
Sore menjelang, pertengkaran dan perdebatan terjadi di rumah itu karna Andika memaksa untuk membawa Safira pulang kota mereka di pulau seberang.
Fajri dan keluarga Dirgantara menentang itu semua karna mereka akan menikah dalam hitungan hari. Namun Andika tetap bersikukuh untuk membawa Safira, hingga Irfan naik pitam dan mengeluarkan ultimatumnya.
"Kau! walaupun kau orang tua Safira, tapi tidak seharusnya kau merusak kebahagiaan Safira yang ia cari dengan susah payah! Salangkah saja kau membawa anakku dari rumah ini, lihat saja apa yang bisa saya lakukan kepada, Anda!" bentak Irfan.
Sementara Safira masih berada di ambang keraguan. Ingin rasanya ia ikut pulang bersama orang tuanya. Namun pernikahan mereka tinggal beberapa hari lagi.
"Tuan. seharusnya anda paham, bagaimana perasaan kami yang sudah terpisah dari Safira selama dua puluh tahun. Kenapa anda melarang kami untuk membawanya pulang? Anda juga orang tua, Tuan Irfan! tidak sepantasnya anda mengancam kami seperti itu!" ucap Hersy yang sudah menangis.
"Anda,..."
"BERHENTI!" Teriak Safira dan sukses membuat semua orang terdiam.
"Apa yang kalian perebutkan? Hal apa yang membuat kalian bertengkar? apa salahnya mengalah satu sama lain! Ayah, ini semua masih bisa di bicarakan baik-baik tanpa harus menggunakan ancaman! Papa, seharusnya papa berfikir dulu sebelum bertindak, jangan mentang-mentang Fira anak Papa, bukan berarti Papa bisa menghancurkan semua rencana yang sudah di rancang jauh-jauh hari!" ucap Safira tegas.
Glek!
Fajri kesusahan menelan air liurnya karna melihat betapa garangnya Safira ketika ia sedang marah.
"Calon-calon suami takut istri, nih!" bisik Ivanna kepada Fajri.
"sstt!"
Safira menatap Fajri dengan mata yang berkaca-kaca. Hanya pria ini tempat ia mengadu, dan mencari jalan keluar. Fajri paham dengan tatapan Safira, ia berjalan mendekat dan memeluk gadis itu dari samping.
"Begini saja. Papa dan Mama. Aji paham betapa kalian merindukan Safira yang sudah terpisah selama dua puluh tahun. Aji tidak melarang jika Papa dan Mama ingin membawa Safira pulang ke rumah, karna ia memang anak Papa" ucap Fajri menjeda.
"Namun Tolong di pertimbangkan lagi, Safira sudah berjuang untuk mendapatkan kebahagiaannya, dan beberapa hari lagi kami akan menikah. Bukannya saya tidak percaya, jika anda akan kembali datang kesini bersama dengan keluarga yang lain ketika hari pernikahan kami, hanya saja, saya takut jika terjadi sesuatu yang sangat tidak disangka," sambungnya.
"Dengan segala kerendahan hati, Saya mohon, bersabarlah hingga hari pernikahan kami selesai, dan mungkin kami akan pulang ke rumah Papa dan menginap di sana sesuai dengan keinginan Safira dan tentunya juga sesuai dengan jadwal saya!" terang Fajri.
"Mama dan Papa bisa tinggal bersama Safira, terserah kalian mau ngapain, melepas rindu, bermanja-manja atau melakukan hal yang lain. Tapi, tolong jaga calon istri saya dengan baik! dan jangan pernah mencoba untuk membawanya kabur! Bukankah Mama dan Papa tau, jika Safira memiliki begitu banyak bodyguard?" terang Fajri
Mereka semua terdiam, Papa membenarkan perkataan Fajri yang begitu tenang, sopan dan tidak berbelit. Ia hanya bisa menghela nafas dan berusaha untuk memberikan pengertian kepada istrinya.
"Baiklah! kami mengalah, tapi tolong jangan membatasi waktu kebersamaan kami!" ucap Andika.
"Tergantung! Tentu saja saya juga memiliki hak atas Safira, Ibu panti juga memiliki hak, keluarga saya juga memilik hak! Karna Safira sudah resmi menjadi anak di dalam keluarga kami!" ucap Fajri yang tidak terima dengan perkataan Andika.
Andik menatap Fajri dan hendak melayangkan protes. Namun Safira lebih dulu mengeluarkan pendapatnya.
"Mama, Papa, apa yang dikatakan oleh, kak Fajri memang benar. walaupun terkesan kurang ajar, tapi mereka lebih dulu hadir di dalam hidup nyata Fira. Mereka yang membuat Fira bisa hidup dengan layak hingga hari ini. Tolong Papa dan Mama tahan sebentar saja, dan turunkan ke egoisan masing-masing"
"Bukannya Fira tidak rindu, justru sangat, sangat rindu! tapi bukankah semuanya harus berjalan dengan baik, hal yang sudah di rancang sudah lama harus dilaksanakan dengan segera? Fira mohon untuk saling menurunkan ego masing-masing, karna sebentar lagi kita akan menjadi keluarga besar, baik itu pihak ayah maupun pihak Papa,"
__ADS_1
"Bukankah, ini adalah hari bahagia Fira, karna sudah bertemu dengan keluarga kandung, tapi kenapa kalian malah bertengkar? apa Fira gak boleh merasakan bahagia sebentar saja?" tanya Safira dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maafkan, Papa, nak. Papa dan Mama hanya ingin menghabiskan banyak waktu dengan kamu, Mengganti semua waktu yang sudah terlewati, sebelum kamu menikah, hanya itu saja!" ucap Andika lirih.
"Fira tau, Pa! Tapi bukan dengan cara membawa Fira pulang! Apa boleh Fira meminta satu hal?" tanya Safira.
"Apa, nak? apapun itu pasti akan Papa berikan!" ucap Andika semangat.
"Apa Mama dan Papa bisa pindah ke sini? ke kota ini, agar kita bisa selalu berdekatan? Banyak hal yang harus Fira selesaikan disini, Pa!" ucap Safira sedikit takut.
Andika dan Hersy terdiam, untuk mengurus perpindahan akan memerlukan waktu dan uang yang tidak sedikit. Namun demi anaknya, ia akan melakukan apapun itu.
"Baiklah, Papa akan mengusahakannya!" ucap Andika sambil tersenyum.
"Terima kasih, Pa! terima kasih!" ucap Safira tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
Maafin aku, Pa. Aku yang egois di sini, tapi aku tidak bisa meninggalkan semua hal yang ada di kota ini. Keluarga Dirgantara, kuliah, panti dan usahaku. Maafkan Fira!. Batin Safira.
Suasana yang tadinya tegang menjadi hangat kembali setelah saling memaafkan satu sama lain. Mereka memilih untuk membicarakan rancangan pernikahan yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Fajira kembali memesan baju keluarga untuk orang tua Safira.
Sementara pasangan yang akan menikah itu sudah menghilang, entah kemana.
🌺🌺
"Aku mau ke apartemen, ada hal yang harus, aku bicarakan, sayang!" ucap Fajri tersenyum.
"Beli cemilan dulu!" ucap Safira tersenyum.
"siap laksanakan, tuan Putri!" ucap Fajri tersenyum.
Mereka berhenti di salah satu makanan capat saji dengan menggujakan jasa drive thru, tak lupa mereka juga singgah ke super market milik keluarga Safira, dimana mereka sering berbelanja.
"Ternyata, selama ini kita menabung sama Papa kamu ya, sayang!" ucap Fajri terkekeh.
"iya, kak. Aku masih tidak menyangka hari ini akan terjadi!" ucap Safira menggandeng tangan Fajri sambil memilih cemilan.
"Aku bersyukur, karna kebahagiaan kamu datang dengan begitu cepat dan tidak terduga!"
"semuanya berkat, kakak dan keluarga!" ucap Safira tersenyum.
"bukan! ini semua sudah menjadi takdir kamu!" ucap Fajri tersenyum
Setelah selesai berbelanja, mereka segera pergi ke apartemen untuk berbincang.
Setelah 10 menit berkendara, Fajri segera mengajak Safira masuk ke dalam apartemennya.
__ADS_1
"Sayang?" panggil Fajri sambil memeluk Safira dari belakang.
"kenapa, kak?" ucap Safira gugup.
"Apa sudah selesai?"
"sudah!, bantu aku untuk mengangkatnya ke ruang tamu!" ucap Safira segera berkilah.
"baiklah!" Fajri berusaha untuk menahan tawanyabketika melihat wajah Safira yang sudah merona.
Mereka duduk di lantai dan bersandar pada sofa sambil menonton film romance. Safira dengan manja, bersandar di dada bidang Fajri.
"Kaka, mau ngomong apa?" tanya Safira.
"aku barusan mendapatkan kabar, jika aku harus berangkat ke Jerman, karna ada sedikit permasalahan di perusahaan mobil yang ada di sana!" ucap Fajri lirih.
Deg!.
"kak?" Safira terkejut dan menatap Fajri meminta penjelasan selanjutnya.
"Kamu tenang saja, kita akan pergi setelah pesta pernikahan selesai nanti, Semua keperluan kamu sudah kakak sediakan! Ya hitung-hitung kita bulan madu!" ucap Fajri tersenyum genit.
"ihh, dasar!" delik Safira.
"Terus bagaimana dengan Papa? bukankah kakak mengatakan jika kita akan tinggal beberapa waktu di rumah mereka!"
"Iya, sayang. Aku baru mendapatkan kabarnya sebelum kita ke sini. Makanya aku membawa kamu, agar kita bisa mengobrol, dan aku bisa memiliki suara tambahan nanti!" ucap Fajri.
"Baiklah, aku ikut kakak, saja! karna sebentar lagi kakak akan menjadi suamiku! Ah aku semakin mencintai, kakak!" ucap Safira tersenyum dan kembali memeluk Fajri.
Entah kenapa berada di dalam dekapan Fajri membuatnya ketagihan dan merasa sangat nyaman. Sehingga ia bisa betah berlama-lama untuk bersandar di sana.
Mereka berbincang, hingga panggilan orang rumah memaksa mereka harus kembali. Karna para orang tua itu memekik ketika tidak mendapati Fajri dan Safira berada di rumah.
🌺🌺🌺
TO BE CONTINUE
Udah bab yang ke 4 gais 😊😊
🌹UNDANGAN TERBUKA UNTUK SELURUH WARGA NOVELTOON🌹
Keluarga Dirgantara mengundang para readers semua untuk datang dan menyaksikan acara pernikahan Fajri dan Safira. Jangan lupa bawa hadiah 😂😂.
terima kasih 😍🤗🤗
__ADS_1