Fajira berusaha untuk menahan gelak tawanya melihat wajah dua pria tampan itu sudah ternodai oleh seonggok tepung.


"Sekarang, Ayah sama Abang mau membuat apa?"


"Pancake, Bunda" Jawab Fajri.


"Itu bahannya apa saja yang sudah Abang masukkan nak?"


"hmm apa tadi Ayah? Aji lupa" tanya Fajri sambil menyengir.


"Baru tepung sayang" Ucap Irfan menggaruk tengkuknya.


"kenapa gak bikin sandwich aja? kan lebih simpel"


"Kami mau bikin yang baru, sayang. Ya pilihannya cuma ini"


"Ya sudah, sini bunda bantu ya" ucap Fajira hendak berdiri, namun di di sergah oleh Irfan.


"No! duduk sayang. Biar aku yang bikin ya" ucap Irfan.


"iya bunda. Bunda duduk saja ya Biar Aji yang temankan" Fajri beranjak dari atas meja dan duduk di sebelah Fajira lalu memeluk dan mencium bidadari cantik itu.


"Selamat pagi sayangnya abang," muach... muach...


"Pagi juga Abang yang jelek" ucap Fajira menirukan suara anak kecil.


"Kok jelek sih Bunda? Abang kan tampan" sungut Fajri tidak terima.


"hahaha, coba abang lihat cermin dulu sayang. Ayah juga" ucap Fajira tertawa.


Dua pria tampan itu bergegas menuju cermin besar yang terletak di ruang tamu. Betapa terkejutnya mereka ketika wajah tampan itu sudah berwarna putih.


"astaga! pantas saja bunda seperti menahan tawanya dari tadi, bang!" ucap Irfan kepada Fajri.


"iya ayah, wah sekarang Aji lebih mirip sama Ayah! Burik banget huaa. Aji harus cuci muka dulu biar ketampanan Aji gak berkurang" pekik pria kecil itu dan berlalu dari hadapan Irfan menuju kamar mandi.

__ADS_1


Sementara Irfan hanya tersenyum masam. Lagi-lagi Fajri mengatasinya burik, untung sayang, begitu fikirnya. Ia kembali menuju dapur dan melihat Fajira masih cekikikan sambil mengaduk adonan untuk membuat Pancake.


"sayang, kenapa gak ngomong dari tadi sih?" ucap Irfan memeluk Fajira dari belakang dan mengusap perut buncit istrinya dengan lembut.


"hehe, kapan lagi aku bisa melihat wajah tampan kamu itu ternistakan, Mas,"


"kejamnya" rengek Irfan manja. Sungguh gelar CEO dingin itu menghilang entah kemana jika ia sudah berada di dalam rumah, apalagi jika sudah bersama anak dan istrinya itu.


"Sudah sana dulu, cuci muka" Usir Fajira yang sudah selesai mengaduk adonan.


"Sini biar aku saja yang membuatnya" Ucap Irfan merebut panci yang berisi adonan itu dari tangan istrinya.


"bagaimana caranya sayang?" cengir Irfan yang tidak tau bagaimana sara membuat Pancake.


Fajira hanya bisa mengulas senyumnya, ia mengajarkan Irfan bagaimana cara membuat Pancake anti gagal. Tangan Fajira melingkar di pinggang Irfan dan mengelusnya lembut.


"hati-hati!" ucap Fajira yang melihat Irfan sangat kaku ketika menuang adonan ke dalam teflon.


"iya sayang. Apa begini?" Tanya Irfan memperagakan. Ia mengambil satu sendok besar dan menuangkannya di atas teflon dan sedikit melebarkan diameternya.


"iya. Hati-hati jangan sampai gosong lo!"


"iya" Irfan menatap Fajira lembut.


Entah siapa yang memulai, mereka sejenak memejamkan mata sambil menikmati manisnya kecupan satu-sama lain. Irfan memegang pinggang istrinya untuk mengantisipasi terjadi hal yang tidak di inginkan.


"eh Abang sudah selesai sayang?" tanya Fajira yang merona malu, ia berjalan menghampiri pria kecilnya dan duduk di atas kursi.


"Bunda kenapa sih masih memilih ayah di bandingkan Aji. Apa kurangnya Aji di mata bunda? Ayah itu burik bunda" sungut Fajri kesal, namun membuat Fajira melotot kaget mendengar kosa kata Fajri.


"Aji dapat kata itu dari mana sayang?. Gak boleh ngatain orang tua seperti itu nak, dosa lo" Ucap Fajira membesarkan matanya di barengi dengan senyum yang tertahan


"Maaf Bunda, Tapi ayah memang burik kan?" ucap pria kecil itu memastikan.


"minta maaf sama ayah nak!"


"huh, ayah Aji minta maaf ya, udah bilang ayah burik, walaupun sebenarnya ayah memang burik sih" Ucap Fajri tertawa, bahkan Fajira pun tak kuasa menahan tawanya.


Hahah... Ibu dan anak itu tertawa, bahkan ART di tanya ada di sana juga ikut tertawa karna tingkah Fajri.


"Ya sudah, ayah memang burik. Semoga saja Dedenya juga mirip ayah. Biar nanti ayah punya teman burik" Ucap Irfan santai sambil membali Pancakenya.


"Bunda!" pekik Fajri dengan mata membola.


"Hahaha, sudah sayang. Jangan ganggu ayah terus, nanti sarapan kita gak siap-siap" ucap Fajira terkekeh geli, begitu juga dengan Fajri.

__ADS_1


Fajri memilih untuk mengganggu adiknya yang masih ada di dalam perut. Pria kecil itu berbicara seolah adiknya sudah berada di depan mata. Sementara Irfan melanjutkan kegiatan memasaknya. Hingga semua bahan sudah habis ia buat, Irfan segera menghidangkan di atas meja.


"Selesai... Yuk kita langsung sarapan" Ajak Irfan. Ia mengambilkan Fajri dan Fajira beberapa potong Pancake dan menuangkan madu di atasnya.


"Terima kasih, Ayah" ucap Fajira tersenyum ketika menerima piring yang berisi Pancake dari tangan Irfan.


"sama-sama, sayang. Nah ini untuk Abang" Irfan menyerahkan piring kepada Fajri.


"Abang mau pakai selai saja ayah. Abang gak mau pake madu"


"Ya sudah" Irfan mengambilkan selai coklat untuk pangeran tampan itu.


"Terima kasih, Ayah"


"Sama-sama, sayang. Makan yang banyak ya"


Para ART menatap Irfan tanpa berkedip. Baru kali ini Tuan yang sudah lama menjadi majikan mereka, mau melayani keluarga seperti ini. Namun seulas senyum juga terbit dari bibir mereka.


Syukurlah, kutub Es sudah mencair, Semoga kehidupan tuan selalu di berikan kebahagiaan hingga maut memisahkan. Bathin bi Yuri memandang mereka dengan senyum dan mata yang berkaca-kaca.


"Ayah Tambah" Ucap Fajri dengan mulut yang sudah belepotan.


"ini sayang. makan yang banyak ya" Ucap Irfan menahan senyumnya.


Sarapan pagi itu terasa sangat hangat dan membahagiakan. Wajah berseri selalu menghiasi Setelah selesai makan mereka segera bersiap untuk pergi ke salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota itu untuk membeli perlengkapan Baby girl yang akan lahir beberapa bulan lagi.


"Ayah nanti Aji mau belikan Dede boneka yang banyak untuk dedek ya. Apa boleh ayah?" ucap Fajri menatap Irfan yang tengah menggendongnya.


Mereka baru saja keluar dari kamar dan berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di halaman rumah mewah itu.


"boleh sayang, Tapi kan dedenya belum bisa main boneka"


"persiapan saja dulu Ayah, Nanti Aji gak sempat membelikannya lagi"


"emang Aji mau ngapain sayang?"


"iih ayah, Kan sebentar lagi Dede mau lahir. Jadi Aji akan sibuk jagain dede, Iya kan Bunda?" ucap Irfan terkekeh.


"iya sayang. Yuk kita naik mobil dulu" ucap Fajira mengajak mereka untuk menaiki mobil dan bergegas pergi menuju pusat perbelanjaan yang berjarak tak jauh dari rumah mereka.


Mobil mewah itu bergerak perlahan membelah jalanan yang cukup lengang dari pengendara, karna hari ini Adalah hari minggu, dimana mereka lebih memilih untuk beristirahat sambil berolah raga sejenak.


Fajri terlihat sibuk dengan ponselnya sedari tadi, ia mencatat apa saja yang akan ia beli nanti, baik itu perlengkapan maupun kebutuhan Adiknya yang akan lahir sebentar lagi


Hingga mobil berhenti di loby gedung besar itu dengan perlahan. Fajira dan keluarga kecilnya segera turun dari mobil dan berjalan dengan hati-hati menuju toko khusus untuk pakaian anak-anak.

__ADS_1


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


To be continue


__ADS_2